KEHADIRAN YANG LAIN

1261 Kata
Hari demi hari berlalu. Riko masih tak kunjung datang untuk Aluna. Yang ada hanya Aldo di sampignnya. Bukan Aldo tidak menyenangkan namun hatinya untuk Riko. Meski pun Aldo dapat membuatnya bahagia dan tertawa dengan canda gurau dan tingkah-tingkah konyolnya yang selalu mengundang tawanya, Aluna tetap tak henti memikirkan Riko. Terlebih rasa rindu yang begitu hebat dan tak tertahan lagi padanya. Hari ini, Riko telah kembali pulang ke rumah dengan keadaan yang jauh lebih baik dari sebelum ia dimasukkan ke rumah sakit oleh Aldo. Namun dirinya masih belum mau menampakkan diri di hadapan Aluna. Tubuhnya kini sedikit lebih kurus. Berat badannya turun seiring dengan kondisinya yang menurun sejak mereka berlibur di villa itu. Usulan Aldo pada Riko agar segera memberitahukan yang sebenarnya pun, masih saja ditolak Riko. Hari dimana Riko pulang dari rumah sakit juga merupakan hari kepulangan Meyra dari Jepang. Wanita yang lebih dewasa dari Aluna itu tiba di rumah Riko pada malam hari, setelah ia menghabiskan waktunya bersama kedua orang tuanya lebih dulu. Meyra tiba dengan disambut ibu Riko. Ibu dua anak itu bingung dengan kedatangna Meyra yang tiba-tiba saat kondisi Riko tak mungkin untuk menerima tamu. Ibu Riko menerima Meyra di ruang tamu, saat itu Aldo tengah bersama Aluna entah dimana. Riko masih di kamarnya sedang beristirahat. Meyra juga tak pernah mengetahui tentang Riko yang sudah lama sakit, dengan terpaksa ibu Riko menceritakan semua tentang keadaan putra sulungnya itu, namun tidak dengan memberitahukan tentang Aluna yang sebenarnya diketahuinya juga. Meyra terkejut, air matanya jatuh tak tertahan. Ia pun memutuskan untuk menemui Riko di kamarnya. Meyra masuk ke kamar Riko yang tengah terbuka pintunya. Di sana Riko terlihat sedang duduk di atas kursi roda menghadap ke balkon memandang langit malam yang sepi tanpa bintang. Meyra menghampiri Riko yang tak sadar akan kedatangannya, ia merangkul pria yang sudah menjadi kekasihnya selama lima tahun itu dari belakang. Riko pun kaget akan kedatangannya yang tiba-tiba. Ia membalikkan kursi rodanya setelah Meyra melepaskan rangkulannya lagi. Meyra jatuh di hadapan Riko. Dengan posisi yang membungkuk, Meyra memeluk Riko lagi. Kali ini tangisnya pecah. Ia tak kuat menahan kesedihan akan keadaan Riko yang kini ada di hadapannya. Terbayang saat Riko mengantarnya ke bandara tiga tahun lalu, Riko masih terlihat segar bugar, meski pun penyakit itu telah bersamanya selama 21 tahun lamanya. Riko tersenyum menyambut kedatangan Meyra juga merangkulnya yang masih menangis. Diusap-usap pundaknya untuk menghentikan air mata gadis dewasa yang sudah meninggalkannya Selama tiga tahun itu. Riko pun mengusap airmata Meyra penuh kelembutan, “kamu kapan dateng?” Tanya Riko dengan suaranya yang masih lemas. “tadi siang, dan aku baru sempet ke sini sekarang” “jangan nangis, aku gak apa-apa” “kenapa kamu gak pernah bilang?” “buat apa? Buat bikin kamu kasian sama aku?” “aku sayang sama kamu, liat kamu kaya gini sekarang…” “kamu akan liat aku berdiri lagi dengan tegak. Besok” “Ko… aku mau terima kamu apa adanya. Aku siap Ko” Mendengar pernyataan Meyra, hatinya bergetar. Rasa sayangnya tak pernah sempurna. Bahkan Riko sempat berpikir kalau Meyra tak akan kembali lagi untuknya. Selama keberadaannya di Jepang, Riko bersenang-senang dengan Aluna. Hatinya lebih sempurna untuk gadis kecil yang sudah ia kenal hampir empat tahun lamanya itu. “ada yang kamu harus tahu lagi, Ra” “apa?” Bukan maksud hati Riko ingin mengecewakan gadis yang masih pulang untuknya itu. Namun Riko harus jujur padanya tentang Aluna. Tentang hubungannya dengan Aluna. Dalam kondisinya yang sudah sangat lemah, Riko hanya memiliki harapan kecil untuk tetap bertahan hidup. Seandainya ia tak pernah mendapakan jantung yang bisa dicangkokkan padanya, mungkin hidupnya sudah tak akan lama lagi. Ia tak mau menyimpan rahasia hatinya lebih lama lagi. Ia tak mau meninggal dengan penuh rasa bersalah karena seolah-olah ia telah menghianati cinta Meyra. “abang… Aluna seneng hari ini bang… tadinya dia