Edna terbangun, ia terbaring di ranjang yang besar, berselimutkan selimut sutra berwarna hitam, di sampingnya, dinding kaca menampakkan pemandangan Bandung di luar. Jam di dinding menunjukkan pukul tiga, Edna tersenyum, ia tak berpakaian, lapar dan puas, tubuhnya remuk, Edgar benar-benar laki-laki perkasa.
Dengan berselimutkan kain tipis itu, Edna mencoba bangkit dan berdiri, ia terhuyung sedikit karena pangkal pahanya yang masih sakit, setelah menegakkan tubuhnya ia kemudian mencari tanda-tanda kehadiran Edgar, namun ia tak dapat menemukan laki-laki itu, lalu Edna melihat sebuah kertas putih di atas nakas, ia membaca sebuah pesan.
Aku di bawah, kerja
Lagi-lagi ia tersenyum, paling tidak Edgar tidak menulis kata-kata untuk menyuruhnya angkat kaki dari rumahnya.
Percintaan yang penuh gairah yang berlangsung lama pada pagi tadi, menjadi pembuka bagi cerita bersambung antara dirinya dan Edgar. Tadi ia merasakan pria itu mencintainya dalam amarah dan gairah serta kerinduan mendalam, dan itu sama sekali tak diharapkannya. Ia menyangka akan disambut dengan anggukkan dan senyuman ibaratnya dua orang teman lama yang bertemu kembali, tapi sepertinya Edgar tak mempunyai gagasan yang sama dengannya.
Satu misi sudah selesai, ia masih mempunyai tugas yang lain.
Ia mengambil tasnya yang semalam di taruh di atas meja kerja Edgar yang terletak di sudut kamar, ia merogoh dan mengambil sebuah foto hitam putih, didalamnya ada gambar makhluk mungil yang bila kau tak paham, kau takkan tahu yang mana kaki, yang mana kepalanya, karena si mungil masih belum terbentuk sempurna.
Di bagian belakang foto, tertulis...
Our little ECHO, 2002.
Tetes air mata Edna membasahi foto USG pertama bayinya, bayi yang bahkan tak sempat melihat dunia, malaikat mungil miliknya dan Edgar.
"Bunda disini nak, disini bersama ayah, apa kau baik-baik saja di atas sana?"
Edgar menaiki satu persatu anak tangga dengan pelan, ketika tiba dipertengahan ia mendongkak, di kamarnya, diatas sana ada perempuan yang sedang menunggunya, Edna yang lezat, selezat masakan yang ia hidangkan untuk Edgar.
Ia memejamkan mata lama, jika ini mimpi, ia tak mau seorangpun yang membangunkannya. Wanita itu membuatnya selalu merindu. Tawa, hangat tubuhnya, candaan, takkan sanggup untuk dilewati Edgar barang sedetik. Beberapa jam bekerja, ia sudah uring-uringan. Ingin rasanya berlari ke lantai tiga, dan merayu Edna untuk bercinta lagi.
Oh Tuhan! i'm messed up
Sebelum kehebohan tadi dimulai, banyak sekali pertanyaan yang ingin ia ajukan, kemana saja ia selama ini? dimana ia menyelesaikan SMA? apa Edna kuliah? atau apakah ia pernah menikah?
SHIT
Tak terpikirkannya hal itu, membuat Ed berlari keatas, pintu menjeblak ketika ia mendapati Edna tengah melihat-lihat koleksi DVD nya, perempuan itu seperti bidadari dalam cahaya lampu yang sengaja di redupkan.
"Hi? how's your day? aku lihat film-film kamu nih, mau nemenin aku nonton A Clockwork Orange?" ia tersenyum, cantik sekali, Ed hampir lupa kenapa ia tadi begitu terburu-buru ke kamarnya.
"Kau lari dari suamimu?"
"Ya?" Edna terpana dengan pertanyaan Edgar, lalu ia tertawa.
"Kau sekarang janda?"
Edna berjalan mendekatinya, kali ini ia menutup tubuhnya dengan kemeja biru laut Ed, dan pria itu tahu, Edna tak memakai apa-apa lagi, Edgar berjengit ketika merasakan tubuh panas dan padat milik Edna merapat ketubuhnya.
"Kau mendapatkan perawanku dua kali Ed, 12 tahun yang lalu, dan tadi pagi, tak pernah ada pria lain yang mengisiku dalam rentang waktu kita yang sempat hilang, so.....ayo makan, aku masakin spageti spesial buat kamu, dan Ed, kau harus belanja, isi kulkasmu kosong."
Gadis itu menarik tangannya ke meja makan, menyuruhnya duduk. Selagi Edna menghidangkan makanan untuknya, Edgar tersenyum, mereka seperti sedang main rumah-rumahan, Edgar si bapak, Edna si ibu, yang kurang hanya anak.
Anak?
"Dua kali kita melakukannya Ed, dan aku tak pernah pakai kondom, apa kau tak takut hamil?"
Tak ada jawaban, punggung Edna menegang, ia berhenti dari apa yang tengah ia kerjakan.
"Ed? Edna?"
Perempuan itu berbalik, lalu tersenyum.
"Apa kau mau punya anak dariku?"
Edgar tak menjawab, tapi didalam hati ia meneriakkan kata Ya ribuan kali.
"Makanlah, kau kelihatan lapar" dihadapannya ada sepiring spageti yang disiram saus istimewa bewarna merah tomat, ketika ia mencicipinya, ia merasa sedang berada di restoran bintang lima dan ada seorang chef cantik dan seksi yang kini tengah menatapnya dengan tulus. Ed makan dalam suapan besar, tak perlu waktu lama untuk menghabiskannya, ia minta tambah, senyum Edna semakin melebar.
************************************************************
Mereka berbagi selimut diatas sofa kulit hitam yang dibawa Ed dari beranda depan, Edgar memeluknya dengan penuh kasih sayang, di depan mereka layar TV sedang memutar A Clockwork Orange. Edna tertawa ketika Malcolm McDowell dan teman-temannya sedang mengganggu seorang pria tua yang sedang mabuk.
"Ini film kedua Stanley Kubrick yang aku tonton, yang pertama Eyes Wide Shut, Tom and Nicole, panas banget mainnya." Edna melirik Edgar sambil tersenyum.
"Oh ya, aku pertama yang ini, lalu Full Metal Jacket" Edgar tersenyum di rambut Edna.
"Kenapa kau tergila-gila dengan militer Ed?"
"Darimana kau tahu?"
"Kau sering meributkan tank atau jet dengan Sky yang tak pernah meladenimu."
"Hahahahaha...darah mungkin, ayahku tentara."
"Apa kau tak punya cita-cita meneruskan karir ayahmu?"
Edgar terdiam, tentu, menjadi tentara adalah keinginannya seumur hidup.
"Sudah ada Troi, aku jadi penggembira saja" Edna merasakan nada sedih dari suara laki-laki itu.
"Bagaimana kabar yang tiga, apa saudara-saudaramu masih aneh?"
Lagi-lagi Edgar tertawa "Nino baru menikah sebulan yang lalu."
Edna berbalik cepat, menatap Edgar yang tersenyum kepadanya "Nino si cantik menikah? dengan siapa? jangan bilang sama patung."
"Hahahaha...bukan ia menikah dengan seorang tentara perempuan, cantik dan hampir sama anehnya."
"Wow....apa Nino bisa bercinta?"
"Kau meremehkan nama depan kami Edna, si kembar empat ini tahu bagaimana cara memfungsikan s**********n mereka, kau pasti tak lupa dengan yang tadi pagi kan?"
Muka Edna memerah, keterlaluan kalau ia sampai tak mengingat permainan panas mereka tadi pagi. "Lalu Sky? Troi?"
"Sky tak berniat menikah, tapi selalu berniat untuk nge-seks dengan wanita manapun, Troi sudah punya anak satu, istrinya bikin ia kecanduan."
Edna tertawa mendengar kisah seru si kembar.
"Kau sendiri? apa tak punya pacar?"
"Kalau aku punya pacar bukan kau yang berada di pelukanku sekarang Edna."
Edna tersenyum, sejak tadi ia tak menemukan satupun tanda-tanda keberadaan wanita disini, Ed sepertinya memang tidak sedang menjalin hubungan apapun dengan seorang perempuan.
"Apa kabarmu 12 tahun ini?" kali ini pertanyaan serius yang sedari tadi ingin Edgar ketahui jawabannya.
"Baik."
"Kau yakin?"
"Ya, kalau tidak pasti aku sudah mati, dan yang kaupeluk sekarang adalah arwahku" Edgar tertawa.
"Jadi selama ini tinggal dimana?"
"Dimana-mana."
"Kau Ali Topan Anak Jalanan?"
"Hahahahaha...korban kemunafikan dong" Edgar menggelitik Edna yang tergelak. "Aku manusia perintis Ed."
"Artinya?"
"Aku hidup di tempat, dimana orang lain tidak bisa hidup disana."
"Kau lumut? hahahaha...dasar dungu" bahu Edgar berguncang, karena serunya tertawa. Edna tersenyum di dadanya.
"Kenapa kau belum menikah Edgar?"
"Mmmm...ntahlah, sibuk kerja mungkin."
"Mungkin?"
Lama Edgar baru menjawab, "menunggu seseorang, seseorang yang tak kunjung datang."
"Siapa?"
"Kau tahu siapa."
"Elle?"
Edgar tak menjawab, jantung Edna dipompa dengan kecepatan penuh, ia resah menanti kata-kata Edgar selanjutnya, ia ingin tahu, Edgar yang sekarang seperti apa perasaannya.
"Katanya kau mau kerja disini?"
Edna kecewa, laki-laki itu tak menjawab pertanyaannya, entah kenapa, tapi ia merasa Edgar memang tak mau memberikan jawaban.
"Yep!"
"Maaf, lowongan tidak ada."
"Aku tidak peduli, pokoknya aku harus kerja disini."
"Apa kau tak mengerti ucapanku?"
"I don't care."
"Baiklah, kau bisa apa?"
"Masak, nyapu, cuci piring, bikin kopi, ngelap motor."
"Oke, kau jadi OB di kantor dan jadi pembantu disini."
"Really? apa aku dibayar?"
"Tidak!"
"Yahhhhh...Ed pelit!"
"Kau pikir kau akan tinggal dimana sekarang? bukannya kau gelandangan?"
"Aku musafir Ed, nomaden."
"Jadi kau mau tidak? kau takkan ku bayar, tapi tinggal dan makan gratis disini."
"Mmmmm..oke, deal!"
"Deal!"
"Sekarang?"
"Apa?"
"Aku tidur dimana."
Berdua denganku diatas ranjang
"Terserah kau, disini di atas sofa, di dalam bathtub juga boleh, atau nangkring di atap juga boleh."
"Emang aku musang!"
Edgar tertawa, lalu ia melepaskan pelukannya, dan berpura-pura menguap, kemudian ia bangkit dan memandang Edna heran, karena perempuan itu justru bergolek di atas sofa dan merapatkan selimut kedadanya, layar televisi dari tadi sudah kosong.
"Aku mau tidur" Edgar menunggu Edna untuk berdiri dan mengikutinya ke kamar.
"Oke, nite."
"Kau tak tidur?"
"Mmmm...ya, aku akan tidur disini."
"WHAT!! you gonna sleep here?" padahal tadi Edgar hanya bercanda menyuruh gadis itu untuk tidur diatap, oh ayolah, ranjangnya begitu luas untuk ditiduri sendiri, lagipula, tak mungkin Edna malu-malu lagi setelah seks luar biasa tadi pagi.
"Why?" Edna menatapnya dengan tatapan polos, ingin rasanya Edgar mencongkel mata indah itu.
"No..mmm... i thought, we are....you know, you and i...mmm...i thought...okay, nite."
Edgar pasrah, Edna yang dungu mungkin hanya mengerti kode morse, dan apa kode morse untuk let's make love, Edgar tak tahu.
"You're okay Ed?"
"I'M FINE!" suaranya menajam, Ed menggila, sudah terbayangkan betapa kecewanya si o***g yang menggeliat resah di dalam celananya.
"Oke, sleep well then..." suara gadis itu mengecil, ia tampaknya lelah sekali.
"Are you sure?" please say no, say no..bilang kalau kau cuma bercanda Edna....
"Yeah..anything wrong Ed?"
"NO!" final, Ed tak tahu apalagi untuk menyadarkan Edna, kalau dirinya saat ini sedang sakau akan tubuh gadis itu.
Edna membenamkan wajahnya di selimut, meredam tawa di bantal, Edgar lucu sekali, laki-laki itu jelas minta dikelonin olehnya. Tapi dasar perempuan iseng, ia malah bermain-main dengan Edgar yang stres, seperti suami yang tak dapat jatah harian, padahal lagi kepingin banget.
"Slow Ed..permainan kita masih panjang" Edna berbisik pelan, dan memejamkan mata.
Di kamarnya, Ed langsung berderap kekamar mandi, tanpa melepas pakaian ia berdiri di bawah pancuran air yang dingin, sambil merutuk Edna berkali-kali.
"Dasar dungu! t***l! bodoh! g****k! dungu! dungu!"