Gia yang ternyata sedang mendengarkan pembicaraan mama dengan mama mertuanya itu merasa sedih karena sang mama sama sekali tidak membelanya atau cukup memberikan sedikit perhatian padanya. Tapi beliau malah pergi begitu saja dengan mengambil kartu debit itu. “Kamu sudah bisa keluar Nak,” pinta Mama puji pada menantunya yang memang sudah dari tadi bersembunyi. “Kamu lihat sendiri kan nak, ibu kamu dia lebih tertarik dalam meminta tambahan mahar daripada menanyakan kabar anaknya sendiri, jadi untuk apa kamu masih berharap mama kamu akan menyayangi kamu nak,” ujar mama Puji sambil memeluk Gia yang sudah menangis. “Tapi ma, tetap saja beliau adalah ibu yang melahirkan Gia ma, mana mungkin Gia berani bersikap tidak baik pada beliau apalagi mendoakan yang tidak baik pada beliau Gia takut m

