Venya bangun dari tidurnya. Kemudian dia sadar bahwa dia sampai ke kosan dalam keadaan yang sudah setengah sadar. Dia benwr - benar kenyang makan dan juga ngantuk karena kekenyangan. Selanjutnya yang dia ingat hanya Gemma yang mengantarnya ke kamarnya. Menidurkannya dan mengunci pintu.
Selanjutnya, Venya terbangun dati ranjangnya. Mengecheck jam berapa dirinya bangun di ponselnya karena dia belum beli jam dindinh untuk di kamarnya. Dia akan membelinya di penjual online saja jika tidak sempat keluar. Jika dia meminta Gemma untuk mengantarnya mungkin akan lama. Gemma juga kan kuliah. Dia tidak punya banyak waktu bebas walaupun sekarang mereka lebih banyak waktu berdua ketika Gemma libur.
"Baru jam sembilan." Kata Venya pelan.
Dia berbaring lagi di ranjangnya. Matanya masih terasa berat. Dia benar - benar merasa lelah malam itu. Sehingga dia bemar - bensr tidak ingatbjika dirinya merapikan laptop di atas ranjangnya bekas malam sebelum mereka pergi makan. Lalu, Venya mendengar ketukan di pintunya.
Bahkan dia sendiri sampai lupa jika dirinya dikunci dari luar oleh Gemma. Karena takut akan ada orang yang masuk mungkin Gemma berinisiatif untuk mengunci pintu itu.
Segera Venya beralih ke pintu kamarnya.
"Siapa?" Tanya Venya dari dalam. Sebenarnya, ada jendela di sebelah pintu kamarnya. Venua bisa melihat siapa yang datang sebelum bertanyabsiapa. Tapi, dirinya takut jika dia melihat dari jendela dan ingin mengetahui siapa yang mengetuk pintunya tapi tidak ada orang di depan pintunya.
Iya.
Venya adalah salah satu orang penggemar nonton horror. Apalagi jika ada youtuber yang menceritakan pengalaman - pengalaman asli dsri subscribernya. Venya sering sekali menonton itu jika waktunya senggang. Minimal satu cerita sehari. Karena dulu, ia sekolah dan ia sibuk dengan tugas, nulis dan kerjaan rumah di panti dia hanya sempat menonton satu video walaupun itu terpotong - potong juga nontonnya.
Selepas di sini, mungkin Venya bisa menonton youtube dengan seenaknya. Meski tugas pokoknya adalah menulis. Setidaknya menghilangkan penat itu adah salah satu kewajiban. Karena jika tidak, menulis tidak bisa lanjut malah stress yang ada. Maka darinitu, Venya akan membuat jadwalnya untuk menonton. Meskipun dia tahu bahwa dirinya tidak akan pernah selepas itu menonton video di youtube karena menulisntidak mengenal waktu. Bisa jadi jam 7 pagi ini dia mendapat ide dan emnulis sampai pukul 9, tidak pasti juga pagi besoknya ide muncul di jam itu.
Maka dari itu, menulis adalah pekerjaan yang ga tentu. Idenya bisa muncul kapan saja. Apalagi Venya serinh sekali mendapat ide di kamar mandi. Terkadang juga, Venya membawa laptopnya. Atau handphonenya minimal ke kamar mandi. Dan dia bisa lama sekali di kamar mandi jika idenya lancar.
"Gue elah." Kata Gemma membuka pintu kamar Venya.
Venya terkekeh, "lo kunciin gue?" Tanya Venya kemudian dia duduk di ranjangnya.
Gemma mengangguk, "iyalah, kalo nanti ada orang masuk begimana elah." Kata Gemma lagi mengikuti duduk di ranjang Venya.
"Kuliah lo gimana?" Tanya Venya lalu dia berjalan ke dapur kecil yang ada di dalam kosannya, mengambil minum dari botol besar kemasan air minum.
Dia menuangkannya ke gelas kemudian duduk di atas kasur. Meneguknya sedikit kemudian memberikannya kepada Gemma. Gemma menerimanya kemudian mengangguk, "dosennya ga masuk sampe sore ini." Kata Gemma menjawan pertanyaan Venya tadi.
Venya mengangguk saja. Jika Gemma berbohong pun ya bukan masalah untuk Venya.
"Jadi, lo free hari ini?" Tanya Venya pelan.
