Hari demi hari berlalu, keadaan rumah Luna kini tidak dingin lagi. Aluna selalu menunggu ayahnya pulang untuk mengajaknya sekedar makan bersama. Saat ayahnya bisa pulang lebih sore, setelah makan malam ia selalu nonton tv bersama.
Aluna bersandar pada tubuh kekar ayahnya. Ayah Luna mengusap halus rambut indah Luna, matanya berkaca-kaca mengingat semua perjalanan hidupnya di masa lampau, masa yang indah bersama istrinya yang masih ia sembunyikan keberadaannya dari Aluna. Ia tak terlalu kuat untuk mengungkapkan kebenarannya. Sifat pendiam dan pemalu Aluna memang merupakan sifat yang turun dari ayahnya. Sekilas terbayang wajah istrinya yang tak lagi di sampingnya. Kecantikan Luna merupakan warisan ibu kandungnya.
Malam itu ayah Luna mencoba untuk mengungkapkan apa yang selama ini dirahasiakannya.
“Aluna kangen ibu?” pancing ayah Luna
“iya”
“Aluna mau ketemu ibu?”
“ayah tau dimana ibu?”
Ayah Luna tersenyum mangangguk pelan. Ayah Luna berpikir sudah saatnya ia mengetahui dimana dan bagaimana ibu yang telah memberikannya kesempatan hidup di dunia ini.
“ibu cantik kaya Aluna. ibu baik, pintar, dan rajin persis seperti Aluna sekarang. Ibu juga yang kasih namamu Aluna, dia sayang sama Aluna. Ayah yakin itu”
Air mata ayah Luna tiba-tiba menetes di pipinya tak terkendali. Ada rasa pedih yang mendalam, ada rasa sakit yang menghantam ketika ia harus mengingat lagi istrinya yang sudah tak terlihat sekian lama ini. 20 tahun hidup tanpa seorang istri baginya bagaikan berdiri dengan sebelah kaki, terlebih lagi saat harus menjalani hidup dalam kehampaan ketika Aluna tak mengerti keadaan dan terus menghantam pertanyaan tentang ibu kandungnya.
Ayah Luna bermaksud untuk menjelaskan tentang keadaan yang sesungguhnya mengenai keberadaan ibu Aluna, namun belum berbicara banyak ayah Luna tak mendengar lagi Aluna berbicara. Ia usap air mata yang mebasahi pipinya. Ia tengok wajah cantik anak gadisnya itu, ia pun tersenyum mendapati Aluna yang sudah terpejam dengan manisnya.
Tak tega membiarkan gadis semata wayangnya itu tidur di atas kursi, ayah Luna memindahkan Aluna ke kamarnya. Ia baringkan tubuh kecil malaikat cantik yang selama ini telah menjadi pengganti istrinya yang begitu ia sayang.
Menatap wajah teduh gadis kecilnya ia merasa damai. Beruntung karena Tuhan telah menitipkan malaikat kecil nan cantik jelita seperti Aluna. Ia bahagia karena kini Aluna mulai mengerti tentang keadaan yang harus ia hadapi. Berjuta syukur ia panjatkan pada Tuhan yang Maha pemberi keadilan.
Di antara ketidaksempurnaan hidupnya tanpa seorang istri 20 tahun lamanya, namun ia titipkan juga malaikat penjaga hatinya yang penuh bakti dan kasih sayang. Meski tak ada jiwa yang bisa tergantikan oleh siapa pun, andai istrinya masih ada di sisinya pasti ia akan begitu merasa lebih sempurna.
Aluna terlelap dalam sejuta mimpi yang mengindahkan malamnya. Tergambar sosok wanita paruh baya yang masih cantik dalam mimpinya. Ia tersenyum melihat sosok yang dia panggil “ibu” dalam pejaman matanya. Mimpi itu adalah mimpi yang datang untuk ke sekian kalinya selama 20 tahun ini. Setiap kali ia menyimpan rindu, ketika itulah Tuhan mempertemukan mereka dalam lelapnya.
“ibu…” Aluna menggumam dalam tidurnya. Nampak wajahnya berseri, bibirnya tersenyum manis.
Ayah Aluna sepontan menghentikan langkahnya yang hendak pergi ke kamarnya. Ia membalikkan tubuhnya kembali menatap Aluna yang sudah terlelap sejak tadi. Ia pun turut tersenyum mendapati gadis kecilnya itu tengah tersenyum, dalam benaknya berkata “berbahagialah, nak. Meski hanya bisa bertemu dengan ibu di mimpimu” hatinya tertegun menahan kesedihan. Matanya lagi-lagi berkaca-kaca hingga menetes tak tertahan. Entah kapan ia akan kuat mengantarkan Aluna untuk bisa bertemu dengan ibu kandungnya, ia masih mengatur waktu dan hatinya agar bisa kuat mempertemukan keduanya suatu saat nanti. Bagaimana pun Aluna harus tahu sosok ibunya.
Ia melangkah dengan segala kerapuhannya. Entah mengapa disaat hubungan antara ayah dan anak itu baik, layaknya seorang ayah dan seorang anak pada umumnya justru rasa rindunya pada wanita yang telah melahirkan Aluna menjadi begitu bergejolak tak tertahan. Malam itu ia begitu merindukan istrinya, ia berjalan ke kamar dengan segala kesedihannya. Ia ambil secarik kertas juga bolpoin, untuk menuliskan isi hatinya. Begitulah caranya melepaskan rindu pada istrinya.
Kemudian ia berdiri di depan jendela kamarnya, ia tatap langit sendu malam itu. Dalam genggamannya ada sebuah foto yang masih ia simpan rapih di dalam lemarinya. Foto itu merupakan gambaran wajah istrinya, malaikat cantik yang ia cintai sejak puluhan tahun lalu yang telah memberinya gadis kecil pendamai segala keresahan hatinya.
Ia dekap erat foto itu hingga terlelap, hingga pagi tiba ia simpan foto itu lagi dengan rapi agar Aluna tak melihatnya. Tak ada maksud jahat dengan selalu menyembunyikan segala kenangan tentang ibunya. Ia hanya belum siap untuk menceritakan semua hal tentang wanita yang telah terpisah darinya sejak Aluna turun ke bumi.
Pagi pun tiba, Aluna terlambat bangun. Hari ini hari kamis, Aluna akan berangkat ke kampus pada pukul delapan tanpa Riko. karena setiap haris senin dan kamis Riko harus berangkat sangat pagi. Ayahnya yang sudah bangun lebih lebih dulu sudah menyiapkan sarapan untuk anak gadisnya itu. Ia bangunkan Aluna dengan lembut penuh kasih sayang. Ia usap halus rambut panjangnya, agar Aluna segera bangun dan bersiap-siap. Aluna terbangun dan tersenyum menyambut penjaga hidupnya itu dengan semangat.
Tak ia sesali apa yang terjadi, dan ia sangat berterima kasih pada Riko yang telah membantunya untuk mengerti, bahwa hidup ini tak sekedar penilaian pribadi. Meski ia sudah biasa hidup sendiri, namun setiap manusia hidup membutuhkan manusia hidup lainnya. Andai ia tak bertemu Riko, andai Riko tak terus melakukan banyak cara agar dirinya lepas dari rasa benci yang tak berarti sepanjang hidupnya.
“pagi ayah..” Aluna merangkul sosok pria yang telah menjadi malaikat penjaganya selama 20 tahun ini.
“pagi sayang… anak ayah masih bau nih” ayah Luna tersenyum sambil menutup hidung.
Aluna tertawa kecil, ia bangkit dari tempat tidur dan pergi untuk mandi. Selesainya mandi mereka makan bersama, karena keasikan bersenda gurau dengan ayahnya itu tak sadar waktu telah menunjukkan pukul delapan lewat lima menit. Aluna buru-buru menghabiskan sarapannya, tanpa minum kemudian pamit untuk segera pergi ke kampus.
“pelan-pelan makannya, nanti keselek”
“udah siang nih, aku pergi ya” Aluna bangkit dari tempat duduknya tanpa minum lebih dulu.
Ayah Luna yang memperhatikan anaknya sejak tadi, ikut bangkit membawa gelas yang berisikan air putih untuk diberikan pada anaknya, karena ia belum meneguk airnya setelah menghabiskan nasi goreng yang telah disiapkannya. Ayah Luna menyodorkannya saat Luna sedang mengenakan sepatu di teras, Luna tersenyum mengambil air yang diberikan ayahnya itu, kemudian ia pamit dengan buru-buru.
Karena ia terburu-buru dan tidak melihat jalan, ia tak sadar menabrak pohon yang terdapat rantingnya yang sudah patah di depan rumahnya itu. Ayah Luna sempat ingin mengingatkan namun Aluna terlanjur menabrak pohon dan ranting patah itu menggores keras pada legan kirinya. Luna kaget dan sedikit merasa sakit. Ia usap lengannya tak sadar sudah berdarah, ayah Luna menghampirinya dan hendak mengobatinya namun Luna menolak karena sudah terlambat.
Ia terpaksa membiarkan anaknya pergi dengan keadaan tangannya yang terluka, berharap kalau lukanya tidak begitu parah. Aluna berlalu. Tak ingin gadis kecilnya celaka lagi, ia pun memotong habis ranting yang telah patah itu.
Aluna tiba di kampus dengan menggunakan angkutan umum, luka di tangannya masih mengeluarkan darah, namun ia tutupi dengan lengannya. Bajunya kotor dengan darah yang keluar dari lengannya itu.
Aluna berjalan dengan cepatnya, namun kemudian berpapasan dengan Aldo di koridor gedung fakultasnya. Melihat Aluna terluka Aldo pun tak tinggal diam. Aldo bermaksud untuk mengantarnya ke klinik, ditolak mentah-mentah karena Luna tak mau meninggalkan perkuliahannya walaupun hanya sebentar. Namun Aldo menarik Aluna dengan sedikit memaksa, untuk sekedar membantunya menghentikan darah pada lengannya itu. Aluna pun memilih untuk diam dan membiarkan Aldo yang berniat baik padanya.
Aldo mengeluarkan sapu tangan yang biasa ia bawa. Dipasangkannya sapu tangan itu tepat pada luka Aluna yang masih basah dan terus mengeluarkan darah.
“mudah-mudahan luka kamu gak infeksi”
“makasih”
Aldo tersenyum dan mengantarkan Aluna sampai ke ruang kelasnya. Perkuliahan pun berlangsung. Aluna mengikuti perkuliahan dengan sedikit tidak konsentrasi karena rasa sakit dilengannya itu masih selalu ada. Bajunya yang kotor karena darah mengundang perhatian seisi kelas, beberapa temannya menawarkan jaket untuk dipakai menutupi bajunya yang dikotori bercik-bercik darah, namun Luna menolaknya dengan halus.
Perkuliahan Aluna selesai, seperti biasa Aluna pergi ke taman belakang gedung fakultasnya. Ia duduk di tempat biasanya, dan membuka ikatan kain kecil yang diikatkan oleh Aldo, yang sejak pagi melingkar menutupi lukanya. Ia buka secara perlahan, memastikan bahwa darahnya tidak lagi keluar. Namun tiba-tiba Riko datang, Aluna terkejut karena Riko tiba-tiba saja sudah ada di hadapannya, Riko pun terkejut mendapati baju Aluna penuh percikan darah, terlebih lagi ia melihat lengan Aluna yang terluka sedikit parah.
“ya ampun.. Luna”
“hh… hay Kak” Luna tersenyum garing, sudah terpikir kalau Riko akan sangat kawatir dengan luka di tangannya itu.
“ini kenapa? kok bisa luka kaya gini sih?”
“kena ranting pohon yang patah”
“hahh? Dimana?”
“di rumah…”
“gak bisa, ini harus dibawa ke klinik” Riko menarik lengan Aluna yang sedang mengusap halus tangannya yang terluka.
“gak ah, udah kering kok”
“bukan masalah udah keringnya, ini harus diobatin. Ranting pohon kan pasti ada getahnya”
“tapi..”
“tapi apa sih? Udah cepet ikut!”
Riko menarik lengan Luna dan menggandengnya menuju klinik yang berada di area kampus. Riko menunggu Aluna yang sedang diobati di dalam. Ia teringat sapu tangan yang digenggam Aluna yang telah dijadikan penutup lukanya itu ia kenal. Namun coba tak menghiraukannya lagi. Sobekan pada lengan Aluna harus dijahit. Karena lukanya didiamkan terlalu lama membuat proses pengobatannya sedikit lama karena jika tidak benar-benar dibersihkan, maka akan terjadi infeksi. Setelah selesai ditangani, Aluna keluar dengan keadaan lengannya yang sudah diperban.
Riko menyambut Aluna, memastikan bahwa tidak ada sesuatu yang parah terjadi pada Aluna. Ia membuka kemejanya dan memberikannya pada Aluna untuk menutupi pakaiannya yang penuh dengan percikan darah, Luna tahu ia tak akan bisa menolak pada Riko karena Riko akan memaksanya dengan gaya dosennya. Luna mengambil kemejanya dan langsung memakainya sambil menatap cemberut ke arah wajah Riko.
“kamu tuh ada-ada aja!”
“bawel banget. Ini kan udah diobatin”
Kemudian dokter keluar dari ruangangan dimana luka Aluna ditangani tadi. Dokter memberikan resep obat yang harus ditebus untuk Aluna, Riko pun menerimanya dengan ramah. Riko berjalan menuju meja adminstrasi untuk menyelesaikan semuanya serta menebus obat untuk Aluna. Kemudian mereka berjalan keluar meninggalkan klinik.
“aku anter kamu pulang sekarang, setelah itu aku harus balik lagi ke kampus karena ada urusan”.
“aku pulang sendiri aja deh”
“gak ada penawaran, kamu pulang sama aku sekarang!” Riko menatap serius ke arah Aluna dengan gemas.
“hemmm” respon Aluna dingin.
“ayah tau ini?”
“tau..” Luna menjawab santai
“terus?”
“gak aku kasih liat kuanya”
“Luna.. Luna..!” menghela nafas kesal.
Riko menuntun Aluna sampai ke parkiran, hendak mengantarkan Aluna pulang ke rumahnya. Sesampainya di rumah Luna, ayah Aluna terkejut melihat lengan Aluna sudah terbalut perban.
“wa’alaikumsalam… ini luka yang tadi pagi kena ranting pohon?”
Ayah Aluna keluar menyambut kedatangan anaknya yang diantar Riko. Matanya langsung tertuju pada lengan Aluna yang terbalut perban.
“iya om, udah siang baru ketahuan. Saya bawa ke klinik kawatir infeksi kena getahnya” jawab Riko dengan jelas.
Ayah Aluna geleng-geleng mengetahui tingkah anaknya yang masih saja selalu menutupi apa yang terjadi. Beruntunglah ada Riko yang selalu memperhatikan Luna disaat Luna tak terlihat oleh matanya sendiri.
“sampai diperban begini? Parah?”
“dijait, om” Riko menghela nafas, penuh maksud.
“ya ampun, ayah piker gak separah ini?”
“tapi om gak usah kawatir, kata dokternya udah aman. Ini ada obat antibiotic sama obat lukanya” Riko menyodorkan kantung plastic putih yang ia dapat dari klinik tadi.
“terimakasih banyak, nak Riko sudah sangat memperhatikan Aluna”
“gak apa-apa om (Riko tersenyum) saya langsung ya, masih ada kerjaan di kampus”
“owalah gak duduk dulu, ya sudah. Hati-hati ya, terimakasih sekali lagi”
Riko hanya tersenyum, mengusap kepala Aluna kemudian melenggang kembali dan melaju bersama motornya.