Bab 24 : GEMMA MULAI G*LA

1025 Kata
Venya yang ditanya kini kicep. Dia duduk di samping Gemma yang kini juga duduk di atas ranjang milik Venya di kamarnya. Pintu kamarnya di biarkan terbuka. Walaupun tidak berbuat apa - apa yang penting urusannya dengan ibu dan bapaknkos tidak ribet karena menyimpan dan membiarkan laki - laki berads di dalam kamrnya. Sebenarnya, Venya hanya berspekulasi. Dia hanya melihat ciri - ciri yang ada pada diri Gemma saat itu. Mata teler ditambah merah lalu bau alkohol yang masih ada di setiap kali Gemma berbicara. Venya mendapatkan pengetahuan itu aat dia melakukan riset untuk ceritanya. Riset sederhana namun bisa membuat Venyabingat betul bagaimana ciri - ciri orang mabuk dan tidak mabuk. Terlihat dangat jelas berbeda tentu saja. Kemudian Venya mengangguk pelan menjawab pertanyaan dari Gemma. Dia tidak berani menatap Gemma langsung. Karena dia tahu Gemma sedang menatapnya. Entah tatapan apa yang sedang Gemma berikan kepadanya, Venya tidak ingin tahu dulu. "Sori, Ven." Kata Gemma kini mengelus rambut Venya, "gue ga bilang semalem gue di ajak nongkrong sama temen - temen gue." Lanjut Gemma kini tangannya menggenggam jari - jemari Venya. "Guebdi tawarin yang behituan." Ucapnya lagi. Venya mengangguk lalu kini memberanikan diri menatap Gemma, "guenya sih ga apa - apa. Tapi gue agak malu dama bunda." Ucap Venya. Kini giliran Gemma yang mengangguk, "gue tadi juga dipergokin sama bunda Kori kok." Ucap Gemma. Venya kini menatap Gemma heran. "Dipergokin gimana?" Tanyanya agak menaikkan oktaf bicaranya. Gemma diam, "gue tadi sempet oleng pake mobil." Kata Gemma. Perkataan yang Gemma katakan narusan membuat mata Venya melotot ke arahnya. Dia benar - benar kaget akan hal yang sudah Gemma sampaikan untuknya. Dia benar - benar sangat kaget. "Astaga Gem." Ucap Venya mengibaskan tangan Gemma dari tangannya. "Lo gila apa ya." Ucap Venya lagi. Venya mengangkat tangannya lalu memukul sekencang mungkin lengan Gemma. Sebisa yang ia bisa. Selanjutnya, Gemma mengaduh lalu terkekeh pelan. "Lo gede juga ternyata tenaga lo." Kata Gemma mengaduh sekali lagi karena di pukul lagi oleh Venya. "Buat bunda yang udah mau lo buat celaka." Kata Venya lalu membabi buta serangannya kepada Gemma. Gemma bukannya menyesal dia malah tertawa. Gemma dan Venya memang sudah sering bercanda seperti ini. Namun, bercanda bebas seperti ini hanya dilakukan oleh mereka di saat - saat tertentu. Di saat dimana bunda Kori tidak ada di oanti atau sekedar bercanda selingan di dalam mobil sambil menunggu lampu hijau di perempatan sebelum masuk ke daerah dekay dengan panti. ** ** ** "Mau cari makan ga?" Tanya Gemma setelah dia sudah mulai mendingan dan sudah mandi juga di kamarnya. Gemma menemukan Venya sedang duduk di atas ranjangnya dengan laptop yang menyala. Gemma juga meyakini bahwa Venya sedang melanjutkan ketikkannya untuk cerita - cerita yang ia akan terbitkan dan juga publish di platform berbayar. Selanjutnya, Venya tersenyum ke arah Gemma. Waktu malam itu menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Memang waktunyang tepat untuk mencari makan malam untuk malam itu. Venya dan Gemma jarang sekali bisa keluar malam. Jarang sekali meluangkan waktu malam hari. Mungkin harinini adalah hari pertama Gemma dan juga Venya yang berharga dan juga mengesankan karena bisa dengan dantai dan bebas keluar di waktu malam seperti ini. Karena pada dasarnya, sewaktu di panti, Venya dan Gemma hanya boleh keluar sampai pukul delapan malam. Bunda Kori mentetapkan waktu malam untuk anak - anak panti yang lain. Sama halnya untum Venya. Karena Venya harus menjadi contoh yang baik untuk adik - adiknya maka darinitu, Venya menghindari kelyar malam.bersama seorang pria khususnya. Selebihnya, sekarang adalah waktunya untuk sedikit bebas dari jam malam itu. "Mau makan apa?" Tanya Gemma lagi ketika melihat Venya bangkit dari duduknya lalu emngambil jaket yang akan dipakai olehnya untuk keluar bersana dirinya. Selanjutnya Venya sudah memakai jaketnya laku tersenyum ke arah Gemma, "apa aja asal sama lo. Seneng banget gue bisa keluar malam gini." Kata Venya pelan. Gemma mengusap puncak kepala Venya pelan dan lembut. "Gue tau tempat makan yang enak. Dan gue udah lama pengen ajak lo ke sana." Kata Gemma kemudian menuntun Venya keluar dari kamarnya. Tidak lupa menguncinpintu dan keluar makan malam memakai motor yang dipinjam Gemma dari salah seorang oenduduk kos yang dikenal oleh Gemma. Venya juga mengenalnya karena tadi siang dia hampir membantu Venya untuk angkut - angkut barang. Venya menolak siang itu dan mengatakan bahwa barangnya tidak banyak. Jadi dua orang saja cukup. Venya tidak ingin merepotkan orang yang bahkan tidak di kenalnya. Venya tidak ingin merepotkan teman yang nanyinya akan jadi teman kosanny Entah kenapa, Venya dan Gemma memilih memakai motor untuk jalan malam pertamanyanini. Mereka bersepakat untuk menikmati angin malam melalui motor. Angin langsung yang akan mrlambai - lambai dan membelai langsung wajah dan badan mereka. Setidaknya, mereka mencoba menikmatinya dulu. Walaupun Gemma dan Venya tahu akibatnya yang mana mereka bisa saja masuk angin karena bermotor semalaman. Untuk urusan itu, nanti mereka mengurusnya. Sekarang, waktunya bersenang - senang dulu saja. Sebenwrnya juga Gemma yidak membawa Venya ke tempat yang bagus. Terbukti ketika sampai di temat makan yang akan di tempati oleh emreka berdua, Venya sedikit terkejut. Bukan akrena dia turun dari motor dan melihat keadaan dimana ada banyak tenda beejajar di jalanan kecil itu. Dia justru terkejut kepada Gemma yang tahu tempat seperti ini. "Lo kenapa ga ngajak gue ke tempat ini dari dulu sih?" Kata Venya antusias kepada Gemma dan memukul lengan Gemma manja. Gemma terkekeh "gue kira lo mau komen karena gue ajakin makan di sini." Kata Gemma pelan, "ternyata lo seneng?" Tanya Gemma secara tidak langsung. Venya menggeleng, "gue suka banget yang beginian, gue bisa makan dari ujung sana sampai ujung sana." Kata Venya menunjuk ujung jalan di belakangnua, lalu bergantian menunjuk jalan di depannya. Tongkrongan itu lumayan ramai oleh pengunjung. Venya sendiri agak sedikit ngeri jika dirinya akan tersenggol oleh orang lain di sana dan di sini. "Mau makan apa pertama - tama sebagai pembuka?" Tanya Gemma pada Venya yang matanya sudah menatap ke sana dan ke sini. Venya teesenyum, "ga tau nih." Kata Venya pelan. "Apa lo mau makan dari ujung sana ke ujung sana?" Tanya Gemma lagi menyepertikan ucapan Venya di awal tadi. Venya terkekeh sekarang, "bolehkah?" Tanya Venya. Gemma mengangguk, "kalo di sini, boleh lah gue yang bayar." Kata Gemma membuat Venya semakin semangat. "Okay kalo begitu, mulai ya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN