Jika dipikir - pikir, Venya benar - bensr todak pernah memikirkam kenapankradaan seperti ini, keadaan yanh sedang Venya jalani sampai hari ini. Venyabhanya menjalaninya dengan senang hati dan benar - benar tidak pernah penasaran kenapa bisa. Hanya sekali, ketika dirinya menulis kisah tentang anak yatim piatu. Dirinya pernah memikirkannya kala itu. Hanya untuk sekedar menjadi referensi cerita. Selebihnya, benar - benar tidak pernah terpikirkan secara sengaja.
Entah karena Venya sibuk menikmati hidupnya saat ininatau karena memang Veny tidak punya rasa penasaran akan hal sepele seperti itu. Venya sendiri merasa bahwa dirinya tidak emmerlukan orang yang sudah membuangnya dan tidak pernah menengoknya sama skali. Venya tidak pernah memikirkan hal itu juga salah satu alasannya adalah Venya tidak ingin sakit hati mengetahui apa alasan di balik Venya di buang. Alasan dibalik Venya tidak diterima oleh keluarganya terdahulu.
Duduknya sudah tidak nyaman di depan latop milikinya sendiri. Venyabkini menekan ctrl + s untuk menyimpan pekerjaan sebelumnya. Dia melihat jam di ujing bawah kanan laptopnha, sudah menunjukkan pukuk dua pagi namun idenyantidaknkunjung datang lagi. Matanya sudah perih dan tidak bisa diajak kompromi lagi.
Lantas Venya pergi beranjak dari kursi kerjanya dan mengambil ponselnya lalu berbaring di tempat tidur. Dia sesekali juga main sosial media. Tapi lebih sering buat baca komen - komen dari penggemarnya. Terkadang diajuga membalas dan berinteraksi dengan orang - orang yang membaca ceritanya. Terkadang juga saling berbalas komentar.
Meskipun mereka tahu bahwa Venya adalah penulis yang 'cukup' dikenal di kalangan oembaca yang aktif, tapi mereka hanyabsebatas tahu bahwa Venya adalah Flora.
Flora adalah nama pena dari Venya. Sudha lama ia menggunakan nama itu. Walaupun dulu sekedar iseng memakai nama itu, sekarang nama itu menjadi cukup terkenal di kalangan pembaca, oenulis lainnya dan bahkan di editor - editor yang terkadang menghubungi untuk menawarkan lisensinyabuntuk menerbitkan buku Flora di tempatnya. Venya sendiri sudah emmiliki penerbit yang sudah di percaya. Sudahs ekitar setahun dan mau dua tahun ini, Venya menandatangani kontrak yang bahkan mungkin akan diperpanjang lagi untuk ke depannya.
Penerbit yang sekarang bersama Venya mengurusi segalanya. Mulai dari edit typo, kalimat yang terkadang berantakan, cover buku, bahkan memperbaiki sinopsis yang sekiranya perlu diperbaiki. Venya hanya menuliskan idenya dan cukup sampai di sana. Dia tidak memikirkan isi dan cover. Tapi terkadang oenerbit menawarkan piluhan satu dua dan tiga contoh cover. Dan biasnaya Venya lebih memilih yang masuk di hatinya. Mempertimbangkan beberapa hal. Karena cover itu menggambarkan isi cerita yang bahkan hanya dilihat dari covernya saja sudah bisa menebak apa yang akan di bawakan dan isi dari buku itu.
Flora sendiri adalah nama Venya di dunia lain. Di dunia yang mana orang tidak tahu bahwa sebenaeenya Flora yang di kenalnya adalah orang dari panti asuhan. Orang yang peenah di buang oleh 'orang tua' - nya sendiri. Peneebit setuju untuk merahasiakan kehiduoan asli Flora. Biarlah orang - orang di luar sana mengenal Flora sebagai Flora penulis yang bahkan terlihat bahagia. Flora yang menulis dengan baik. Dan juga Flora yang sering kali telat update dan terkadang idenya buntu begitu saja.
"Orang ini perasaan dari pertama kali nulis di sini ada terus sampe sekarang." Kata Venya pelan.
Ada orang dengan nama akun yang tidak asing menurut Venya. Dia sering melihat nama itu dan sering sekali berkomentar di setiap babnya. Menagih bab berikutnya. Komentar positif. Memberikan semangat bagi Flora. Banyak sekali yang diingat oleh Venyab tentang akun ini.
Tak sadar, senyuman kecil terukir di wajah Venya setelah membaca komentar dari akun yang sama. Dia berkomentar terhadap tokoh yang dibuat oleh Flora. Marah - marah karena kesal.dengan perilaku si tokoh di bab itu. Padahal pada intinya di bab tersebut, Flora lebih menonjolkan sosok si peremopuan. Namun, akun ini malah memperhatikan yang lain.
"Gaje banget njir ini orang." Kata Venya setelah melihat komentarnya.
Tangan dan jemarinya secaravotomatis membalas komentar dari akun yang diingat Venya. Dia membalas setiap komentarnya di bab itu. Memang bukan satu saja komentar di bab itu. Ada banyak. Maka dari itu, Venya menganggap pemilik akun itu kocak dan sangat memotivasi dirinya. Dia ingin segera update. Namun hari ini dia akan uodate siang hari seperti biasnaya.
Berbicara tentang Flora.
Venya memilih nama Flora daripada namanya sendiri untuk nama penanya adalah dadakan. Dia tidak sengaja waktu pertama kali membuat akun menulis itu dengan nama itu, karena dia sedang belajar tentang Flora dan Fauna. Tadinya, mungkin jika Vwnya sedang belajar tentang geografi, dia akan memilih nama mars untuk akunnya. Namun, saatbitu kebetulan sekali Venya sedang mempelajaribtentang Flora dan Fauna.
Setelah Venya mencari arti nama Flora ternyata banyak sekali artinya. Dulu, Venya berfikir bahwa Flora hanya sebatas bunga. Namun ternyata sangat luas. Flora dalam bahasa Karakteristik, artinya Senang bekerja sendiri. Flora dalam bahasa Sejarah, artinya Nama dibawa dalam mitologi romawi oleh dewa dari bunga dan musim semi (kata jadian dari latin flos 'bunga', genitif floris) ini juga adalah bentuk feminin daari nama keluarga romawi kuno florus.
Jika Flora tidak dipilih oleh Venya mungkin tidak akan selancar ini rizkinya. Kadang, Venya sangat bersyukur karena memilih nama Flora untuk nama Penanya. Tapi, ada juga penyesalan di hati Venya karena memilih nama itu. Venya sendiri bisa aja mengganti nama Flora menjadi nama Venya ketika menerbitkan buku. Namun, privasi Venya mungkin nanti akan terekspos. Maka dari itu, Venya hanya bisa pasrah akrena nama Flora sudah terkenal di kalangan oenulis dan oembaca. Jadi, tidak ada oenyesalan lagi untuk Venya memilih nama Flora.
"Udah subuh aja." Ucap Venya pelan ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul empat pagi. "Tidur, Venya." Katanya untuk diri sendiri.
Venya adalah orang yang sudah biasa tidur dini hari. Dia juga tidak pernah merasa ngantuk. Satu lagi ekkurangan tinggal di panti asuhan adalah da tidak bisa tidur seenaknya. Terkadang bunda Kori selalu membangunkannya jam sembilan pagi. Padahal dia baru tidur jam tujuh pagi. Jika dia tinggal sendiri, mungkin dia akan tidur sampai siang tanpa ada yang membangunkan. Kecuali rasa lapar.
Dan Venya benar - benar berfikir lagi.
Untuk pergi dari sini dan untuk tinggal sendiri nantinya. Venya merasa banyak kelebihan yang akan ia dapat jika dia pergi dari sini. Jika emmang menyesal, dia akan kembali lagi ke sini dan berharap bunda Kori menerimanya lagi. Setidaknya jika Venya berangkat dan pergi secara baik - baik dari sini, kemunhkinan besar dia akan di trrima lagi di sini.
Harap Venya.