4

1057 Kata
Monday / 4.30 am / January 2002. Okay, first thing is the onion roll, mmmm..baunya syedep banget nih roti, next is pepper jack chesse and chicken breast, trus avocado, mustard and tomato. Seep, let's get started! pertama d**a ayamnya dipukul-pukul dulu sampai gepeng, lalu di marinate pakai bumbu rahasia, dimasukin ke plastik ziploc dan didiamkan kira-kira 20 menit. tick tock tick tock, keluarkan dari lemari es, trus panggang sampai kedua sisi matang dan taruh keju diatas ayam panaskan sampai melted. Siapkan roti, taruh ayam, beri mustard, tomat, terakhir alpukat dan siramkan lagi sedikit mustard, tutup dengan ayam dan roti, done, i give you chicken grilled sandwich, yummy!!!! Mudah-mudahan dia suka. *************************************************** Ed melihat laki-laki itu, masuk ke dapur tanpa melihat kearahnya sedikitpun, ia lalu menuangkan kopi ke sebuah gelas. "Pagi pa?" Ed menyapanya, gadis itu sedang duduk di kursi, menikmati sarapan. "Mmm.." ia hanya mengumam kecil, lalu ayahnya beranjak keluar dengan gelas kopi ditangan. Edna hanya memandang punggung laki-laki itu, biasanya juga begitu, ia jarang diberi muka. Edna sudah terbiasa diperlakukan seperti itu, sedari kecil laki-laki itu tak pernah mengecup keningnya, mengusap kepalanya atau mengendongnya, ayahnya tak peduli ia ada atau tidak ada. Dengan mengusap matanya cepat-cepat, ia mencangklong tas dan berangkat ke sekolah sambil terus merapalkan mantra, Ga boleh nangis Ed, ga boleh nangis. ************************************************* "Wow, ini kamu yang bikin?" Ed memandang sandwich di dalam kotak dan Elle berganti-gantian dengan penuh kekaguman. "Mmmm...yah, dengan sedikit bantuan" Elle mengigit bibir bawahnya, berharap Edgar tak bertanya lagi, dan memang tidak, Ed mengambil sandwichnya dan langsung menggigitnya besar-besar, di kunyahan ketiga, ia berhenti. "Delicious, wow, enak banget Elle, aku baru tahu kalau kamu pintar masak" pemuda itu tulus memujanya, dengan semangat ia terus makan sampai gigitan terakhir, Elle senang sekali. "Ayamnya dipanggang ya?" "Oh..itu iya, mmm..di goreng kayaknya" gadis itu tiba-tiba gugup, Ed tersenyum. "It's okay, mau dipanggang mau di goreng yang penting kamu yang bikin" Ed tersenyum menenangkan, Elle mendesah lega, laki-laki itu memang selalu membuatnya nyaman dan tak banyak tanya. "Ed, gimana? kita jadikan masuk kedokteran?" Ed yang sedang memungut remah-remah roti yang berceceran mendongkak menatap Elle yang menunggu jawabannya. Sudah beberapa hari ini mereka membicarakan tentang masa depan mereka berdua, mau kuliah dimana, ambil jurusan apa, tapi sejujurnya Ed tak mau membicarakannya dulu, selain ia masih ragu, ada hal lain yang harus disampaikannya kepada Elle. "Mmm...aku belum tahu Elle, masih bingung" ia mengusap tengkuknya, ia resah dengan pembicaraan mereka. "Kok belum sih, kita kan sebentar lagi mau Ebtanas, mikirnya musti jauh-jauh hari lho Ed" "Iya aku tahu, tapi ada yang lebih penting Elle, aku ingin kejelasan soal kita berdua" Ed menatap Elle dengan tatapan tajam, walaupun ia teramat menyayangi gadis ini, tapi ia tak mau dipermainkan. "Apa maksudmu?" gadis itu kembali gugup, tak menyangka akhirnya Ed menyerangnya dengan status hubungan mereka. "Kita ini sedang ngapain Elle? berteman? pacaran? atau hanya sekedar main-main? kau tahu aku menyukaimu" nada suaranya tajam dan tegas, Elle gelisah, ia tak tahu harus menjawab apa. "Aku ke kelas dulu" Elle bangkit dan berjalan keluar, kota makanannya ditinggal begitu saja, di pintu ia berpapasan dengan Edna yang akan masuk, ia menatap adiknya sebentar lalu melengos dan pergi. Edna melihat Edgar menekur di bangkunya, ada kota makanan berwarna biru didepan cowo itu, Edna menebak-nebak apa yang terjadi, namun ia tak peduli, ia berjalan ke bangkunya yang berada di belakang Edgar, lalu tanpa suara ia membuka tas dan menarik sebuah kotak makanan berwarna hijau, didalamnya ada dua tangkup sandwich yang sudah dingin, dengan enggan Edna membuka tutup dan memakan makanan yang tadinya ingin ia berikan kepada seseorang. ********************************************** "Aku mau ke ITB, ngambil desain komunikasi visual, atau desain interior atau arsitektur" "You sure?" "Yep" "Cita-cita jadi tentara gimana" "Kan ada Troi ma" Semua orang terdiam, Eva memandang Ed, ia tahu dibanding yang lain Ed yang paling tergila-gila dengan militer, tapi apa daya, penglihatannya tak memungkinkan Ed diterima di jalur reguler, sedangkan untuk operasi mata terlalu riskan, karena mata adalah organ yang paling vital, Eva tak mau nanti terjadi apa-apa terhadap anaknya. Eva mendesah, ia tahu ada yang mengganjal Ed, ia tahu putranya resah dan sedih. Adam menautkan jemarinya dengan jemari sang istri, menyalurkan kekuatan. "Ayah dan mama akan mendukungmu, selagi kau yakin dengan pilihan itu" seorang ayah memang harus seperti itu, memberikan ruang untuk kebebasan anaknya menentukan pilihan. "Bener Ed, ntar kalau lu jadi arsitek, lu bisa mendesain bangunan hebat, rumah kutang misalnya" Sky menepuk bahu Ed, memberikan semangat dengan idenya yang cacat. Ed tertawa, Sky memang begitu, menaikkan lalu menjatuhkan seseorang dengan perkataannya yang tak berperikemanusiaan, tapi saudara-saudaranya sudah terbiasa dan menganggapnya angin lalu, karena Sky memang tak layak diberi kesempatan untuk diberikan pujian tulus. "Lagian Bandung euy, neng geulis-nya bertaburan dimana-mana, hehehehehe...tapi Nino tetap yang paling geulis di hati abang" Sky meniupkan ciuman ke Nino yang duduk di samping Eva. Nino menatap Sky dingin, menangkap ciuman itu dan melemparkannya ke arah pintu kaca, kemudian ia mengusapkan tangan bekas ciuman tadi ke kursi, Nino seolah baru menyentuh najis besar. Troi dan Ed tak berhenti tertawa. ************************* "Yahhhhhhhhhhhhh" koor serempak anak-anak di kelas membuat Ed tertawa, kenapa tidak Mr.Muddy, guru bahasa inggris mereka, memberikan tugas paling menyebalkan, yaitu melakukan tugas "one day for your heart" mereka disuruh melakukan tugas-tugas mulia sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap kemanusiaan. Seperti misalnya, membantu di panti jompo, menjadi guru untuk sekolah anak-anak jalanan, mengasuh di panti asuhan dan lain-lain. Anak-anak mengeluh karena mereka takkan mendapatkan pembayaran. Sky berkata kepada Mr.Muddy apa boleh bekerja di panti pijat, karena panti pijat juga termasuk panti. Anak-anak meneriaki Sky m***m yang diterimanya sebagai sebuah penghargaan dari penggemar yang setia. Mereka di bagi menjadi satu tim 2 orang, Sky mengambil tempat disebelah Nino tanpa disuruh, padahal Mr.Muddy menyuruhnya setim dengan Troi, tapi Sky berkata kalau Nino tak bisa hidup tanpanya dan mereka tak bisa dipisah, jadinya mereka bertiga satu tim, dan Sky berencana untuk melakukan tugas sosial di klinik bersalin. Ed dan Ed, begitu perintah Mr.Muddy dengan alasan yang pintar mesti dipasangkan dengan yang paling bodoh. Edgar menggerutu tak rela, karena ia tahu kalau bersama Edna, langit yang biru akan menjadi gelap, bunga yang harum akan langsung layu dan mati, balita akan terkena rabies massal dan para hamster akan berubah menjadi mutan, intinya adalah kesialan akan terus merundungnya jika Edna ada didekatnya. Tapi Mr.Muddy sudah menutup sidang, tak ada lagi keluhan, kalau Edgar mau, Mr.Muddy menyarankan pemuda itu untuk mengadu kepada presiden, Edgar berteriak frustasi.          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN