"Tinggal pasang meja aja 'kan?" Tanya bunda Korinketika melihat ada satunpaketan cukup besar dengan dus baru yang masih di segel. "Akan di pasang sekarang?" Tanya Bunda Kori pelan.
Venya menggeleng pelan, "nanti aja bun. Aku kerja di atas kasur dulu aja." Kata Venya setelah menyelesaikan pemasangan spreinya. Lalu ia menyapu spreinya sebentar kemudian duduk di lantai yang sudah di sapu, di pel dan juga di pasangi karpet kecil. Selanjutnya dia duduk bersila di atas karpet yang sudah ada makanan di atasnya.
"Bun, makan dulu. Minum dulu. Terus istirahat." Kata Venya lagi, "bunda udah banyak bantu aku. Makasih ya." Serunya kemudian tersenyum lalu membuka keresek yang ada di depannya dengan gembira dan membuat bunda Kori tersenyum kecil.
"Kamu ini umur berapa, Venya?" Serunya sambil terkekeh. Tapi tetap mengambil makanan yang ada di depannya juga.
Sebenarnya, Venya pernah mengharapkan hal seperti ini. Makan berdua dengan orang tuanya. Kalau bisa tidak hanya berdua, jika bisa makan bertiga. Ayah, ibu dan dirinya. Sekilas, hanya sekilas saja. Selebihnya, dia tidak pernah memikirkan itu lagi.
Venya makan dan minum dengan baik bersama bunda. Bercengkrama seasyik mungkin. Tertawa dan juga bercanda di sela - sela makannya. Kemudian, Venya diam melihat bunda Kori tertawa. Dia bahkan tidak bisa merasakan hal ini lagi nanti. Bersama bunda. Bersama dia makan dan juga bercengkrama. Mungkin dalam waktu dekat, Venya akan mengilunjungi bunda di panti asuhan jika begini. Venya mungkin akan bertahan beberapa waktu di sini dsn menahan kerinduan semacam ini.
"Gemma gimana? Udah bangun?" Tanya bunda kemudian ektika melihat Venya duduk diam menatapnya.
Venya mengerjapkan matanya. Dia melamun dengan tidak sadar. Dia menatap hunda lama sekali sehingga bunda Kori tidak enak dan menanyakan hal yang mungkin membuat Venya tersadar akan hal yang sedanh ia lakukan. Selanjutnya, Venya beranjak dsri duduknya. Mencuci tangan di kamar mandi dan mengecheck ponselnya.
Makanannya sudah habis lebih dulu daripada makanan bunda Kori. Dia memang secepat itunjika urusan makan. Apalagi ayam goreng kriyuk yang bahkan membangkitkan semangat makannya dengan hanya mencium wnaginya saja. Selanjutnya, Venya tersenyum kecil, "Gemma belom bangun kayaknya." Ucap Venya lagi. "Belum baca wa dari aku, Bun." Ucap Venya sambil teedudum di hadapan bunda yang menyuapkan nasi terakhir miliknya.
Selanjitny, Venya duduk dan bunda Kori bangkit dari duduknya. Kemudian dia melihat bunda Kori ke kamar mandi dan melihat jam di tangannya. "Udah sore gini?" Tanya bunda Kori menjawab pernyataan dari Venya tadi, "anyain ibu atau ayahnya, Ven. Takutnya dia kenala - napa." Kata bunda Kori lagi dengan nada khawatir tapintidak lepas dari pekerjaannya membereskan barang - baranh yang sudah tidak diperlukan laginoleh Venya untuk membereskan kamarnya ini.
Venya menghela nafas.
Jika di pikir - pikir, Venya belum mengenal ibu dan ayahnya Gemma. Gemma juga tidak menceritakan detailnya tentang keluarganya di rumah. Dia hanya menceritakan jika orangbtuanya seorang worker holic. Memenuhi semua kebutuhannya dan juga adiknya. Pembisnis yang lumayan di bidangnya walaupun tidak se - sukses itu.
Venya awalnya juga kaget ketika melihat Gemma memakai mobil untuk menjemputnya dulu sewaktu amsih pacaran belum lama. Venya sendiri merasa insecure melihat Gemma yang memiliki moge, motor matic, dan sekarang menjemputnya dengan mobil. Sungguh luar biasa menurut Venya waktu itu.
Lalu, Venya tidak bertanya apa - apa. Dia hanya memeriksa sedikit ekluarganya. Lebih tepatnya menanyakan beberapa pertanyaan mengenai keluarga Gemma. Dan tentu saja Gemma adalah orang yang menjawab seperlunya. Dia yidaj pernah menanyakan lebih dalam dan lebih detail. Dia tidak bertanya kenapa dan mengapa tentang keluarga Gemma.
.
Yang Venyabtahu hanya sebatas itu. Venya juga tidak terlalu ingin dekat dengan keluarga Gemma. Dia sudah mundur terlebih dahulu jika Gemma menyebutkan bahwa dirinya akan membawa Venya bertemu dengan orang tuanya. Walaupun tidaka da kesempatan semacam itu diberikan oleh Gemma pada Venya, setidkanya, seharusnya nanti ada. Seharusnya nanti ada ketika Venya dan Gemma sudha mulai beranjak serius dalam hubungan ini.
Sementara ini, dia tidak ingin mengenalnya terlebih dahulu. Setidaknya, dia tidak bisa menangani hal itu sekarang. Entah jika nanti, munhkin akan berubah sambil berjalannya waktu.
Venya nyengir, "bunda mah, aku ga sedekat itu sama kelurag Gemma. Ga enak juga." Kata Venya pelan,.
"Kenapa? Kamu cantik dna pintar. Bisa cari uang sendiri di umur segini dan membiayai beberaps keperluan panti asuhan." Srru bundanya kemudian duduk di depan Venya. "Apa yang kurang dari kamu?" Tanya bundanya lagi.
Sebenarnya, jika dijabarkan banyak sekali kekurangannya. Termasuk 'keluarga'.
Venya menarij nafasnya, lagi - lagi Venya berpikir ke sana. Kenapa akhie - akhir ini Venya seperti itu. Apa mungkin sejak bunda kori memberi syarat itu? Dia benar - benar ada di masa dimana sedang merindukan hal - hal itu. Semakin dilarangbuntuk mengingatnya, maka Venya serinh sekali mengingatnya. Entah kenaoa, namun bensr - bensr terjadi begitu saja.
Seolah - olah Venya ingin meraskaannya begitu saja. Venya benar - benar bingung dan terus kebinhungan.
"Venya malu aja, bunda." Kata Venya kemudian menjawab apa yang ditanyakan oleh bunda kori barusan.
Bunda Kori lantas diam setelah Venya menjawab pertanyaannya. Tentu saja Bunda Kori mengerti apa yang dimaksud 'malu' oleh Venya. Bunda Kori paham jika Venya benae - benar insecure untuk dirinya sendiri. Oleh karena itu, Bunda Kori tidak lagi menanyakan apapun lagi. Dia benwr - benar dibuat kicep semata.
Venya melihat ponselnya ketika ia merasakan ada getaran pada ponsel yanh ada di tangannya kemudian dia melirik bundanya. "Gemma udah bangun." Ucap Venya.
Bunda kori yang sedari tadi diam kini tersenyum kecil, "syukurlah." Kata bunda Kori.
Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malamesaat Venya menemui Gemma di kamar milijnya. Kemudian, dia menatap Gemma. "Lo bawa mobilnya aman 'kan?" Kata Venya ketika melihat Gemma yang memijat belakang lehernya.
Gemma sudah sampai lagi di kosan Venya setelah mengantarkan bunda Kori. Dia terlihat lemas setelah mengangguk kemudian berbarinh di atas ranjang milik Venya. Kemudian menajwab, "aman kok. Gue udah sadae, cuman ga enak badan aja." Ucap Gemma sambil memejamkan wajahnya. .
"Lagian, kalo mau mabuk kabarin dulu. Jadi gue ga nungguin lo kayak patung ga ada kerjaan dari pagi - pagi tadi." Ucap Venya dengan dinginnya.
Venya sadar bahwa Gemma sudah mabuk sejak awal melihatnya datang ke kosan dnegan mobilnya dna muka lusuh. Venya sempat akan membatalkan janjinya pada bunda Kori dimana bunda Kori akan di amtar ke panti oleh Gemma. Namun, Gemma tetap memaksa. Alhasil, Gemma baru sampai saat itu.
"Lo tau gue mabuk?"