Bab 25 : MALAM NIKMAT

1021 Kata
"Jadi udah kenyang?" Tanya Gemma pada Venya yang sudah duduk di kursi luar satu kedai yang baru saja ia singgahi. Venya mengangguk sambil mengelus perutnya, "rasanya perut gue mau meledak deh." balas Venya ketika melihat Gemma yang terkekeh. Sebenarnya, Venya baru saja menghentikan hunting makanannya di sana. Beberapa kedai juga baru selesai di kunjungi. Padahal janji di antara keduanya adalah dari ujung ke ujung. dan ternyata banyak sekali kedai di sana. walaupun makanannya berbeda - beda, rasanya enak sekali untuk hunting makanan. Venya sendiri tidak memilih hal yang berat. Tidak makan nasi dan tidak makan karbohidrat yang banyak. Venya dan Gemma lebih memilih makanan yang ringan dan kecil kadar karbohidrat, walaupun kadar gula dan juga kadar kolesterolnya tinggi. Setidaknya, besok - besok Venya akan berolah raga. Kalau sempat dan kalau moodnya bagus. Gemma terkekeh, "masih banyak toh ke ujung sana." kata Gemma menyindir omongan Venya di awal tadi. Anggukan dari Venya muncul membalas pernyataan dari Gemma barusan. "Malam besok - besok lagi aja deh terusin ke sana." kata Venya yang membuat Gemma semakin terkekeh. "Ya bisa sih, lo bakal ingat apa udah sampai mana makannya?" tanya Gemma. Lagi - lagi Venya megangguk, "ada nomor kedainya tuh." kata Venya menunjuk nomor di atas kedai. "Masa lo sering ke sini ga tau ada nomor kedainya begituan?" tanya Venya. Gemma baru ngeuh bahwa ada nomor yang begitu, "gue ga sering juga ke sininya, Ven." Jawab Gemma pelan, "dua puluh satu." kata Gemma, "inget dah, lo udah makan sampe kedai nomor dua puluh satu." ucap Gemma lagi. "Iya." kata Venya, lalu kepalanya melihat nomor yang ada di ujung jalan sana, "ada sampai nomor lima puluh enam." kata Venya lagi, "ada berapa malam kita bisa keluar kayak gini lagi? masih banyak waktu kan?" kata Venya. "Santai aja." lanjutnya lalu menepuk lengan Gemma. "Jadi mau balik sekarang nih?" tanya Gemma. Venya mengangguk, "gue kenyang gini mana bisa ngetik cerita, Gem. mungkin besok malam gue begadang buat ganti bab yang sekarang ga ke update." kata VEnya, "gue mau istirahat dulu aja deh." ucapnya lagi. Sebenarnya, Gemma juga tidak akan mengerti apa yang sudah Venya jelaskan. Yang Gemma tahu adalah Venya yang menekan - nekan huruf dan terkadang mengetikkan beberapa angka di ceritanya saja. membuat cerita dan menuangkan idenya. Hanya ckup sampai situ. Gemma tidak akan tahu bagaimana rasanya ide tiba - tia hilang, bagaimana rasanya kantuk berat yang mengacaukan pikiarnnya. bagiamana juga ide yang hendak di tulis menjadi kemana - mana. Gemma juga tidak tahu bagaimana bayaran dan juga tidak tahu bagaimana menulis bab yang bahkan susah sekali untuk menulis bab. rasanya beberapa kali sulit sekali untuk menulis beberapa kalimat saja. penulis saja yang mengerti apa yang terjadi pada tulisannya dan waktu luangnya yang mengharuskan untuk menulis dan memberikan ide pada setiap babnya. "Iya, istirahat aja dulu." kata Gemma, "besok lagi aja nulisnya." lanjut Gemma kemudian mengelus puncak kepala Venya. Selanjutnya, Venya menyetujui apa yang ada di pikirannya. Tidak ada yang dapat mengerti penulis jika orang tersebut bukanlah si penulis itu sendiri. Venya menyetujui bahwa Gemma juga tidak mengerti. Tidak salah memang. Tapi Venya seakan ingin memarahi orag - orang yang menganggap jika 'menulis' itu adalah hal yang sangat mudah. padahal