Edgar tak senang dan sedikit kesal ketika Edna pindah ke kelas mereka dan duduk persis di belakangnya, gadis itu bau dan tampangnya dungu, Ed berharap Elle-lah yang bakal ditemuinya sepanjang jam selama ia bersekolah. Yang sumringah pastilah Sky, ia dengan senang hati bertepuk tangan sendiri ketika Edna masuk ke dalam kelas, sedangkan anak-anak yang lain tak satupun yang bereaksi.
"Wow, satu lagi murid paling awesome selain gue yang masuk ke kelas ini, sorry dude, mereka hanya bunch of scumbags yang naif memandang dunia dan menganggap orang-orang seperti kita layak dieliminasi dari muka bumi, padahal mereka tak tahu, kalau tak ada orang seperti Hitler yang mempunyai kumis antik, dunia tidak akan pernah bertransformasi seperti saat ini, so... jangan lu masukin ke celana dalam, eh ke hati ya?"
Edna tertawa "i like you man".
"Me too, me too" Sky mengangguk meyakinkan.
Selama beberapa hari Edgar masih enggan menegur Edna, entah kenapa, padahal ia biasanya tak membeda-bedakan orang, ia tak rela Elle yang seperti malaikat punya saudara kembar t***l seperti edna.
"Hi Ed?"
Edgar menoleh dan langsung tersenyum melihat Elle berdiri di sampingnya, ia langsung gugup.
"Hi" yah, Ed totally nervous, lihat saja rambut belakangnya mencuat kegirangan.
"Mmmm..katanya kamu mau ikut kontes robot di ITB ya?"
"Heeh, bareng Bima dan Ary, kita satu tim?" Ed tersenyum seperti i***t, menarik bibirnya jauh-jauh sampai ke ujung pipi.
"Hebat, kamu suka sesuatu yang berbau teknologi deh kayaknya"
"Ngga juga, aku malah suka militer, ngeliat tank-tank besar, jet-jet tempur, senjata-senjata, wow, it's incredible you know, semuanya loreng dan tangguh, kinda rough but.." Ed tak melanjutkan kata-katanya karena kini Elle tampak kebingungan.
"Oh, maaf, aku kebablasan yah?" Ed tersenyum kikuk, dalam hati ia merutuk kebodohannya yang seorang maniak militer, yang bukan merupakan sebuah taktik jitu jika kau hendak merebut hati seorang gadis.
"No, that's okay, kamu tadi semangat sekali, aku aja yang ngga ngerti militer" situasi menjadi awkward, disekitar mereka berisik sekali, khas jam istirahat. Di lapangan Sky dan Troi menguasai setiap sudutnya, mereka bermain basket dengan beberapa anak. Tadi Ed sebenarnya ingin ikut, tapi ketika Elle menyapanya, Ed tiba-tiba punya hal yang lebih penting daripada ikut abang-abangnya bermain basket.
"Oke deh, aku doain kamu bisa menang kontes, semangat yah!"
"Sip, thanks" Ed serasa berada di langit ke dua belas, ketika Elle memberikan senyuman terindahnya, lalu gadis itu berbalik, rambut panjang lurusnya berayun-ayun, Ed merasa melihat malaikat tengah menuju khayangan, ia menatap punggung gadis itu sampai Elle berbelok menuju kantin sekolah.
"Oi" Ed tekejut, seseorang berdiri di depannya.
"APA!" melihat Edna, khayalan Ed langsung buyar, keningnya menyeringit melihat gadis bodoh yang berotak cumi-cumi.
"Lu ngalangin jalan gue kuncir!"
"Emang ni jalan punya bapak lo?"
"Iye, lu liat ke bawah, ada cap nama gue tuh"
Ed menunduk, lalu meringis, ia barusan kena jebakan betmen.
"Katanya lu pintar? pintar apaan?"
Gadis itu berdecak dan berlalu, meninggalkan bau menyengat di hidung Ed.
****************************************************************
Wednesday / 11 am / March 2001
Jakarta sialan, siang-siang udah hujan, mana ga da ojek lagi, ha...jadi susah nih, aduh keburu ga ya? mudah-mudahan masih sempat, kalau ga mereka bisa gagal ikutan kontes.
Tuhan, aku mohon.
***************************************************************
"Wah ketolongan banget, lu sih Ed pakai acara ninggalin segala, ini kan komponen paling penting buat fire robot kita" Ary menegur Ed sembari memasukkan sebuah bungkusan ke dalam ranselnya.
"Iye maaf" Ed nyengir memohon maaf, ia hampir mengacaukan segalanya dengan sifatnya yang pelupa.
"Emang ketinggalan dimana?"
"Di kelas, gue buru-buru tadi, takut ketinggalan bus, emang siapa yang nganterin kemari, Bim?
"Elle, tadi pas gue baru nyampe di depan ada yang teriak-teriak manggilin gue, eh ternyata Elle" Bima mengelap kacamatanya yang berembun.
"Elle? bener? Edna kali" Ary menimpali informasi yang diberikan cowok gendut itu.
"Iyalah, ga mungkin Edna kan? mana ada ceritanya coba, cewe yang otaknya kacau gitu mau berbaik hati nolongin orang lain, lagian sekolahan kita ama terminal kan jauh, yah walaupun tadi ga jelas juga gue ngeliatnya, kacamata gue kabur, hujan deras dan tu cewek nutupin palanya pakai helm, trus habis ngasihin bungkusan ia langsung kabur aja, tapi gue yakin kok itu Elle, Edna kan ga pernah senyum, ia paling hobi ngakak, remember?"
