Bab 5
Saat sedang sibuk merapikan jilbab, terdengar suara mama Mas Rio mengetuk pintu. Dengan cepat aku ke cermin membersihkan wajah dan memoles bedak, agar tak terlalu menampakkan air mata. Sementara putranya membuka pintu.
Ada juga kebenaran di balik kata Mas Rio. Kalau membicarakan kebohongan rumah tangga sekarang, apalagi dalam keadaan emosi begini. Malah kesannya mempermalukan keluarganya di tengah orang banyak, termasuk diri ini. Harus cari momen tepat.
“Kamu coba ini sekarang. Mama mau lihat,” titah wanita paruh baya itu, sambil sibuk membuka bungkusan yang keperkirakan berisi pakaian. Beliau memang seperti itu, semua menantu dianggapnya darah daging sendiri.
“Sekarang, Ma?” jawabku melirik Mas Rio yang bersandar di kepala tempat tidur dengan wajah menghadap gawainya. Siapa lagi yang diajak chatingan kalau bukan Marta?
“Iya, sekaranglah. Memang tahun depan? Cepat, cepat!” ucap mama berdiri ingin membantu.
“Biar Bulan sendiri, Ma,” kataku meraih baju di tangan wanita yang masih terlihat cantik itu, lalu menuju kamar mandi. Dan kulihat punggung mama keluar lagi dari kamar sebelum menutup pintu.
“Wah, pas bangat! Baju itu punyamu sekarang.” Lagi, mama muncul membawa kotak, “Aku heran sama kalian, emang di rumah, ganti baju seperti itu? Kayak orang belum halal saja. Buka jilbabnya sekarang! Mama mau lihat lagi kamu pake ini,” kata mama saat aku keluar kamar mandi. Tangannya membuka kotak perhiasan.
“Rio pasangin istrimu sekarang!” Lelaki berbadan atletis itu salah tingkah mendengar perintah mamanya.
“Bulan bisa sendiri kok.”
“Ah, kelamaan. Cepetan Rio!”
“Oh, i-iyya, Ma.” Tangan ini terpaksa melepas jilbab saat Mas Rio memasang kalung yang kuperkirakan sepuluh gram itu.
“Wah, cantik sekali. Jangan dilepas yah! Ini perhiasan mama yang diberikan nenekmu dulu, aku harap hubungan kalian seperti kami.”
Tatap mama memancar kebahagian, senyumnya pun tak henti merekah memandangku dari bawah ke atas. Ah, mama. Sikapmu yang seperti ini, kian menambah perih di hati.
“Sebaiknya kalung ini jangan buat Bulan, Ma. Buat kakak-kakak saja,” tolakku tulus, hubungan pernikahan ini jauh harapannya. Aku tak bisa bayangkan andai beliau tahu kebobrokan anak dan menantunya ini.
“Mereka udah punya semua. Tak suka?” Mata mama menyipit.
“Su-suka, Ma. Hanya ... Pernikahan ini ...” jawabku gugup, tak tega rasanya terus mendustainya.
“Ah, sudahlah. Mama banyak tamu. Nanti malam kamu pake busana itu, Ya?” ujarnya berlalu setelah mengacak kepalaku. Serasa tubuh tak bertenaga mengingat kebohongan kami dan perlakuan mama yang tak jauh beda dengan ibu yang melahirkanku. Ya, Tuhan .. apa yang telah kulakukan?
“Mau bilang apa tadi sama mama? Mau ngadu ya? Ck, ck! Ternyata namamu nggak selembut sifatmu. Tega kamu menghancurkan kebahagian mereka?” Lagi, pria egois itu mengintimidasi setelah dia mengunci pintu.
“Jangan kira aku hanya menggertak. Sebelum pulang dari sini, aku kan ceritain ke mereka. Puas?” jawabku sengit sambil memasang jilbab. Kenapa dia selalu mengundang pertengkaran, sih?
“Aku tak akan biarkan itu,” ujarnya mendekat lalu merampas jilbabku yang belum terpasang sempurna. Sontak aku kaget dan ngeri dibuatnya.
“Mau apa kamu! Jangan macam-macam,” ucapku mundur mentok di dinding saat menyadari tingkah Mas Rio. Apa karena tidak ada Marta di sini, aku yang jadi pelariannya?
“Kamu juga istriku, kan? Kurasa aku nggak lagi macam-macam. Aku juga punya hak ke kamu.” Kedua tangan pria egois itu kini berada di ke dua sisiku. Tatapnya nyalang bak ingin menerkam.
“Tapi ....”
Belum sempat kalimatku sampai, yang kukhawatirkan itu terjadi. Wajah pria yang suka mengintimidasi itu memangkas jarak.
Saat ingin berontak, rasa malu akan keramaian rumah hanya membuatku terpaku.
“Kalau kamu berani ngadu. Aku akan berbuat lebih,” bisiknya mengancam di telinga saat dia menyelesaikan aksinya. Setetes demi setetes air mata berjatuhan, mewakili kelemahan yang hakiki.
***
Setelah selesai isya, puncak acara tiba. Para tamu dan kerabat telah berkumpul. Aku memakai pakaian yang diberikan mama tadi siang.
Menurut penjelasan kakak ipar. Mama dan papa rutin melakukan acara syukuran begini. Dua kali setahun. Katanya bentuk kebahagian bisa berbagi dan bersilaturahmi.
“Bulan? Kirain nggak datang?” tanya Reta, teman di masa bangku kuliah dulu. Dia memang tinggal daerah sini.
“Ayo semua duduk dulu. Sambil makan, kita lanjutkan ceritanya,” kataku mempersilahkan mereka. Ada lima orang. Tiga pria dan dua wanita. Kami semua teman kampus dulu tapi berbeda jurusan.
Kehadiran mereka sangat membuatku tak kesepian malam ini. Aku yang termasuk menantu baru dan sedikit introvert belum bisa langsung akrab dengan keluarga. Hingga bercerita lepas sampai acara selesai dan mereka pun pamit.
Tak sekalipun melihat Mas Rio. Mungkin dia cari pojokan sambil telpon-telponan sama istri pujaanya. Lebay memang.
“Kenapa nggak ikut mereka sekalian pulang?” Suara Mas Rio menggema saat baru saja kubuka pintu kamar.
Ngapain manusia super egois bertanya begitu? Betul-betul hobinya bertengkar dengan istri yang tak dianggapnya.
“Sudahlah, aku capek bertengkar! Besok juga pasti pulang. Siniin kunci motorku,” kataku duduk di sofa, letih membuatku malas berganti pakaian.
“Siapa pria yang selalu senyum lihat kamu tadi itu?”
“Semuanya senyum, kok. Kenapa? Cemburu?” ujarku meluruskan punggung. Tubuh dan hati betul-betul butuh istirahat. Aku tak ingin meladeni manusia yang sedang galau. Baru sehari saja tidak bersama wanita terkasihnya, kini tampak uring-uringan. Betul-betul membuang energi saja menghadapinya.
***
“Aku mau ke rumah ibu. Kunci motor?” Tangan menengadah saat sampai di persimpangan jalan kemarin waktu dia memaksaku naik di mobilnya. Kami sengaja pulang pagi untuk menghindari panasnya cuaca.
“Motormu dah nyampe di rumah sekarang. Sudah nggak ada, kan?” Mas Rio memelankan mobil saat melewati rumah yang dititipin motorku kemarin. Dan melaju setelah membunyikan klakson untuk si pemilik rumah.
“Ngapain sih, kamu bertindak semau saja. Mas. Padahal aku sudah beritahu ke ibu.” Suaraku pasti terdengar parau, karena memang sekarang aku sedang menahan sesak.
“Makanya ... kalau mau berbuat sesuatu, rundingin dulu sama suami,” ucapnya sok menasehati tanpa ekspresi bersalah sama sekali.
Ya ... Allah, mengapa Engkau mempertemukan aku dengan makhluk seperti ini? Bisa benaran gila aku dibuatnya kalau begini terus.
“Turunin aku di sini!” sentakku tiba-tiba geram. Ini efek terlalu menahan amarah berkepanjangan.
“Aku yang ngatur di sini. Bukan kamu,” ucapnya santai sambil fokus menyetir. Sepertinya dia tidak takut sama sekali dengan ancamanku.
“Percuma kamu berusaha. Pintunya sudah aku kunci otomatis,” ucapnya lagi masih santai saat tangan berusaha membuka pintu mobil.
“Aku doain kamu menderita selamannya. Dasar suami zolim!” Aku melangkahi kursi menuju tengah sambil bersungut. Jengkel, marah, benci, dan kelemahan berbaur jadi satu saat mengucap kalimat itu. Rasa yang membuncah ini betul-betul kuikhlaskan saat mendoakannya.
Ah, begitu sulit menjaga akhlak dan hati ketika nafsu amarah menguasai. Sungguh diri ini termasuk orang-orang yang merugi. Astagfirullah.
Entah berapa lama berlalu, terdengar keributan kecil mengembalikan kesadaran. Rupanya sudah sampai di rumah.
Kenapa dua sejoli itu bertengkar? Apa tidak malu dilihat orang? Kan harusnya dalam rumah menyelesaikan masalah. Bukan di halaman begini? Ah, sudahlah ... bukan urusanku.
Setelah menurunkan kue-kue dan makanan yang dibungkusin sama mama tadi serta memasukkan di kulkas. Kaki pun menuju peraduan. Banyak yang harus kupikirkan terutama tentang kepindahan.
Terdengar suara pecahan di lantai bersamaan dengan semakin sengitnya pertengkaran di luar. Mungkinkah aku yang menjadi sumber permasalahan Romeo dan Juliet di luar? Ah, biarkan saja. Yang penting tidak merugikan diriku.
“Bulan!” Terdengar teriakan Mas Rio bersamaan dengan ketukan pintu di kamarku. Nadanya kali ini tak meninggi seperti biasa. Malah seperti ringisan. Dan suara gaduh pun seakan telah lenyap.
Buka, tidak, buka, tidak. Buka aja lah. Toh, andai mereka menyerangku dengan kata-kata seperti kemarin. Kan, tinggal angkat kaki saja. Barang-barangku telah siap tuk diangkut.
“Allahu Akbar ... darah? Kenapa bisa sampai segini Ya Rabi.”