mereka sendiri tidak merasakannya dan tidak bisa mencobanya. setidaknya, Venya ingin sekali berteriak 'coba lu nulis deh. satu cerita aja sampe selesai. sesuai dengan sinopsis yang lu buat dan jangan keluar dari alur yang udah lu pakai dan lu tulis sebelumnya.' karena bagi penulis, walaupun ada outline, walaupun ada sinopsis dan ada waktu jga keinginan menulis itu susah terkadang. karena bisa jadi penulis membuat alur yang baru setiap kali menulis. ada yang keluar dari outline dan mengembalikan ke outline sebelumnya juga terkadang susah. bagaimana jika yang bukan penulis? bagi penulis aja susah, bagaimana jika dia bukan penulis? sesak rasanya jika di anggap sebelah mata. setiap kali dianggap jika menulis itu mudah, rasanya pengen colok tuh mulut pakai obeng. Venya mengangguk saja kemudian berjalan sesuai dengan jalan yang di pilih oleh Gemma di depannya. tangan Venya sudah ada di genggaman tangan besar milik Gemma. rasanya Venya juga lupa dimana Gemma memarkirkan motornya. untung saja kunci motor tetangga kosan yang baru itu memiliki tombol khusus untuk dapat menemukan motornya. ada alarmnya istilahnya. kayak mobil. berjalan dengan motor itu, mereka berdua menikmati waktu ini. jam di tangan Venya sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. dan rasanya ini adalah malam terpanjang di hidupnya. dia benar - benar menikmati waktu ini. dia memiliki wkatu yang luar biasa. dia benar - benar menikmat masa - masa ini sekarang. pada intinya, Venya tidak akan menyia - nyiakan kesempatan ini. dia benar - benar seperti hidup sebagai remaja yang sesungguhnya mulai malam ini. Bersama Gemma dan ini adalah kenangan yang mungkin tidak terlupakan. "Dingin ga, Ven?" tanya Gemma di depan Venya. Venya menggeleng di belakang, Venya yakin jika Gemma melihat gelengan kepalaya di kaca spion karena setelah Venya menggeleng, Gemma tidak mengatakan apapun lagi. Venya mengerakan pelukannya di perut Gemma. secara refleks, Gemma mengelus tangan Venya yang ada di perutnya, selanjutnya, Venya menenggelamkan kepalanya di punggung lebar milik Gemma. Rasanya benar - benar sempurna. Venya tidak ingin ini cepat berlalu, namun Venya juga di sisi lain ingin cepat sampai di kamarnya. dia ingin merebahkan badannya dan juga memejamkan matanya. Beristirahat sampai nanti pagi. setidaknya, mulai besok pagi, Venya harus mengejar setoran babnya yang bahkan sampai sekarang Venya masih memikirkan kelanjutan apa yang akan ditulisnya di bab yang akan dan harus di kirim ke penerbit untuk penerbitan buku barunya nanti. setidaknya, Venya harus mengirimkannya sekarnag - sekarang karena ada proses editor sebelum di setujui oleh orang dari penerbit. jika Venya berhutang satu bab hari ini, besok mungkin Venya harus menyetorkan dua bab sekaligus. Belum lagi di salah satu platform novel berbayar. Venya juga berhutang satu bab hari ini, tentu saja besok harus setor dua bab. padahal, Venya tiddak harus memenuhi semua kebutuhan para penggemarnya, tapi setidaknya, pembacalah yang membuat dia punya uang dan bisa menghidupi dirinya sendiri. selain uang yang diincar Venya, penggemar adalah salah satu yang palping berharga juga. Mereka yang memberi saran khususnya. itu dibutuhkan untuk menambah wawasan dan membuat Venya tahu harus bagaimana kedepannya dan harus bagaimana untuk mengalirkan ceritanya. "Selamat malam, Ven."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN