Hari ini minggu, Edgar mengajaknya untuk berbelanja, Edna senang sekali, katanya ia sudah lama tak naik mobil dan dibalas Edgar kalau ia juga sudah lama tak naik perempuan. Sebelum berangkat Ed mengangsurkan sebuah kantong kresek hitam kepadanya, Edna menerimanya dengan senang hati, tapi ketika ia mengambil isinya, keningnya langsung berkerut.
"Daster?"
"Yep."
"Buat apa?"
"Dimana-mana pembantu pakai daster Edna."
"Ha...EDDDDDDDDDDD!!!!!" badan Ed di cambuk Edna dengan daster kembang-kembang dan berwarna kuning cerah, Edgar melindungi tubuh dengan lengannya, ia tertawa puas. Edna masih mengamuk.
"Emang kenapa, kau kan tak mungkin pakai bajuku terus."
"Aku punya baju sendiri kok."
"Bajumu sudah aku suruh buang sama tukang laundry."
"Apa?"
Edgar terbahak melihat muka Edna yang t***l. "Habis, udah kumal gitu, mending pake ini, masih baru."
Edgar melambai-lambaikan pakaian itu dihadapan muka Edna yang memberengut.
"Trus, pakaian dalamku juga kamu buang?"
Laki-laki itu mengangguk, Edna meradang.
"Kamu pakai daster aja, ntar kita beli underwear buat kamu, gimana?"
"Kamu pikir aku gila? pergi keluar ga pake celana dalam?"
"Trus kamu mau pake bokser aku?"
"NGGAK LAH!"
"Ya udah, ayo! ntar macet, hari ini hari libur!"
Awas lo Ed, gue bales lo ntar. Ia mengikuti Edgar yang masih tertawa dengan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai.
Sesampainya di mall, Edna terlihat gelisah, daster yang dibelikan Ed hanya sebatas dengkulnya dan berbahan tipis, untunglah Ed tadi meminjamkan jaketnya, sehingga p******a Edna yang tak tertutup bra, tidak terlalu kentara.
Mereka memasuki sebuah supermarket, setelah mengambil troli, Ed dan Ed mulai berburu bahan makanan dan kebutuhan lain yang kemaren di list Edna dalam sebuah kertas kecil.
Pertama semua hal yang berhubungan dengan kamar mandi, sabun, sampo, odol dan sepasang sikat gigi, Edgar ingin punya sikat gigi berwarna hitam, Edna menawarkan sikat wc. Mereka selalu ribut tentang apa yang harus dibeli dan apa yang tidak. Edgar mentang-mentang punya banyak uang, ingin membeli semua isi supermarket dan Edna akan berkacak pinggang jika Edgar memasukkan barang tak penting ke dalam kereta dorong mereka.
Saatnya membeli isi kulkas, daging segar dan ikan, telur, sayur, keju, roti, selai coklat kesukaan Edgar, bluberry kegemaran Edna. Edgar membiarkan wanita itu memenuhi troli mereka, ia tak bertanya sedikitpun ketika Edna memasukkan barang-barang aneh yang baru pertama kali di lihatnya.
Sesampai di tempat buah, Edgar membawa troli ke stand apel, sedangkan Edna sedang melihat-lihat melon. Mereka dipisahkan oleh apel hijau, semangka, kiwi, dan pir. Selagi Edgar memasukkan buah ke dalam plastik, suara cempreng gadis itu membahana memanggilnya.
"Ed! Ed! look at my boobs!"
Shit
Edna sedang menggoyang goyangkan dua buah melon berukuran besar yang menempel di kedua payudaranya. Edgar menganga, tak sadar kalau ia dan perempuan gila itu sedang menjadi tontonan orang-orang. Edna tertawa, goyangan melonnya semakin bersemangat.
"You like big boobs, right honeeeeeyyyy..."
Muka Ed merah, semerah apel yang kini dipegangnya, orang-orang berbisik curiga bahkan ada yang memandangnya sebagai laki-laki hina, karena membiarkan seorang perempuan gila berbuat tak senonoh di area publik.
"YOU ARE SO DEAD!!!"
Edna tak mendengarkan sumpah Edgar, setelah meletakkan melon, ia berjalan cepat ke arah laki-laki itu dan tersenyum-senyum najis, muka Edgar kini berubah warna menjadi ungu terong.
"Hari pembalasan datang terlalu cepat untukmu, iya kan mister?"
Edgar menyeringai "jangan terlalu cepat merasa senang cantik, disini aku yang cerdas, kau yang tolol."
Edna mencibir, lalu ia mengambil kantong plastik Ed dan mulai memilih apel.
************************************************************
Didalam mobil, Edna mulai berulah lagi, kali ini ia sengaja melepas jaketnya dan berlagak kepanasan, dua kancing daster di bukanya dan Edgar disuguhi pemandangan erotis, belahan d**a Edna yang mulus terpampang jelas menantang.
Edgar mengumpat, ia tak bisa berkonsentrasi melihat jalanan di depannya. Pembalasan akibat insiden melon tadi belum sempat terpikirkan, sekarang Edna malah menambah siksaan lagi untuknya.
Gadis itu menaikkan bawahan daster sampai ke pangkal pahanya yang padat, tungkai panjangnya di naikkan ke dashboard, Edgar menelan ludah "kakimu nak!" ia memperingatkan Edna yang sembarangan mengacaukan pikirannya.
"Oops!, sorrrrrryyy..." ia tertawa genit, lalu duduk bersila di kursi. Edna menghadap ke arah Edgar yang sedang menyetir, seatbeltnya menempel ketat membatasi kedua payudaranya yang membusung, Edgar mengeratkan kedua tangannya ke stir mobil.
Edna bersiul-siul, satu jarinya terulur dan menyentuh hidung Edgar yang mancung, lalu turun ke bibir dan berlanjut ke jakun. Makin lama jari laknat itu turun sampai ke ujung bawah kausnya, kali ini tak lagi satu, lima jemari lentik Edna menyelinap kedalam kain itu dan meraba-raba d**a Edgar yang bidang dan perutnya yang keras.
"Ed fitness ya? kok perutnya kayak roti disobek?" Edna semakin merapat kepadanya, nafas hangat gadis itu berhembus ditelinga Ed.
"Ngga, aku rutin latihan taekwondo dan krav maga." Edgar ingin memberikan dirinya sendiri applause, karena berhasil mengendalikan mobil dan nafsu binatangnya secara bersamaan dengan baik.
"Wow...macho man, i like it" kata-kata terakhir itu didesahkan Edna ke telinganya, Edgar merinding.
Jemari Edna kini bermain-main di bagian atas celana jeansnya, mengetuk-ngetuk kancingnya yang bulat dan terbuat dari besi, dan ketika Edna bermain di resleting, Edgar menahannya.
"Kau akan menerima akibatnya nona!"
"I can't wait."
Edgar menyetir seperti orang gila, mobilnya meliuk-liuak diantara lalu lintas yang padat. Ban mobilnya berdecit keras ketika sampai di carport Rukan E&EValley, dengan kasar ia menyeret Edna keluar, belanjaan mereka yang terletak di bagasi terlupakan, biarlah ayam yang tadi mereka beli membusuk, daripada ia membiarkan penisnya menjadi basi.
Bunyi pintu berdebam di lantai tiga, menandakan pemiliknya sedang terburu-buru. daster Edna teronggok di pinggangnya, karena tak berpakaian dalam, Edgar langsung menyatukan tubuh mereka yang menempel dari ujung kaki sampai d**a dan merapat di dinding.
"f**k!! hobi banget sih main berdiri!" Edna protes, tapi langsung dibungkam Edgar dengan sebuah ciuman.
And..bla..bla..bla..bla..
Tick, tock, tick, tock...
Jam didinding menunjukkan pukul 13.00 siang, Edgar baru kembali ke mobilnya untuk mengambil belanjaan di bagasi, 4 jam berikutnya dan es krim yang tadi mereka beli mencair sudah.
But, who cares..yang penting s**********n Edgar tak jadi mengkerut.
Semua orang di kantor E&E bingung dengan kemunculan Edna yang tiba-tiba. Perempuan itu memperkenalkan diri sebagai OB baru menemani mang Ujang, si OB senior dan satu-satunya. Edna juga mengaku tinggal bersama Edgar di lantai tiga dan membuat karyawan perempuan berbisik-bisik berspekulasi tentang siapakah perempuan cantik yang tinggal bareng dengan bos mereka yang tampan.
Sedangkan yang laki-laki, sangat senang dengan kehadiran Edna. Kopi buatan gadis itu sungguh tiada tara enaknya, berasa di seduh barista profesional. Edna tersenyum malu mendengar pujian itu, Edgar yang berdiri di belakangnya memberikan siapapun yang memuji kopi Edna dengan sebuah isyarat menggorok leher.
Tugas menjadi OB di kantor E&E tidaklah susah, paling hanya menyapu, mengepel, mengelap jendela, membuatkan kopi dan membeli makan siang bagi siapapun yang malas keluar kantor. Selain itu Edna dan mang Ujang nyaris hanya duduk-duduk saja di teras depan atau di pantry sambil mengobrol, bermain catur atau sekedar melamun. Bukan apa-apa, suasana di E&E santai, dan para karyawannya terbiasa mandiri tanpa perlu repot-repot menyuruh Edna ataupun mang Ujang.
Dari cerita Mang ujang, ia bekerja di E&E sejak 4 tahun lalu, waktu Edgar pertama kali membeli rukan dan memindahkan usahanya ketempat yang lebih luas dan layak. Mang Ujang dulunya pedagang gorengan di depan kosan Edgar sewaktu pemuda itu masih menimba ilmu sebagai mahasiswa. Karena harga BBM naik, akhirnya usaha mang Ujang gulung tikar dan membuatnya tak lagi mempunyai penghasilan. Disaat situasi panik dan hampir digugat cerai sang istri, tak sengaja ia bertemu Edgar yang sedang mencari karyawan untuk bantu-bantu di kantornya, jadilah ia direkrut bekerja oleh anak muda yang dideskripsikan oleh pria paruh baya itu sebagai pemuda baik hati, ramah dan santun.
Kayak santri anaknya pak haji Edna tersenyum didalam hati mendengar cerita si mamang.
"Si eneng, saha na kang Edgar, istrina ya?"
"Bukan mang, saya temennya."
"Oh, saya kira...habis neng Edna geulis pisan, cocok sama kang Edgar yang kasep."
Edna tergelak ketika mang Ujang mengacungkan jempol keriputnya karena dimakan usia.
"Edgar dulu waktu kuliah, orangnya kayak apa sih mang?"
"Kang Edgar mah, sama kayak barudak Bandung kebanyakan, gaul, pintar, baik hati. Kalau tak diambil kang Edgar, sekarang saya pasti sudah jadi pengangguran. Oh ya, jujur juga."
"Jujur kumaha?"
"Dulu waktu saya masih jualan gorengan, teman-teman kang Edgar banyak yang curang, dahar lima mayar hiji, kalau kang Edgar mah urang jujur, dahar hiji mayar lima."
Edna tertawa itu mah bukan jujur tapi belegug
"Edna?"
Edgar muncul dari balik dinding, ia melihat Edna dengan tatapan penuh kerinduan, seolah ini baru pertama kali ia melihat perempuan itu setelah berpisah sejak sebelum masehi. Edna tersenyum melihat Edgar yang kolokan, padahal baru tadi pagi mereka mandi bareng, dan itu tak hanya sekedar mandi.
"Yuk, makan siang?"
"Mau!..mang Ujang?"
"Sok atuh neng, abdi masih kenyang" pria itu tersenyum dan mengedipkan matanya kearah Edgar, mang Ujang teringat cinta masa mudanya bersama si ambu.
Edgar mengajaknya ke ruang tengah yang nyaris kosong, karyawannya sedang makan siang di kafe depan rukan yang sedang grand opening dan menyuguhkan makan siang gratis untuk semua orang. Di sebuah meja besar berwarna putih, Edna melihat sebuah kotak sterofoam yang terbuka, didalamnya ada nasi dan ayam bakar, perut Edna menggemuruh kelaparan.
"Ayam bakar yah?"
"Hooh, itu buat saya, buat kamu mah itu."
Edna melongo, disebelah kotak ada sehelai daun pisang persegi empat berisi nasi putih dan sepotong tahu dan tempe.
"Ieu naon Ed? kamu mlihara kucing?"
"Bukan, itu makan siang kamu" dengan santai laki-laki itu duduk dan mulai melahap nasi hangat dan ayam bakarnya. Disampingnya, Edna ngorok seperti babi.
"Kalau kacung makannya ya kayak gitu Edna, lagian tempe sama tahu kan proteinnya banyak, bagus buat otakmu yang mampet."
Edna mendengus "kumaha sia g****k!"
Edgar melirik Edna yang tiba-tiba tampak santai memandang jatah makan siangnya, laki-laki itu curiga, pasti gadis itu sedang merencanakan sebuah pembalasan.
"Meni teu selesai kerjaan kamu?"
"Naon?"
"Ieu!" Edgar mengusapkan telunjuknya ke daun meja, dan menunjukkan kulit jarinya yang kotor ke muka Edna.
"Wae ah!" Edna mengusapkan juga tangannya, tapi ketika dilihat, tangannya itu bersih, diambilnya jari Edgar, ternyata itu noda tinta yang sudah mengering.
"Dasar koncleng!" Edgar tertawa melihat Edna yang memicingkan matanya, pertanda perempuan itu kesal setengah mati. Skor dua kosong untuk Edgar.
Setelah mencuci tangan, gadis itu memakan nasinya dengan semangat, biarlah lauknya cuma tahu dan tempe, ia dulu terbiasa dijatah seperti ini, disuatu tempat. Tiba-tiba Edgar menuangkan seluruh isi kotaknya ke daun Edna, lalu ia ikut makan, dan menyuapkan gadis itu nasi dan daging ayam. Ed dan Ed seperti sepasang petani yang kehujanan dan berbagi daun pisang untuk melindungi tubuh mereka, lalu tertawa-tawa menyebrangi pematang sawah. Mirip lagu dangdut lah...
Edna melirik Edgar, Edgar melirik Edna, lalu tawa keduanya tersembur. Kepala keduanya merapat, paha juga, mereka seperti bujang dan gadis yang tengah dimabuk asmara, lengket kayak bekas kenalpot dibetis yang berselulit.