Edna bersiul-siul, ia membelakangi Edgar yang tengah duduk di kursi makan, sesekali ia menggoyangkan pinggulnya dan menatap Ed dengan lirikan menggoda dari balik punggungnya yang ramping. Edna sekarang berada di dapur, memasakkan sarapan pagi untuk Edgar. Gadis itu telanjang dibalik kaus Nirvana milik Ed yang kebesaran namun menerawang karena sudah usang dan terlalu sering dicuci, akibatnya, dengan bantuan sinar matahari pagi, Edgar bisa melihat lekukan tubuh Edna dengan jelas.
Edgar meneguk air minum, hanya hal itu yang sedari tadi dilakukannya, membasahi kerongkongan yang kering akibat pemandangan indah yang dipertontonkan Edna dengan perasaan tak bersalah.
"Done!! omelet with spinach and mushroom, bon appetit!"
Edna menyuguhkan masakannya dalam sebuah pinggan putih besar di hadapan Edgar dengan lagak sok lucu dan imut, Edgar menaikkan alisnya, Edna layak dicurigai seumur hidup.
"Ngga diracun, ngga di ludahin kok Ed, kan kamu liatin aku dari tadi, sekarang dimakan dong" gadis itu cemberut dan mengerjapkan matanya seperti barbie yang disuruh duduk di dalam got.
Edgar mengambil sendok, dan menyuap telur berwarna kuning itu dan...wow oishi!!!
Cuma, Edgar tak mau memberikan pujian, ia meredam kata-kata kagumnya di dalam hati, kembali ia memasang wajah datar dan kembali makan, seolah masakan Edna biasa saja.
Mereka duduk berseberangan di meja makan, Edna mengumamkan sebuah lagu di setiap suapan dan tak berhenti tersenyum dan memandang laki-laki yang duduk di depannya.
"Ed kok tambah keren? kayak Clark Kent dari Talang Sari, hehehe..."
Edgar menyipitkan matanya "Smalville, dungu!"
"Yah, itu!" Edna tertawa.
"Edgar kaya yah sekarang? punya rumah, komputernya juga banyak" gadis itu mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan, lantai 3 rukan ditempati Edgar sebagai rumah tinggal, hanya ada satu kamar, sisanya ruang lepas, luas sekali. Konsep rumah Ed nyaris sederhana, tak banyak gaya, dindingnya yang dicat abu-abu tua ditutupi rak yang menampung ratusan buku, satu dinding kaca yang lebar untuk menampung cahaya matahari yang masuk, ada televisi berlayar besar yang ditempelkan di tengah rak, seperangkat alat untuk bermain game, stereo dan pemutar DVD dan pemutar piringan hitam.
Dibagian tengah hanya ada karpet persia cantik dan berwarna hitam yang tak seberapa besar, selain itu tak ada apa-apa lagi. Edna membayangkan seperti apa rasa bulu lembut itu dibawah kulit telanjangnya dan tubuh kekar Edgar diatasnya, bercinta dan membelitkan tubuh mereka yang basah, s**t!
"Suram banget deh, coba jendelanya di kasih gorden Ed, hijau atau kuning gitu, biar ada kesan ada yang tinggal disini, trusss..mmmm..lantainya kok kayu sih, marmer ajah kasih corak batik atau tribal, atau mungk..."
"Apa maumu?" pria itu memotong ucapannya, mata Ed menyorot tajam.
"Aku kangen, Ed" itu benar, Edna rindu.
"Cut the crap!! apa kau berharap aku percaya dengan semua ucapanmu!"
Edna mengeraskan wajahnya, ia tak percaya Edgar berkata begitu ketus.
"Aku kangen, hanya itu!"
"Where have you been??" suaranya pelan, Edgar menatap piringnya yang sudah kosong, ada yang menyesak di dadanya, sakit sekali.
"Aku ada disini, selalu" ruangan hening, Ed dan Ed terpekur mengingat waktu yang terbuang sia-sia dan itu 12 tahun lamanya.
"Pergilah Ed, tak ada gunanya kau disini"
"Kemana?"
"Ya?"
"Kalau kau mengusirku, kira-kira aku bisa kemana?"
Edgar memandang perempuan itu heran, apa Edna mencerna ucapannya barusan?
"Pulang, kau punya rumah kan?"
Gadis itu menggeleng dan tersenyum sedih "aku ngga punya rumah lagi."
"Di Jakarta? rumah orangtuamu dan Elle?"
"Mereka sudah tak di Indonesia lagi Ed, orangtuaku sekarang di Chicago, Elle juga, rumah yang di Jakarta sudah di jual dan aku ngga punya saudara yang lain."
"Apa maksudmu, kenapa kau disini? kenapa tidak ikut dengan keluargamu?"
"Aku memang ga ikut kok, ga pernah pergi ke sana."
"Don't you dare lie to me!"
"Aku ngga bohong, aku ngga pernah ninggalin Indonesia, ngga punya pasport soalnya, hehehe.."
Brak
"SHUT UP!!" Edna terperanjat oleh hantaman keras tinju Ed di permukaan meja dan hardikannya.
"KALAU KAU TAK PERNAH MENINGGALKAN NEGARA INI, KENAPA KAU HARUS PERGI, KENAPA KAU MENINGGALKAN AKU SEPERTI ORANG t***l, KENAPA KAU BARU KEMBALI SEKARANG! KAU PIKIR 12 TAHUN ITU SEBENTAR!"
Edna menolak untuk menangis, tenggorokannya perih menahan rasa sesak di d**a, ia ingin bersikap santai dan bahagia di hadapan Edgar yang kini tengah murka kepadanya.
"I told you Ed, aku ga pernah kemanapun, aku cuma pergi sebentar, menyelesaikan beberapa masalah, now here i am..bersamamu sekarang."
"Sebentar, KAU TAK PAHAM DENGAN PERBEDAAN WAKTU, HAH? 12 TAHUN KAU SAMAKAN DENGAN 12 JAM, KAU TETAP DUNGU TERNYATA! NOW GET HELL OUT OF MY FACE! PERGI!"
"NO!"
"WHAT?"
"NO! I DON'T WANT TO!"
Edgar menyapu semua yang ada di atas meja dengan tangannya, Edna memekik kaget, piring, gelas, bowl yang berisi buah-buahan, pisau, garpu berserakan di lantai, pecahan kaca bertebaran. Edna menatap Edgar yang berdiri gemetar menahan amarah, mata pria itu menusuknya tajam, Edna ketakutan.
"COME HERE, b***h!"
"APA? KAU PANGGIL AKU APA?" nafasnya terengah, matanya terbelalak melihat Edgar yang kini berdiri kaku, otot-ototnya menegang, Edna bisa melihat urat-urat lehernya mengeras. Dengan kode jarinya, Edgar menyuruh gadis itu mendekat, namun tak di gubris Edna.
Mereka bertatapan, dalam kemarahan Edgar dan ketakutan Edna, tiba-tiba ada api yang terpecik di udara, lalu ditiup angin dan semakin membesar, membakar tubuh keduanya, puncak d**a Edna meruncing, kakinya melemah, tatapan Edgar semakin membuatnya tak berdaya melawan hasrat, gairah yang ia sudah kubur dalam-dalam, kini kembali menyeruak lagi dan menuntut untuk di puaskan, 12 tahun lalu di atas kora-kora, bukanlah apa-apa.
Awalnya langkah itu pelan, lalu semakin lebar dan cepat, ia masuk dalam pelukan pria itu yang ternyata sudah mengantisipasi dengan gairah yang sama besarnya.
Bukan ciuman selamat datang kembali atau ciuman kerinduan, tapi pagutan di bibir mereka lebih buas dan penuh tuntutan. Edna melingkarkan kakinya di pinggang Edgar, tangan pria itu terbenam di rambutnya, lidah mereka bergelut didalam sana, menimbulkan kecipak dan erangan frustasi di tenggorokan masing-masing.
Tergesa-gesa Edgar berjalan mengendong Edna dan membaringkan gadis itu di karpet hitamnya, kaus dan celananya terbang sembarangan, melihat Edgar tak lagi berpakaian, Edna bangkit dan mendorong Edgar hingga telentang, kejantanan pria itu di dalam mulutnya.
"f**k!" tangannya otomatis menarik rambut Edna untuk menjauhkan penisnya dari kuluman gadis itu, tapi tangannya ditepis keras, Edna belum selesai membasuh batang Ed yang sekeras kayu.
Kaus Edna ditarik paksa, kini wanita itu telanjang dan dengan sengaja terus memancing gairah Edgar, wanita itu menunggingkan pantatnya yang mulus dan bulat, satu tangannya diselipkan di antara paha, menggosok klitnya sedangkan tangan yang satu mengurut s**********n Edgar.
Edgar lemas akibat serangan Edna, ia berbaring, matanya terbuka menatap langit-langit, otaknya tak lagi bertuan, ia di cambuk gairahnya sendiri, apa yang dilakukan Edna di bawah sana, benar adanya.
"Arggghhhhh...Edna, faster babee..ahhhh..."satu tangan Edgar bergerak kebawah, menarik-narik rambut gadis itu membantunya untuk terus aktif, Edna mengeluh kesakitan karena jambakan Edgar yang terlalu kuat, tapi entah kenapa hal itu justru semakin menambah gairahnya.
"Enough!" ia tak mau keluar dulu, ia tak mau dianggap lelaki payah, apalagi dihadapan perempuan itu. Edgar membalikkan keadaan, sekarang ganti Edna yang berteriak, lidah Ed di kewanitannya yang basah dan lengket.
Ia terisak, meraung ketika merasakan dua jari Edgar yang panjang mengorek-ngorek mencari intinya, pria itu menyecap dengan rakus seolah ia sedang membalaskan sebuah dendam kesumat.
"No, Ed..ohhhhhhhh.." kelima jarinya terbenam di rambut Edgar, sesekali menjambaknya jika lelaki itu sudah keterlaluan dengan jari dan lidahnya, lengannya yang satu digunakan untuk menutup matanya.
"Look at me!! hei! look at me!" tangannya ditarik paksa, Edgar menatapnya dengan tatapan yang mengintimidasi, "aku akan bercinta denganmu, dan kau tak boleh menolakku, MENGERTI!!"
Edna hanya bisa mengangguk, ia tak bisa menolak pejantan yang sedang mengamuk itu, kalau ia melawan, sama saja ia mencari mati. Edgar tak bisa dihalangi oleh apapun sekarang, bahkan jika gedung tempat tinggalnya runtuh dan tsunami yang entah berasal dari mana menenggelamkan kota Bandung, pria ini akan tetap memaksa masuk kedalam tubuhnya, menyatukan mereka berdua. Edgar kalap.
Dan itu dilaksanakannya dengan baik, Edgar sekarang jauh di dalam tubuhnya, tak dipedulikan teriakan kesakitan Edna yang ibarat kata pepatah, tak kenal maka tak sayang, sekali bercinta malah langsung diganyang, Edna terakhir kali bercinta ya, 12 tahun yang lalu.
"You tight babe...ohh..ahhh.."
"You like it Ed?" matanya sayu ketika menatap Edgar yang bergerak lincah didalamnya.
"Hell yeah, you're the best, and you are mine."
Mereka bergerak dengan harmoni yang sama, Edgar menghantar pinggulnya lalu Edna menjemput dengan suka cita. Ruangan yang luas dan minim perabot itu menggaungkan setiap desahan, bunyi kecupan, dan dengkuran cinta Ed dan Ed. Edna berteriak sekeras dan sepuas yang ia mau, ia tak peduli jika ada burung merpati yang mengintip diluar sana atau matahari pagi yang malu-malu menyaksikan adegan indah diantara mereka berdua.
Mereka jauh dari kata akhir, Edgar mengendong Edna dan menghempaskan punggung perempuan itu ke rak, kuat sekali, sampai-sampai buku-buku berserakan di kaki mereka, Edna tertawa, ia kesakitan akibat permainan kasar Edgar, tapi ia tak peduli, kejantanan Edgar yang hebat di bawah sana, cukup membuatnya gila.
Waktu merangkak naik, percintaan mereka semakin menggebu, tak ada tanda-tanda lelah dan keinginan untuk mengakhiri semuanya, stamina Edgar luar biasa, ia sanggup bercinta dengan standing position dalam waktu yang tak bisa dikatakan sebentar, dan laki-laki itu sama sekali belum keluar, sedangkan Edna meraih puncaknya berkali-kali sejak tadi. Edna kewalahan, ia seperti bercinta dengan seekor banteng.
Kali ini lutut Edna menyentuh lantai yang dingin, jari-jarinya memutih ketika memegang rak dengan kedua tangannya, rambutnya yang panjang dijadikan Edgar tali kekang, laki-laki itu memasukinya dari belakang, Edna tertawa, ia mengingat sesuatu.
"Oh..lagi bapake, tongkol sampeyan guede banget, terus bapake!"
Diantara nafasnya yang memburu Edgar terbahak-bahak, dulu disuatu masa, ia dan Edna pernah menjadi saksi hidup sebuah perselingkuhan panas antara mertua dan menantunya, dan posisi doggy style ini adalah hal yang paling mereka ingat.
"Tetekmu besar nduk, sebesar semangka di mini market" dengan sengaja p******a Edna diremasnya kuat-kuat, Edna menjerit lalu menyumpahi Edgar dengan kata-kata yang paling kasar. Edgar masih tertawa, mau tak mau Edna ikut-ikutan tertawa, siapa sangka adegan m***m itu sekarang mereka lakoni sediri.
Keringat jatuh membasahi lantai, Ed dan Ed basah kuyup, rasa lapar mereka sebentar lagi akan berakhir, sekarang sudah diambang batas, tumbukan s**********n Edgar semakin cepat, isakan Edna semakin keras, ia memeluk tubuh lelaki itu, jemarinya mencakar punggung tegap Edgar ketika,
"EDNAAA!!" laki-laki itu meneriakkan namanya dan menembakkan beberapa kali cairan cinta kedalam dirinya, panas dan membuatnya terkejut.
Edgar terkapar jatuh kelelahan, ia membawa Edna yang kehilangan seluruh tenaganya kedalam pelukan yang hangat, laki-laki itu masih berada didalam, seakan memborgol Edna agar ia tak lari lagi. Tak lama keduanya memejamkan mata, telanjang, basah dan berpelukan erat.