Edna mencengkram kedua sisi perutnya yang sakit akibat terlalu keras tertawa, air mata dan ingus semakin membuatnya tampak jelek. Edgar melotot kearah Edna yang sekarang terbungkuk-bungkuk dengan mulutnya yang mengaga.
"Stop you i***t!! berhenti tertawa! lo mau gue tendang ke Brazil!!"
"You! you! look at you man! you look like big ass mother in gorilla suit! huahahahahahahaha....."
Mau tak mau Edgar melihat dirinya sekali lagi, kostum gorila yang bulu dan bau itu membuatnya tampak seperti King Kong yang siap mengamuk di puncak Empire State Building.
"Sialan lo, kemaren lo bilang kita cuma bakalan jagain stand kacang, kenapa sekarang gue jadi gorila yang dilemparin kacang, lo mau mati dungu!!" Edgar menunjuk muka Edna dengan jarinya yang hitam dan besar.
Gadis itu tak menjawab, ia masih sibuk tergelak, Edna serasa mendapat durian runtuh menyaksikan Edgar dalam kostum super t***l. Kostum itu memang luar biasa menggelikan, karena Edgar bertubuh besar, sosok gorila yang pada dasarnya juga giant menjadi semakin tampak pas. Selain mentertawakan Edgar, Edna juga merasa bahagia karena berhasil lolos dari hukuman mati, karena awalnya ialah yang diminta pak Hakim untuk menggantikannya menjadi gorila-gorila di pasar malam di kelurahan sebelah.
Pak Hakim adalah tukang kebun di rumahnya, biasanya kalau ada pasar malam, ia dan istrinya membuka stand yang menjual kacang rebus plus menyediakan dirinya sebagai gorila jadi-jadian dan boleh dilempari kacang. Nah, awalnya Edgar mengusulkan untuk mengerjakan tugas Mr.Muddy dengan menghibur anak-anak di rumah sakit kanker khusus anak, tapi Edna mengatakan "it's so lame" karena mereka bukan artis yang memberi gosip muraha yang sok berbaik hati dengan repot-repot mengunjungi anak-anak malang. Jadi Edna mengusulkan agar menggantikan pak Hakim yang sedang sakit dan harus kehilangan kesempatan mengais rezeki tambahan. Awalnya Edgar ragu karena Edna bukan jenis manusia yang bisa dipercaya, tapi karena selalu di ejek "You so lame, you so lame" Edgar panas, akhirnya ia menyetujui usulan Edna.
Tebakan Edgar benar adanya, ia ditipu habis-habisan oleh gadis berambut pixie itu, lihatlah ia sekarang, berdiri di titik sasaran dengan seluruh tubuh ditutupi kostum coklat berbulu dan mulut menganga. Edna tertawa-tawa ketika stand kacang di jaganya ramai dikunjungi orang. Satu bungkus kacang rebus tanpa kulit di jual seribu rupiah, lalu kau bebas memberi makan si gorila yang kelaparan.
Edgar merasa mulutnya pegal karena selalu menganga, ditambah kostum yang berat dan panas melengkapi penderitaannya malam itu. Edna yang tak berhenti tertawa membuatnya ingin membenamkan gadis itu kedasar neraka.
"Ayo, ayo!! sayang anak, sayang anak! lempar si gorila, lempar saja!!"
"Dilempar pakai batu boleh ga?"
"Boleh!"
"Pakai sendal?"
"Boleh, silahkan"
"Dilempar pakai motor?"
"Boleh bangat"
Massa tertawa melihat si gorila panik mengibas-ngibaskan tanganya yang besar, tawa Edna makin meledak ketika makhluk primata t***l itu mengacung-acungkan tinju ke padanya.
Pasar malam itu sama seperti pasar-pasar malam lainnya, yaitu pasar yang di buka pada malam hari, penjual apa saja bisa kau temukan disini, daster, alat-alat rumah tangga dan barang pecah belah, baju anak-anak, sepatu, mainan, barang elektronik, dan yang paling wajib adalah penjaja makanan yang hampir memenuhi setiap sudut pasar.
Satu hal lagi yang jarang dilewatkan adalah wahana permainan yang banyak ditawarkan, bianglala dan kora-kora adalah yang paling favorit. Jangan kau samakan dengan yang ada di Dufan, disini setiap permainan akan dijalankan dengan cara yang unik, misalnya kora-kora, si operator akan mendorong perahu ke kiri dan kekanan, lalu lama-lama akan semakin kencang dengan bantuan mesin, kau akan terangkat tinggi-tinggi dan perutmu akan mulas dan ingin muntah.
Penerangan bisa di bilang lumayan cukup, ada beberapa lampu besar yang di pasang di empat sudut, ditambah sinar lampu yang berasal dari orang-orang yang berjualan. Dan kemeriahan pasar malam akan bertambah dengan semak yang bergetar dan mobil yang bergoyang di tempat parkir, tahulah kebiasaan orang Indonesia, mencari kesempatan dalam kegelapan.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, stok kacang rebus yang tadi disiapkan istri pak Hakim sudah habis dan kaleng biskuit berisi uang hasil kerja mereka sudah penuh. Edna tersenyum puas lalu tertawa melihat Edgar yang sedang duduk sambil mengipas-ngipas badannya yang panas. Edna kini memandang pemuda itu lain, ternyata Edgar tak sepicik yang diduganya, walaupun marah dan kesal tapi ia tak mengeluh ketika menjalani bagiannya, ia tetap dengan performa terbaik tanpa mengatakan kata capek sekalipun. Edgar pemuda yang tegar dan ada keihklasan dari setiap sikapnya.
"Nih minum!" Edna mengangsurkan sebuah gelas plastik yang mengepulkan asap.
Edgar menaikkan alisnya curiga, Edna tertawa.
"Ga gue racunin, dan ga gue ludahin, ini minuman jahe, bagus buat perut lo"
"Gue sangka lo bakalan ngasih jus kacang, no more nuts because it makes me nuts"
"Kacang ga dijadiin jus, tapi buat dijilat ama di gelitik" Edna tersenyum c***l, lalu ia membelakangi Edgar, berkutat membereskan berbagai macam barang.
"Kenapa? lo sange? udah berapa lama sangkar lo ngga di kunjungi burung?"
Punggung Edna menegang, tangannya berhenti bekerja, nafasnya tersentak. Edgar yang merasakan itu mengumpat dalam hati good Ed, you are so good
Edna berbalik memandangnya, diluar perkiraan gadis itu tersenyum "kau tahu, orang yang suka berasumsi bisa cepat mati, tapi untukmu kawan, aku berdoa sebaliknya"
Edgar semakin merasa bersalah, ia tak mengerti kenapa di dekat Edna mulutnya bisa menjadi begitu jahat, melihat gadis itu, hanya sindiran dan cemoohan yang ada di kepalanya, Edgar benar-benar termakan dengan segala gosip yang beredar disekitarnya mengenai seorang Savior Edna.
"Sorry, i didn't mean it, i'm just.."
"Becanda? hahaha..yeeah right, semua orang berkata hal yang sama, mereka cuma bercanda, tapi mereka tahu kalau itu bukan, tidak apa-apa, gue udah terbiasa kok, ayo! i'll show you something, c'mon!"
Edgar tetap dengan perasaan bersalahnya ketika ia mengikuti Edna ke bagian tengah pasar, mereka menemukan kerumunan besar disana, ada hiburan rakyat yang benar-benar merakyat, tak lain dan tak bukan adalah dangdut man!!!
"Itu yang disebut dengan Indonesia kawan" Edna berkata sambil berteriak mencoba mengalahkan suara keras dari speaker-speaker yang ditaruh di tanah yang berumput, suara musik dan suara ribut orang-orang disekitar mereka menambah hawa kehebohan pasar malam.
Diatas panggung seorang biduanita sedang menggoyang-goyangkan pantatnya bulatnya yang di balut rok mini lateks berwarna merah dengan stoking hitam yang membungkus betisnya yang besar, diatasnya ada kemben yang menutup dua payudaranya yang menggunung dan ditutup jaket denim bunga-bunga untuk kesopanan.
Semua makhluk yang berjenis laki-laki berteriak c***l ke arah si p****t besar yang meliuk-liuk erotis diatas sana mengikuti alunan suling dan gendang, tek dung tek dung tek dung.... siapa yang lagi ngandung... tek dung tek dung.
"Goyang neng, yooo"
"Kayak ulekan, saya mau jadi cabenya.... hahahaha"
"Lombok saya lebih gede!"
"Apaan, segede cacing juga lu!"
"Ah...si mas, ih" di sela-sela nyanyiannya, si neng goyang ulekan menggoda dengan rayuan manis dari bibir merahnya yang saking merahnya bisa menghentikan mobil di jalan.
Ed dan Ed tertawa melihat interaksi m***m di depan mereka, orang-orang indonesia lebih membutuhkan hiburan seperti ini, murah meriah sekaligus hiburan yang tak perlu menguras pikiran dan aturan untuk menikmatinya. Lihat saja sekarang, seorang bapak-bapak berperut gendut dan lehernya yang gemuk dipasang rantai emas besar, ia seperti bulldog yang di pasangi tali kekang oleh tuannya dan diajak jalan-jalan keliling komplek. Si bapak bermuka bulldog itu sudah naik keatas pentas, dan mulai mengesek-gesekkan badannya di bagian belakang tubuh si eneng p****t besar, sekali-kali tangannya yang berotot memasukkan uang pecahan seribu rupiah kebelahan d**a si eneng yang membalasnya dengan desahan, sekali-kali ia menyundulkan pantatnya ke s**********n si bapak, hentakkan gendang semakin kencang.