Edgar tak menyadari Edna sudah menghilang dari sisinya sejak tadi, tiba-tiba dari atas panggung muncul Edna dengan kostum paling aneh yang pernah dilihatnya, gadis itu mengunakan kemeja kuning Golkar dan celana komprang high waist hijau kota-kotak dan ber-suspender, rambutnya ditutup wig kribo berwarna pink, dan matanya di tutup kacamata aviator obralan. Ed awalnya ragu itu Edna, tetapi ketika ia berteriak "ayo mang, goyang!" Edgar langsung tertawa kencang.
Edna berjoget tak karuan, orang-orang tertawa melihat tingkah laku si gadis kribo yang sekali-kali menampar p****t montok biduan yang meresponnya dengan tawa. Lagu yang dimainkan berganti dengan lagu Elvi Sukaesih yang diciptakan Bang Oma.
Saat lagu tengah berlangsung, Edna merebut mik tukang suling dan berteriak.
"Khusus untuk gorila yang lagi bengong, untuk naik keatas panggung dan bergabung dengan keriangan, yayyyyy!!" Edna menunjuk-nunjuk Ed yang bingung, tubuhnya didorong ke depan oleh orang-orang yang tertawa-tawa, akhir cerita Ed dengan kostum gorilanya yang t***l sekarang berdiri seperti anak i***t di atas panggung.
"Kita sambut, tuan gorilaaaaaaaaa"
"Wooooooooooooooooooooooooooooooooo"
Musik semakin membahana, penonton kesurupan, apalagi musik Bang Oma berubah menjadi dangdut koplo, Edna menarik-natik tangan gorila Edgar dan mencoba berdansa di bawah sinar lampu panggung yang ala kadarnya, Edgar merasa tertantang, dengan gaya gorila yang khas ia mulai memeragakan beberapa gerakan sarimin.
"Yah, inilah, sarimin pergi kepasar naik ibunya, eh naik ojekkkk"
"Woooooooooooooooooo"
"Sarimin lagi ngeloco, eh ngelamun"
"Woooooooooooooo"
"Sarimin lagi tepok p****t, eh tepok tangan" Edna tergelak ketika Edgar dengan usil menepok p****t si eneng goyang ulekan.
"Wooooooooooooooooooo"
"Ih sarimin nakal" untung kostum Edgar tebal, kalau tidak tangan berkutek si eneng sudah sukses meremas selangkangannya.
Memasuki lagu berikutnya, Ed dan Ed sudah tak tahan, meraka letih sekali, dengan enggan penonton melepas duo kocak ini kembali ke wujud asli mereka. Edna mengganti pakaiannya, dan mengembalikan kostum uniknya kepada pemilik organ tunggal yang dengan senang hati meminjamkannya untuk Edna.
Edgar juga terlihat lega ketika lepas dari kostum gorilanya yang panas. Mereka lalu mulai mengepak kotak dan kardus lalu diletakkan ke dalam gerobak untuk kembali di bawa pulang kerumah pak Hakim. Gerobak di tarik Edgar dan didorong Edna dari belakang, malam-malam begini mereka seperti sepasang pemulung yang baru pulang berdinas, tapi Ed dan Ed tak peduli dengan pandangan orang sepanjang jalan, mereka terlau semangat malam ini.
Edgar tak pernah berpikir kalau keputusan mengiyakan usulan Edna untuk mengerjakan tugas guru bahasa inggris mereka di sebuah pasar malam, akan berakhir menyenangkan, ia sangat menikmati setiap detiknya, walaupun harus berpeluh keringat karena kostum gorila laknat itu, atau harus menahan perut yang kembung akibat kebanyakan makan kacang dan dilanjutkan dengan berjoget ala sarimin di hadapan ratusan pasang mata, tapi sungguh ia tak peduli, melihat Edna yang selalu tertawa, sudah membuat perjuangannya terbayarkan.
Sepanjang perjalanan menuju rumah pak Hakim, mereka berdua tak berhenti ngobrol dan tertawa, sesekali diselingi oleh kentut Edgar yang berbau kacang yang difermentasi bertahun-tahun, karena Edna ada dibelakangnya, gadis itulah yang terkena dampaknya.
"Anjir lo Ed, kentut ga bilang-bilang" Edna menutup hidungnya dengan kesal.
Edgar tertawa "sori, sori, ga tahan soalnya, hehehehehe..."
"Kenapa sih lo hobi kentut?" Edna mengibaskan tangannya, mengusir bebauan yang berbau seperti kemenyan itu.
"Oh, kebiasaan mungkin, dulu waktu kecil gue dan Sky sering perang kentut genggam".
"Kentut genggam, apaan tuh?"
"Itu, kentut lo tampung pake tangan trus lo genggam kuat-kuat, ketemu musuh, lo langsung hajar ke mulutnya dia" Ed menunjukkan tangannya yang terkepal ke Edna, seolah ia menyimpan racun istimewa didalamnya.
"Anjing! epik banget deh permainan kalian, hahahaha" Ed ikut-ikutan tertawa, ia ingat permainan itu diciptakan Sky karena dulu abangnya itu hobi makan telur rebus.
"Nah, karena Sky punya persediaan kentut yang berlimpah, gue pun mempelajari trik dan tips agar bisa kentut sewaktu-waktu, guna menghadapi Sky yang menyerang sesuka hatinya, gitu.."
Bwhahahahahahahahahahaha........
Ed dan Ed tergelak mendengar taktik perang kentut ala Edgar. Edna memikirkan masa kecil Edgar dan saudara-saudaranya pastilah sangat menyenangkan, berbeda dengan dirinya.
"Trus siapa lagi diantara kalian yang punya hobi aneh?"
"Nino".
"Dia mah, secara keseluruhan memang yang aneh, gue pernah lihat dia memelototi papan tulis yang berisi rumus fisika tanpa berkedip"
"Itu mah bukan aneh, tapi kebiasaan, karena adik gue itu paling benci menulis, nah hobi yang gue maksud adalah, waktu kita tawuran Nino jarang sekali memukul orang"
Edna tahu kalau si kembar 4 ini adalah raja tawuran di sekolah mereka, dimana ada tawuran pelajar disitu pasti ada mereka.
"Oh ya kenapa?"
"Nino punya senjata mematikan, persel"
"Parsel? Nino mukulin orang pake parsel? emang lebaran kapan, ada tawuran?"
"Bukan parsel, tapi persel, peres s**********n!"
Edna terdiam sebentar, lalu mulai terbahak-bahak lagi, ternyata jemari lentik Nino sangat kreatif dalam penggunaannya.
"Jadi ya, Nino akan meringsek ke arena tawuran dan mencari musuh dengan kecepatan tak terduga, belum sempat lawan memukulnya, ia terlebih dahulu mengulurkan tangan kebawah, dan meremas batang mereka kuat-kuat, gue ga tahu ada berapa orang korban Nino yang berakhir impoten"
Ed dan Ed tertawa kencang-kencang, Nino itu memang cantik fisiknya, tapi kalau soal kekejaman, ia lebih sadis 10 kali lipat dari Sky yang hobi meretakkan tengkorak orang
***********************************
Mereka hampir sampai ke rumah pak Hakim ketika Edgar melihat Elle berdiri di tepi jalan, sebuah mobil dan seorang bapak-bapak ada di belakangnya. Melihat Edgar berhenti mendadak, Edna penasaran, ketika ia melihat Elle berdiri menatap mereka, kebahagiaan yang baru dirasakannya lenyap tak bersisa.
"Ed, aku mau bicara" Sudah hampir satu minggu Edgar dan Elle tak bertegur sapa akibat pembicaraan mereka, ketika Edgar mengungkit masalah status hubungan mereka. Kini ketika melihat Elle dihadapannya, ada sesak di d**a Edgar, ia rindu tapi juga tak mau bertemu dengan gadis cantik itu.
"Ini sudah tengah malam Elle, pulanglah, lagipula aku harus nganterin ini" Edgar menunjuk gerobak yang berisi kardus-kardus, Edna melihat jalan, ia tak mau ikut campur urusan mereka.
"Tapi Ed, aku besok harus ke Semarang ikut lomba karya ilmiah, aku ngga sempat ke sekolah besok"
"Kan masih ada esoknya lagi kan Elle, kamu kan ga selamanya di sana"
"Tapi aku maunya sekarang, aku kangen Ed" gadis itu mulai terisak, tubuhnya yang ringkih bergetar karena tangis dan dinginnya angin malam. Edgar tak tega, ia tak mau melihat gadisnya menangis, lebih tak tega lagi kalau Elle sakit karena dirinya.
Ia menoleh kebelakang, dan melihat Edna yang duduk di trotoar, ia tak mungkin membiarkan Edna sendirian menarik gerobak yang berat, gadis itu memang tomboi tapi ia tetaplah seorang perempuan dengan tenaga yang terbatas.
"Ed" Edna mendongkak, menatap Edgar yang memanggilnya dengan namanya bukan dengan 'dungu' seperti biasa.
"Gue..."
"Pergilah, lo tahu kan gue kuat, lihat nih lengan, bisa ngulek cabe 50 kg dalam waktu satu jam, hehehe...just go!"
Edgar tampak ragu, pemuda itu gelisah, tangis Elle makin kencang di belakangnya.
"Go Ed!!"
Edna mengibaskan tangannya dengan lagak mengusir, di bibirnya tersungging senyuman sedih, Edgar merasa hatinya sedang ditumbuk alu. Dengan tergesa-gesa ia menarik Elle masuk kedalam mobil, mobil melaju meninggalkan Edna, ia menatap lampu mobil itu sampai hilang di belokan.
Ia tetap berdiri disana, di jalanan yang sepi, pukul satu dinihari, kemejanya tipis dan ia menggigil kedinginan, ia barusan kembali mengembalikan Edgar kepada Elle, ia tadi memang sengaja meminjam Edgar untuknya lagi, tapi ia tak curang, ia tak pernah mau mencuri laki-laki itu, ia tak mau, sungguh, karena ia sayang Elle, walaupun saudaranya itu tak pernah menyayanginya.
Ed mengucapkan mantranya lagi, jangan nangis Ed, jangan nangis, tapi kali ini tak cukup mempan melawan kesedihannya.
Edna terduduk dan membenamkan wajahnya di antara kedua lengan yang saling memeluk.
Savior Edna menangis kalah.