Ary mengangguk setuju, Edgar merasa hatinya menghangat mendengar perjuangan Elle.
**************************************************************
"Adu Elle, darimana sih, kok ujan-ujan gini" Hanum langsung menyerbunya ketika ia masuk kedalam kelas dengan seragam yang basah.
"Ga ada, lagi kepengen mandi ujan aja" ia mencoba tersenyum, lalu ia mulai bersin dan batuk.
"Tuh kan, lihat deh, kamu kan paling ga tahan hujan sweety, ntar kalau sakit lagi gimana dong" perhatian Hanum layak di berikan piala Kalpataru.
"Iya, iya...." Elle tersenyum, ia sayang sekali dengan sahabatnya yang satu ini, walaupun cerewet tapi perhatiannya melebihi mamanya sendiri.
"Kalu dia tuh ga apa-apa sakit, kalau bisa selamanya deh!" nada suara Hanum berubah sinis, dari pintu, Elle melihat Edna sedang mengibas-ngibaskan rok-nya dari air hujan, Edna kuyup dari kepala sampai kaki. Ketika mata mereka bertemu, adiknya itu langsung membuang muka dan pergi.
"Bener itu adik lo?" Hanum semakin sinis melihat Ed yang tak pernah menegur kakaknya di sekolah.
"Ga tahu" Elle selalu menjawab dengan jawaban yang sama jika ditanya soal Ed, ia memang tak tahu dan tak mau tahu jika itu menyangkut Edna.
Ponselnya berdering, sebuah pesan masuk ke inbox-nya.
From: Edgar
Thanks ya Elle, udah mau nganterin komponen robot kita ke terminal, i owe you so much.
Elle mengerutkan keningnya.
"Terminal?"
*************************************************
Hubungan Edgar dan Elle semakin serius dan mendalam, yang belum hanya peresmiannya saja. Menurut orang-orang disekeliling mereka, Ed dan Elle adalah pasangan serasi. Ed yang tampan dan jenius sangat tepat mendampingi Elle yang cantik dan pintar. Sekarang kalau mencari mereka, tidaklah susah, dimana ada Edgar disitu ada Elle, begitu juga sebaliknya.
Hari ini minggu, Adam tak bertugas, jadi ia mengajak putra-putra pergi memancing, ia ingin punya quality time dengan si kembar.
"Wah..wah..sekarang tinggal ngamar doang nih, Ed" Sky menyenggol lengan Ed yang duduk disampingnya, joran kail Ed hampir terjatuh ke empang.
"Ed sudah punya pacar?" Adam menimpali dan tersenyum ke putranya yang nomor tiga.
"Udah dong yah, cantik, babes lah pokoknya" ayahnya tertawa sedangkan Ed yang ditanya hanya tersenyum malu-malu.
"Ayah ga masalah kok, lagian sebentar lagi kan mau 18 tahun"
"Can't agree no more dad, but you're still the top alpha male to me" Sky mengacungkan jempolnya ke arah Adam.
"Dan itu adalah?"
"You bisa bikin anak disaat dirimu masih anak-anak, kurang hebat apa coba" Sky manggut-manggut meyakinkan pria disebelahnya.
Hahahahahahaha......Adam ngakak mendengar ledekan Sky yang jujur.
"Kamu udah ada rencana mau kuliah dimana, Edgar?" setelah puas tertawa, Adam menanyai Ed yang tampak fokus ke pancingannya.
Ed berpikir serius, Ed sadar kalau penglihatannya cukup parah "apa ayah yakin, kalau Akmil ga nerima yang berkacamata?"
Ada mendesah, ia tahu jawabannya akan mengecewakan ED "maaf Ed, peraturan memang tak membolehkan yang berkaca mata menjadi prajurit lewat rekrutan biasa, tapi nanti selesai kuliah kau bisa ikut rekrutmen perwira PK, dengan syarat kau berlatar belakang medis"
"Maksud ayah dokter?"
Adam mengangguk.
Ed terdiam, ia memang pintar, nilai-nilainya memuaskan, tapi ia sama sekali tak ada minat menjadi dokter, ia paling takut dengan orang-orang yang berpakaian putih dan memakai masker, ia merasa seperti Frankeinstein yang sedang dibedah.
"Kalau gue jadi doker, Nino akan jadi susternya...Nino yang berpakaian putih dengan risleting didepan dan stoking jala-jala, wow..." air liur Sky terbit, ia menatap ke sebuah pohon dipinggir empang dengan penuh damba.
Di bawah pohon itu Nino duduk dengan kaki bersilang di atas sebuah kursi plastik berwarna hitam. Tubuh pucatnya dibalut baju lengan panjang dan celana panjang berwarna hitam. Payung yang terbuka di tangan kanannya berwarna hitam. Rambut hitamnya tergerai melewati d**a, matanya ditutup kacamata besar berwarna hitam, di tangan kirinya ada music player ber-casing hitam dengam earplug hitam, kakinya telanjang, matahari bersinar terik.
Nino seperti malaikat maut yang sedang mendengarkan Sepultura, sembari menanti seseorang memohon untuk dicabut nyawanya.
Ed masih terdiam dengan pikirannya tentang masa depannya kelak, Troi disebelahnya mengumpat.
"f**k! gara-gara muka c***l lo Sky, ikan-ikan ketakutan bakal lo perkosa, lihat nih ga satupun yang muncul!"
Sky tertawa.
***************************************************