KEBENARAN

1485 Kata
Perang dingin antara Riko dan adik kandungnya Aldo sudah berlangsung sejak 3 tahun lamanya. Tepat 4 tahun yang lalu ayah mereka meninggal. Aldo yang begitu dekat dengan ayahnya merasa sangat terpukul atas kepergian ayahnya itu, namun kenyataan memang harus bisa diterimanya. Ia mencoba tegar menghadapi hidup tanpa ayahnya. Aldo memang dekat dengan ayahnya, namun karena prestasi Riko yang luar biasa hingga bisa diangkat menjadi dosen tetap di salah satu universitas besar di Bandung itu selalu menjadi bahan pembicaraan ayah dan ibunya. Terlihat jelas bahwa kedua orang tuanya sangat membanggakan Riko, terlebih lagi ibu mereka. Sejak kecil, ibu mereka selalu lebih memperhatikan Riko ketimbang Aldo, adiknya. Aldo selalu dinomor duakan oleh ibunya sendiri, namun ayahnya selalu menjadi pengobat kekecewaannya. Dan setelah ayahnya meninggal, Aldo merasa tak ada lagi yang bisa membelanya dan memperhatikannya seperti ayahnya memperhatian dia. Selain selalu merasa dinomor duakan, Aldo juga selalu merasa kalah dari Riko. Setiap apa yang diinginkannya, pasti Riko mendapatkannya lebih dulu karena Riko selalu mendapat dukungan penuh dari ibunya, sementara Aldo merasa seperti sendiri sejak kepergian ayahnya. Tak ada lagi yang selalu membelanya dan memberi dukungan pada dirinya seperti yang selalu dilakukan oleh ayahnya. 1 tahun setelah kepergian ayahnya ia menemukan secarik kertas yang merupakan surat kematian ayahnya. Disana tertulis bahwa ayahnya meninggal karena kecelakaan, sementara saat itu Aldo tak mengetahui apa-apa karena saat ayahnya meninggal, ia sedang mengikuti kegiatan OSPEK yang diselenggarakan di luar kota. Ia hanya mendapatkan kabar, bahwa ayahnya meninggal karena serangan jantung. Namun ternyata ayahnya kecelakaan saat menjemput Riko di bandara yang baru saja pulang dari Malaysia. Kala itu Riko juga ikut celaka, namun ia sehat karena ayahnya melindunginya. Pecahan kaca yang mungkin akan menusuk kepala Riko, tak sampai kepadanya karena ayahnya dengan sigap menghalangi tubuh Riko. Riko dan ibunya menutupi kejadian tersebut, atas dasar permintaan ibunya. Ibunya hanya tak mau Aldo marah dan menyalahkan Riko sebagai penyebab kepergian ayahnya. Hanya satu tahun saja mereka berhasil menutupi semunya, hingga akhirnya Aldo mengetahui yang sebenarnya dan ia begitu marah besar pada Riko juga ibunya. Sejak saat itulah perang dingin antara dua kakak beradik itu terjadi. Setelah tiga tahun berlalu hubungan mereka masih seperti itu. Ada penyesalan dalam benak ibu mereka, karena membuat dua anaknya tidak berhubungan baik bertahun-tahun lamanya. Ibu mereka kini sadar, bahwa sejak dulu ia terlalu membela Riko tanpa pedulikan perasaan Aldo, kini Aldo telah tumbuh dewasa dan mengerti semuanya. Saat ibunya mencoba untuk memperbaiki sikapnya pada Aldo, justru Aldo tak menerimanya dengan baik. Mungkin ia terlanjur kecewa pada wanita yang telah melahirkannya itu. Malam itu mereka berpapasan di tangga dalam rumahnya. Riko yang baru saja datang hendak menuju ke kamarnya, dan Aldo yang hendak turun untuk pergi keluar nongkrong dengan teman-temannya. Aldo yang dikenal selengean, petakilan, dan sok asik oleh Aluna sama sekali tidak terlihat demikian saat di rumahnya. Mereka saling menatap penuh benci, entah kebencian seutuhnya dari hati atau hanya karena rasa kecewa yang terlebih dari Aldo. Tak mau berdebat, Aldo berlalu tak hiraukan lagi pandangan kakaknya itu. Namun Riko menarik lengannya, dan dihempaskannya lagi genggaman Riko oleh Aldo. “atas dasar apa lo deketin Aluna?” “kenapa? Lo cemburu, Bang?” “ngapain lo deketin Aluna?” “bukan urusan lo!” “kenapa sih lo? Segitu bencinya lo sama gue? Kenapa???!” “karena lo munafik! Sok asik! Sok baik! Padahal licik!” “gue munafik? Terus gimana sama lo? Sok asik sama cewe, sok baik, sok perhatian! Nyokap lo sendiri, gak pernah lo perhatiin! Gak pernah lo ada itikad baik untuk hormat sama ibu lo sendiri! Perempuan yang udah lahirin lo, berjuang setengah mati buat biarin lo kasih kesempatan idup di sini! Aluna itu marah besar sama bokapnya karena gak pernah dikasih tahu apa pun tentang ibu kandungnya. Tapi dia masih bisa hormat sama bapanya!” Aldo hanya diam membisu tak menjawab lagi. “diem? Ngerasa salah? terserah lo, deh! Bagus kalo lo mikir!” Riko berlalu meninggalakan adiknya yang masih mematung di sana. Ia tak mau ibunya mendengar pertengkaran antara dirinya dengan Aldo. Karena itulah Riko memilih untuk tidak membuat perdebatannya semakin panjang. Aldo berlalu untuk melanjutkan niatnya, ia keluar dan berlalu melaju dengan menggunakan motor besarnya. Ibunya yang sedari tadi mendengar pertengkaran kecil yang baru saja terjadi di antara kedua anaknya itu berdiri di depan jendela setelah memperhatikan Aldo yang pergi entah kemana. Air matanya tak terbendung lagi. Jatuh dan membasahi wajahnya yang mulai mengerut. Ia menyesali perlakuannya yang tidak adil untuk Aldo, namun kini ia tak bisa berbuat apa-apa dan hanya berharap Aldo kan mengerti dengan kedaan yang sesungguhnya. Ada sesuatu yang juga tak diketahui oleh Aldo mengenai kakaknya. Ayah dan ibu mereka menutup rahasia ini bertahun-tahun lamanya. Sejak Riko kecil hingga Aldo lahir dan mereka tumbuh dewasa, rahasia itu masih tertutup rapih tak diketahui siapa pun, kini hanya ibu mereka dan Riko yang mengetahuinya. Sejak kecil Riko difonis memiliki penyakit jantung. Ayah dan ibunya yang semula memilih untuk menutupi penyakit yang diaalami olehnya itu akhirnya dengan kuat hati terpaksa memberitahukannya saat Riko duduk di bangku SMA. Riko yang semasa SMA selalu aktif dengan kegiatan-kegiatan pencinta alam, membuat ayah dan ibunya terus kawatir ketika harus membiarkan anak sulungnya itu pergi dalam kegiatan ekstrakurikuler yang dicintainya itu. Riko difonis memiliki penyakit jantung saat usia 7 tahun. Ada sedikit masalah dalam jantungnya sehingga terkadang membuat Riko jatuh karena rasa sakit yang tak terkendali. Kala itu ibunya tengah mengandung Aldo. Sempat ibunya berpikir untuk menggugurkan Aldo ketika masih dalam kandungan yang berusia 4 bulan, namun ayah mereka sama sekali tidak menginginkan hal itu. Ibu mereka pun menguatkan diri menutupi kenyataan pahit yang harus diterima itu. Aldo lahir ke bumi, dan ia besarkan dengan sepenuh hati, kekawatirannya bahwa Aldo juga akan mengalami hal yang sama seperti kakaknya itu tidak terjadi. Aldo tumbuh sempurna dengan sehatnya. Dan ia tumbuh besar juga seperti Riko yang senang dengan kegiatan berpetualang. Masuk keluar hutan, naik turun gunung sudha menjadi hobinya. Riko mendapat warisan penyakit jantung dari kakeknya yang merupakan ayah dari ayah mereka. Hingga Riko harus tumbuh besar dengan berbagai macam obat-obatan yang ia ketahui bahwa itu hanya suplemen dan vitamin untuk tumbuh kembangnya. Sejak kecil Riko juga selalu bolak-balik rumah sakit karena penyakitnya yang kala itu belum ia ketahui. Segala cara telah dilakukan oleh kedua orang tuanya untuk kesembuhan Riko, namun masih belum mendapatkan jalan untuk kesembuhan Riko. Satu-satunya cara adalah dilakukan transpalantasi jantung, namun untuk mendapatkan jantung yang cocok bagi Riko begitu sulit. Hingga Riko tumbuh menjadi remaja dan mempertanyakan tentang obat-obatan yang selalu diminumnya, juga tentang rasa sakit yang menghantam jantungnya ketika ia lelah atau stress juga mengalami hal buruk lainnya. Ibunya pun menjelaskan tentang semua yang harus menimpanya sejak ia usianya 7 tahun. Riko terdiam mendengar semua itu, namun ia tak putus asa karena ia memiliki kedua orang tua dan adik laki-laki yang ia harap bisa menerimanya. Namun Aldo tak pernah mengetahui hal tersebut, sampai mereka tumbuh dewasa. Sejak hubungan Aldo dan Riko merenggang karena kepergian ayahnya, ibu mereka selalu merasa kawatir ketika telah mendapati mereka bertengkar atau berdebat saling menegang. Namun ia tak mau Aldo mengetahui apa-apa tentang kakaknya, ia memilih menjaga Riko dari kejauhan, memastikan tidak akan terjadi apa-apa pada anak sulungnya itu. Saat ini usia Riko menginjak 28 tahun. Kondisinya selalu terlihat kuat karena obat-obatan yang tak pernah tertinggal. Setiap kali Riko lupa, ibunya selalu mengingatkannya. Tak menyangka Riko bertahan selama itu. Selama 21 tahun ia menderita dengan kondisi jantungnya yang tidak sama dengan yang lainnya. Ibu mana yang tega menyaksikan anaknaya dilanda kesakitan yang hebat ketika sesekali penyakitnya kumat. Riko bertahan karena orang-orang yang ia sayangi dan menyayangninya. Terlebih lagi ibunya. Ibunya tak pernah berharap apa-apa tentang Riko, hanya berharap Tuhan memberikan kesembuhan bagi putra sulungnya itu. Namun beribu syukur juga ia panjatkan pada Allah Swt. Yang telah memberikan keajaiban dan mukjizatnya yang begitu besar atas kesehatan Riko hingga 28 tahun lamanya. Meski terkadang penyakit itu sesekali menerpa tubuh sehat Riko dan membuatnya harus dirawat di rumah sakit, namun bersyukur Riko masih diberi kesempatan hidup. Sekali waktu saat Riko baru saja mengenal Aluna, ia bawa gadis kecil itu ke rumahnya dan diperkenalkannya pada ibunya. Ibunya tersenyum menyambut kedatangan Aluna dan menerima perkenalannnya dengan baik. Riko terlihat begitu senang mengenal Aluna, ibunya turut senang karena melihat anaknya bahagia mengenal Aluna. Selain Aluna begitu baik, ia juga sopan meski kala itu Aluna masih menjadi gadis yang pendiam dan sangat pemalu. Beberapa kali Riko membawa Aluna ke rumahnya, tak pernah bertemu dengan Aldo. Riko juga ibunya pun tak pernah meyebut nama Aldo karena ia yang tak pernah ada di rumahnya, dan hidup dimana saja ia mau. Kini kekawatiran pun timbul di dalam benak Riko. Jika suatu saat nanti Aldo nekad membawa Aluna ke rumahnya, maka pasti Aluna akan sangat marah dan kecewa karena merasa dibohongi olehnya, karena Riko tak pernah mau menjelaskan apa pun tentang Aldo, dan membiarkan persepsi Luna yang berpikir bahwa Aldo dan Riko bukanlah saudara satu darah. Ia memang sudah memikirkan, bahwa ia kan menceritakan yang sebenarnya suatu saat nanti. Di kala waktunya telah tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN