"Masukklah, sudah malam, nanti mamamu cemas" Elle menggeleng, tak mau melepaskan pelukannya. sejak pak Minto menutup garasi tadi, Elle tak mau masuk ke dalam rumah, gadis itu masih betah memeluk Edgar dihalaman depan, pikiran Ed melayang-layang ke sesosok letih yang menarik gerobak berat seorang diri.
"Ed, aku sudah bilang ke mama, dan beliau setuju untuk membiayai kuliahmu ke Amerika"
"What? wait..apa kamu bilang?" Edgar menjauhkan diri, dan memaksa Elle untuk melihatnya.
"Kita akan ke Amerika Ed sehabis ujian nanti, aku udah nyari universitas yang cocok buat kita, terutama fakultas kedokterannya"
"Apa Elle? sejak kapan aku diikutkan dalam rapat dengan orangtuamu? sekarang tiba-tiba kamu memutuskan aku untuk ikut ke Amerika, kamu ngga nanya aku mau atau tidak?" Edgar meradang, Elle membuatnya tampak buruk dimata orangtua gadis itu, seolah-olah ia mengemis untuk dibiayai kuliahnya. Adam memang berprofesi sebagai tentara, tapi jika Ed minta dikuliahkan ke bulan, ayahnya pasti sanggup membiayainya.
"Kamu pasti mau, kamu sayang aku kan?" Elle tak mengerti sama sekali, gadis itu tetap memaksanya atas nama kasih sayang.
"Iya aku sayang kamu, sayang banget malah, tapi masa depanku ada ditangan aku Elle, dan itu tidak di Amerika apalagi di kedokteran, aku udah mutusin buat kuliah di Bandung".
"Tapi Ed.." tangis Elle mulai pecah, Edgar menguatkan hatinya untuk tak terpengaruh.
"Sudah, ngga ada pembicaraan lagi, keputusanku sudah final, dan tolong sampaikan keputusanku pada mamamu, aku pulang" Edgar berbalik dan melangkah pergi, ia mau menenangkan pikirannya.
"Kalau kamu ga mau, aku bakal nerima perjodohan yang diajukan mama!"
Langkah Ed terhenti, ia menoleh ke belakang menatap Elle yang bersimbah air mata "apa?"
"Aku mau dinikahkan sama anak teman mama yang juga bakalan kuliah di Amerika, mama beralasan aku harus ada yang nemenin disana"
"Dan kamu menerimanya begitu saja?" Edgar menarik nafasnya yang tiba-tiba berat, Elle benar-benar telah memainkan perasaannya, hubungan dua tahun tanpa status dirasa Edgar selama ini hanyalah ilusi, ia mabuk karena kecantikan gadis itu, tapi Elle ternyata tak mempunyai perasaan yang sama dengannya. Selama ini Ed sendirian yang mengayuh sampan cinta mereka, memikirkan itu ia tiba-tiba ingin muntah.
"Awalnya ngga Ed, karena aku maunya kamu yang mendampingi aku disana, tapi kamu menolakku mentah-mentah! aku ga punya pilihan lain!" tangis Elle makin menjadi memandang wajah Ed yang mengeras.
"Done Elle, we're done, lanjutkan hidupmu!"
Ed tak menoleh lagi kebelakang, ia tak peduli Elle yang berteriak memanggilnya, ia berlari ke suatu tujuan, ke tempat gadis yang mendorong gerobak sendirian.
Dari tadi Edna ingin naik kora-kora, tapi karena tadi stand kacangnya terlalu ramai oleh pengunjung, ia tak sempat untuk menikmati wahana kapal itu. Sekarang ia duduk di salah satu bangku kapal sendirian, lampu sudah dimatikan, penerangan hanya berasal dari beberapa bintang yang bermunculan. susana sepi, pasar malam sudah selesai satu jam yang lalu, ia masuk ke arena pasar dengan cara memanjat pagar karena semuanya sudah terkunci rapat. berselimutkan kain kumal yang ditemukannya di gerobak pak Hakim ia berencana akan menunggu matahari terbit, karena matanya tak mau terpejam sejak sepulang mengantarkan barang dan hasil berjualan mereka ke rumah tukang kebunnya itu.
Ia sebenarnya tak mau memikirkan peristiwa di tepi jalan tadi, ketika Elle menatap kekasihnya dengan pandangan sedih, benar ia tak mau memikirkannya. Tapi bayangan Edgar bermunculan di benaknya, senyum, tawa bahkan sindiran-sindiran yang terlontar dari mulutnya sudah membuat Edna merindu. Disatu sudut hatinya, ia tahu Edgar milik kakaknya, takkan pernah beruntuk kepadanya, karena Edgar jelas sangat menyayangi Elle.
"Ngapain lo disini tukang terobos?" Edna terkejut, ia melihat Edgar bersidekap di samping kapal, laki-laki itu tersenyum, tapi matanya kelihatan sedih.
"Nah lo sendiri ngapain?" jantung Edna berdebur kencang, ia baru saja memikirkan Edgar, sekarang cowo itu ada didekatnya, ini serasa mimpi.
"Gue naik ya?"
"Bayar!"
Edgar tertawa, karena kakinya panjang ia dengan mudah menaiki bahtera Nuh itu. Ia duduk di samping Edna dan seenaknya menarik selimut untuk menutupi dirinya. Mereka duduk berdampingan, kali ini Edgar tak menjauh, ia sengaja menyentuhkan kulit mereka mencari kehangatan.
"Cita-cita lo apa?" Edgar bertanya tentang keinginannya, Edna tersenyum, ia hanya punya satu impian untuk masa depannya.
"Mmm..ingin punya restoran"
"Emangnya lo bisa masak?"
"Ngga lah orang dungu seperti gue kan hanya bisa makan" niat Edna hanya bercanda tapi Edgar tampaknya sedang bersusah hati, laki-laki itu tidak menanggapinya dengan serius.
"Maaf karena memanggil lo dungu" .
Edna tertawa melihat edgar yang tulus menyesal, wajahnya seperti anak TK yang kedapatan mencoret dinding mushola dengan kata 'tai' "hahahahahaha..napa lo? ambeien? jangan dibawa serius dong!"
Edgar tersenyum, ia menatap Edna yang balas tersenyum padanya, lalu ia terpikir sesuatu.
"Lo ngga mirip Elle?"
Gadis itu terdiam, ia sedikit jenggah karena Edgar menyebut nama Elle.
"Lo pernah ketemu bokap gue?" Edgar menggeleng.
"Kata orang gue mirip dia, sedangkan Elle mirip kedua orang tua gue, hehehehe.."
Ada yang ganjil dalam tawa Edna, ia tak begitu bahagia ketika membicarakan keluarganya.
"Gue rasa lo ngga bodoh Ed, lo pura-pura bodoh, iya kan?"
"Kan udah gue bilang, jangan suka berasumsi, ntar lu bakalan cep..."
"Cepat mati, yah yah..teori lo mengada-ngada, tapi gue aminin aja dulu"
"Coba lo sering-sering berdiri di bawah sinar matahari, pasti otak lo yang beku bisa lumer"
"Diam lo Ed!" tapi ia tersenyum mendengarkan saran Ed.
"Kalau otak lo dijual pasti langsung laku, karena jarang digunain iya kan? masih fresh soalnya" Edgar tertawa karena digelitik Edna, karena gerakannya yang heboh, tubuh keduanya jadi lengket dan Edgar tak sengaja menyentuhkan hidungnya ke hidung Edna. Mereka terdiam, wajah keduanya tak berjarak, entah siapa yang memulai bibir keduanya sudah menempel.
Ciuman itu lembut, lembut sekali, Edna merasa bibirnya di belai angin, bibr Edgar manis rasanya, lidahnya membelai dengan penuh perasaan. laki-laki itu tak mau terburu-buru, ia mencecap Edna seperti mengecap permen yang manis. Lalu tanpa ada aba-aba, ciuman mereka berubah beringas, bak pelari 100 meter mereka mulai sprint ketika akan memasuki garis finish, Edna membuka kacamata Edgar tanpa melepaskan bibir mereka. Lidah mereka mulai saling menelusup ke dalam berbagi liur, membelit dan bergerak aktif, tubuh mereka rapat, bahkan Edna sudah berada dipangkuan Edgar. Rambut panjang laki-laki itu tergerai, jemari Edna membelainya, tapi seketika berubah menjadi jambakan ketika Edgar mengigit lidahnya.
"Ini apa Ed?" nafasnya terengah-engah, dadanya turun naik dengan cepat.
"I'm sorry, i'm..."
"No!" perkataan Edgar terputus oleh teriakannya, Edna kembali membawa mulut Edgar ke bibirnya dan kembali melumat. Kepalanya pusing oleh darah yang menderu dtubuhnya yang panas dan berpeluh. Kora-kora itu berderit-derit oleh gerakan mereka yang semakin lama semakin liar.
Jemari Edgar bergetar ketika membuka kancing kemeja Edna, ketika kain itu di sibak, Edgar bergetar melihat d**a Edna yag dibalut bra berwarna hitam, ditariknya keatas, lalu di belainya pelan, p****g Edna mengeras ketika Edgar meniupnya, mata mereka bertemu, Edgar meminta persetujuan, Edna mengangguk, lalu lidah pemuda itu menjilat p****g merah muda Edna, pelan sekali, tapi efeknya luar biasa, Edna merasakan tulangnya gemelutuk, ia gemetar, jantungnya berdetak kencang.
"Edgar...." Edna berbisik di telinga Edgar, menyebutkan nama pemuda itu dengan hatinya, dengan segenap jiwanya.
Lidah Ed sudah berpindah ke p****g yang satunya lagi, kali ini tak ada keramahan, Edgar tak mau berbasa-basi, Edna sudah memberikan semuanya, d**a dan perut gadis itu kini banyak terdapat tanda merah akibat dijilat dan digigit Edgar.
Tak perlu waktu lama untuk menyingkirkan pakaian yang melekat di tubuh mereka, Edgar telanjang, Edna masih menggunakan kemejanya dengan bagian depan yang terbuka, selain itu ia tak memakai apa-apa lagi. Kora-kora bukan didisain untuk bercinta, sempit dan tak bebas bergerak, tapi apa yang dipedulikan oleh Ed dan Ed, gairah mereka tak bisa dibendung lagi.
"Ssssstt" Edna mendesis ketika bokongnya diremas, kejantanan Edgar sudah mengacung tegak dan keras bak batu, jemari Edna membelai kepala jamurnya dan terus menuruni batangnya yang berurat, Edgar melenguh merasakan kelembutan menyentuhnya demikian rupa.
"Apa lo mau kita berhenti?" Edgar mengusap kening Edna yang basah oleh keringat, ia tak mau memaksa gadis itu untuk bertindak lebih jauh, walaupun akan berdampak buruk pada si "buyung" nya yang kini sudah sangat bersemangat.
"Kau ingin kubunuh Ed?" Edgar tertawa, ia akan benar-benar mati jika Edna menerima tawarannya untuk berhenti.
Oke, mereka amatiran, tak tahu kalau bercinta untuk pertama kali dengan posisi woman on top ini bakalan berakibat tak baik buat si wanita, tapi kondisi tak memungkinkan mereka untuk melakukannya dengan posisi malam pertama yang konvensional, jadilah setan membisiki keduanya untuk terus tancap gas, percaya dengan insting mereka masing-masing.
Dengan penuh tekad, Edgar membantu Edna untuk menurunkan bokongnya ke kejantanan Ed yang sudah menunggu, ketika kepalanya menyentuh kehangatan Edna yang sudah basah, gadis itu gemetar, Edgar memeluknya dengan posesif, lalu semakin turun dan terus melumat adik kecil Edgar, tiba-tiba gerakannya terhenti, Edgar merasa ada yang menghalanginya.
"Ed..kamu masih perawan?" ia memandang Edna tak percaya, jadi gosip itu....
"Don't stop, please"
"Tapi, Ed".
"Please, cintai aku Ed, cintai aku".
Gadis itu mulai menitikkan air mata, Edgar merasa jantungnya diremas, dengan lembut dikecupnya mata Edna yang tertutup, air matanya gadis itu di jilatnya. Edna membenamkan wajahnya ke lekuk bahu Edgar yang kokoh, ia menangis ketika merasakan sakit yang tajam waktu keperawanannya diambil pemuda itu, ia menangis ketika ia tahu ia memberikan hartanya untuk laki-laki yang ia sayangi tapi takkan pernah menjadi miliknya, ia menangis karena ia tak menyesali apapun, ia tak menyesali Edgar hadir dalam hidupnya dan merasuk pelan ke jantung hatinya, ia bahagia sekali malam ini, walaupun ini adalah yang pertama dan terakhir kali ia akan bersama laki-laki itu.
Kora-kora bergoyang dan bergetar hebat, Edna sekarang tak memikirkan apapun lagi selain mereguk sebanyak-banyaknya cinta yang diberikan Edgar, bibir mereka tak lepas dari pagutan liar, gadis itu tak lagi merasakan sakit, ia menikmati kejantanan Edgar yang mengaduk dikedalaman organ intimnya.
Peluh bercucuran, kemejanya sudah lengket. Bintang diatas sana berkedip menyaksikan dua anak manusia berbagi cinta dan kehangatan, langit tenang, angin pun ikut terdiam, seluruh semesta membeku, sedangkan Ed dan Ed terus berayun di dalam buaian cinta.
Edgar takkan pernah tahu, jika pada keesokan harinya ia akan terbangun sendirian dengan Edna yang tak berada disisinya. Edgar takkan pernah tahu, kalau keesokan hari ia takkan menemukan Edna, esoknya lagi, dan terus seperti itu, Edna tak pernah muncul lagi dihadapannya.
Savior Edna menghilang dari kehidupan Kivlan Edgar.