Edna Si Konyol

1673 Kata
Edgar baru saja keluar dari sebuah mini market, ketika ia mendengar keributan 15 meter disisi kanannya. Seseorang tengah dikerubuti pria-pria bertato. Ed mendengus, ia tak peduli, siapapun itu yang dikerubuti preman-preman disekitar daerah ini yang terkenal sadis, pasti sedang sial malam ini. Ed baru akan melangkahkan kakinya ketika didengarnya sebuah suara yang familiar di telinganya, suara Elle. "Lepasin gue anjing!!" itu memang suara Elle, tapi setahu Ed, gadis itu tak pernah berkata-kata kotor. Ed penasaran, pelan ia mendekati kerusuhan kecil itu, saat itulah ia melihat Edna sedang berusaha melepaskan tangannya dari pegangan seorang pria. "Edna?" Ed memanggilnya dengan nada tak percaya, suara Ed dan Elle mirip sekali dan ia baru menyadarinya. Kepala-kepala menoleh kepadanya, menyeringai dan mendesis-desis seperti ular bertemu tikus parit yang gemuk. "Lari Ed!" tiba-tiba saja tangannya ditarik, walaupun kebingungan, kakinya refleks berlari dengan kecepatan penuh, di belakang Ed dan Ed, gerombolan preman bertampang bajak laut itu berteriak dan memburu mereka dengan penuh nafsu. Walaupun Ed dan Ed terbiasa berkelahi, tapi mereka takkan mampu menghadapi gerombolan manusia bar-bar Mongolia yang kalau dihitung berjumlah 7 orang, lagipula ini daerah mereka, sekali melempar suar api ke udara, bala bantuan akan segera mereka terima. Ed dan Ed terus berlari tak tentu arah, Jakarta bukan jenis kota besar yang bisa dijadikan lokasi film action ala hollywood, karena infrastruktur yang tak mendukung. Berapa kali Edgar tersandung trotoar yang berlubang, kalau tak ditarik Edna, Edgar hampir masuk ke dalam lubang galian yang tak diberi tanda secuilpun, kalau tak diteriaki Edna, Edgar hampir mencium tiang listrik yang hitam karena karatan. Kalau tak di dorong Edna, Edgar pasti sudah menaiki ibu-ibu gendut yang sedang berjualan nasi goreng yang dikira Edgar bajaj. Ditambah penerangan tak cukup, lampu jalanan banyak tak berfungsi, walaupun ada satu yang menyala, itupun sinarnya redup akibat banyaknya makhluk malam bersayap yang bertelur disana, lalu ada seonggok makhluk malam berpayudara dan mempunyai p***s sedang bersender ditiang listrik sambil merokok kretek dan mencoba menggoda siapapun yang berjenis kelamin yang sama dengannya, ketika melihat Ed dan Ed berlari kearahnya, si banci mengira sedang ada razia, ia pun lari terbirit-b***t. Mereka terus berlari tak tentu arah, di belakang mereka, para pemburu sudah bertambah jumlahnya, kali ini Edna sempat melihat beberapa orang diantaranya mengacung-acungkan celurit dan kentungan pos ronda. Edna berbelok masuk ke sebuah gang sempit, berharap ada jalan memutar untuk bisa mengelabui orang-orang dibelakang mereka, tapi perkiraannya salah. "s**t, buntu" Edna tak sempat panik, tangannya di tarik Ed keras, Edna masuk ke sebuah jendela rumah yang tak terkunci lalu kakinya menyentuh lantai, jendela mereka dibelakang mereka menutup pelan. "Anjing kemana tu babi bedua" suara berat dan serak memaki dengan keras, diikuti suara-suara yang lain yang tak kalah marah, semua isi Ragunan bersama mereka sekarang. Ed dan Ed seperti di film zombie cina, mereka berusaha tak bernafas, karena bisa saja orang-orang itu melongokkan kepalanya dijendela yang berada tepat diatas kepala mereka. Edna hampir tertawa melihat muka Ed ungu karena menahan nafas, kini Edna yakin Edgar tak sepintar yang dikatakan orang-orang. Phuuuuth Ed kentut, Edna mendelik, mukanya merah menahan marah dan menahan nafas agar gas beracun Edgar tak dihirupnya. "Woi siapa yang kentut, anjing kayak gini lu malah kentut, anjing! woi ngaku woi! anjing! bau ubi rebus!!" Ed dan Ed bertatapan horor, belum sempat Edna mencekik Edgar, pintu didepan mereka berbunyi cklek cklek, sepertinya ada yang berusaha membuka kunci. Edna panik, mereka dikepung dari dua arah, Edgar kembali menariknya, masuk kedalam kolong tempat tidur. Tempat tidur itu single bed, kecil, muatan satu orang berbadan ramping, jika mereka berdua berbaring berdampingan, tubuh siapapun yang berada di luar akan kelihatan, mau tak mau Edgar di tindih Edna. Pintu terbuka, suara cekikikan seorang wanita terdengar. "Hihihihi....ih, nakal!!" "Kamu yang nakal cah ayu, ih ihiihi ih..." itu suara bapak-bapak, Edna menebak pasti supir angkot, atau supir truk, atau supir metro mini atau supir kopaja atau supir andong, pokoknya suara supir. Lalu kasur diatas mereka melesak, punggung Edna langsung ngilu, badannya menempel ketat ke badan Edgar. "Siapa sih yang ribut-ribut diluar, ganggu aja" suara gemerisik pakaian dibuka disusul bunyi risleting diturunkan, membuat suasana di kolong ranjang memanas, Ed dan Ed bukan bocah lugu, paling tidak keduanya tahu itu siapa Rocco Siffredi (Tarzan XXX man!). Dan si Rocco yang berprofesi sebagai supir ini, pasti sekarang tengah bergerilya di tubuh Jane yang dikira-kira saja berpantat besar seperti penyanyi dangdut di Pantura. "Ahhh..bapake...owh..lagi bapake!! "Tetekmu gede buanget nduk, kayak kelapa di kampung kita" Bapake? nduk? s**t, si Rocco tidur ama anaknya, jantung Ed dan Ed di gebuk John Dolmayan, drummer-nya System Of a Down. Permainan panas diatas mereka, membuat peluh mengalir membanjiri tubuh Ed dan Ed, kaus tipis Edna membuat Edgar meremang, ia bisa merasakan d**a mungil gadis itu menekan dadanya. Edgar merutuk, suara-suara penuh gairah, decakan mulut membuatnya mati-matian untuk tak membangunkan ular naga di celananya. "AhHHHhhhhhh...bapake, bapake...tongkol sampeyan lebih gede dari mas Tono, oghhh..owh.." "Ahhhhhh....tempikmu hangat nduk, banjeerr, harum, ndak sama kayak punya istriku, kecut, hehehehehehe..." "Kenapa aku musti kawin dengan anakmu, seharusnya..awh..aku jadi istrimu bapake" Owh double s**t! mertua nidurin mantunya ternyata, f**k! Ranjang itu begoyang seru, berderit-derit seperti dihantam gempa bumi berkekuatan 10 skala richter, hebat sekali. Ed dan Ed seperti dua lapis roti tanpa isian, polos, sepolos kelamin keduanya yang sudah bereaksi dengan seharusnya. Edna merasakan di bagian risleting jeans Edgar mengembung, sedangkan Edna merasa vaginanya basah, dan ia ingin pipis. Kali ini kepala ranjangpun bergetar hebat "akh bapake, sayah suka gaya anjing, lagi bapake, sampeyan huebaaat, ahhhhh..yah...bapake sayah ingin pejuh, pejuhnya bapake yang legit" "Nanti kau kuberi pejuh obat awet muda cah ayu, sekarang ayo goyangken pantatmu, yiha!!" plak! plak! plak! Ed dan Ed merasa sedang berada di arena pacu kuda, si Rocco tengah memacu mantunya yang bahenol ke garis finish, Edna merasa pantatnya lah sekarang yang merah. Tanpa sadar dua remaja di bawah kolong itu terbawa ke permainan diatas mereka, sekarang tangan Ed meremas-remas p****t Edna yang ternyata diluar perkiraan sangat padat, Edna menggigit bibir bawahnya, ia tak ingin erangannya terdengar dua makhluk b***t diatasnya yang sedang berpacu dalam birahi, ia membiarkan saja Edgar menggesek-gesekkan bagian bawah tubuh mereka. Dibawah sangatlah gelap, karena kamar juga dibiarkan tak bercahaya, Edna tak bisa melihat wajah Edgar, tapi insting menuntunnya, ia menemukan bibir Edgar dan langsung memagutnya. Kalau ada yang mengintip, dikamar itu hanya ada sepasang manusia berdosa yang sedang mengarungi lautan birahi, tapi Tuhan tahu ada satu pasangan ilegal lagi yang ikut-ikutan terlena menikmati indahnya peleburan libido antara laki-laki dan perempuan. Bibir Edgar dan Edna mencari-cari, memagut dengan liar, tak ada kesabaran yang ada hanya keserakahan. Lidah Edgar menghisap lidah Edna sebelum mendorongnya kedalam, lalu mereka berbagi rasa, Edgar merasa ada sedikit air liur yang mengalir keluar. I need a live woman to fill with my fluid A delicate girl, to mutilate, f**k and kill her body exceptional she thought I was normal but I wanted more lagunya berjudul I c*m Blood, Edgar pernah mendengarnya di playlist Sky, memang brutal, tapi di benak Edgar sekarang, lagu itu berputar-putar memekakkan setiap syarafnya yang terkena racun, Edna terasa nikmat sekali, lidahnya tak berhenti menyecap kelezatan gadis itu. Lalu, "Nyampe nduuuukkk, oghhhhhh...!!" "Barengan bapake, sayah jugahh..Ahhhhhhhh!!!" Di bawah sana Ed dan Ed berteriak kedalam mulut masing-masing, erangan mereka teredam, ada yang mengalir di paha Edna, ada segumpalan cairan pekat dirasa Edgar di dalam celananya. Mereka o*****e tanpa penetrasi. "Pak, ayo pak, buruan nanti mas Tono pulang" bunyi grasak grusuk terdengar lagi, sekarang tampaknya si Rocco b***t dan menantunya yang lebih b***t, sibuk membenahi diri dan bersiap-siap berkamuflase, agar si anak sekaligus si suami bodoh tak tahu dengan perselingkuhan mereka. Tak beberapa lama kemudian, terdengar bunyi pintu ditutup, lalu suasana hening. Edna yang pertama kali berinisiatif untuk keluar dari kolong, ia bernafas lega ketika sudah berhasil keluar dari lubang neraka, lalu tanpa melihat Edgar ia melesat keluar lewat jendela. *************************************** "Bukannya ada yang musti dibicarakan dengan gue berandal!" "Diam kuncir, lo pikir lo korban sekarang!" "Ya jelas gue korban, lo yang duluan nyosor, lo lupa! "Dimana-mana yang jadi korban itu perempuan!" "Lo cewek emangnya!" "f**k YOU kuncir aneh!" "Sekarang lo masalahin kuncir gue, ga bisa dipercaya!" "Ya, lo kayak manusia 80-an yang hobi disko seperti sekumpulan kera ekor panjang yang rebutan pisang!" "Disitulah yang namanya mode, cewe aneh! my hair style is bussiness in the front, party in the back, you must know it!" "You i***t!" "I'm genius, kemaren gue menang lomba bikin portal futuristik di kelurahan gue, ha!! gue orang jenius terakhir yang hidup di muka bumi!!" "APA!!! jenius! KISS MY ASS YOU DUMBSHIT!!! monyet yang makan dengan semua jari-jarinya jauh lebih pintar darimu kuncir t***l!" "Berhenti bilang gue t***l, dasar makhluk dungu!!" "Kau! kentutmu lebih parah dari bencana Chernobyl!" "Itu kentut manusia jenius, dungu! bunyinya saja elegan!" "Elegan pala bapakmu!! phuuut itu lo bilang elegan, seharusnya bunyi kentut itu seperti ledakan bom atom Hiroshima, meledak dan spektakuler, itu kentut manusia paripurna seperti gue!" "Purnadaya, dungu!" "Shut UP! purnawirawan, t***l! "Purnawaktu!" "Purnagama!" "Purnarasa!" "Purnawisata!" "Purna...purna..purnama merindu!" "Itu Cicih Varamidah, dasar dungu!!" Huahahahahahahahahahahaha......... Ed dan Ed tertawa terbahak-bahak dipinggir jalan, begitulah kalau cowo gila dan cewe bodoh bertemu, mereka seperti sepasang keledai yang meributkan kenapa mereka bisa jatuh ke lubang yang sama padahal mereka telah melewatinya berkali-kali. "Lo tinggal disini?" Edna menunjuk ke sebuah portal perumahan didepan mereka, Edgar terkejut, tak sadar sudah sampai di rumahnya. Ia menatap Edna yang tampak kikuk di tempatnya berdiri, rambut pendeknya berdiri kaku, agak kusut, bibirnya tampak bengkak, hasil lumatan Ed. SHIT "Lo tinggal dimana, gue antar pulang". Sesaat Edna menatap Edgar dengan pandangan aneh, matanya melembut dan dibawah sinar lampu jalan Edgar melihat yang lain dari wajah gadis itu, mungkin karena selama ini ia tak pernah melihat gadis itu utuh, sekarang ia tahu kalau Edna, Cantik. What? no! no way! itu pasti karena pengaruh cahaya yang redup. "Ga usah, sebaiknya lo pulang, cuci tongkol sampeyan bapake!!" Edna tertawa, lalu dengan gerakan cepat ia membungkuk dan mengambil kerikil, lalu dilemparkannya ke s**********n Edgar. "DUNGUUUUUU!!!" Edgar berteriak ke punggung Edna yang berlari menjauh, lalu menghilang dari pandangannya. Ed merasa ada yang lain dihatinya, ia tiba-tiba tak ingin Edna pergi, ia mau bertengkar lagi seperti tadi, tapi......ah sudahlah, malam ini ia ingin memimpikan Elle. ******************************************************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN