Ketika ia membuka pintu, wajah cantik yang ia rindukan bertahun-tahun tengah tersenyum kepadanya.
"Hi?"
"Ee..Elle? is it you?" ia tergagap, tak percaya dengan penglihatannya, wanita itu benar-benar ada di hadapannya.
Mata indah itu terlihat sedih mendengar pria itu memanggilnya, tapi di detik berikut ia kembali tersenyum.
"Yeah, it's me"
"Kapan kamu pulang?" wanita itu semakin cantik, rambut panjangnya yang biasanya lurus, kini bergelombang di sekitaran wajahnya, ia menjadi resah, gelombang hebat menghantam dadanya, ia luar biasa rindu.
"Kemaren"
"Oh, Oke" ia terdiam sejenak, mencari-cari kata yang tak kunjung muncul di benaknya, ia terlalu bahagia.
"Kau tak membiarkanku masuk?" wanita itu mencoba mencairkan suasana.
"Oh, maaf..come on in" ia memberi perempuan itu ruang, ketika pintu tertutup, tubuhnya ditubruk oleh wanita itu, memeluknya dengan tubuhnya yang hangat.
"Aku ingin kita bersama, aku ingin menjadi milikmu, bisakah?"
Laki-laki itu hanya terdiam tak percaya, lalu...
Krrriingggg
Edgar tesentak, matanya nyalang, nafasnya berantakan, wajah Elle pelan mengabur dalam pandangan. Laki-laki itu terduduk, kedua tangannya meremas rambut panjangnya yang kusut, peluh membanjiri tubuhnya yang telanjang.
Sudah dua bulan, mimpi yang sama menghantuinya, Elle datang dan menangis di pelukannya, belum sempat Ed berbicara, mimpi itu selesai begitu saja tanpa akhir yang jelas, dan itu hampir setiap hari, menganggu waktu tidurnya yang tak seberapa.
Dua belas tahun waktu yang lama untu mengikis sebuah memori yang terlanjur berurat di benaknya, ada dua belas kalender yang habis di coret-coretnya dengan huruf E besar-besar di setiap lembar. Selama itu pula Ed tak pernah berhenti berharap, suatu hari perempuan itu muncul di pintunya, tersenyum dan meminta mereka untuk kembali bersama, perempuan itu memang datang tapi bukan di dunia nyata, tapi ilusi dalam setiap tidurnya.
Ia merindukan Elle, Elle yang pertama kali dikenalnya ketika mereka bertemu tak sengaja di depan apotik, Elle yang kuyup akibat kealpaannya dan Elle yang memberikannya setangkup roti lapis disaat ia kelaparan, ia merindukan Elle yang itu.
Dengan tubuh lemas, Ed bangkit dari empat tidur, jarum jam berada di angka 5, tapi Ed tak mau melanjutkan tidurnya, ia takut bertemu lagi dengan wajah sendu wanita itu. Celana piamanya menggantung rendah di pinggul, ada jalur basah yang mengalir dari d**a telanjangnya dan berakhir di lekuk segitiga Ed dan membuat bagian atas celananya basah, ia tak peduli. Di jendela kamar yang besar ia menatap bayangannya yang tampak mengerikan, rambut kusut, mata cekung dan wajah yang muram, Ed seperti tak mengenal dirinya sendiri.
"Sial!" kaca didepannya bergetar ketika tinjunya melayang, ia merutuk wanita itu yang membuatnya kacau. 12 tahun di lalui Ed dengan lempeng, tak ada yang menarik dalam hidupnya, tak ada istri, pacar atau anak, yang ada hanya kerja, kerja dan kerja.
Sifat workaholic Ed diejek Sky dan disamakan dengan dirinya yang kecanduan perempuan, sama seperti Troi yang tak pernah puas meniduri istrinya dan sama seperti Nino dan terobsesi dengan Sialan berkulit hitam yang baru satu bulan lalu menjadi istri adik bungsunya itu.
Sekarang lihatlah Edgar, satu-satunya putra Adam, yang ranjangnya selalu dingin karena tak ada perempuan yang menghangatkannya dan minta digeluti sepanjang malam, Ed benar-benar sial dan semuanya gara-gara wanita itu.
Edgar sekarang tahu lagu yang paling cocok untuknya sekarang, nyanyian milik Slank.
"I hate you but I miss you and I want to f**k you my girl"
***************************************************
Ketika memutuskan untuk memulai usahanya 9 tahun yang lalu, Ed sudah meyakini bahwa industri digital di Indonesia akan menggeliat dan berkembang. Awalnya memang tak mudah karena faktor infrastruktur yang belum mendukung tapi seiring dengan berjalannya waktu, pengguna internet dan ponsel semakin bertambah jumlahnya, menjadikan industri ini sangat menjanjikan bagi para developer.
Edgar salah satu dari pengembang yang kecipratan keuntungan dari bisnis startup ini. Sekarang dengan modal awal pinjaman dari sang ayah, ia telah berhasil melipatgandakannya dan menjadi pengusaha digital sukses di Indonesia. Kini ia memperkerjakan 35 anak buah dan memiliki rukan 3 lantai yang terletak di salah satu kawasan elit di kota Bandung.
Salah satu faktor yang membuat game buatan Edgar dan kawan-kawan meledak di pasaran adalah, mereka tidak seratus persen mengikuti selera global yang sedang digandrungi, tapi dengan berani menyajikan konten lokal dalam game yang mereka ciptakan. Seperti game petualangan yang mengangkat dongeng anak-anak Indonesia yang mendapat apresiasi luar biasa dari gamers di luar negri.
"Pak bos, ini ada rekomendasi, katanya pasar Vietnam lagi bagus-bagusnya sekarang dan sebaiknya kita mulai ekspansi ke platform windows."
Nurul, bagian keuangan menyampaikan laporan keuntungan quartal ke 3 mereka pada tahun ini, Ed mempelajarinya sebentar, dan tersenyum puas karena angka yang tersaji melampaui ekspektasinya.
"Oke, kita meeting sebentar lagi, kita akan membicarakannya, sekalian soal komunitas kita yang baru terbentuk di asia timur, kita bikin sebuah acara buat mereka, coba cari peluangnya di Tokyo atau Beijing."
Gadis tambun itu mengangguk, ia selalu bangga menjadi tim di E&EValley ini, karena pak bos nya yang cool, lucu, ramah dan selalu tanggap dengan setiap ide dan masukan dari karyawannya. Kivlan Edgar memang seperti itu, ia tak mewajibkan anak buahnya untuk bersikap formal dikantor, ia sangat terbuka kepada siapa saja, karena Ed tak menganggap mereka seperti bawahan yang disuruh-suruh tapi lebih ke partner kerja yang wajib didengarkan setiap keluhan, kritikan dan saran untuk kemajuan perusahaan.
Ed tak punya kantor khusus, ia akan duduk di mana saja untuk bekerja, mau duduk di balkon, di pantry sambil meminum kopi atau di toilet sembari pup, tak masalah, selagi jaringan internet tak ngadat dan laptop kesayangannya tak hang, Ed bisa berkompromi dengan setiap kondisi dan cuaca yang ada.
Pagi menjelang pukul 11, Ed sedang sibuk membaca laporan keuangan yang di berikan Nurul ketika suara ribut-ribut membuatnya sedikit kehilangan konsentrasi. Dari kaca kantor nya yang besar, ia melihat security gedung sedang menghalangi seorang wanita yang mencoba masuk ke dalam kantor, wajahnya tak terlihat secara utuh tapi rambut panjangnya sudah keluar dari gulungan sehingga tergerai seenaknya sampai kepunggung.
"Siapa?"
"Oh, itu pak, ada cewe rese yang udah 2 hari ini maksa pengen kerja disini."
"Lha, kita kan ga terima karyawan lagi."
"Udah dibilangin pak, tapi dia ngeyel, lagian tu cewe cuma ada ijazah SMA trus katanya ga ngerti komputer lagi, mana bisa."
"ED? ED? KAMU DIDALAM KAN?"
Ed tersentak, ketka suara yang dikenalnya memanggilnya dengan lantang dari luar, perempuan itu berhasil mengecoh satpam, ia masuk dan sekarang berdiri sambil terengah di depan pintu, senyumnya mengembang.
"Ed? Edgar! ini aku, Edna dungu!! hehehehe..masih ingat? lepasin babon!!"
Gadis itu menarik lengannya dari cengkraman salah seorang security yang tadi berhasil dilewatinya, dengan jengkel ia mengusap-usap bagian tubuhnya yang terasa sakit, lalu menoleh dan tersenyum penuh arti kepada Edgar yang kini mematung ditempatnya berdiri.
Perempuan itu berjarak lima meja darinya, dan sekarang seluruh isi kantor, orang-orang, laptop, pc, pulpen, post-it, sampai tong sampah, ikut-ikutan melihat pemandangan aneh yang tengah tersaji. Kivlan Edgario pemilik perusahan game mobile ini terdiam tak bersuara memandangi seorang perempuan yang kini tak berhenti tersenyum kepadanya.
"Ed?" senyum perempuan itu mulai ragu, Edgar tak bergerak sedikitpun dari sumbunya, bahkan matanya tak berkedip memandang Edna.
"Edgar? hi, ini aku Ed...."
"BUANG!"
Suara dingin Edgar membekukan waktu, Edna ditarik paksa oleh keamanan, suara teriakan perempuan itu masih bergaung diluar, sampai mengecil dan menghilang. Ed tak peduli, ia memerintahkan Nurul untuk segera memulai rapat.