Venya sedikit demi sedikit mengemas barang - barangnya. Bunda sudah benar - benar mengikhlaskan kepergian Venya dari panti asuhan dan menjadi dirinya sendiri di luar sana. Venya juga sudah benar - benar meminta ijin kepada bunda Kori. Dia juga memintabkeringanan. Jika dia merindukan masakan bunda Kori atau bahkan merindukan suasana panti, bunda Kori harus mempertimbangkan keadaan Venya dan menerima Venya kembali ke panti asuhan. Setidaknya hanya menginap sehari atau dua hari melepas rindu atau bosan di kosan sendirian.
"Pintu oanti asuhan ini terbuka untuk siapa saja yang membutuhkan, Venya." Ucap Bunda Kori saat Venya memberitahunya dan bertanya bagaimana jika Venya merindukan bunda dan anak - anak oanti tadi.
Selanjutnya, Venya buka. Hanya berharap. Harapannya menjadi nyata ketika Bunda berucap seperri itu. Venya akan sering berkunjung jika memungkinkan. Vemya akan sering menemui bunda Kori ketika merindukannya dan merindukan anak - anak oanti asuhan walauoun Venya tidak terlalu dekat dengan anak - anak panti lainnya, Venya berharap mereka bisa menerima Venya ketika dia merindukan suasana panti dan anak - anak yang bahkan hanya beberapa saat mengenal mereka.
Venya dan anak - anak panti lainnya memang mengenal satu sama lain. Sering kali beradu oendapat di meja makan saat makan bersama. Namun, Venya tidak ada perlakuan khusus kepada orang - orang atau anak - anak di oanti asuhan. Dia memberlakukan dinding berjendela di antara dia dan mereka. Kenapa? Karena Venya tidak tega melepas mereka pergi ketika mereka di adopsi begitu Venya dekat dengan mereka. Maka dari itu, Venya membatasi interaksi. Tidak terlalu dekat atau bahkan tidak snagat dekat dengan mereka.
Venya hanya akan merasa sedih jika sudah dekat kemudian ads yang diadopsi. Venya bahkan tidak tega untuk melepasnya. Pengalaman Venya membuatnya menjadi seperti ini sekarang. Venya dekat dengan semuanya, namun tidak terlalu dekat yang dekat banget. Dia membatasinya. Tidak ingin sakit hati lagi sebenarnya. Bukan karena Venya tidak ingin akrab dengan anak - anak lainnya.
Barang - barang Venya tidaklah sebanyak yang diperkirakan. Lebih banyak buku daripada barang yang ia pakai seperti tas baju dan lain - lain. Setidkanya, Venya yang sedang menulis harus lebih banyak menggunakan kosa kata baru. Dan kosa kata baru itunbisa ia dapatkan daei buku - buku ciptaan penulis senior yang lebih terkenal tentu saja. Penulis - penulis yang lebih dulundebut daripada dirinya. Penulis - oebulis yang bahkan oenggemarnya banyak dan penjualan bukunya lebih banyak dari pada Venya.
Venya tertawa dalam hati, ingin sekali rasanya dirinya menjadi seperti itu. Mendapat banyak penggemar, mengadakan fans meeting. Menandatangani banyak buku yangb erjual di depan penggemarnya. Sepertinya itu menyenangkan. Lagi - lagi Venya tertawa dalam hati. Prosesnya akan snagat lama tentu sjaa tidak semudah itu.
Akan ada proses yang sangat panjang untuk mendapatkan itu.
Ponselnya berdering ketika Venya duduk di tempat tidurnya untuk setidaknya menarik nafas dan beristirahat. Ada pesan masuk dari Gemma.
Oh iya, berbicara tentang Gemma, Venya sudha mengatakan pada Gemma jika dia akan mengambil kosan di sebelah kosan Gemma. Dia tidak ingin menempati kosan Gemma yang lama. Rasanya agak kurang nyaman. Dia ingin tempatnya sendiri.
"Santai ga? Kalo agak santai telpon gue." Kata Gemma di pesan teks tersebut.
Venya tersenyum kecil, "kenapa ga langsung nelpon aja si ini orang." Kata Venya pelan.
Lalu jari jemarinya menekan tombol panggil di ponselnya. Dia bergerak menyimpan ponselnya di telinga dan mendengar nada dering telpin di telinganya. Selanjutnya, ada suara dari sebrang.
"Santai?" Kata Gemma memulai pembicaraan.
Venya mengangguk, "agak santai." Kata Venya pelan membalas ucapan Gemma.
"Jadi mau pindahan kapan? Gue bawa mobil ke sana buat bantuin lo." Tanya Gemma.
Gemma memang orang to the point. Dia ingin langsung berbicara padahal dia bisa membocarakannya lewat pesan teks. Namun, Gemma adalah orang yang seperti itu. Dia tidak bisa berbalas pesan teks lama - lama. Dia lebih memilih berbicara langsung dan pembicaraannya mungkin seperti ini. Terkesan lebih seius daripada pembicaraan saat ia betemu dengan Venya.
"Bulan depan, Gem. Awal bulan." Kata Venya membalas lagi - lagi oertanyaan Gemma, "barang gue ga banyak, gue bisa pake grab kalo lo lagi sibuk." Kata Venya lagi untuk membalas percakapan di kalimat kedua Gemma tadi.
Gemma berdeham, "lo itu punya pacar." Kata Gemma menekankan kata pacar di kalimatnya barusan, "manfaatin gue lah sekali - kali." Kata Gemma dengan pasrah.
Venya terkekeh, "gue emang punya pacar, tapi pacar gue bukan abang grabcar." Kata Venya lagi, "lo udah lebih dari cukup ketika lo selalu ada buat guebtanpa lo harus bantuin gue beginian, Gem." Kata Venya lagi.
Gemma diam. Dia menarik nafasnya, "gue oengen bermanfaat buat lo." Ucap Gemma lagi.
Lagi, Venya terkekeh, "lo ga ngerada ga bermanfaat buat gue, Gem?"
Gemma tidak menjawab di sebrang sana. "Gue ngerasa ga berguna buat lo. Itu aja." Ucao Gemma, "sedangkan lo, lo sering bantuin gue ngerjain tugas. Belajar buat ujian gue dan lo itu sangat bermanfaat buat gue." Ucao Gemma lagi.
"Mau gue sebutin manfaat lo dikehidupan gue? Ya, supaya lo ga insecure aja sama gue." Kata Venya.
Venya diam dan Gemma pun diam. Mungkin Gemma meminta Venya melanjutkan perkataannya tadi.
Venya berdeham pelan, "lo itu udah bermanfaat banget buat gue." Kata Venya, "lo nemenin gue ke toko buku, nemenin gue makan, nemenin gue ke sana ke sini buat nerbitin buku, lo inget?" Tanya Venya.
Gemma diam, "yang ampir nyasar itu?" Tanya Gemma.
"Iya." Jawab Venya singkat, "pas sebelum gue punya oenghasilan dari buku, lo nemenin gue buat cari peneribit yang mau nerbitin buku gue. Nyari ke sana ke sini, nganterin gue nyerahin naskah ke beberapa oenerbit. Lo udah sangat bermanfaat bagi gue saat itu." Kata Venya.
Gemma diam lagi. Dia tidak bisa berkata apa - apa lagi.
"Kalo semisalnya lo ga nemenin gue saat itu, mungkin gue ga kayak sekarang. Ga bisa nulis buku dan ga mungkin punya oenghasilan dari buku gue." Kata Venya lagi, "walaupun sekarang buku online gue udah sedikit lebih maju, gue kan masih berharap kalo gue bisa nerbitin buku dan banyak orang yang beli." Kata Venya. "Itu udah sangat berarti Gem. Lo ada di setiap langkah gue buat jadi penulis." Kata Venya meneruskan.
"Itu 'kan dulu. Sekarang manfaatin gue lagi Ven. Lo semenjak punya oenghasilan jarang banget minta gue ini dan itu." Ucap Gemma sediit memakain intonasi rendah dan merengek.
Venya terkekeh, "ya udah iya, bantuin gue pindahan ya nanti."