suntuk gara-gara kangen Bang Riko katanya, tapi…” seketika menghentikan ucapannya. Belum sempat Riko mengutarakan maksud hatinya untuk menceritakan tentang Aluna pada Meyra. Namun Tiba-tiba Aldo datang, dengan gaya pecicilannya saat ia masih berjalan menuju kamar Riko, ia menyampaikan bahwa hari ini ia telah bersenang-senang dengan Aluna. Ia senang karena berhasil membuat Aluna tersenyum, ketika sebelumnya Aluna cemberut karena merindukan Riko. tak sadar bahwa di sana ada Meyra yang tengah bersama Riko. Aldo pun seketika terdiam ketika sudah berada di dalam kamar Riko dan melihat Meyra yang sudah duduk di atas tempat tidur Riko. Meyra pun terkejut mendengarkan apa yang baru saja dikatan Aldo. Ia bangkit dari duduknya kepalanya mengarah bergantian, pada Riko juga Aldo. “Mey.. Meyra… sejak kapan di sini?” “Aluna siapa?” “duduk, Mey. Al, biarin gue ngobrol dulu sama Meyra” Riko meminta Aldo pergi meninggalkannya berdua saja dengan Meyra. Riko berat harus menceritakan semuanya secepat ini. Saat Meyra mungkin menemuinya untuk melepas rindu. Tapi Riko tak mau merasa lebih berdosa lagi, karena harus terus menyembunyikan perasaannya. Riko pun menceritakan semuanya pada Meyra. Tentang Aluna, tentang kedekatannya dengan Aluna, dan tentang isi hatinya pada gadis lugu yang statusnya masih menjadi mahasiswanya itu. Rasa sayang Riko pada Aluna lebih besar dari pada sayangnya pada Meyra. Meyra menangis, hatinya sakit seolah-olah dihantam benda tajam dengan kerasnya, namun ia harus menerima semuanya memaksakan hati Riko untuk terus mencintainya pun tak mungkin. Meyra paham mengapa Riko tak jarang sulit dihubungi. Mungkin selama ini Riko sangat menjaga perasan Aluna. Meyra menerima semua kenyataan. Ia tak mau membuat Riko terus-terusan merasa berdosa. Dengan kedewasaannya Meyra masih menerima Riko untuk menjadi temannya, dan melupakan pertunangan mereka. Ia ingin membuat Riko bahagia bersama cinta yang dipilih hatinya. Meyra pamit pulang bersama luka yang masih tersisa karena kenyataan pahitnya yang harus rela melepaskan pria yang begitu dicintnainya untuk gadis yang ia juga belum tahu seperti apa tutur dan wujudnya. Ia hanya ingin Riko bahagia, Dengan siapa pun Riko harus bersanding nantinya. Ia hanya berharap agar Riko tetap diberikan kesehatan, dan ia akan melihatnya di pelaminan mesti tak bersama dengannya. Ibu Riko yang tak sengaja mendengar obrolan mereka pun turut terharu atas kejujuran hati Riko selama ini, atas keberaniannya untuk menyelesaikan masalah hatinya yang terjebak di antara dua gadis berbeda usia itu. Ia menyambut Meyra yang baru saja keluar dari kamar Riko. “Meyra, terimakasih ya. Maafkan Riko” “nggak bu, nggak apa-apa. Mungkin aku yang salah karena gak pernah ada buat Riko” “gak ada yang tahu tentang apa yang diderita Riko selama ini, hanya ibu dan ayahnya. Termasuk gadis kecil itu” “aku Cuma berharap, dia juga menerimanya” “ibu Cuma mau yang terbaik. Sampai sekarang, Riko masih tak mau menemuinya, dengan keadaannya yang seperti itu” “kenapa bu?” “entahlah..” “aku akan bantu bu” “yah.. terimakasih banyak ya, nak. Kamu gadis yang baik, cantik, pintar. Semua laki-laki pasti ingin memilikimu. Semoga kamu mendapatkan cinta yang tepat setelah ini ya” “iya bu, makasih juga” Meyra tersenyum, dan memeluk wanita paruh baya yang tengah menguatkannya itu. ia pun pamit untuk pulang. Selama tiga tahun Meyra di Jepang tak sedikit pun ia melirik pria lain, bahkan pria yang begitu memperhatikannya karena ia mencintai Riko. Meyra begitu setia, dengan harapan Riko pun demikian. Namun apa yang ia dapat saat dirinya menginjakkan lagi kakinya ke Indonesia, ia justru mendapat kabar Riko telah dekat dan menyayangi gadis yang lain. Sakit hatinya bagai tertusuk besi panas, ia menangis tersedu dalam taksi yang membawanya pulang. Ia mencoba untuk menerima kenyataan itu, meski pun sakit baginya. Riko tak bersalah, hatinya memang tak pernah bulat untuknya sejak awal mulai menjalin kasih. Ia hanya berharap Riko akan tetap baik-baik saja dan bahagia bersama wanita yang dipilihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN