Bab 6 Lelaki egois itu duduk meyandar di kursi, tangannya memegang pelipis yang mengucurkan darah. Cepat aku berlari mengambil kotak di penyimpanan. Tak kuhiraukan lagi pecahan kaca yang berserakan di lantai. Entah benda apa yang jadi korban amuk sasaran dua sejoli bertengkar hebat tadi. Aku tak menyangka rumah tangga mereka sebar-bar itu. Jadi ngeri memikirkan ikatan yang seharusnya suci. Ah, sudahlah, bukan urusanku! Mau saling banting, gulat, atau saling cekik, itu pilihan mereka. Seharusnya, aku tinggal nonton saja sambil makan kacang ditemani secangkir s**u hangat. Namun, sayang, jiwaku yang penuh kasih ini, tak tega menyaksikan semuanya. Beginilah nasibku. Tak suka, tapi tak mampu menyakiti. Menolak tapi tak mampu mengelak. Betul-betul kelemahan yang hakiki. “Cowok kok cengeng.”

