Pagi hari tiba, Aldo terbangun dari tidurnya. Ia melihat Aluna yang masih tertidur lelap di kursi. Sejak semalam ia tiba, ia telah mendapati Aluna tidur di sana, namun ia tak mau membangunkan Aluna yang tertidur lelap. Padahal Aldo sampai ke villa masih tidak terlalu malam. Saat ia tiba Dinda dan Andi masih asyik nonton TV, sementara Aluna sudah terlelap di kursi depan televisi itu. setelah usai nonton TV, Andi dan Dinda tidur di kamar mereka masing-masing. Aldo memilih tidur di kursi yang menghadap ke meja makan.
Aldo berdiri, berjalan ke arah tempat Luna berbaring. Ia duduk di samping Aluna yang masih terbaring, menatap matanya yang masih terpejam Aldo tersenyum. Tak heran jika kakaknya Riko begitu ingin menjaganya dari apa pun. Aluna begitu lugu dan baik. Memandangnya terlelap seperti merasa damai.
Aluna terbangun dan kaget bahwa di sampingnya telah ada Aldo yang sedang menatap serius wajahnya. Spontan Aluna membangkitkan diri dari tidurnya. Dan mengucek-ngucek matanya.
“hay” Aldo menyapa dengan gayanya yang Aluna kenal.
“kamu sampe jam berapa?”
“jam 10an”
“kok gak bangunin aku?”
Aldo hanya menjawab dengan isyarat. Ia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Jelas ia tak tega membangunkan Aluna yang nampak sangat lelap.
“terus kenapa kamu tidur di sini?”
“aku nungguin kamu, kak Riko bilang kamu mau ke sini. Eh kok bisa ya kak Riko nyuruh kamu ke sini. Emang kamu deket juga sama Kak Riko?”
“jalan-jalan yuk. Kamu mandi gih” Aldo tidak menjawab pertanyaan Aluna, malah mengalihkannya.
“oke..”
Aluna bangkit dan bergegas menuju kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Aldo yang telah lebih dulu selesai mandi dan sudah wangi, menunggu Aluna di taman belakang villa, ia akan mengajak Aluna ke tempat favoritnya saat kecil dulu. Ketika ayahnya masih ada, dan mereka selalu berlibur berempat di sana..
Aluna pun tiba di taman belakang villa dan menghampiri Aldo yang sedang berdiri memandang ladang bukit hijau yang merupakan perkebunan teh itu. Aldo menuntun Aluna menyusuri bukit seperti sudah hapal jalan. Aluna yang tak pernah mengetahui tentang Aldo yang sebenarnya merupakan adik kandung dari Riko pun bertanya-tanya. Aldo tersenyum pada Aluna sambil terus menggandengnya sampai mereka tiba di atas tebing yang terletak di antara perbukitan teh tersebut.
“liat deh” wajah dan mata Aldo menuju pada hamparan alam hijau nan indah menyejukkan mata.
“amazing” Aluna takjub mendapati pemandangan yang maha indah itu.
Di sana mereka bisa melihat seluruh permukaan bukit, juga perkebunan teh yang begitu luas. Bentangan danau yang menjadi tempat favorit Aluna dengna Riko pun terlihat dari sana. Betapa megah alam hijau ciptaan Tuhan. Memang sempurna ciptaanNya, Tuhan yang Maha mengnindahkan.
Udara dingin pagi itu memang menerpa tubuh mereka. Namun perlahan matahari pun naik menyaksikan kebersamaan Aldo dan Aluna di atas tebing tersebut, membuat tubuh mereka lebih hangat.
Aldo pun duduk di tepian tebing, begitu juga dengan Luna. Dalam hati Luna timbul pertanyaan, ia mulai merasa nyaman dengan Aldo seperti ia nyaman dengan Riko. Dalam-dalam ia perhatikan wajah Aldo yang hampir mirip dengan Riko. Perlakuan dan sikap Aldo padanya sama seperti Riko. Riko tahu bagaimana membuatnya nyaman dan senang, begitu pun Aldo.
“kamu sering ke sini?”
Aldo mengangguk.
“sama Kak Riko?”
“yaa.. tapi itu dulu 4 taun lalu waktu papah masih ada”
Mendengar apa yang dinyatakan Aldo, Aluna terkejut kaget.
“kamu…?”
“kita adek kakak, Lun”
“hah? Kamu serius?”
“iya… hubungan kita renggang karena suatu hal. Karen salah paham, tapi baru-baru ini kita baik lagi”
“bener Kak Riko keluar kota hari ini, makanya dia nyuruh kamu ke sini buat gantiin dia temenin kita di sini?”
“ada urusan yang harus dia selesein, Lun. Kamu tenang aja. Dia pasti balik”
“aku masih gak ngerti, kenapa kalian gak jelasin semua dari awal. Tentang hubungan persaudaraan kamu sama kak Riko?”
“awalnya aku benci sama dia, karena aku ngerasa dia yang bikin papah meninggal. Papah meninggal kecelakaan mobil waktu abis jemput dia di bandara. Waktu itu Kak Riko baru pulag dari Malaysi, karena kondisi hujan deras mobil papah gak terkendali sampe akhirnya kecelakaan. Papah meninggal setelah bertahan 4 jam setelah kecelakaan itu. mamah bilang papah meninggal Karena serangan jantung, setaun kemudian aku tau kalo papah meninggal karena kecelakaan. Aku marah sama mamah terlebih lagi sama Kak Riko. Sejak saat itu aku benci sama Kak Riko”
“sampe sekarang?”
“nggak, Lun. Sekarang aku ngerti. Dan semua emang udah jalan Tuhan”
Ingin rasanya Riko mengungkapkan semua tentang keadaan sebenarnya. Banyak hal yang sebenarnya masih ditutupi. Tentang Meyra yang merupakan tunangan Riko. Dan mereka terpisah karena Meyra harus pergi meneruskan pendidikannya di Jepang. Yang paling membuat Aldo kesal pada Riko sebenarnya adalah ketika ia mendapati keakrabannya dengan Aluna lebih dari sekedar sahabat, atau kaka bagi Aluna.
Ia tak mau Aluna sedih ketika tahu yang sebenarnya bahwa Riko telah memiliki tunangan yang kini masih tinggal di Jepang. Namun melihat ketulusan kasih yang terlihat dari mata keduanya, membuat Aldo mengerti dan paham tentang apa yang harus ia lakukan nanti ketika Meyra pulang ke Indonesia dan meminta Riko menikahinya.
“aku masih gak tahu harus gimana nerima kabar ini. Yang jelas aku kecewa, karena aku ngerasa dibohongin sama kamu dan Kak Riko”
“aku ngerti, kamu boleh marah sama aku atau sama Kak Riko. Tapi kita sama sekali gak ada niat buruk sama kamu”
Aluna sama sekali tak mengetahui kalau Riko mengalami sakit parah dan entah berapa lama lagi ia kan bertahan hidup di dunia. Bagi Aldo Riko sangat hebat dalam menutupi rahasia apa pun, termasuk rasa sakitnya. Aluna sama sekali dibuatnya tak mengetahui apa-apa tentang keadaan Riko yang sebenarnya. Tak ada kecurigaannya sedikit pun. Entah memang karena Aluna yang terlalu lugu.
Aldo juga memang tak pernah mengetahui tentang penyakit yang telah diderita oleh kakanya itu puluhan tahun lamanya. Namun sesekali setiap kali mereka sudah berdebat, Aldo melihat Riko memegang dadanya. Dan saat ini Aldo baru mengerti, mengapa Riko memegang d**a kirinya. Mungkin ia tengah merasakan sakit saat setiap kali mereka bertengkar.
“kamu mikirin apaan?”
Aluna menyadarkan Aldo yang terlihat sedang menikmati lamunannya, yang entah kemana pikiranya itu melayang.
“nggak…aku gak mikirin apa-apa” Aldo tersenyum.
Matahari sudah semakin tinggi, teriknya mulai terasa lebih dari sekedar menghangatkan tubuh. Aldo lantas mengajak Aluna untuk berjalan ke tempat lain. Ketika tengah menyusuri bukit-bukit tersebut, di pertengahan jalan mereka bertemu dengan Dinda yang sedang jalan-jalan bersama Andi.
“dari mana, Al?” Tanya Andi pada Aluna juga Aldo.
“abis dari tebing di atas sana, asik deh. Seru aja bisa liat alam jawa barat meski pun gak jelas semua”
“ninggalin kita, sengaja?” sambar Dinda.
“sorry deh Dinda…” tangannya mencubit pipi sahabatnya yang cerewet itu karena gemas”
“tempat makan yang asik juga murah mana lagi, Do? Selain yang udah gue ceritain bekas diajakin Kak Riko” Tanya Andi.
“ih.. udah pada kenal?”
“iya doonk, Al.. kamu sih malah tidur. Kita udah ketemu duluan semalem sama Aldo. Dia cerita banyak. Ternyata dia ini adiknya Kak Riko”
Aldo tersenyum, menatap sekilas pada Aluna yang sedikit kesal karena ia tidak tahu tentang Aldo lebih dulu dari Dinda juga Andi.
“udah, gak usah bête gitu. Gak apa-apa juga. Aku kan udah ceritain semua sama kamu” iya mengelus pipi lembut Aluna, lantas menuntunnya lagi untuk pergi ke tempat makan untuk mengajak Aluna, Dinda, juga Andi. Tempat makan yang lain, selain yang pernah diinjak oleh mereka selama di villa.
Aldo membawa mereka menyusuri perkebunan teh, menuju saung sederhana yang terletas dekat hutan pinus. Di hutan pinus tersebut terdapat macam-macam arena permainan alam. Tempat itu sangat ramai dikunjungi orang-orang yang hendak berlibur. Aldo mengajak Aluna, Dinda juga Andi untuk bermain menikmati wahana-wahana yang ada sebelum makan siang.
Permainan demi permainan mereka nikmati dengan sukacita, melihat Aluna dapat terawa lepas meski tanpa Riko, Aldo pun merasa bahagia. Tak terlihat kesedihannya sedikit pun. Andai Aldo menceritakan yang sesungguhnya terjadi pada Riko, entah bagaimana ia melewati harinya. Namun Aldo masih bersedia menutup erat tentang keadaan Riko yang sebenarnya dengan alasan agar senyum Aluna tetap ada.
Setelah bermain, mereka merasa lelah hingga memutuskan untuk berhenti bermain dan segea mengisi perutnya. Andai Riko berada di sana, mungkin kebahigiaan Aluna lengkap bersama sahabat dan kerabat terbaiknya.
Hari itu berlalu dengan kebahagiaan yang sempurna bagi Aluna, Dinda juga Andi. Tapi tidak bagi Aldo yang masih memikirkan kondisi kakak kandungnya yang baru kemarin sore ia antarkan ke rumah sakit. Ia hanya berharap Riko masih mampu berjuang dan bertahan dengan segala alasan.
Mereka pulang kembali ke villa dan merebahkan diri setelah membersihkan tubuh mereka. Mereka habiskan waktu bersama di dalam villa saja setelah seharian bermain di hutan pinus tadi. Tubuh mereka terasa pegal dan nyeri, namun tidak dengan Aldo. Aldo yang sering naik turun gunung serta gemar outbond membuat tubuhnya sudah kebal.
Satu minggu berlalu, mereka harus segera pulang kembali ke rumah masing-masing. Ayah Aluna pun tak berhenti menghubungi Aluna karena rasa rindunya yang sudah menumpuk terlalu banyak. Aluna tak pergi selama itu, kecuali saat OSPEK dulu. Itu terjadi 2 tahun lebih yang lalu. Selain tu Aluna tak pernah pergi meninggalkan rumah lebih dari 24 jam. Ayahnya sudah begitu merindukannya dan berharap Aluna untuk segera pulang ke pelukannya.
Dinda pulang bersama Andi dengan menggunakan mobil Riko yang sengaja ia tinggal, sedangkan Aluna pulang bersama Aldo menggunakan motor. Aldo membiarkan Andi membawa mobil kakaknya sampai ke rumah Andi, sedangkan ia lansung mengantarkan Aluna ke rumahnya. Sesampainya di rumah, ayahnya menyambut Aluna dengan pelukan hangatnya.
“yaa ampun… anak ayah lama banget perginya”
“satu minggu aja…”
“ayah kangen banget ini”
“eh yah, kenalin ini Aldo, adenya Kak Riko”
Aluna menuduhkan Aldo pada ayahnya, Aldo pun mengulurkan lengannya untuk berjabat tangan dengan ayah Aluna tanda perkenalan mereka.
“ohh.. pantes mirip. Lah kak Rikonya kemana?”
“Kak Riko ada urusan, Om” jawab Aldo.
Ayah Aluna kemudian mempersilahkan Aldo untuk masuk ke dalam rumahnya. Ketika ayah Aluna hendak membawa ransel anak gadisnya itu, namun kemudian Aldo menawarkan diri untuk membawakan tas Aluna.
Mereka pun masuk, Aldo pun dipersilahkan duduk dan mereka bercengkerama dengan akrabnya. Sementara Aluna yang sudah merasa lelah memilih untuk tidur di kamar mmbiarkan Aldo berbincang dengan ayahnya.