Kantor sudah selesai lima jam yang lalu. Ed masih berkutat dengan pekerjaannya, ada e-mail yang harus dikirim ke beberapa vendor ponsel pintar mengenai beberapa penawaran kerjasama. Setelah menekan tombol send, Edgar menghempaskan badannya ke sanderan kursi, kepalanya pusing sekali, wajah Edna mendominasi sumber sakitnya.
Perempuan itu kembali, setelah 12 tahun pergi tak meninggalkan jejak. Edgar mencarinya kemana-mana, bahkan ia tak percaya ketika orang-orang mengatakan Edna ikut pindah bersama keluarganya ke Amerika Serikat. Tiba-tiba sekarang ia disini, dan Edgar tadi sempat tak mempercayai pandangannya sendiri. Edna berdiri dihadapannya dengan tatapan mata yang sama, senyuman yang setiap hari dirindukannya, dan rambut panjang Edna yang berantakan, membuat Edgar ingin menjambaknya dan menarik perempuan itu ke tempat tidur.
Rasa sakit hati membuat jantungnya pedih, perempuan b******k itu seenaknya kembali setelah Edgar mati-matian melupakannya, berusaha untuk menghapus rasa Edna ditubuhnya, dan meyakinkan dirinya, kalau kenangan 12 tahun yang lalu hanya sebuah kesalahan termanis yang pernah di buatnya.
"Pak saya pulang dulu, dan mmm... perempuan tadi masih diluar pak, kayaknya ketiduran." Alif satpam kantor memutus lamunan Ed yang mengeluh mendengar laporan itu dan memerintahkan Alif untuk pulang dan biar perempua itu menjadi urusannya.
Edna what do you want?
Gadis itu duduk di teras depan rukan E&EValley, kakinya merapat, kepalanya tersembunyi di lengannya yang saling merangkul.
"Hei bangun! oi!" Ed menyepak tungkai Edna keras, gadis itu terbangun dari tidurnya dan mendongak melihat Edgar yang memelototinya.
"Ed, laparrr, huaaa..." ia menangis, Ed menarik nafasnya yang berat, gadis itu cari mati!
"Masuk!!" Ed mengunci pintu, mematikan pendingin ruangan dan lampu, ia berusaha tak melihat ke belakang.
"Ed, lapar...hiks..hiks..." Edna masih terisak ketika mengekori Edgar masuk kedalam kantor, lalu mereka berbelok ke bagian dalam, hingga tiba di pantry.
Edgar mencari-cari sesuatu di dalam kabinet, lalu melemparkan sebuah mie instan kepada Edna yang menunggu di belakangnya.
"Itu mie, kompor, air, gue mau tidur."
"Eh?" Belum sempat Edna menyampaikan maksudnya Edgar sudah menghilang di balik tembok, Edna menyusul dan melihat pria itu menaiki tangga kelantai atas.
"Gue tidur dimana say?"
"Terserah."
"Lho kok."
Bam! bunyi pintu di banting membuat Edna terdiam, Edgar punya rumah diatas sana.
"Thanks Ed." Edna berteriak mengucapkan terimakasih, senyumnya melebar, ia bisa tidur nyenyak malam ini. Lalu sebuah ide terlintas begitu saja, ia menatap penuh arti ke ke ujung tangga.
Edna bersiul, Under The Bridge RHCP menemaninya membuat mie rebus.
***************************************
Edgar merasa nyaman luar biasa, ada sesuatu yang lembut, hangat dan harum di wajahnya. Ia kecanduan menghirup dan menggesekkan hidungnya disana. Pelan ia membuka mata, pertama yang dilihatnya adalah gundukan daging, lalu setelah matanya terbuka utuh, ia tahu kalau itu sepasang buah d**a. Edgar merasa di surga, ia kini sedang dipeluk bidadari yang empuk dan lembut. Iseng Ed mencari-cari kebawah dengan tangannya, akhirnya ia berhasil menangkup b****g padat dan bulat.
Hell yeah, i'm in heaven...Edgar tersenyum dan menutup kembali matanya, ia membenamkan wajahnya di lekukan daging lembut si malaikat dan mengecupnya.
Ia mendengar sang malaikat mendesah, lalu kepalanya ditarik, rambutnya dicengkram dan wajahnya semakin terbenam di gundukan montok itu. Lidah Ed mencari-cari, dan hap! mulutnya menemukan p****g dan langsung melahapnya rakus, lidahnya menyentil, sekali-kali mengigit, oh..enyak banget. Ed kembali tersenyum, matanya masih terpejam, ia rasa ia sedang bermimpi mengenyot puncak d**a seorang malaikat seksi.
"Suka ya?" Si malaikat bertanya, Edgar mengangguk.
"Yang kiri atau yang kanan?"
"Kalau bisa tiga." Laki-laki itu menjawab, ia tak perlu repot-repot membuka matanya.
Sang malaikat tertawa, "hahaha kamu lutcu deh, rasanya gimana?"
"Mimik mami manyis." Edgar cadel. Ia bayi besar sekarang.
Edgar semakin rakus menyesap bergantian sepasang p****g yang semakin tegang, saking semangatnya, pipinya sampai kempot karena berusaha memasukkan daging kenyal itu ke mulutnya.
Rambutnya semakin kuat ditarik. "Ohhh Ed, please......"
Mata Ed terbuka, si malaikat tahu namanya darimana? KTP nya kan masih di dompet. Memangnya tadi ada razia di jembatan shiratal mustaqin? Pelan ia melihat ke atas, mencari sebuah wajah, lalu ia melihat Edna nyengir padanya.
"HUA! f**k! what are you doing!!!"
Edgar terjengkang dan mendarat mulus di lantai. Ia meringis merasakan sakit di tulang ekornya, ia lalu menatap Edna horor, selimut tersingkap, gadis itu telanjang.
"Breast feeding you baby boy, come back here to mama sweetheart." Edna meremas kedua gunungnya dengan gerakan provokatif, Ed menelan ludah.
Plak
Plak
Ed mengaduh, wajahnya panas karena tamparannya sendiri. Ia tak bermimpi, Edna di ranjangnya, bugil, dengan sepasang daging lembutnya yang mengkilap karena air ludah Ed dan rambut panjangnya kusut dan seksi.
Ed bangkit, marah besar, dengan hentakan keras ia menarik gadis itu turun dari tempat tidur, Edna berteriak protes.
"Iih, Edgar kasar deh, atit nih." Dengan bibir manyun, Edna menatap Edgar dengan lagak berlebihan.
"Are you insane?" sekarang ia sudah memakai kacamata, di depannya berdiri seratus persen Edna yang telanjang dengan rambut panjang sepunggung yang berantakan. Pria itu menelusuri setiap jengkal tubuhnya, menilai dan memberikan Edna nilai sempurna, sepuluh.
"Edgar lucu deh, liat tuh jamurnya ngintip." wanita itu terkikik, telunjuknya diputar-putar, matanya tak berhenti menatap s**********n Edgar yang ditutupi bokser pendek dan kepala tititnya mengintip tak tahu malu.
Edgar melihat kebawah, ia langsung mengeluh. Damn! ini akibat kalau tak pernah menyantap perempuan, sekali disuguhkan yang asli langsung didepan mata, si adik kecil langsung berdiri gagah tanpa dikomando.
Edna tertawa. "Coba di kasih krayon kuning, helem Ed pasti mirip monas, hihihi..."
Laki-laki itu semakin panas, dengan kasar celana pendek itu ditanggalkannya dan dilemparkan ke muka Edna. Sekarang mereka berdua telanjang bulat dan berdiri berhadap-hadapan, kejantanan Ed sekeras kayu.
"Wow, bengkok, mmm..mirip menara Eifel." Edna berpikir dengan gaya seorang profesor, tanpa sadar ia menjilat bibirnya.
"Menara PISA DUNGU!"
"Nggak ah, mirip tembok Cina, berliku."
"Lo gila?"
"Am I?"
"Pergi!"
"Ini kan udah malam Ed."
"I DON"T CARE!!! just leave!"
"Ha, bajuku kotor, aku udah nggak ganti baju dua hari, tuh, sekarang di keranjang laundry kamu."
"APA!!!"
Ed habis sabar, lengan Edna ditariknya dan diseret Edgar ke pintu keluar. Dirinya tak peduli perempuan itu tak berpakaian dan sendirian di jalanan malam, ia hanya mau Edna si gila pergi dari hadapannya, ia tak mau ikut-ikutan kehilangan kewarasan, ia butuh tidur.
"Haaa Edgar! si manis jembatan ancol aja masih pakai baju, masa aku bugil sih, ntar aku diperkosa lho, haaa...Ed!!" Edna berusaha melepaskan cengkraman Edgar di lengannya dengan sekuat tenaga yang ia punya, tapi laki-laki itu terlalu kuat, otot-otot Edna berteriak kesakitan.
"Ed please, cuma buat malam ini, Bandung dingin banget Ed, aku kan bukan ikan bandeng yang mau di ekspor ke Jepang."
Edgar tetap tak peduli, ia tetap menyeret perempuan itu. Ketika tiba di ujung tangga, tiba-tiba Edna terpeleset dan menarik Edgar bersamanya.
Duk duk duk
Mereka berguling menuruni lima anak tangga dan jatuh disudut dengan kepala Ed membentur dinding sedangkan Edna di atas tubuhnya.
"FUUUCK!!!"
Teriakan Edgar nyaring pada pukul tiga dinihari.