RINDU YANG TEROBATI

1541 Kata
Pagi hari tiba bersama mentari. Aluna bangun sangat pagi. Ia tersenyum melihat lukisan wajahnya yang indah nyaris sempurna. Ia membereskan semua pekerjaan rumah. Kemudian membuat sarapan pagi untuknya juga ayahnya. Hatinya masih resah pagi ini, Riko yang sudah beberapa hari ini hilang kabar semalam datang di dalam mimpinya namun dengan situasi yang tidak diharapkannya. Aluna bermimpi tentang Riko yang tengah tidur tak berdaya, tubuhnya kaku sebelumnya ia terlihat begitu kesakitan. Bayangan buruk dalam mimpinya tentang Riko itu tak juga hilang. Saat ia berusaha lagi menghubunginya, nomor Riko masih tak aktif. Kegelisahannya pun bertambah. Sementara di rumah sakit terlihat Riko sudah mulai membaik dan sadarkan diri. Kondisi badannya mulai stabil, entah apa yang tengah menyerangnya semalam hingga Riko harus dibawa ke ruang ICU untuk penanganan yang lebih serius. Dengan segala cara dokter dan perawat-perawatnnya berusaha semaksimal mungkin agar bisa Riko bisa pulih kembali. Pukul enam pagi, dokter pun memerintah para perawat untuk mengembalikan Riko ke ruang rawat kembali karena kondisinya sudah memulih. Sejak semalam Aldo tidak tidur untuk menjaga ibunya juga menuggu kabar baik tentang Riko. Ia yang tengah terduduk di sofa di ruang rawat itu pun merasa tenang melihat Riko kembali dibawa ke ruangan tersebut dengan keadaan yang membaik. Begitu pun ibunya, diserbunya Riko oleh wanita yang telah membesarkannya itu. Ia memeluk Riko erat, bersyukur Karena Tuhan masih memberikan kesempatan pada Riko untuk bisa membuka mata kembali. Riko tersenyum, dan mengelus-elus punggung lengan ibunya.  “aku gak apa-apa mah” Riko tersenyum. “mama percaya, kamu kuat” ibunya tersenyum haru menatap wajah putra sulungnya yang masih pucat itu. Riko pun mengusap air mata yang jatuh menetes di pipi ibunya. Entah ada apa dengan dirinya, tapi setelah kondisinya yang sempat menurun drastis semalam ia merasa lebih baik. Tubuhnya terasa lebih segar, nyeri di dadanya sudah tak terasa lagi. Ibunya duduk menghadap ranjang dimana Riko terbaring. Ia menyuapi putra sulungnya itu dengan penuh kasih sayang. Benar yang dikatakan oleh ayah Aluna, bahwa wanita yang telah melahirkan Riko dengan Aldo itu merupakan wanita yang super. Ia mampu melahirkan dua orang anak laki-laki yang begitu lembut pada wanita, bertanggungjawab, penuh ketulusan dan penuh kasih sayang. Meski pun sebelumnya Aldo tidak begitu, namun dalam tubuhnya mengalir darah jiwa yang positif, hingga ia pun mampu diandalkan disaat-saat seperti ini. Memandang ibunya yang sedang menyuapi Riko, Aldo tersenyum mengingat tentang apa yang telah disampaikan ayah Aluna padanya tadi malam. Dan tiba-tiba saja ia menanyakan handohone milik Riko. ia teringat tentang Aluna yang harus segera mendapat kaara dari Riko. Riko menunjuk ke arah lemari yang berada di ruangannya itu. Aldo membuka lemari dan merogok ransel Riko untuk mencari handphonenya. Dinyalakannya lah handphone Riko yang mati kemudian ia colokan ke sambungan listrik. “ngapain?” “lo harus nelpon dia!” “gue gak mau” “semalem dia nelpon gue, dia nyari lo!” “kamu telpon dia, kasian...” sahut bu mereka mendukung saran Aldo untuk Riko. “oke…” Ibu mereka pergi meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Aldo masih duduk di sofa menanti handphone Riko hidup dan bisa segera digunakan. Sementara Riko terbaring lurus di atas kasur, matanya lurus menatap langit-langit namun pandangannya jauh entah kemana. Ada dua gadis yang ia pikirkan. Aluna yang selama ini selalu ditemaninya juga Meyra, tunangannya yang sudah 3 tahun tinggal di Jepang. Riko merasa bersalah karena ia tak pernah jujur pada Aluna tentangnya yang sudah memiliki tunangan. Dan Meyra juga tak pernah tahu jika selama ia pergi Riko dekat gadis kecil yang semula ia kenal masih SMA, dan kemudian kini gadis itu menjadi mahasiswa spesialnya. Tak ada niat jahat sedikit pun atau niat berkhianat. Cintanya pada Meyra memang belum bulat. Ia menyetujui pertunangan itu atas dasar permintaan ibunya karena, ayah Meyra merupakan teman baik ayahnya. Riko terhanyut dalam lamunannya tentang dua orang gadis yang sama-sama disayanginya. Namun hati dan pikirannya selalu utuh untuk Aluna. Gadis lugu, kalem, dan penuh dengan rahasia. Bukan karena Riko simpati dengan kehidupan Aluna yang perih, tapi Riko mengaguminya karena sikapnya yang begitu baik. Meski pun ia harus tumbuh besar dengan kekecewaan terhadap ayahnya, Aluna masih selalu berbakti. Ia senang Aldo juga begitu perhatian padanya juga Aluna. Aldo takut Aluna kecewa pada Riko, Aldo takut Aluna berpikiran buruk pada Riko, dan Aldo selalu punya ketakutan-ketakutan tentang Aluna terhadap kakak kandungnya itu. setelah handphone Riko menyala dan bisa digunakan, ia pun langsung menyodorkannya pada Riko. Entah mengapa, tiba-tiba Riko menjadi canggung pada Aluna. Ia bingung harus berbicara apa pada Luna. Namun kemudian ia pun mengatur nafas dan segera menghubungi Aluna. Saat itu Aluna yang sedang memperhatikan telpon genggamnya sepontan mengambilnya dengan gerakan yang cepat ketika mendapati handphonenya berbunyi, terlebih lagi ketika ia melihat bahwa nama “Kak Riko” yang memanggilnya. “Halo. Kak?” ia mengangkatnya dengan begitu bersemangat. “hay cantik” sapa Riko dengan suara sengau. “Kak Riko sakit? udah pulang? Sekarang dimana?” “lama-lama kamu mirip Dinda. Bawel juga. Banyak banget nanyanya” “tiba-tiba ninggalin aku di villa, nuker badan sama orang yang taunya ade Kak Riko. Dan Kak Riko gak pernah bilang apa-apa sama aku. Terus ngilang, ga ada kabar. Hpnya mati. Sekarang telpon aku malah ngeledekin aku kaya Dinda!” Aluna tampak cemberut, namun tak terlihat oleh Riko. “iya.. maaf. Soal itu Aldo juga pasti cerita kan” “iya.. kok suara Kak Riko kaya orang sakit gitu?” “nggak kok, aku Cuma baru bangun” “kapan kak Riko pulang?” “Kak Riko belum tahu” “Kok gitu?” “masih belum selesai urusanya. kenapa? Kangen ya? Aku pasti ke rumah kalo udah di Bandung” “oke..” Mata Riko berkaca-kaca mendengar suara gadis yang amat disayanginya itu. Bukan ia tak mau memberikan kabar pada Aluna, ia hanya tak pernah kuat menahan getaran hatinya yang begitu kencang. Ia tak tahu, kapan ia bisa menemani Aluna saat dirinya kesepian, saat ia menanti ayahnya yang bekerja hingga menjelang larut malam, menamaninya mengerjakan semua tugas-tugas kuliahnya, menemaninya di bangku taman belakang gedung fakultas di kampusnya. Semua itu teringat terasa menyakitkan, ketika ia harus menerima kenyataan akan kondisi tubuhnya yang sudah mulai rapuh. Semakin lama penyakitnya semakin menggerogoti tubuhnya. Dan entah sampai kapan ia akan bertahan. Jika suatu saat Aluna mengetahui ini, entah bagaimana hatinya untuk tetap utuh. Karena ia mengerti, kasih sayang yang selama ini ia berikan pada Aluna pun mendapat balasan yang sama darinya. Meski Aluna tak pernah mengatakan tentang rasa dalam hatinya. Riko merasakan jelas kasih sayang itu. “kak…? Kok diem?” “emh… ya sayang?” Dengan suara yang sedikit tertekan karena menahan tangis, tak sengaja Riko menyebutkan kata “sayang” pada Aluna yang membuatnya terkejut mendengar kata itu. Aldo yang masih terduduk di dekat Riko sambil sibuk memainkan handphone pun, sepontan mengarahkan kepalanya pada Riko ketika mendengar kata itu. “hhh..?” “kenapa? Kok kaget gitu? Aku kan sayang kamu?” “masa?” “masa gak percaya… kamu gimana?” “yaa…” Aluna malu-malu. “yaa… udah kak Riko gak pulang deh. Ngapain, Alunanya juga gak sayang sama Kak Riko” ia menggoda Aluna memancingnya agar bisa jujur akan hatinya pada Riko. “kok gitu… aku.. kan.. sssayang… sama Kak Riko” Riko tertawa mendengar kata-kata itu yang diucapkan oleh Aluna dengan nada malu-malu. Ia tersenyum membayangkan wajah cantik gadis yang kini sedang ada di sebrang telpon itu. Dengan mendengar suaranya, rindunya sedikit terobati. Meski pun ia tak pernah tahu, apakah masih ada kesempatan baginya untuk bisa memeluknya lagi, bersamanya di kala apa pun, melihat senyum manis juga tawanya. “kamu jaga diri baik-baik ya. Kalo kamu ada apa-apa pas aku gak ada, kamu bisa minta tolong Aldo. Jangan susah makan, jangan sering ngelamun, jangan lupa untuk terus tersenyum. Buat aku, buat ayah juga… buat semuanya” “Kak Riko, kok kaya yang gak akan ketemu lagi gitu. Pesennya banyak banget” “yang pasti, Kak Riko akan selalu berusaha untuk bisa ketemu kamu terus, jagain kamu. Kamu do’ain Kak Riko sehat terus ya” “ya pasti Kak. Cepet pulang ya..” “pasti” Riko tersenyum, kemudian pamit untuk menutup telponnya karena harus segera pergi mengurusi kerjaannya. Begitu ucapnya pada Aluna. Namun kenyataannya Riko tak kuat menahan air mata yang akhirnya jatuh membasahi pipinya. Ia takut ia akan membuat Aluna kembali menjadi gadis pendiam dan pemurung. Namun ia telah menitipkan Alun apada Aldo, dan ia percaya Aldo akan lebih mampu mempertahankan keceriaan Aluna saat ini. Setelah Riko menutup telponnya, ia menghapus air matanya dan memberikan handphonenya pada Aldo untuk ia charge kembali. Aldo pun mengambilnya. Ia berdiri di hadapan kakaknya yang masih terbaring itu. “gue gak bisa pastiin dia masih bisa senyum atau nggak liat lo kaya gini” “lo bisa bikin dia bahagia” “gue Cuma gak sanggup liat dia sakit dengan harus nerima kenyataan pahit. Kaya gue gak sanggup liat lo sekarang” “lo bisa..” Aldo terdiam. Ia memilih untuk tak menjawab lagi. Benaknya terbayang pada Aluna yang entah akan bagaimana jika suatu saat nanti harus menerima kenyataan pahit tentang Riko. Tak ada yang bisa dilakukannya selain untuk tetap di sampingnya, menemaninya menjaga tawa juga hatinya. Namun, ia berharap agar Riko bisa segera mendapatkan jantung yang cocok agar bisa dicangkokkan padanya. Dengan begitu setidaknya Riko masih punya harapan untuk hidup lebih lama. Untuknya, ibunya terlebih lagi untuk Aluna.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN