Kenapa Marah Ma?
Sara yang hendak pergi dan sedang menunggu mobil jemputannya memanggil Gia. Putrinya itu datang menghampiri sambil menggendong bayi yang menangis karena tadi pagi baru saja di imunisasi.
“Iya Ma, kenapa Ma?” tanya Gia tampak lesu.
“Masih belum berhenti juga nangisnya anak kamu itu”ucap Sara Ketus.
“Belum Ma, Gia juga bingung kenapa nangisnya juga gak berhenti apa perlu Gia bawa ke dokter Ma?” tanya Gia “Gak perlu entar juga berhenti sendiri, biasa itu kalau habis di imunisasi emang rewel, kasih aja ASI itu cukup, oh iya tapi Kamu gak bisa kasih ASI ya mama Lupa, ya udah deh bilang Papa Mama mau pergi arisan ya” ucap Sara sinis langsung menghampiri mobil yang datang menjemputnya.
“Mama arisannya dimana?”tanya Gia.
“Udah kamu gak perlu tahu, Oh iya nanti Mama Pulang cucian harus udah kering, dan Kamu harus masak buat makan malam” ucap Sara sarkas pada putrinya itu.
Setelah Sang Mama pergi, Dia Gia langsung mengerjakan apa yang diperintahkan tadi dengan tetap menggendong anaknya itu menggunakan gendongan kain. Kondisinya yang masih lemah karena kurang tidur membuatnya mengerjakan semua pekerjaan itu memakan waktu lumayan lama. Dia bersyukur anaknya bisa tenang dan tertidur pulas dan melanjutkan pekerjaannya. Ia memasak sekaligus mencuci pakaian yang setumpuk, setelah rampung barulah Ia beristirahat di kamarnya. Ia duduk di samping anaknya yang tampak begitu tenang saat tertidur. Memandangi bayinya yang mungil membuat Gia tersenyum namun air mata keluar begitu saja tanpa permisi dan hingga terisak,hingga terlintaslah kejadian masa lalu saat dirinya masih kecil dimana Sang Mama begitu marah padanya.
Flasback On
“Apa anak Saya rangking 7 kok bisa Bu, padahal ibu bilang di awal semester kalau anak saya itu pintar, terus kenapa hasilnya anak Saya ranking 7 bu” ucap Sara geram. “Mohon tenang dulu Mama, ini baru semester satu,dan masih bisa ditingkatkan lagi. Tapi Saya sarankan untuk Anak seperti Gia sebaiknya jangan terlalu dipaksakan untuk mendapatkan rangking dulu sebab anak seusianya belum terlalu mampu untuk menerima pelajaran lebih dari ini Mama” terang wanita berhijab mocca pada Sara tenang.
“Saya Mamanya dan Saya yang lebih tahu dibandingkan Anda tentang Anak Saya paham” ucap Sara keras.
“Iya tentu saja Mama, Saya hanya menyarankan Mama karena di usia Gia yang belum masuk enam tahun belum waktunya Ia menerima pelajaran lebih dari ini. Kita harus bersyukur Gia bisa mengikuti pelajaran dengan baik jadi sebaiknya jangan bebani dia dengan harus mendapat rangking apalagi juara satu” ucap walikelas sang Anak pada Sara lagi dengan tenang.
“Ah dibayar berapa sih Anda untuk membuat anak yang lain juara satu hah?” tanya Sara melecehkan.
“Hei Bu, jangan sembarangan nuduh gitu dengerin aja gurunya” ujar salah satu orang tua yang tidak sabar menunggu giliran.
“Ah, udahlah menyesal Saya memasukkan Anak Saya ke sekolah ini Gurunya tidak bermutu” ujar Sara penuh amarah dan kemudian pergi meninggalkan ruangan kelas.
Saat di rumah Sara langsung menatap dengan penuh rasa amarah pada Gia. Padahal putrinya itu menyambut sambil tersenyum lebar dan menanyakan tentang rapornya itu, namun Sara hanya diam dan langsung pergi masuk ke dalam kamarnya. Gia yang sedari tadi ingin tahu tentang rapornya merasa sedikit kecewa karena Sang Mama tidak menghiraukannya. Kemudian Ia keluar lagi sambil melempar rapor putrinya itu ke lantai.
“Nih Kamu lihat aja sendiri sana” ujar Sara penuh emosi kemudian masuk kamarnya lagi dan menutup pintu kasar.
“Ma, maafin Gia ya Ma,jangan Marah buka pintunya dong Ma” bujuk Anak perempuan lirih pada Mama nya.
Flashback Off.
“Ma, maafin Gia Ma”ucap Gia dalam tidurnya lirih bahkan hingga menangis. Sang Suami yang baru saja pulang langsung membangunkan Sang Istri.
“Mas kok udah pulang?” tanya Gia pada Suaminya, Ahmad.
“Iya Mas gak ada siaran malam hari ini. kok tadi Kamu nangis dalam tidur kenapa hmm?” tanya Ahmad lembut pada Istrinya itu.
“Enggak Mas, tadi Gia Cuma mimpi aja” ucap Gia menundukkan kepalanya. Ahmad hanya tersenyum sebab Ia tahu jika istrinya sudah bertingkah seperti ini pasti terjadi sesuatu.
“Kenapa, Mama lagi ya”tebak Ahmad, dan kemudian Gia mengangguk pelan. “Boleh Mas dengar masalahnya apa?” tanya Ahmad lembut sambil menyingkirkan anak rambut sang istri, Gia diam. “Ya udah sekarang biar nyucinya Mas yang lanjutin ya Kamu mendingan sekarang mandiin yumi aja kasihan kayaknya dia gerah banget tuh” ujar Ahmad.
“Yumi nya mana Mas”ucap Gia kaget saat melihat putrinya tidak di tempat tidur.
“Kayaknya Kamu capek banget sampai anak kita nangis gak kedengaran jadi ya Mas gendong keluar dan kebetulan Adit juga baru pulang dan pengen coba gendong keponakannya jadi sekarang ya Dia lagi gendong Yumi di teras” terang Ahmad
Berkat bantuan dari sang Suami pekerjaan jadi cepat selesai. Gia juga baru selesai memandikan Yumi,tiba-tiba Sang Mama menerobos masuk begitu saja ke kamarnya.
“Kamu belum masak” tanya Sara sambil bertolak pinggang. Belum sempat Gia menjawab Adit sudah berada di depan kamar kakaknya itu.
“Adit udah pesan online Ma makanan kesukaan Mama bentar lagi datang kok dan kalau Mama gak mau makan tadi Kak Ahmad juga udah masak ayam crispy pedas manis sama cah kangkung mama tinggal pilih aja mau yang mana” sela Adit. Kemudian Sara segera keluar kamar sambil menatap kesal pada Adit. Sementara Adit mengacungkan jempolnya pada Gia dan kakaknya itu hanya tersenyum.
Saat makan malam Sara berkomentar pada menantunya yang sedang sibuk menyuapi Gia.
“Gia itu udah gede jadi gak perlu kamu suapin” komen Sara julid.
“Gak apa-apa Ma, Gia sibuk lagi kasih s**u buat Yumi jadi daripada dia kelaparan ya mendingan Ahmad suapin aja Dia itung-itung bikin seneng istri” jawab Ahmad tenang.
“Istri kamu itu gak kasih ASI buat anaknya jadi ya seharusnya Dia bisa aturlah kapan waktu kasih s**u, kapan makan,kapan kerja gitu gak kayak ibu yang ngasih ASI yang memang anaknya gak bisa lepas dari gendongan” ucap Sara menyindir Gia.
“Kamu itu bisa gak untuk tidak terus menerus menyindir Gia mendingan sekarang habiskan makanan Kamu terus tidur” seru Maulana.
“Mama bukannya nyindir Pa, Cuma mengucapkan faktanya dan ngasih tahu kalau udah jadi orang tua itu jangan manja dan harus bisa menjadi sosok ibu yang tangguh juga kuat” ujar Sara tak mau kalah.
“Gia udah lebih dari Kuat dan tangguh Ma”bela Ahmad.
“Ah kalian semua sama aja selalu bela Gia dikit-dikit Gia kapan mau sekali aja gitu setuju sama pendapat Mama” protes Sara.