Malam ini mereka akan dinner dengan general tsos chicken, salah satu hidangan oriental yang enak sekali. Cara membuatnya juga gampang, kita mulai dengan bahan-bahannya:
Edgar mengambil kertas dan pensil, lalu mulai menulis:
Satu d**a ayam fillet dipotong-potong sesuai selera.
Bawang diiris tipis.
Cabe kering yang dibuang bijinya, diiris serong.
Soy sauce, satu cup cornstarch dan telur satu butir.
Edgar tunjuk tangan "trus ibu budi kepasarnya naik apa bu guyu? naik otok-otok yah?"
"Shut up Ed!"
"Oce" Edgar kembali ke kertasnya, sekarang ia menggambar dua buah bakpau.
Untuk saus, bahannya adalah:
Soy sauce, bawang putih, orange juice, cornstarch, white vinegar, gula, white wine dan sekaleng kaldu ayam.
Edgar tunjuk tangan lagi, pensilnya diselipkan ditelinga. Pria itu persis seperti tauke beras di pasar induk Cipinang.
"Bapak budi itu sebenernya tukang ojek atau tukang gali sumur bu guyu?"
"Kalakuan maneh jiga maho, Ed!" Edgar ngakak, gambar bakpau di kertasnya sekarang ada pentilnya.
Yang pertama buat sausnya dulu, masukkan semua bahan, mixing sampai rata dan diamkan dilemari es.
"Gampil mah." Edgar mencibir, gambarnya makin tak senonoh, ia sekarang menggambar j****t yang membelukar.
Next, campur cornstarch, telur dan soy sauce sampai menjadi pasta, lalu masukkan potongan ayam satu persatu dan goreng sampai matang dalam minyak yang panas, angkat dan tiriskan. Kemudian goreng bawang dan cabe kering dengan sedikit minyak, tambahkan bahan saus, masukkan ayam, aduk sampai rata.
Done!
"Bu guyu, si Ani siapanya Budi?"
Edna mendelik, ia bersidekap memandang Ed yang berkaus oranye dan topi yang dipasang terbalik di kepalanya "kenapa kau jadi kayak tukang parkir, Edgar? dasar gelo!"
Edgar melirik sebentar ke dirinya sendiri, tak tahu kenapa ia memakai topi didalam rumah.
Gadis itu geleng-geleng kepala melihat Edgar yang kebingungan, lalu mulai menata meja. Dua piring untuknya dan Edgar kini sudah terisi nasi putih yang masih panas. Edgar melihat Edna dengan penuh kagum, karena gadis itu sangat lihai di dapur, seolah ia memang sudah terbiasa berada disana seumur hidupnya. Edgar tiba-tiba jadi ingin punya istri.
Mereka makan dengan lahap, dan lagi-lagi Edgar speechless dengan hasil kreasi Edna, masakannya sungguh enak sekali. Ia tersenyum senang ditengah lidahnya yang bergelut dengan saus yang gurih dan ayam yang berkulit garing.
"Kenapa semua masakanmu lezat Edna? kau belajar dimana?"
Edna tersenyum, matanya menghangat mendengar pujian Edgar yang tak gombal. Wanita itu setuju dengan ucapan mang Ujang, Edgar itu jujur, laki-laki itu apa adanya.
"Insting Ed, semua wanita dituntun untuk menyenangkan orang-orang yang paling disayanginya, salah satunya adalah dengan suguhan masakan yang lezat. Makanya, yang jadi ibu rumah tangga itu adalah perempuan. Laki-laki tak dianugerahi untuk memiliki kasih sayang seperti itu, karena tertutup egoismenya sebagai manusia Alpha."
Mereka berbagi senyuman dari atas meja makan, Edgar mengambil satu tangan Edna dan mengecup jari-jarinya.
Ini bukanlah candle light dinner, tak ada suara biola disekitar mereka, yang terhidangpun bukan masakan seorang chef hebat yang berharga jutaan rupiah, tapi bagi siapapun yang merasakan kedekatan emosi Ed dan Ed, makan malam mereka bisa dibilang sangat romantis dan Edgar diam-diam mendokumentasikannya di dalam sebuah kotak memori.
Siang itu panas sekali, Edna mengurut kepalanya yang tiba-tiba pening. Jalanan berdebu di depan E&EValley menambah penderitaannya. Ia masih merasa lelah, karena tak banyak istirahat. Tadi malam setelah dinner romantis mereka, Ed dan Ed melanjutkannya dengan seks maraton. Edna kewalahan menyeimbangi kebuasan Edgar diranjang dan ia merasa tadi malam mereka sedang menciptakan sebuah rekor.
Setelah melemparkan kantong sampah ke tempat pembuangan umum yang berada di samping rukan, sebuah mobil berhenti didepannya, mobil sedan itu berwarna putih, seputih baju pengendaranya yang keluar dari kursi pengemudi. Awalnya Edna tak menyadari laki-laki itu, tapi setelah ia benar-benar bisa melihat, gadis itu terkejut.
"Edna? Savior Edna kan?"
Pria itu jangkung, rambutnya dipotong pendek dan rapi, lengan kemeja putihnya tergulung disiku, matanya yang berada dibalik lensa bening tampak terkejut.
"Dokter Rayhan?"
"Sukurlah kamu ingat, apa kabar Edna?" ia tersenyum memandang perempuan dihadapannya.
"Ba..ba..baik dok, dokter?" gadis itu gugup, ia tak menyangka akan bertemu lagi dengan laki-laki itu.
"Aku baik, kamu kerja disini sekarang?"
"I..Iya, jadi OB disini."
Rayhan mengangguk. Ia terdiam memperhatikan Edna yang menunduk memandang ujung sendalnya. Hati pria itu berdesir, kecantikan Edna sedari dulu selalu menarik perhatiannya, dan sekarang gadis itu bertambah indah. Lihatlah rambut hitamnya yang lebat dan halus, ingin rasanya Rayhan membenamkan jemarinya disana.
"Kau tinggal disekitar sini?"
"Mmm iya..eh tidak..iya, iya."
Dokter muda itu tertawa, Edna semakin gelisah ditempatnya.
"Baiklah, aku lega akhirnya bisa bertemu lagi denganmu, sejak.....mmm, aku akan kesini lagi besok, bagaimana dengan makan siang berdua?"
"JANGAN!!!"
Suara Edna melengking tinggi dan membuat laki-laki didepannya terperanjat kaget.
"Maksud saya, bos saya galak dok, OB dilarang keluar makan siang."
"Masa sih?" kening pria itu berkerut mendengar ucapan tak jelas Edna.
"Bener dok, bos saya pelihara kerbau putih jelmaan nini gombel didalam kantornya." Edna menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya dibelakang punggung.
Edna tak tahu lagi alasan yang pas untuk menolak keinginan Rayhan, terpaksa ia harus mengorbankan Edgar.
"Oke, tapi bisakah kau memberikan nomor ponselmu, mungkin saja nini gombel berbaik hati memberikanmu libur satu hari."
"Saya tak punya handphone dok, belum gajian."
Rayhan tersenyum, ia mengambil dompetnya dari saku celana belakang, dan mengeluarkan sebuah kartu dan memberikannya kepada Edna.
"Ini kartu namaku, kau bisa menghubungiku kapan saja, aku sekarang dinas disini."
"Baik dok" Edna memandang deretan nama dan angka yang tertera di atas kertas putih itu.
dr.M.Rayhan Faridz, Sp.KJ
Hp: 08XXXXXXXXXX
Sepertinya Rayhan tak rela pertemuan mereka berakhir begitu saja tapi ia harus segera pergi, ada beberapa pasien yang menunggunya dirumah sakit.
"Bye, Edna." ia berbalik dan melangkah dan masuk kedalam mobilnya, Edna memandang kendaraan Rayhan sampai menghilang di tikungan. Kepalanya semakin berdenyut-denyut. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju pintu depan E&E, tapi langkahnya terhenti, Edgar berdiri disana memandangnya dengan raut wajah tak terbaca, Edna langsung mengeluh.
Sejak kapan laki-laki itu berdiri di sana? apa Edgar tadi melihatnya dan Rayhan?
"Ketemu pacar, Edna?"
"Dia bukan pacar, teman."
"Kau punya teman ternyata, kenapa kau tak menumpang dirumahnya saja? sepertinya ia jauh lebih kaya dariku?"
Edna menghembuskan nafasnya, sungguh ia tak mau berdebat dengan Edgar sekarang, ia ingin minum dan beristirahat.
"Dia teman lama Ed, aku baru bertemu lagi dengannya."
Edgar melangkah mendekatinya, merapatkan tubuh mereka dan tak memberikan ruang sedikitpun.
"Dibawah atap rumahku kau dilarang untuk berbohong Edna, kau harus tahu itu" bisikkan Edgar serasa pedas ditelinganya, Edna meringis ketika laki-laki itu berbalik masuk kedalam kantor.
Edna memejamkan mata, menghitung sudah beberapa kebohongan yang ia tumpuk sejak berada disisi Edgar.
Ia tak mau mati sekarang, paling tidak bukan karena dikutuk oleh laki-laki yang dicintainya.
**********************************************************