Libur semester ganjil pun telah tiba, karena perkuliahan semester ganjil sudah selesai. Jika sebelumnya saat liburan Riko hanya menemani Aluna untuk hari-hari tertentu saja karena ada kerjaan yang harus ia selesaikan, atau kondisi lain yang tak bisa ia tinggalkan. Namun liburan kali ini Riko memutuskan untuk mengajak Luna berlibur di Villa peninggalan ayahnya yang terletak di kabupaten Bandung, yang letaknya jauh dari pusat kota Bandung.
Tak ingin meninggalkan sahabatnya, Aluna pun meminta izin pada Riko untuk mengajak Dinda. Riko menerima permintaan Aluna degan senang hati yang ingin juga berlibur dengan Dinda yang otomatis juga bersama Andi kekasih Dinda.
Setelah mendapatkan izin dari ayahnya, ia pun berkemas untuk semua perbekalan yang akan dibawanya. Senin pagi mereka berangkat menuju tempat yang dimaksud oleh Riko. Perjalanan mereka tempuh selama kurang lebih 3 jam, karena macet yang begitu panjang sejak keluar tol. Setibanya di villa itu, betapa takjub Aluna dan Dinda juga Andi dibuatnya. mereka yang baru pertama kali menginjak tempat itu tak berkutik melihat pemandangan yang begitu indah.
Bukit-bukit yang merupakan perkebunan teh, terlihat membentang hijau dari tepi jalan raya. Betapa indah dan menyegarkan mata. Sesampainya di villa mereka ternganga lagi melihat pemandangan sekitar Villa yang lebih menarik dan sangat indah. Terlihat perbukitan yang seperti tertata rapi, hutan hijau yang masih asri dan bersih akan polusi, belum lagi danau yang berada di tengah bukit-bukit perkebunan teh, dengan air yang tenang dan begitu jernih.
Aluna berjalan menyusuri tepian danau, ia duduk di atas batang pohon yang mungkin telah tumbang, namun akarnya masih kokoh tertanam sehingga posisi batang pohon itu melintang lurus di atas permukaan air, seperti sengaja dibuat begitu untuk menjadi tempat duduk para pengunjung danau tersebut. Aluna terdiam menatap danau yang membentang luas tersebut, kaki menggantung di atas air, sesekali ia iseng sengaja mencelupkan kakinya ke air. Ia biarkan sepatunya basah. Riko menghampirinya, dan ikut duduk di atas batang pohon yang mereka harap kokoh.
“asik ya..” Tanya Riko tersenyum pada Aluna seraya menghirup udara segarnya.
“iya, seger” Aluna pun terpejam, meresapi kesejukkan alam indah itu.
Aluna melempar senyum manisnya pada sosok yang selalu membuatnya nyaman itu. Riko menatap tenang tepat ke arah Aluna. Hatinya luluh terperangkap dalam tatapan teduh mata Riko. Mereka saling berpandangan terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang memadu rasa di antara keduanya, namun kemudian Aluna menunduk malu.
“makasih ya, Kak” Aluna mencoba mencairkan suasana.
“nggak Lun.. aku seneng liat kamu seneng”
“kayanya udah hampir empat tahun. Gak berasa aja, gak nyangka juga. Kak Riko bertahan untuk selalu nemenin aku. Padahal aku dulu selalu cuek dan dingin sama Kak Riko. Ngajak ngobrol aja nggak”
Riko mengangguk penuh arti.
“aku cuma mau jagain kamu, aku pengen kamu nyaman seutuhnya sama aku. Aku gak peduli kaya apa pun perlakuan kamu sama aku. Bukan naïf, karna untuk menjaga kamu, aku cuma butuh di samping kamu. Cuma itu.”
Aluna tersenyum mendengar pernyataan Riko yang sangat begitu tulus menyayanginya. Tanpa harus mengucapkan kata sayangnya, sudah begitu terlihat perasaan sayang Riko pada Aluna. Ia sandarkan kepalanya di bahu Riko menghadap danau itu. Mereka menikmati kebersamaan mereka di alam indah nan sejuk itu. Mereka habiskan waktu mereka di danau itu, berdua saja. Sedangkan Dinda dan Andi memilih untuk menuju bukit yang paling tinggi di perkebunan teh itu.
Hari mulai sore. Cuaca disana sangat dingin, jaket yang dikenakan Aluna tidak terlalu tebal, ia terlihat menggigil kedinginan. Riko yang menyadari hal itu langsung melepas jaketnya tanpa penawaran. Padahal sebelum Riko memutuskan untuk pergi, ibunya berpesan padanya agar tidak melepaskan jaketnya.
Rasa dingin semakin menusuk tubuh. Riko mengajak Aluna untuk kembali ke villa mereka. Karena sejak sampai ke villa, Aluna langsung pergi ke danau. Sadar Aluna belum makan apa pun, ia menarik Aluna yang terlihat masih menikmati udara sejuk tepi danau itu.
Dalam perjalanan menuju villa tiba-tiba Riko merasa sakit yang dasyat di jantungnya lagi, entah mungkin karena kedinginan entah karena ia belum minum obatnya. Namun ia mencoba menutupi rasa sakitnya, ia mencoba untuk terlihat biasa saja. Ia tahan rasa sakitnya hingga tiba di villa. Ia pamit dan bergegas ke kamarnya untuk sejenak menenangkan rasa sakitnya. Ia cari obat-obatan yang tak pernah lupa ia bawa di tasnya itu. Ia teguk obat-obatnya dengan dorongan segelas air putih, kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur. Sementara Aluna dan Dinda duduk di teras belakang villa menikmati pemandangan.
Ini bukan kali pertama Riko menahan rasa sakitnya saat ia di sisi Aluna. Beberapa kali, bahkan ia pernah jatuh di kamar mandi kampus karena tak kuat menahan rasa sakit saat sedang bersama Aluna. Rasa sakit yang sering datang tiba-tiba pada waktu yang tak menentu itu memang terkadang menyulitkan dirinya.
Ia tak mau Aluna mengetahui tentang dirinya yang sudah sakit lama. Entah rasa yang bagaimana yang telah tumbuh besar di dalam hatinya pada Aluna, satu yang ia mau hanya melihat senyumnya. Dan tak kan pernah membiarkan senyum itu pudar dari wajah cantik Aluna.
Malam hari tiba, Riko sudah terlihat segar kembali.
“hay kak. Pules amat tidurnya” sapa Aluna.
“iya.. di sini dingin banget”
Suasana malam sepi di antara jajaran pohon-pohon pinus dan bukit-bukit perkebunan teh, begitu terasa sangat dingin. Dingin kota Bandung, masih terkalah dengan suasana dingin daerah kabupaten Bandung selatan tersebut. Mereka makan malam bersama dengan membakar ayam yang mereka bawa dari rumah, dan juga ikan yang mereka dapatkan dari kolam ikan yang terletak di belakang villa. Villa itu memang ada yang menjaganya, namun jika anggota keluarga Riko tiba, penjaga pun memilih untuk tidak membaur dan pulang kembali ke rumahnya.
Malam itu begitu indah. Beruntunglah liburan kali ini sedang kemarau, dimana malam hari akan terlihat lebih terang karena taburan bintang yang bersinar. Setelah makan mereka duduk-duduk di taman belakang villa yang sedari tadi mereka gunakan untuk bakar-bakaran. Mereka berbaring di atas rerumputkan lembut. Menatap langit malam yang indah. Langit malam penuh bintang juga bulan utuh yang bulat sempurna, menambah keindahan malam itu.
Aluna tak pernah merasa hidupnya sesempurna itu. Kehadiran Riko memang penuh arti, entah bagaimana jika suatu saat ia harus terjauh atau bahkan terpisah dari sosok yang selama ini selalu sabar menemaninya. Karena Riko hidupnya lebih indah, karena Riko hidupnya lebih berwarna, karena Riko semua kekurangannya berubah sempurna. Andai ia tak pernah bertemu Riko, entah bagaimana ia akan mendamaikan dirinya sendiri.
Riko yang selalu berusaha untuk merubahnya, bagaimana agar selalu berpikir bahwa orang-orang yang di sekitarnya tetap berarti meski pun ia harus kehilangan orang yang begitu ia cintai. Sampai saat ini motivasi kebahagiaannya masih bergantung pada Riko. Mungkin Aluna tak kan menjadi seperti sekarang tanpa Riko.
Liburan yang penuh makna dan kebahagiaan. Sesuai perjanjian, mereka akan berlibur di sana hanya untuk satu minggu saja. Selama satu minggu mereka tinggal bersama di dalam satu bangunan minimalis itu.
Setiap hari mereka bangun dan lari pagi menyusuri perkebunan teh. Siangnya mereka habiskan untuk jalan-jalan mencari tempat-tempat indah dan berfoto ria, berlanjut dengan mencari kuliner pedesaan kemudian malam harinya mereka habiskan dengan bersantai-santai menghilangkan penat karena kegiatan rutin yang mengikat otak-otak dan otot-otot mereka saat di kota. Namun terkadang hanya Aluna dan Dinda saja yang pergi untuk sekedar berjalan-jalan di perkebunan teh itu. atau pun bersama Andi. Ada sela-sela Riko pergi bersama mereka, namun juga ada sela-sela Riko memilih untuk tinggal di villa saja. Dan membiarkan Aluna pergi tanpanya.
Di hari ke lima Riko berjalan sendiri menuju danau dimana ia selalu menikmati kebersamaannya bersama Aluna. Sementara Aluna pergi bersama Dinda juga Andi yang tertarik untuk ikut panen teh. Ia duduk di atas batang pohon yang pernah ia duduki bersama Aluna saat hari pertama mereka menginjak tempat itu.
Riko terlihat mengeluarkan telepon genggamnya dan berniat menelpon Aldo agar bisa menyusulnya ke villa menggantikan dirinya menjaga Aluna. Ada sesuatu yang terjadi pada Riko, yang tak bisa ia ceritakan kepada siapa pun. Berkali-kali Riko mencoba menghubungi Aldo tak juga mendapat jawaban. Hingga ia memutuskan untuk mengirim pesan singkat saja melalui telpon genggamnya itu.
“Al, gue abang lo. Gue cuma mau minta tolong supaya hari ini juga lo datang ke villa papah. Gua udah gak bisa jaga Aluna lagi. Gue mau lo jaga Aluna. Gue tau lo bisa. Gue mau balik ke Bandung. Gue bakal jelasin semua kalo lo udah di sini. Please!”
Begitulah isi pesan yang ditulisnya untuk Aldo. Saat Aldo membuka handphonenya dan mendapati SMS dari kakaknya itu ia terkejut. Seperti ada sesuatu yang janggal. Namun ia tak pedulikan hal itu. ia yang sedang asyik bermain gitar di tempat temannya itu melanjutkan lagi keseruannya setelah menerima pesan dari kakaknya itu.
Lama tak juga mendapat jawaban dari Aldo, akhirnya dengan terpaksa Riko menelpon ibunya di rumah. Ia meminta tolong pada ibunya agar bisa membujuk Aldo datang ke villa untuk menjaga Aluna. Ia terus terang bahwa selama di sana ia merasa kondisi turun, rasa sakit yang selalu tiba-tiba menyerang jantungnya lebih sering terasa. Entah karena apa. Padahal udara di sana sangat bagus, yang seharusnya bagus juga untuk jantungnya.
Tak perlu menghubungi Aldo, ibunya mendapati putra bungsunya itu tiba di rumah. Aldo yang baru saja tiba di rumahnya langsung dihampiri oleh ibunya yang mulai berkaca-kaca, hidungnya merah seperti sudah menangis. Melihat ibunya begitu, ia pun tak tega dan mengikuti ajakan ibunya itu untuk berbicara 4 mata.
“maafkan mamah jika mamah mengganggu waktu kamu. Kali ini mamah mohon dengan sangat agar Aldo bisa memahami kondisinya” ibunya mulai tak bisa menahan tangisnya.
“ada apa mah?” Aldo mulai penasaran. Benaknya terbayang pada Riko yang baru saja mengirimnya SMS.
“kakakmu minta kamu menggantikan ia di sana untuk mejaga Aluna. Ia akan pulang hari ini. Ia tak mau Aluna mengetahui kalau dia…”
“Bang Riko kenapa?” tak ada rasa kesalnya sedikit pun, yang ada hanya perasaan tak enak akan terjadi sesuatu.
“kakakmu sakit”
Tak kuat lagi menahan lagi, tangisnya pun pecah. Sementara Aldo masih bertanya-tanya. Sakit apa yang diderita Riko sampai membuat ibunya begitu sedih?
“sakit apa mah?”
“dia bilang beberapa hari ini ia lebih sering mendapatkan serangan pada jantungnya”
“jantung?” Aldo terkejut.
“ya. 21 tahun kakakmu hidup dengan jantungnya yang bermasalah. Itu merupakan penyakit warisan kakekmu”
“21 tahun? Bang Riko masih sesehat itu?” Ia tak percaya.
“mamah mohon kamu mengerti” lengannya menyentuh pundak Aldo.
Aldo meraih lengan ibunya yang hinggap di bahunya itu, ia genggam erat-erat.
“oke… untuk mamah”
Aldo masih tak percaya, namun tak mau berpikir lama ia pun bersiap-siap dengan segala perbekalan. Ia tancap gas menggunakan motornya menuju villa yang kini sedang ditinggali oleh kakaknya juga Aluna dan 2 teman Aluna.
Sesampainya di sana ia parkirkan motornya di villa, kemudian mencari keberadaan kakaknya. Setelah menghubungi Riko, Aldo pun menuju danau tempat dimana Riko berada. Di sana nampak berdiri sosok tinggi besar yang sedang menantinya. Sejak ia menghubungi ibu dan adiknya, ia masih belum meninggalkan danau itu. Ia tak mau Aluna tahu tentang kondisinya yang sedang memburuk.
Wajahnya memang sudah pucat, kuku-kukunya berubah menjadi biru. Aldo tiba di sana berjalan perlahan mendekati Riko yang masih mematung menatap danau dengan pandangan kosong.
“kenapa masih di sini?”
“gue yakin lo pasti datang”
“tapi lo bisa nunggu di villa”
“kenapa? Karena gue lemah? Gue gak mau Aluna liat”
“di Villa gak ada siapa-siapa”
“berarti di belum pulang”
“kenapa lo gak pernah ngomong yang sebenernya?”
“gue Cuma gak mau semuanya repot gara-gara gue”
“konyol!”
“gue mungkin udah gak bisa lagi jagain Aluna. Dia seneng sama lo, gue yakin lo juga bisa jagain dia dan buat dia seneng sama kaya dia seneng sama gue”
“gue bukan lo”
“tapi lo suka kan sama dia?”
Aldo terdiam tak mau menjawab pertanyaan tentang hatinya. Kemudian Riko terlihat roboh, Aldo pun terkejut sepontan meraih tubuh kakaknya yang hampir terjatuh. Ia rogok saku jaket kakanya mencari obat yang mungkin bisa sedikit meredakan rasa sakit yang melanda kakaknya itu. Iya turunkan ranselnya untuk mengambil air putih dan segera diminumkannya pada Riko bersama obat-obat yang ia temukan dari saku jaket kakaknya itu.
Tanpa pikir panjang lagi, Aldo pun membopong kakaknya sampai tiba di villa dan segera membereskan semua peralatan milik kakaknya. Ketika ia hendak memberikan jaket untuk digunakannya lagi oleh Riko, namun Riko menolaknya dan menyuruh Aldo untuk tetap menyimpan jaket itu di sana agar bisa digunakan oleh Aluna. Namun kemudian Aldo melepas jaketnya dan dipakaikannya pada Riko.
Setelah semuanya siap, Aldo pun segera membawa kakaknya menuju Bandung untuk pulang ke rumahnya. Aluna yang masih bersama Dinda dan Andi di kebun teh sana, tak mengetahui akan kedatangna Aldo dan kepergian mereka lagi. Namun takut kondisi kakaknya semakin buruk, Aldo segera membawa kakaknya pulang ke Bandung sebelum Aluna mengetahui semuanya, seperti permintaan Riko. Ia tak mau Luna tahu akan yang tengah menimpanya, meski tak setuju namun Aldo mencoba untuk tetap mengikuti keinginan kakaknya itu.
Ia melaju dengan kecepatan tinggi membawa motor besarnya. Riko sudah tak berdaya, namun masih sadarakan diri. Sepanjang perjalanan pun tak mengucapkan apa-apa. Hanya dalam waktu 1 jam lebih 30 menit saja mereka sudah sampai di Bandung. Tubuh Riko lemas dan membiru. Sesampainya di Bandung Aldo tidak mengantarkan Riko ke rumah melainkan membawanya ke rumah sakit. Ia mengabari ibunya dan ibunya pun langsung menuju rumah sakit untuk menemui anak sulungnya itu, memastikan Riko baik-baik saja.
“lo ngapain bawa gue ke sini?” lengannya menarik tangan Aldo saat hendak masuk ke dalam rumah sakit.
“lo emang harus ada di sini. Liat lo sekarang!” Aldo menuntun Riko yang masih mampu jalan namun tergopoh-gopoh.
“gue mau balik” Riko menahan langkahnya lagi juga Aldo.
“mamah udah gue telpon, dia juga pasti ke sini buat ngurusin semuanya” menarik tubuh Riko dengan sedikit tenaga lebih.
Aldo mengurusi semua administrasi, Riko pun dibantu para perawat untuk beristirahat di ruangan yang telah disediakan. Setelah mengurusi semuanya, Aldo meminta izin pada dokter untuk sebentar saja agar bisa berbicara dengannya. Dokter pun mengizinkan Aldo untuk bertemu dengan Riko yang sudah dibaringkan di atas ranjang ruang VIP rumah sakit itu.
“Aluna pasti nyariin lo. Lo harus telpon dia sekarang”
“hp gue mati”
“telpon sekarang!( Aldo menyodorkan handphonenya) Gak mungkin lo gak hapal nomornya”
“buat apa sih, Al? gue juga mau mati!”
“terus lo mau mati bawa kekecewaannya dia gitu?”
“lo telpon sekarang, atau lo bakal nyesel selamanya!”
“bukannya lo gak suka liat gue sama dia?”
“gue ngerasa, kalo gue orang yang paling ngerasa gak mau liat dia kecewa, sedih, sakit, atau ngerasa sendiri. Dengan kondisi lo yang kaya gini, lo masih stay di sana cuma untuk mastiin dia baik-baik aja. Lo sampe nyuruh gua buat gantiin lo buat jaga dia. Dan gue paham sekarang, sebesar apa rasa sayang lo itu sama dia. Udah cepet lo telpon dia deh!”
Riko tersenyum menghadapi sosok adiknya yang ia anggap arogan dan kekanak-kanakan ternyata bisa berpikir positif dan dewasa. Pantas Aluna pun bisa nyaman dekat dengannya. Dan merasa cocok, seperti ketika ia bersama Riko. Akhirnya Riko mengikuti saran dari Aldo agar memberi kabar pada Aluna yang pasti sedang menantinya di villa.
“kring…kriiiing”
Handphone Aluna berbunyi, terlihat pada layarnya nomor yang tidak dikenal. Karena ia sedang harap-harap cemas menanti kabar dari Riko yang menghilang sejak ia tiba di villa satu jam lalu. Dengan spontan ia mengangkat telponnya dan menyebutkan nama “Kak Riko”. Riko tersenyum dari sebrang telpon itu.
“iya Lun, ini aku. Tau aja kamu”
“Kak Riko dimana? Kok gak ada?”
“aku udah di Bandung, Lun. Maaf aku ada kerjaan mendadak gak bisa ditinggalin. Aku harus keluar kota besok pagi. Kamu gak apa-apa kan aku tinggal?”
“gimana gak apa-apa. Ya udah besok pagi kita juga pulang. Kak Riko jahat!”
“maafin kak Riko, Lun. Ini bener-bener di luar dugaan. Kamu jangan pulang, aku udah suruh Aldo ke sana buat jagain kamu”
“hh.. Aldo? Kok bisa?”
“yaa.. pokoknya kamu tungguin dia di sana. Kamu baik-baik di sana. Sesuai perjanjian, kalian liburan di sana selama satu minggu. Aku tinggalin jaket di sana buat kamu pake. Pake ya”
“tapi kak Riko ngelanggar janji. Kak Riko gak apa-apa kan? Kok suaranya aneh gitu? Kaya orang sakit?”
“nggak.. mungkin karena efek dingin aja. Lagian sepanjang perjalanan tadi Aku tidur. Maaf deh kalo aku ngelanggar perjanjian. Kamu baik-baik ya”
“oke… Kak Riko juga hati-hati ya”
“pasti”
Riko pun menutup telponnya dan segera memberikannya lagi pada Aldo, sambil meyuruh adiknya itu untuk segera pergi menuju villa agar bisa memastikan bahwa ia di sana baik-baik saja besama Dinda juga Andi. Aldo menerima Handphonenya dan segera meninggalkan Riko yang sedang terbaring lemas di atas ranjang. Kemudian para perawat memasangkan jarum infus di lengannya.
“thank’s, Al” seraya ia melambaikan lengannya yang sudah terpasang infusan itu. Aldo pun membalikan badan dengan mengacungkan jempol sambil tersenyum pada kakaknya itu.