Panti asuhan tiba - tiba ramai karena Venya.
Ceritanya, Venya setelah pulang dari tempat kosan milik Gemma sore kemarin dia berencana untuk menulis lagi. Dia ingin mengejar targetnya karena sudah ditagih para penggemar juga manager dari perusahaan yang menerbitkan bukunya lalu - lalu. Kemudian, dia beremcana menulis di belakang. Di tempat yang biasa ia tempati ketika mengobrol dengan Gemma.
Dia bersantai di sana menikmati suasana sore itu. Angin sepoi - sepoi menemaninya kala itu. Anak +- anak panti sedang tidak ada di panti. Termasuk bunda Kori, mereka pergi ke olam renang untuk sekedar melepaskan penat karena sudah belajar selama satu minggu. Kegiatan seperti ini biasanya dilakukan olah mereka dan disetujui oleh bunda Kori jika melihat anak - anak sudah tidak bersemangat lagi dalam.belajar. mereka sangat tidak bisa jika tidak diberi hiburan. Sudah menjadi kebiasaan dalam satu bulan mereka melepas penat dengan berenang atau sekedsr libur dalam belajar. Sebulan sekali. Batasnya memang lama namun, itu sangat berarti untuk mereka semua. Setidaknya, mereka memiliki waktu luang untuk diri mereka sendiri.
Dan moment seperri ini adalah kesempatan menulis debanyak - banyaknya yang bisa di dapatkan oleh Venya. Dia tidaka akn terganggu oleh hal apapun kecuali memang suara berisik dari beberapa tempat di luar panti. Sisanya, tidak ada yang bisa menganggunya. Walaupun terkadang bunda Kori yang menganggunyabitu adalah untuk kebaikan Venya. Misalnya untuk memberikan makan, atau sekedar mengingatkan untuk mandi dan lain - lain. Namun, di mata Venya, itu adalah hal yang menganggu. Tentu saja, ketika di tanya orang luar tulisannya menjadi kacau, kemana saja dan tentu idenya hilang seketika.
Setelah menulis engan kecepatan 70 sampai 80 km/jam, dia mendapatkan beberapa bab stok untuk di update di platform berbayar dan mendapatkan beberapa bab juga untuk buku yang mungkin akan segera dikirimkan ke editor unruk di terbitkan. Dia sedang mengalami dua proses yang bahkan membuatnya sedikit lebih sibuk dari biasanya. Dia sedang menyukai penggemarnya di platform.berbayar dan juga sangat menyukai cerita yang di tulisnya untuk ke penerbit.
Dia berjalan memasuki panti melalui pintu belakang. Berjalan ke arah dapur dan mengambil segelas air putih lalu meneguknya sampainhabis. Mencuci gelasnya dan menaruhnya lagi ke tempatnya berasal. Dia kemudian mengambil latopnya yang tadi sengaja ia letakkan di meja makan dengan hati - hati. Lalu langkahnya menuju kamar terhenti di ruang tengah. Telinganya dengan jelas menangkap suara jeritan bayi yang entah dari mana.
Dia melihat jam tangan yang melingkar di tangannya sedari pagi. Kemudian dia menajamkan lagi telinganya dan benar, masih ada suara bayi di sekitarnya. Jam baru menunjukkan pukul empat sore. Tadinya, jika suara itu muncul menjelang malam mungkin Venya akan mengabaikannya dan meneruskan langkahnya ke dalam kamar tanpa memperdulikan suara itu. Lalu, dia benwr - benar melangkah ke kamarnya dengan cepat untuk menyimpan laptopnya dan keluar kamar lagi untuk kembali mendengarkan secara benar - benar dari mana suara itu berasal.
Suara yang bahkan dia sendiri takut untuk mencarinya dan lebih takut lagi jika dia abaikan. Jika diabaikan dan benar - benar ada bayi. Bagaimana nasib dari bayi itu ketika venya yang mendengar suara dia tapi memilih untuk mengabaikannya. Kasihan sekali. Maka dari itu, Venya akan memastikan bahwa bayi itu benar - benar ada.
Langkahnya pelan kemudian semakin jelas suara itu ada di depan pintu panti asuhannya. Dia dengan terburu - buru membuka pintu itu dan matanya terbelalak. Dia menemukan bayi itu tergeletak begitu saja di teras pantinya. Dengan cekatan Venya segera menggendongnya, membawa masuk ke dalam dan menyelimuti dengan selimut yang ada. Entah delimut siapa nanti mungkin akan dijelaskan bahwa keadaannya darurat. Dia kalut. Dia benar - benar tidak bisa berkata apa - apa.
Bayi dengan busana seadanya dan juga selimut seadanya itu kini ada di pelukannya. Dia benar - benar ingin sekali berkata kasar oada siapapun yamg meletakkannya begitu saja di tempat keras dan dingin di depan sana. Dia melangkah lagi keluar pintu lalu celingak - celingkuk mencari seseorang yang mungkin saja tahu atau yang sengaja menyimpan bayi ini di sini. Tapi tidak ada siapapun di sana.
Bodoohnya seorang Venya adalah seharusnya, sedari tadi dia mencari pelaku sebelum membawa bayi itu ke dalam. Tapi pikirannya saat itu benar - benar kalut dan kaget secara bersamaan. Dia kaget karena bayi itu mungkin kedinginan. Maka dsri itu, dia lebih memilih menyelamatkan bayi itu daripada mencari pelaku yang bahkan mungkin saja ibu dari bayi ini sendiri.
Bayi itu mungkin memang kedinginan, karena sejak digendong dan selimuti dia diam walaupun sedikit terisak. Dia tidak tahu musti apa lagi. Namun, yang pasti dia harus mencari sesuatu yang bisa di cerna bayi ini. Mungkin dia lapar juga selain kedinginan.
Untuk itu, dia masuk ke dalam dan mengambil ponselnya dan menelepon Gemma untuk setidaknya datang ke sini dan membawakan s**u formula untuk bayi.
"Bisa datang ke sini ga, Gem?" Tanya Venya kepada Gemma yang sudah mengangkat teleponnya.
"Kenapa, Ven?" Tanya Gemma di sebrang sana.
Venya diam, "gue jelasin di sini deh. Bisa ga lo dateng cepet - cepet?" Tanya Venya lagi.
"Bisa, gue jalan sekarang ya." Kata Gemma.
Dipikiran Gemma adalah Venya mungkin membutuhkannya. Sangat menbutuhkannya karena tidak biasanya Gemma mengajaknya bertemu mendadak seperti ini. Terburu - buru dan terkesan panik.
"Sebelum ke sini, mampur ke minimarket dulu, Gem." Kata Venya lagi sebelum emnutup teleponnya.
Gemma yang sudha bersiap jalan kini diam. '"lo mau ada beli sesuatu?" Tanya Gemma lagi.
"Iya." Kata Venya, "nitip sufor buat bayi baru lahir, Gem."
Tanoa bertanya lagi, Gemma segera menyalakan motornya. Dia memakai motor agar cepat smapai. Jam segini adalah jam lulang kantor. Kemungkinan macet. Dan Gemma yang sudah emnebak apa yang terjadi kini tidak bisa membuat Venya menunggu lagi. Gemma sudah mengerti aoa yang terjadi dan apa yang dibutuhkan oleh Venya. Selanjutnya, Gemma langsung meluncur setelah menyatakan 'oke' di teleoin bersama.Venya tadi.
Venya di sebrang juga kini menelepon bunda Kori. Dia langsung membicarakan intinya dan bunda Kori langsung akan pulang. Vunda kori dan anak - anak memang sudah berencana pulang. Namun, terhalang oleh kamar mandi yang oenuh untuk mandi. Setelah di telepon oleh Venya, bunda Kori memutuskan untuk hanya berganti oakaian saja di temlat yang berbeda dan mandi nanti di panti. Begitu pula ia memberitahukan hal yang sama dan memberlakukannya kepada anak - anak oanti yang lain.
Bunda kori panik tentu saja. Dia harus segera sampai ke rumah. Untung saja guru yang sedang membimbing anak - anak oanti oengertian.
"Bunda oulang duluan saja, anak - anak biar saya yang ngurus." Kata guru yang sudah banyak membangu oanti itu.
Tanpa basa basi bunda kori menitipkan anak - anak panti dan segera pulang.
Begitulah Venya yang menbuat gempar panti dan membuat panik siapapun yang di telpinnya sore itu.