KEHILANGAN

1451 Kata
Aluna gelisah menanti kabar dari Riko. Sejak ia pulang mendadak dari villa saat mereka tengah liburan itu, Riko tak juga berikan kabar apa pun padanya. Nomornya tidak aktif. Luna pun mencoba menghubungi nomor yang terakhir digunakan Riko untuk menelpon Aluna, nemun ternyata yang mengangkatnya Aldo. Bukan mendapat kabar dari Riko, yang ada malah digoda oleh adik Riko yang terkadang berbeda tingkah itu. Walau pun begitu, Aldo juga baik dan sangat peka terhadap dirinya. Aluna tak tahu, bahwa laki-laki yang sedang dirindukannya itu tengah terbaring lemah di rumah sakit, karena kondisinya yang melemah ketika mereka liburan bersama minggu lalu. Aldo yang memahami Aluna yang sebenarnya sedang merindukan Riko itu pun coba menghiburnya. Saat melihat jam masih pukul tujuh malam, Aldo memutuskan untuk datang ke rumah Aluna sekedar menemani kesendiriannya. Riko bercerita banyak tentang Aluna kepada Aldo ketika ia menemani kakaknya itu di rumah sakit. Jika Aluna dapat dihubungi melalui telpon di malam hari, itu berarti ia tengah sendiri di rumahnya karena ayahnya dinas hingga malam atau bahkan lembur sampai pagi hari. Aldo bergegas membawa motornya menuju rumah Aluna, bukan untuk menjadi pengganti Riko yang selalu menemaninya namun ia pun ingin bisa menjaga Aluna dan mendapatkan tempat yang sama pentingnya dengan Riko. Dengan membawa 2 bungkus nasi goreng, Aldo tiba dan mengetuk pintu rumahnya. Aluna pun kaget melihat sosok yang baru saja menggodanya lewat telpon itu, kini tiba-tiba sudah berada di hadapannya. “hay” sapa Aldo menggoda, halisnya naik turun menggelikan. “dih” Aluna mengerenyitkan alisnya. “makan yuk” Aldo mengajak Aluna untuk makan sambil menuduhkan sebuah kantung plastik yang dibawanya. Aluna pun tersenyum melihat tingkah pria di hadapannya itu. Ia menyuruh Aldo untuk masuk dan duduk, sementara ia membawa piring juga air minum untuknya. “kamu kok bisa tahu, kalo aku belum makan?” “tahu donk, kata Kak Riko kalo kamu telpon atau bisa ditelpon malem-malem kaya gini itu berarti kamu lagi sendirian. Dan di setiap kamu sendiri kamu gak akan makan” “hm… sok tahu. Kak Riko kok nomornya gak aktif ya” “lowbath kali... dia kan gitu kalo udah ada urusan kerjaan penting” Aldo menjawab dengan nada pelan karena harus berbohong. “kerjaan apaan siyh?” “ah.. eh… aku gak hapal sih Lun” Aldo bingung harus menjawab apa, ketika Aluna mempertanyakan apa yang dikerjakan Riko sampai harus hilang kontak dengannya. Riko tidak di luar kota, Riko tidak bekerja, Riko sedang terbaring payah di rumah sakit. Dalam hatinya Aldo menggumam. Sulit baginya untuk menghadapi kenyataan yang serba salah. Jika Aldo terus terang pada Aluna tentang keadaan Riko yang sebenarnya, pasti Aluna akan sedih. Namun disaat ia menutupi semuanya pun tak membuatnya tenang karena harus selalu berbohong setiap kali Aluna bertanya tentang kakaknya itu. Malam itu malam pertama kali Aldo menemani Aluna di rumahnya. Seperti yang selalu dilakukan Riko ketika Aluna sendiri di rumah, ia menemani Aluna hingga ayahnya pulang. Meski pun Aluna sudah terlelap sebelum ayahnya pulang. Sejak kecil Aluna memang termasuk tipe orang yang cepat tidur. Setelah mereka selesai makan, mereka sempat bersenda gurau, berbincang tentang banyak hal. Sejak pertama Aluna mengenal Aldo, ia memang sudah merasa nyaman. Setiap kali mereka berbincang selalu nyambung, dan Aldo selalu dapat mencairkan suasana. Memang berbeda dengan Riko, yang selalu lebih serius dan sedikit kaku. Meski pun ia juga bisa bercanda dan menggoda Aluna di saat-saat tertentu. Mereka bersenda gurau dengan posisi duduk yang saling membelakangi, Aluna bersandar di punggung Aldo yang sedang melukis wajahnya. Aldo meminta agar Aluna tidak mengintipnya agar dapat konsentrasi untuk melukis wajah Aluna. Belum selesai lukisannya, tiba-tiba ia tak mendengar lagi suara Aluna. Namun Aldo tidak menghiraukan, ia tetap konsentrasi untuk melukis wajah Aluna. Tiba-tiba kecurigaan pun muncul dalam benaknya ketika Aldo melemparkan pertanyaan tenang kedekatannya dengan Riko. Aluna tak menjawabnya, lengannya yang semula terlipat di perutnya tiba-tiba jatuh menggantung. Aldo yang mengerti, bahwa Aluna telah terlelap sejak tadi menghela nafas, tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Aldo perlahan membalikkan tubuhnya, agar Aluna tidak terbangun dari tidurnya. Aldo tidak berani memindahka Aluna ke kamarnya karena masih merasa canggung. Ia pun melepas jaketnya untuk menutupi tubuh Aluna yang sudah ia terlentangkan di atas kursi. Aldo berjalan keluar sambil membawa kertas dan pensil yang sempat ia simpan di meja, untuk membaringkan Aluna. Ia duduk di kursi yang berada di teras rumah Aluna untuk melanjutkan kembali membuat lukisan wajah Aluna yang sudah dijanjikannya. Saat lukisannya telah selesai, terlihat ayah Aluna pun tiba dengan berjalan kaki. Sepontan Aldo berdiri dan menyapanya. “Al? dari kapan? Aluna udah tidur ya? Kebiasaan…” “gak apa-apa om, mungkin Aluna kekenyangan. Hehe tadi abis makan nasi goreng” “ya ampuun.. makasih ya. Oh ya, Riko belum pulang?” “emh… belum om. Oh ya, aku pamit pulang aja ya om, gak enak udah malem” “iya, makasih ya nak. Salam sama ibu. Jaga ibu kamu baik-baik ya. Pasti ibu kalian itu ibu yang super, sampe bisa melahirkan anak-anak yang super seperti kamu dan Riko” “pasti om, saya pamit ya om. Assalamu’alaikum” Seperti yang terjadi pada Riko, yang selalu menemani Luna dan akhirnya ditinggal tidur sampai rela duduk di luar memastikan Aluna baik-baik saja sampai ayahnya pulang. Kini Aldo pun melakukan hal yang sama. Bukan karena Riko, tapi memang karena Aldo pun memiliki sifat yang lembut. Terbukti saat melihat ibunya menangis menceritakan tentang kondisi Riko, Aldo luluh dan merasa bersalah karena selama ini tak pernah mengerti posisi sulit ibunya. Ayah Luna masuk, mendapati anaknya yang tengah tertidur lelap di atas kursi langsung memindahkannya ke kamar. Ia lihat jaket yang menutupi separuh tubuh kecil anak gadisnya itu, tersenyum melihat kembali ke arah Aldo yang sudah melaju dengan motornya. Diangkatnya tubuh Luna, dan ia baringkan di atas tempat tidur Aluna, kemudian menyelimutinya. Ia duduk dan mengusap kepalanya penuh kelembutan dan kasih sayang. Ia tersenyum memandangi wajah teduh gadis kecilnya itu. kemudian ia keluar lagi untuk sekedar merebahkan tubuhnya setelah lelah bekerja. Aldo mengendarai motornya dengan lamban. Entah mengapa hatinya merasa tak karuan. Pikirannya tearah pada Riko yang masih terbaring di rumah sakit juga ibunya yang sedang menemani Riko di sana. Entah apa yang telah terjadi pada Riko, namun Aldo merasa begitu tak tenang mengingatnya. Tiba-tiba saja Aldo menarik gasnya lebih kencang, ia takut terjadi sesuatu pada Riko. Sesampainya di rumah sakit ia berjalan cepat dengan hati yang tak tentu rasa. Ia melihat ibunya sedang duduk di depan ruang ICU sambil menangis. Hatinya semakin tak tenang, tubuhnya seketika melemas mendapati ibunya yang tengah menangis deras tanpa henti. “mah, ada apa? Kenapa Bang Riko?” Aldo merangkul ibunya. “kakakmu tiba-tiba tak sadarkan diri, sebelumnya ia kejang seperti kesakitan. dokter bilang ia mendapat serangan dan kondisi abangmu menurun” Seketika dengkulnya melemas, ia roboh di hadapan wanita paruh baya itu. Terbayang masa-masa yang selalu mereka lewati bersama, saat pertengaran-pertengkaran yang terjadi pada mereka, saat ia membawa kakaknya ke rumah sakit itu. Dalam hatinya berharap agar Tuhan masih memberikan kesempatan pada kakaknya untuk menyelesaikan kisahnya dengan Aluna dan menjelaskan tentang Meyra. Ia rela membiarkan Aluna berada di pelukkan Riko meski Riko telah bertunangan dengan Meyra, dan ia yang akan membantunya untuk membuat Meyra mengerti bahwa hati Riko utuh untuk Aluna. Ia tahu dan paham itu. Sementara ketegangan yang bercampur rasa sedih itu terlihat di rumah sakit tempat dimana Riko kini sedang berjuang melawan masa kritisnya. Terlihat Aluna yang tengah tertidur lelap dan seperti sedang bertemu Riko dalam mimpi. “Kak Riko” ia menggumam. “Kak.. Riko” menggumam lagi, dan terus menggumam menyebutkan nama itu. Entah apa yang dilihatnya tentang Riko di alam mimpinya, namun setelah ia menggumam lebih dari tiga kali tiba-tiba ia terbangun, matanya merah seperti ingin menangis, jantungnya berdebar kencang, tubuhnya lemas. Ayah Luna yang belum tertidur pun mendengar suara anaknya yang tiba-tiba berteriak memanggil nama Riko. Sepontan ia bergerak cepat menuju kamar tidur Aluna, membuka pintu kamar anaknya itu dan langsung memeluk tubuhnya. Tubuh gadis kecilnya basah karena berkeringat, tidak biasanya Aluna tidur sampai mengeluarkan keingat. Ia pun memberikan minum pada Aluna, dan mengusap punggungnya agar anaknya itu bisa lebih tenang. “Aluna mimpi apa?” “Kak Riko…” pandangannya kosong. Ayah Aluna memeluknya lagi, menenangkan putrinya itu yang telah bermimpi tentang sesuatu buruk yang sudah terjadi pada Riko. “Cuma mimpi. Kak Riko pasti baik-baik aja” “tapi udah beberapa hari ini Kak Riko gak ada kabar” “mungkin dia sibuk, kamu do’ain aja dia supaya Gusti Allah menjaganya setiap saat” Aluna bersandar di pundak ayahnya. Kepalanya masih terganggu dengan mimpi buruknya tentang Riko yang baru saja menerpa tidurnya. Ayah Luna masih di sana untuk menenangkannya. Ia mengelus-elus punggung Aluna penuh kasih sayang. Meski pun telah mengantuk dan lelah, ia masih duduk dengan terjaga memastikan anaknya akan tidur kembali dengan tenang, hingga akhirnya perlahan mata Aluna pun tertutup lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN