Semenjak Aluna mengenal Aldo, teman dekatnya bertambah meski pun Aldo selalu datang dan hilang dengan misterius, namun Aluna juga senang mengenalnya. Aldo memang tidak sering menemui Aluna, karena ia lebih sering melihat Aluna bersama Riko kakak kandungnya.
Sekali waktu ketika Aluna sedang sendiri di kantin, Aldo menghampirinya dan mengajaknya bersenda gurau. Mereka memang baru saling mengenal beberapa bulan saja. Namun Aldo telah mengenal sosok Aluna sejak 2 tahun lalu. hanya saja ia tak pernah berani mendekatinya, karena dahulu Aldo masih merasa kalah dengan kakanya. Namun kini ada misi tertentu yang menjadi tekadnya untuk bisa dekat dengan Aluna
Melihat tawa Luna yang selama dua tahun ini tak pernah ia dapati dari wajah manis Aluna, membuat ia begitu bahagia. Ia senang melihat Aluna bisa tertawa dengan siapa pun dan bagaimana ia bahagia, membuat hatinya begitu damai. Ia sadar rasa kagumnya kini berubah menjadi rasa yang lain.
Ia masih belum bisa mengungkapkan yang sejujurnya, karena kan ada waktunya nanti disaat Aluna harus mengetahui yang sebenarnya, tentang perasaan hatinya pada Aluna selama ini, tentang Riko sosok yang selalu terlihat begitu tulus menjaga Aluna.
“ehh.. tumben kamu sendirian. Biasanya kalo gak sama pak Riko, pasti ditemenin temen kamu yang banyak ngomong itu ya”
“iya, Dinda masih ada kelas. Pak Riko juga kayanya”
“kamu deket banget ya sama Pak Riko?” Aldo mulai memancing, untuk mencari tahu sejauh apa perasaan Aluna pada kakaknya.
“gitu deh, aku ketemu dia waktu kelas 3 SMA”
“udah lama ya”
“iya, dia juga yang ngusahain aku masuk ke kampus ini dengan beasiswa. Dia bantu aku untuk terus ikutin ujian saringannya, dia yang terus nyemangatin aku untuk berjuang. Disaat aku mulai nyerah, dia terus berusaha untuk bantu aku supaya gak jatuh”
“sebaik itu Pak Riko sama kamu?”
“gitu deh.. “
Mendengar Aluna bercerita, Aldo hanya diam. Menatap pesona wajah cantik Aluna yang polos namun begitu menyejukkan hati. Aluna selalu terlihat natural dan apa adanya, tutur sikapnya dan senyum manisnya begitu mendamaikan. Ia memang sedikit tak nyaman mendengar cerita Aluna yang terlihat begitu kagum pada Riko yang selalu ada di sampingnya sudah 3 tahun lamanya. Namun Aldo menutupi kekesalannya pada Riko di hadapan Aluna, yang sebenarnya belum mengetahui hubungan persaudaraan yang terjalin antara Aldo dan Riko.
Terlihat Riko sedang melenggang menuju kantin, namun ia terkejut mendapati Aluna sedang asik bersenda gurau bersama Aldo. Keduanya terlihat begitu akrab, dalam hati Riko timbul pertanyaan tentang kedekatan mereka. Belum lagi, waktu-waktu lampau yang pernah ia temui dimana Aldo tiba di kampus bersama Aluna.
Aluna tak pernah terlihat begitu dekat dengan Aldo di hadapan Riko lebih jelas. Luna sama sekali tak pernah bercerita tentang Aldo pada dirinya. Riko pun tak tahu sejak kapan Aluna mengenal Aldo dan dekat dengannya. Ketika ia menemukan lengan Aluna yang terluka pun, Aldo telah melakukan tindakkan lebih dulu. Dengan membalutkan sapu tangannya.
Ia begitu tahu kalau adiknya itu selalu sangat dingin terhadap wanita mana pun. Dan tak pernah menjalin hubungan dengan siapa pun. Seyiap ada wanita yang mendekatinya selalu ia tolak mentah-mentah. Tak ingin sesuatu terjadi di luar kendalinya, Riko mengurungkan niatnya untuk masuk kantin itu dan bertemu dengan Aluna yang sedang bersama Aldo.
Ia membalikan badannya, melenggang menuju taman belakang fakultas dan memilih berdiam di sana, di tempat biasa Aluna duduk. Dalam benaknya masih dipenuhi rasa penasaran, dan tanda Tanya besar tentang kedekatan yang terjadi antara Aluna dengan adik kandungnya itu. Mungkinkah Aldo menyukainya?
Ia terhanyut dalam lamunannya tentang Aluna, ada kekawatiran dalam hatinya, resah dan rasa tak karuan yang lainnya. Entah mengapa sejak menyaksikan keakraban Aluna dengan Aldo, hatinya menjadi tak tentu rasa. Tiba-tiba Dinda datang menghampiri dosen muda yang dikenal dengan ketegasannya di mata para mahasiswanya.
“hay Kak” menepuk pundak Riko.
“kamu, bikin kaget” protes Riko.
“yey.. Kak Riko aja yang ngelamun. Aku pikir ada Aluna, dimana ya ? tumben?”
“masih di kantin”
“hahh.. tumben, sama siapa?”
“Aldo”
“Aldo? Siapa tuh? Temen kelasnya?”
“satu Fakultas satu jurusan, tapi beda kelas. Beda angkatan!”
Riko nampak kurang semangat. Matanya tak mengarah kepada Dinda yang sejak tadi mengajaknya mengobrol. Dinda yang begitu penasaran, tentang Aldo terus bertanya-tanya tentang laki-laki itu.
“jadi ada cowo lain yang deket dengan Aluna selain Kak Riko? ihh aku kira selama ini Kak Riko ada apa.. gitu sama Aluna”
“apaan siyh kamu”
“terus Kak Riko tau apa lagi tentang si Aldo Aldo itu? Emang mereka deket ya? Sedeket apa?”
“gak tau” wajah Riko nampak suntuk dan kesal.
“yeyy… cemburu ni dosen kece ”
Riko tegas ke arah gadis kecil yang cerewet itu.
“kamu mau aku aduin sama Pak Ridwan, dan aku minta dia untuk kasih kamu nilai E di mata kuliahnya”
“yeee.. atas dasar apa? Atas dasar ngepoin dosen yang jadi sahabatnya gitu terus aku bisa dikasih nilai E? yee… lucu dehh ni dosen satu”
Dinda malah balik mengejek Riko yang mencoba mengancamnya agar tak mengganggunya lagi. Riko tersenyum gemas pada gadis kecil yang satu itu. Sikapnya yang polos dan suka blak-blakan membuat Riko juga merasa senang, dan bisa menghibur dirinya yang kala itu direndu kegalauan. Mereka pun asik ngobrol berdua, kemudian Aluna datang menghampiri mereka. Wajah Riko yang semula terlihat bersama tawanya tiba-tiba menjadi serius menatap kedatangan Aluna.
Riko mengatur nafas dan hatinya dengan tenang. Ia mencoba untuk menyembunyikan keresahannya. Hari ini adalah kedua kalinya ia melihat Aluna bersama Aldo. Ia masih tak bisa menerangkan tentang apa yang telah ia ketahui karena satu dan dua hal. Ia coba mentupi kegelisahan hatinya, dengan tetap bersikap santai pada Aluna.
“hay Al, dari mana aja? Ciee yang deket sama Aldo” Dinda menyapa Aluna lebih dulu sambil menggodanya.
“apaan siyh, Nda. Jangan ember deh!” protes Aluna.
“ciee.. ciee…”
“eh, kok kamu tahu Aldo siyh? Kenal juga?”
“ngga siyh… Cuma tadi Kak Riko yang bilang. Pasti tahu lah masa iya gak kenal mahasiswanya sendiri.
Aluna melirik ke arah Riko.
“berisik aja kamu” kali ini Riko yang protes.
Karena keasikan menggoda Aluna, tak sadar Dinda harus segera kembali ke kelas untuk mengikuti perkuliahan selanjutnya. Ia pun pamit pada Aluna dan Riko dengan tergesah-gesah. Memperhatikan hal tersebut, Riko hanya tersenyum geli sambil geleng-geleng. Aluna duduk di samping Riko dan mulai berbincang dengan Riko, karena jam masuk kuliahnya masih 2 jam lagi.
“belum ada kuliah lagi kamu?” Tanya Riko memulai obrolan.
“belum Kan, nanti masuk jam satuan”
“kamu.. sejak kapan deket sama Aldo? Kok gak pernah cerita?”
“udah beberapa bulan ke belakang lah… apa yang mau diceritain sih, Kak. Cowok rese petakilan gitu, sok asik, narsis, kepedean. Tapi yaa.. emang asik sih”
“komplit amat”
“ya emang gitu”
“banyak ngomong ya kamu sekarang” Riko tersenyum menggoda Aluna, sengaja membuatnya malu
“Kak Riko nih…”
“suka sama Aldo?”
“apaan sih, Kak! Kenal aja baru. Baik sih… kalo pas aku pergi atau pulang kuliah sendiri, dia yang temenin aku gantiin Kak Riko. Sama juga sih… tukang maksa juga!”
“jadi?”
“jadi apanya?”
Wajahnya mencoba untuk melempar senyum pada Aluna, namun dalam benaknya penuh pertanyaan besar tentang hubungan Aldo dan Aluna. Tentang maksud Aldo mendekati Aluna. Namun Riko tetap coba untuk mempositifkan pikirannya.
Mereka hanyut dalam kebersamaan siang itu. Bersenda gurau, dan sesekali Riko menggoda Aluna membuat pipinya merah merona bagai buah tomat yang baru saja matang. Tak terasa mereka telah menghabiskan waktu di taman itu selama 1 jam lebih. Riko mengingatkan Aluna akan jam masuk kuliahnya lagi, lalu langsung mengajak Aluna kembali ke gedung Fakultas agar tidak tergesah-gesah seperti yang terjadi pada Dinda baru saja.