Edgar melihat Edna sedang duduk berselonjor di selasar sepi di belakang gedung sekolah, sendirian, karena anak itu memang tak punya teman. Entah kenapa Edgar menjadi gusar, ia sedang tak berminat melihat wajah Edna sekarang, ketika hendak berbalik pergi, Edna menegurnya.
"Kenapa kuncir? lo takut ngelewatin jalan gue lagi?"
Edgar menarik nafasnya kuat dan menghembuskannya dengan kesal, gadis itu memang hobi mencari gara-gara dengannya.
"Emang lo Daendels, semua orang mesti membayar upeti pada lo!"
"Good idea" Edna kembali mengunyah makanannya, ia terlihat santai tak terpengaruh dengan sindiran Edgar.
"Apa mau lo dungu!" Edgar terpancing, ia msih kesal sejak pembagian tim dari Mr.Muddy tadi, mumpung sekarang ada Edna amarahnya akan terlampiaskan kepada orang yang tepat.
"Nothing" gadis itu mengangkat bahu "lo mau" ia mengulurkan sebuah sandwich yang di bungkus plastik, tampaknya masih hangat, bungkusan itu berembun.
Perut Ed bersorak kegirangan, tadi ia tak sempat sarapan, semua nasi dan lauk jatahnya di sikat Sky tak bersisa. Melihat sandwich yang tampak lezat itu, Edgar seperti Scooby yang melayang-layang menuju sumber makanan.
Edgar duduk di sebelah Edna, tapi menyisakan jarak, ia takut kalau sampai ia bersentuhan dengan Edna, kulitnya bisa kena ruam. Edgar menerima tumpukan roti itu dan langsung memakannya dalam satu gigitan besar.
"Lo nyuruh Elle bikin bekal buat lo, dasar sadis" ia mengenal sandwich yang dimakannya, Elle khusus membuatkan untuknya tiga hari yang lalu.
Karena sibuk mengunyah makanannya, Edgar tak tahu kalau gadis di sampingnya terdiam, makanan di tangannya tak jadi dimakannya, wajahnya datar namun matanya sedih.
"Yep, gue sering suruh-suruh dia di rumah, habis... pembantu cuma satu" Edna kembali makan, ia meredam kemarahannya dan menjawab pertanyaan Edgar tanpa berpikir.
"Selain dungu lo juga jahat, apa hukuman yang pantas buat orang seperti lo, dihukum gantung pastinya!" mulutnya penuh, tapi Edgar sangat bernafsu memarahi gadis disampingnya.
Edna tertawa terbahak-bahak, tapi ia tak tahu apa yang ia tertawakan, ucapan Edgar sampai kejantungnya.
"Apa yang kau tertawakan dungu! lo pikir gue becanda!" bentakan Edgar tak kunjung membawa tawanya surut, ada air mata yang merebak di ujung matanya.
Saat Edna mendendangkan Hoist The Colors, Edgar merasa melihat ada lautan biru terbentang di hadapannya, dan banyak sekali puing-puing kapal berserakan menambah kesan suram berderet-deret tiang gantungan di tepian pantai.
"Dari dulu gue selalu merasa kalau gue adalah titisan Josef Mengele?" suara Edna menyeret Edgar dari pandangan mengerikan yang terbentuk sejenak di benaknya.
"Who the f**k are you talking about?"
"Mengele, dokter kharismatik tapi gila, yang hobi bermain-main dengan tubuh manusia di kamp konsentrasi Auschwitz, and you know what, ia pernah dengan santai memenggal kepala seorang bocah dan dikirim ke Jerman untuk dijadikan bahan penelitian"
"You mean, dokter gila Nazi yang bereksperimen dengan anak kembar?"
"Yep, ia terobsesi dengan kebesaran ras arya, di kamp konsentrasi ia akan memisahkan mereka yang akan menjadi kelinci percobaan dengan yang akan di masukkan ke kamar gas, he was a sweet man, semanis gula-gula yang ia berikan kepada bocah-bocah yang akan disuntik, di tembak atau di pukul sampai mati"
"Pantes lu mengidolakan dia, orang gila fans-nya ya, orang gila" nada suara Edgar kentara sekali mencemooh.
Edna tak peduli dengan hinaan Edgar "gue rasa Hitler masih bisa dibilang baik dibanding ni orang, karena dokter itu seharusnya menyembuhkan bukan membunuh"
"Ayah Elle dokter kan?"
Edna diam, lalu mengangkat bahu, tak tahu tujuan Edgar menanyai ayahnya.
"Dan pertanyaannya adalah, kenapa manusia dungu kayak lo bisa tahu hal-hal semacam itu, sedangkan kau jenis orang yang menganggap matematika takkan berguna dalam hidup manusia"
"I read, just so you know, i can read" Edna mengerling ke Edgar.
"Yeah, tapi tetap saja otakmu dungu, karena kau mengidolakan malaikat kematian!"
"Apa salahnya? memangnya kau mengidolakan siapa? Mick Jagger yang bibirnya sampai ke dagu dan hobi berdansa seperti rusa mabuk? atau John Lennon yang tak tahu kegunaan pakaian sehingga mau difoto bugil bareng istri Jepangnya? how sweet!, spongebob di otakmu tak berkerja dengan baik kawan" gantian Edna yang membalas Edgar.
"Shut up, you are not my friend?"
"Yes i am, karena tak ada teman yang membiarkan temannya kelaparan"
Edgar menoleh menatap Edna yang balas menatapnya, dalam hati ia membenarkan, kalau ia kenyang karena sedekah sandwich dan terhibur dengan debat kusir mereka.
"Asal lo tahu, Sky itu ngga bodoh"
"Emang gue nanya? lagian gue juga tahu Sky ngga bodoh, karena ia manusia hebat yang mau menerima siapa saja tanpa pandang bulu ketek dan bulu kaki, ga sama kayak lo!"
"Kenapa gue, dungu!"
"Tahu masalah orang pintar seperti lo? lo menghitung semuanya dengan logika, tapi tak pernah mempertimbangkan yang namanya penghargaan, penghormatan dan tenggang rasa yang diciptakan Tuhan sebagai bagian dari diri manusia, dan lo tahu kegunaannya apa? agar lo bisa menjadi manusia yang seharusnya, menghormati orang lain, meskipun orang itu berbeda dari diri lo!!"
Edgar terdiam mendengar perkataan Edna yang berapi-api, ia tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut seorang Edna yang di klaim sebagai makhluk tak berotak di sekolah ini.
Cukup lama ada jeda diantara mereka. Makanan sudah habis, tapi Edgar belum mau beranjak, karena ia ingin masih disitu, duduk dengan gadis yang selalu ia panggil 'dungu', mendengarkan semua argumennya yang sarkas dan sinis, sekali-kali dengan unsur komedi, tapi Edgar menyukai situasinya, memang kata-kata mereka tidak teramu baik dan sopan, tapi menurut Ed ini lebih baik daripada mengobrol dengan penuh basa-basi.
"Kau tahu Incubus?" akhirnya Edgar mencairkan suasana.
"What, setan yang hobi nidurin janda"
Edna tertawa melihat Edgar mengeram padanya "okay..okay.......it's a band from Calabasas, California, "drive", "wish you were here", mmmm..what else?"
"I love them" Edgar tak mengacuhkan pertanyaan Edna, di depannya sekarang ada Brandon Boyd sedang duduk bersila.
"Me too".
"Jangan ikut-ikutan dungu!!"
"What! music is for everyone, Martin Luther King Jr said so, "I have a Dream" Edna mengacungkan tinjunya ke udara, merasa dirinya adalah Mr. King yang sedang berpidato di Lincoln Memorial pada 28 Agustus 1963.
"Apa hubungannya African-American Civil Rights Movement ama musik!"
"Kan ada lagunya, i have a dream, to sing a song....ouwo, uwo, uwo..YEAH!"
"A song to sing, DUNGU!!!!!"
Oh...siang yang luar biasa, Edna tak berhenti tertawa, disebelahnya Edgar tersenyum, sejenak ia melupakan hal yang paling krusial, kenapa ia ada disini?
"Ed?"
Ed dan Ed menoleh ke kiri, tempat Elle sedang berdiri takjauh dari mereka dan sedang memandang keduanya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Edgar melihat ke arah Elle, lalu ke Edna yang pura-pura membersihkan remah yang tak ada di roknya. Kemudian pemuda itu bangkit, dan berjalan kearah Elle, mengandeng tangan gadis itu dan tak menoleh lagi kebelakang.
Edna membiarkannya saja, ia sudah mengembalikan Edgar ke pemilik hatinya, tadi ia cuma meminjam Edgar sebentar untuk dirinya sendiri.
Dalam hati ia merapal mantra favoritnya,
Jangan nangis Ed, jangan nangis.