Gemma mengangguk, "gue bawa makan. Lo laper ga? Belom sarapan, 'kan?" Tanya Gemma.
"Belum sih tapi gue belum laper." Kata Venya, "gue minta tolong lo deh kalo lo free." Kata Venya.
"Kenapa?" Ucap Gemma setelah Venya bertanya dia beranjak dari kasurnya.
Vemya berjalan ke arah dus besar yang belum di buka. "Rakitin meja dong. Gue lagi pesen kursinya, kemungkinan nyampe besok. Jadi gue pengen ngetik di sini mulai besok." Kata Venya.
Gemma ikut beranjak dan menyentuh dus itu. "Boleh." Kata Gemma, "tapi gue mau mandi dulu." Lanjut Gemma.
Hal itu membuat Venya sedikit terkejut. Yang mana Gemma baru saja membeli makan untuk sarapan paginya, ini sudah jam sembilan. Yang artinya, dia sudah keluar dsei kamarnya sebelum jam sembilan. Mungkin dia dari kampus karena melihat bajunyang di pakai oleh Gemma. Sopan dan tertata. Kemungkinan besarnya juga, Gemma sidah dari kampus. Dan apa? Dia bilang dia mau mandi?
"Gem, lo ga mandi keluar kamar?" Tanya Venya heran.
Gemma menggeleng, "gue ke siangan. Harusnya ngampus jam delapan, gue baru bangun jam delepan. Ya udah gue ganti baju, cuci muka sama sikat gigi doang." Ucap Gemma polos.
"Ke kampus gitu? Lo ga mandi?" Tanya Venya lagi.
Sekarang Gemma mengangguk, "iya. Yang penting adalah parfum." Ucap Gemma cuek lagi.
Venya menghela nafasnya lalu ia mengangguk, "setidaknya lo ada keinginan buat mandi." Kata Venya pelan, "kalo engga. Parah lah." Ucap Venya melanjutkan perkataannya.
Gemma terkekeh, "lo juga mandi sana." Kata Gemma. "Abis lo mandi, makan terus lo nulis. Katanya kemarin lo mau nulis double bab sama penerbit plus sama orang di platform yang bayar lo?" Pernyataan Gemma seakan menjadi pertnyaan di telinga Venya.
Benar.
Venya tadinya juga mau mulai mengetik jika yidak ada ketukan di pintu masuk kamarnya. Setelah berbaring sebentar tadi. Pdahal di dalam hati, Venya ingin sekali meneruskan tidurnya. Namun, pekerjaan ini menuntutnya untuk terus bekerja karena ini meeupakan satu - satunya oenghasilan yang dimiliki Venya. Jika tidak dari sana, dari mana lagi? Venya harus membayar kosannya dan juga membayar kehidupan sehari - harinya.
Lagi pula, Venya bukan lagi menganggap ini adalah hobi walaupun pada awalnya memang hobi. Tapi sekarang, kesannya menjadi sebuah tuntutan dalam hidupnya. Karena benar, dia tidak akan punya uang jika tidak dari sini. Mudah - mudahan dianterus menerus bekerja dan terus mendapat penghasilan. Jika tidak, dia akan kebingungan membayar kehidupannya yang seperti semalam. Menyenangkan dan nikmat.
"Iya, gue mau mandi juga." Kata Venya, "nanti pas lo rakit meja, gue ngetik deh." Kata Venya lagi.
Gemma mengusap puncak kepala Venya lembut. "Ya udah. Mandi sana." Kata Gemma pelan.
Venya menurunkan secara paksa tangan Gemma di kepalanya, "gue belum keramas. Lo juga sana ah mandi, bau lo." Kata Venya.
Bercanda sebenarnya. Hal itu juga sudah biasa ditanggapi oleh Gemma. Maka dari itu, Gemma meresponnua dengan kekehan saja. Lalu dia mengangguk, "ya udah. Tuh kunci pintu simpen. Ada dua. Lo bisa nyimpen satu di gantungan kunci lo dan stau lagi lonpakai sehati - hari." Saran Gemma untuk Venya.
Venya mengeritkan keningnya, "lah kenapa?" Tanyamya.
"Takutnya yang lo pegang dan pakai sehari - hari ilang atau jatoh dimana ga bisa ditemukan, lo masih punya cadangan di gantungan tas lo." Kata Gemma, "itu pun kalo tas lo ga gunta - ganti sih."