Bab 22 : PINDAHAN

1037 Kata
Venya sudah selesai berpamitan pada bunda Kori dan juga anak panti asuhan yang lainnya pagi itu. Barang - barang Venya juga sudah diangkut ke depan panti asuhan untuk menunggu Gemma menjemputnya. Namun, yang terjadi siang itu adalah Gemma yang sulit untuk dihubungi. Dia padahal harus segera pindah dan membereskan hal - hal.yangbia butuh bereskan di tempat barunya. Agar malam ini ia bisa langsung bisa tidur myenyak di tempat barunya. Meskipun Venya yakin, dia tidak akan tertidur denngan nyenyak mulai malam ini. Tempat baru adalah tempat yang asing. Begitu pula untuk Venya. Mungkin saja nanti malam Venya akan meneleepon bunda Kori untuk menemaninya berbicra sebelum tidur. Atau bahkan Venya akan menulis penuh malam itu. Entah, Venya belum tahu. Yang pasti adalah Venya mungkin tidak akan tertidur dengan nyenyak di tempat asing baginya. "Mana Gemmanya, Ven?" Tanya Bunda Kori untuk ke sekian kalinya. Venyabjuga bertanya dalam hati beberapa kali dan tidak kunjung mendapat jawaban. Telepon Gemma aktif namun tidak diangkat bahkan pesan singkat melalui aplikasi hijau itu jugabtida di read sedari tadi pagi. Padahal Venya sudah menghubunginya semalam dan ia mengatakan ome untuk menjemputnya sebelum jam sepuluh. Venyanjuga dijanjikan Gemma akan ditemaninkentemlat pembelian meja belajar untuk dirinya mengetik nanti. Tapi, dia benar - benar merasa bahwa Gemma adalah orang dengan janji - janjinya yang bahkan susah untuk di percaya. Maka darinitu, Venya meemsan lroduk itu secara online dan tidak mebgatakan apalun lagi kepada Gemma. Mungkin barangbyangbianoesan itu sudah sampai terlebih dahuku dari lada dirinya sendiri ke kosan yang akan ia tempati. Siaaalnya, Venyabbenar - benar ingin menjabak rambut Gemma yang sekarang mungkin sudah gondrong sekali karena beberapa harinyang lalu Gemma dan Venyabtidak bertemu. Terakhir kali bertemu, Venya melihat rambut Gemma yang sudah agak gondrong. "Ga tau Bun. Mungkin masih tidur. Dia lembur semalem nemenin aku beres - beres." Kata Venya mencoba untuk tennag walaupun dirjnya sendiri jiga ikutan panik. Pasalnya, kejadiannya malam itu Gemma memberitahu Venya kalau dirinya akan pergi main futsal dengam teman - temannya. Dan dari san, Venya lepas kontak dengan Gemma. Tidak ada saling menghubungi pada akhirnua, Venya merasa bahwa dirinya hanyalah penerima harapan palsu yang selalu diberikan Gemma. Kbali lagi kepada prinsip bahwa Gemma-lah yang selalu menemaninya dan menerima Venya apa adanya. Dan dari sana, Venya tidak bisa marah dan tidak bisa meninggalkan Gemma. Seperti Venyansudha terikat oenuh oleh Gemma. Padahal Venya sendiri merasa bahwa Gemma tidak begitu memprioritaskannya. Pdahal Venya selalu memprioritaskannya walaupun tidak dari segala hal. "Apa aku pesen taxi online aja, Bun?" Tanya Venya kepada bundanya yang sedang membersihkan gorden ruang tamu psnti. "Kenapa memangnya?" Tanya Bunda, "masih banyak waktu, bukan? Tungguin dulu aja." Sahut bundanya. Venya menggeleng, "rasanya, Gemma bakalan lama deh. Dia kalo tidur kayak kebo yang abis makan setruk rumput." Kata Venya setengah bercanda. Menenangkan bunda dan dirinya sendiri. Bunda kori terkekeh pelan, "boleh." Katanya kemudian, "pesen aja taxi online, tapi bunda ikut dulu. Bantuin kamu bersih - bersih sama beres - beres di sana." Ucap bunda korinyang bahkan tahu bahwa Venya akan snagat eksulitan jika tidak ada yang membantunya nanti di sana. Jika ada Gemma mungkin Bunda Kori tidak usah mengkhawatirkannya karena ada Gemma yang akan membantu. Tapi, jika Venya berangkat dengan tax obllnline, kemungkinan besarnya adalah taxi online tersebut akan menurunkan dirinya begitu saja tanpa membantu sama sekali Venya. Venya berfikir sebentar. Dia sebenarnya sennag akan ada bantuan dari bunda Kori yang sudah paham betul bagaimana Venya menginginkan kamarnya tertata seperti apa. Dia akan dipermudah tentu sjaa. Namun, rasanya tidak enak jika bunda Kori harus membantu venya dalam alasan sekecil itu. Apalagi, harus mengangkat - ngangkat barang bawaan Venya yang tidak banyak dan tidak pula sedikit. Setidaknya, cukup berat untuk diri Venya sendiri. Apalagi, kamar Venya nanti ada di lantai dua dan tidak bisa diangkat seorang diri untuk ukuran seorang perempuan. "Tapi, nanti aku bayar lebih supir taxi onlinenya ya,, nyuruh buat bantuin ngankatbke lantai dua." Kata Venya lagi. "Bunda sama aku mungkin ga kuat bolak - balik ngangkatin barang. Ada barang beratbjuga soalnya." Lanjut Venya. Bunda Kori mengangguk, "bunda ganti baju dulu, ga enak kalau kudu begini." Katanya, "pesan dulu aja taxi onlinenya." Lanjutnya setelah menyentuh pintu yang emmeisahkan ruang tamu dengan ruang tengah temlat anak - anak belajsr di oanti asuahan ini. ** *** *** Bunda Kori membereskan beberapa peralatan yang Venya bawa dari panti. Entah itu alat mandi, alat masak dan alat lainnya. Sedangkan Venya sibuk memindah - mindahkan dus yang bahkan tidak sampai tujuh dus itu dari mobil abang taxi online. Enam dus itu isinya sudah di sesuaikan. Sudah di tata dan mudah untuk menata ulang di kamar barunya itu. Barang bawaan Venya memang tidak banyak. Enam dus itu adalah dus makanan ringan. Kecil - kecil. Hanya satu yang besar adalah dus pakaiannya. Pakaian Venya juga sebenarnya tidak banyak. Namun, Venya sekaligus memasukkan selimut yang pertama kali ia miliki dengan uang hasil kerjanya. Selimutnya cukup tebal dan membuat hangat ketika di pakai. Selanjutnya, Venya sendiri sudsh menyelesaikan keuangan dengan abang taxi online. Dia mendudukkan dirinya di kasur karena ia butuh istirahat. "Bunda mungkin kalo Gemma udah bisa dihubungi dan udah bangun dari tidurnya, bunda pulang sama dia aja." Kata Venya ketika melihat ponselnya sama sekali belun ada kabar dari Gemma. Bunda Kori yanh sekarang pindah menata buku di rak yang baru saja dipasang oleh bapak kos yang membantunya untuk mengambilkan kunci kosan itu mengangguk. "Iya. Santai aja, Ven. Bunda lama - lama di sini juga gapapa kok." Kata bunda Kori pelan, "lagian ga ada kerjaan di panti. Sekarang hari libur juga. Ada bu guru sama pengasuh bayi juga." Kata bundanya lagi. Venya mengangguk, "kalo cape istirahat aja dulu, bun. Aku lagi pesen minuman sama makanan via online." Kata Venya, "waktunya makan siang, Bunda suka ayam goreng kan?" Tanya Venya lagi. Kibi bunda Kori yang mengangguk, "iya, boleh aja." Kata bunda, "kamu ga beli dispenser buat minum?" Tanya Bunda kori. Venya nyengir, 'belum bun. Sementara beli minuman kemasan yang gede dulu aja. Besok kalo udah ada Gemma mau beli. Sekalian mau liat kulkad mini juga." Kata Venya pelan, "bunda tau kan kebiasaan malem aku??" Tanya Venya yang jelas - jelas jawabannya sudha pasti. "Tau lah." Kata bunda langsung, "kamu suka ngemiln es batu. Kalo engga minum air dingin malem - malem." Venya tersenyum. Benar - bensr sosok orang tua yang baik nih bunda Kori.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN