Bab 15 : INGAT VENYA

1008 Kata
"Ga tau juga , tiba - tiba abis nulis ada suara bayi gitu aja." Kata Venya setelah mendapat beberapa pertanyaan dari Bunda Kori yang kini sudah beralih menggendong anak bayi yang baru saja di temukan oleh Venya tadi. Bunda Kori memang sudah biasa menanggaoi hak - hal seperti itu. Dimana ditenukan bayi begitu saja di depan panti. Di simpan begitu saja tanoa surat ataupun apapun yang bahkan bisa menjadikan anak ini punya nama. Seketika Bunda Kori mendapatkan pertanyaan untuk Venya. "Kamu ga liat siapa - siapa?" Tanya Bunda Kori untuk Venya. Sebenarnya, ini sudah keberapa kali bunda Kori bertanya. Namun, masih saja membutuhkan jawaban dari Venya. Padahak pertanyaan itu jawabannya tetap sama 'enggak' tapi mungkin Bunda Kori memerlukan kepastian lagi. Entah utnuk apa tapi Bunda Kori seperti membutuhkannya. Venya kembali menggeleng, "engga, bun." Kata venya pelan, "aku tadi panik banget liat bayi mukanya udah lucet, mana dingin banget tadi sore, jadi aku ambil bayinya terus aku masuk pakein selimut yang ada di kursi abisbitu catinkeluar udah ga ketemu siapa - siapa." Lanjut Venya menjelaskan apa yang terjadi di jam sore tadi. "Kenapa ga tengok - tengok dulu sih, Ven." Kata bunda Kori lagi. Venya menarik nafasnya berat, kemudian menghembuskannya pelan, "bunda, aku tafi liat bayi udah pucep. Mana sempet tengok kana kiri. Yang ada aku cepet - cepet mau nyelametin dede bayinya dulu daripada tau siapa pecundaang yang berani dan tega buang bayi selucu itu." Kata Venya lagi. Semuanya ada di sana. Para orang dewasa berdiskusi di meja makan. Ada Venya, Bunda Kori, Gemma dan juga guru yang mengajar di panti asuhan. Sebenarnya ada satu anggota lagi yang membantu bunda mengurus panti. Namun, dia sedang sakit jadi sedang libur dan tidak bekerja di sini. Mereka berkumpul untuk berdiskusi melaporkan kejadiannya kepada polis atau tidak. Karena ini sudah termasuk tindak kriminal juga, membuang anak? Tentu saja itu ilegal. Tapi setidaknya, sang orang tua atau bahkan entah siapa yang menyimoan bayi itu di depan oanti asuhan masih memiliki hati. Dia tidak samlai membunuhmya atau emmbuang kemana saja dan membiarkannya meninggal. Venya tertawa dalam hati memikirkan siapa yang tega menyimoan bayi munyil ekcil tidak berdaya itu di depan panti asuhan. Entah itu hubungan gelap atau apa, setidaknya mereka harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah mereka perbuat. Mereka lebih memilih untuk membuang dan tidak ingin bertanggung jawab tentang hal ini. Padahal mereka mungkin 'menikkmatinyaa' saat membuatnya. Dan sekarang, sudha keluar mereka tidak bertanggung jawab? Venya benar - benar tertawa dalam hati. Lalu, oemikiran dia yang dimana orang yang membuang bayi ini ke panti asuhan 'masih memiliki hati'? Dia juga mentertawakan kalimat tanda kutip itu. Dimana 'memiliki hati' tidak cocok untuk mereka yang masih dengan tega 'membuang' anak mereka. Yang masih merah dan yang tidak bersalah ini. Sangat tidak cocok. Benar - benar tidak cocok. Mereka sama saja seperti pengecuut yang bahkan sama sekali tidak memiliki hati dan tidak memiliki otak untuk berfikir, menurut Venya. Venya jadi emosi sendiri melihat keadaan ini. "Jika menurut saya, kita tidak usah melaporkannya ke polisi, bunda." Kata guru yang mengajar di oanti asuhan ini. Bunda Kori menanyakan alasannya dan sekaramg mungkin gurunya bingung bagaimana cara menjelaskannya. "Mungkin maksud bu guru begini, bunda." Kata Venya menengahi, mereka semua lantas menatap Veenya. Apalagi bu guru yang menatapnya penuh harap. "Mereka yang menyimpan anak di depan panti adalah mereka yang menganggap bahwa panti lebih baik daripada selokan ataupun menbunuh bayi ini." Kata Venya setelah menarik nafasnya dalam, "mereka berfikir jika mereka menitipkannya di sini kemungkinan bayi ini akan hidup dengan baik daripada harus membuangnya ke mana saja. Mereka memiliki haraoan untuk anak ini hidup." Lanjut Venya. "Apa urusannya dengan tidak melaporkannya kepada polisi?" Tanya bunda Kori lagi. Dia masih keukeuj ingin menemukan siapa yang menyimpan anak tidak bersalah ini di depan oanti asuhannya. Dia tidak tega dan ingin menjelaskan bahwa dia -yang membuang bayi ini- bisa sadar bahwa dia bisa mengurusnyanjuga dengan baik tanpa harus membuangnya ke panti asuhan. Bukan bunda Kori keberatan untuk mengurus bayi. Namun, dia ingin memastikan bahwa ibu dari anak ini tidak akan menyesal nanti di kemudian hari. "Jika lapor ke polisi, itu berarti dia akan membuka aibnya sendiri. Ramai - ramai polisi akan memeriksa dan menemukan ibu dari bayi ini atau siapapun yang menyimpan di sini dan membuat keributan yang menjadikan orang yang menyimoan bayi ini malu oleh tetangga atau siapapun yang ada di dekatnya." Kata Venya. "Bunda juga harus memperhatikan kondisi fisik dan mentak ibu kandungnua yang mungkin dia juga ingin mendekap nati ini namun keadannya yang tidak bisa membuat dia melakukan hal itu." Kata Venya lagi. Bunda diam. Gemma dan bu guru juga diam. Intinya, dia memytuskan untuk menitipkan bayi ininke oanti asuhan adalah dia tahu bahwa oanti asuhan akan memberikan yang terbaik untuk bayinya. Setidaknya, kehidupannya terjamin dan anaknya jelas ada di mana tidak terlantar begitu saja. Itu menurut Venya. Gemma juga diam karena dia tidak bisa membalas ataupun berbicara apa - apa tentang jni. Selain dia bukan siapa - siapa di sini, dia juga tidak berhak dan tidak mengerti harus bagaimana. Dia hanya mendengarkan dan menjadi saksi apa yang akan dilakukan pada bayinini selanjutnya. "Jadi, dia akan di rawat di sini?" Ucap Bunda menatao bayi itu. Dia yang dimaksud oleh bunda kori adalah bayi yang tengah di gendonhnya. "Aoa nanti ibunya akan sering melongok ke sini?" Tanya hundanya bermobolog. "Kemungkinan iya." Kata bu guru, "diantahu betul dimana bayinya, dia pastinounya alasan kenapa bayinyabdi simoan dan di tirip ke sini. Dia munfkin percaya bahwa panti ini mampu menjaga anaknya. Mampu secara finansial dan kemampuan orang - orang di dalamnya." Ucap bu guru lagi. "Bagaimana jika orang yang menyimoan bayinini hanya melangkah pergi tanpa menengok anak ini.?" Bunda kori bertanya lagi. Venya venar - benar capek, begitu banyak sekali oemikiran bundanya yang bahkan pemikiran iti sebenaenyabtidak perlu dipikirkan. Tidak perlu di khawatirkan. "Bunda jadi ingat kami, Ven." Kata bundanya. Venya tertegun. "Kenapa?" Tanyanua pelan. Bunda kori menarik nafasnya, "kami juga berdiskusi seperti ini sata nemuin kamu. Banyak kemungkinan yang kami pikirkan. Banyak hal yang kami pertimbangkan dan pada akhirnya, kamu menetap di sini hampir 18 tahum." Kata bunda kori lagi. Venya diam, "begitukah?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN