Hari Baru
Pagi tiba bersama matahari yang bersinar terang. Burung-burung berkicauan dengan ramainya saling bersahutan. Di pagi hari yang begitu segar itu Aluna sudah bangun sejak pukul 4 pagi. Pukul 6 ia sudah selesai mencuci pakaian, membereskan rumah serta menyiapkan sarapan untuk ayahnya.
Aluna tahu bahwa ayahnya dinas pagi, maka dari itu ia berusaha untuk bangun lebih pagi dari ayahnya dan menyiapkan semuanya. Sarapan pagi telah siap bersama teh manis hangat juga air putihnya, ayah Luna tersenyum melihatnya. Ia memang selalu membanggakan gadis kecil yang hanya satu-satunya itu. Meskipun tak pernah sekali pun ia disapanya, tapi jauh dalam benaknya ia begitu merasakan kasih sayang dari buah hatinya itu. Belum sampai duduk di kursi luna memanggil ayahnya.
“ayah..” matanya berkaca-kaca.
“ya, nak…” ayahnya menoleh ke arah Aluna yang sedang mematung di depan kamarnya.
Aluna menghampiri ayahnya, dan memeluk erat tubuh laki-laki paruh baya itu. Sosok yang selama ini selalu menjaganya, menitipkannya pada Riko saat ia tak bisa menjaganya. Dengan cara apa pun ayah Luna selalu berusaha untuk mendapati senyum dan tawa Aluna yang tak pernah ia dapatkan sedikit pun setelah Aluna tumbuh besar hingga dewasa. Ia pun memeluk erat tubuh gadis kecil yang ia sadari telah dibuatnya kecewa dengan rahasia-rahasia yang tak pernah ia buka mengenai ibu kandungnya. Keduanya menangis haru, belasan tahun ayahnya menunggu pelukan itu lagi. Entah karena apa Aluna kini memeluknya, namun ayah Luna merasa senang karena masih menjai sandaran bagi anak gadisnya itu.
“ada apa? Anak ayah kenapa?”
“makasih yah… maafin aku”
“nggak… Aluna nggak ada salah apa-apa sama ayah. Ayah sayang sama kamu, apapun yang ayah lakukan adalah apa yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang ayah kepada anaknya. Jika selama ini ayah masih menyimpan rapat-rapat cerita tentang ibumu, itu karena ayah terlalu sayang sama Aluna” ayah Luna masih merangkul erat tubuh mungil anak gadisnya itu sambil mengelus rambut panjangnya.
“sekarang, yang penting siapa yang bertahan untuk hidupku dan kebahagiaanku. Ayah dan Kak Riko adalah dua laki-laki yang selalu jaga Aku dengan baik. Aku gak mau kehilangan kesempatan aku bahagia sama ayah karena aku marah tentang rahasia ibu yang sampe sekarang masih ku tunggu”
“yaa.. yaa.. ayah ngerti nak, ayah ngerti. Maafkan ayah belum bisa mengungkapkan semuanya. Semoga Aluna mengerti”
Aluna mengangguk dalam pelukan ayah yang begitu menyayanginya itu. Pelukannya sangat erat seolah tak ingin dilepas lagi. Seperti saling melepas rindu bagai sudah terlalu lama tak bertemu. Keduanya larut dalam keharuan. Riko yang berjanji akan menjemput Aluna lebih pagi pun telah tiba, dan menyaksikan keharuan yang terjadi antara ayah dan anak gadisnya itu. Ia tersenyum bahagia campur haru terbawa suasana. Tak menyangka ia bisa mengenal gadis kecil setegar dan sedewasa Aluna.
Sejak hari itu, hari dimana akhirnya Luna berani menumpahkan segala keluh kesahnya pada Riko di tepi tebing yang menghadap jurang yang curam itu, Aluna kini terlihat berbeda. Wajahnya nampak selalu berseri, ia mulai berani menebar senyum pada siapa pun yang dikenalnya. Namun hal tersebut membuat teman-temannya menjadi heran. Terlebih lagi Dinda yang merupakan sahabat Aluna yang sudah dekat dengannya hampir 6 tahun lamanya.
Seperti biasa di tengah-tengah jeda kuliah yang panjang, Dinda selalu datang menemui Aluna hanya untuk mengobrol bersamanya, meski pun seringnya hanya Dinda yang mengoceh dan Luna selalu menjadi pendengar setia Dinda. Hari itu Dinda merasa heran karena Aluna nampak lebih berseri dan selalu tersenyum.
“ehh Al, waah Aluna senyum-senyum”
“emang kenapa? Biasa aja donk”
“waahh.. Aluna ngomongnya banyakan sekarang”
“apaan sih kamu”
“benerr.. kamu abis dibawa kemana sama Kak Riko?”
“ke hutan”
“waahh… gawat. Kemasukan penunggu hutan nih”
“bawel kamu. Jadi ke taman nggak?”
“nggak ah, aku mau cari Kak Riko, kenapa kamu sekarang berubah gini ya..” Dinda membalikan badannya untuk mendatangin Riko, namun Aluna menarik lengannya dan mengajaknya ke taman tempat biasa.
Sesampainya di taman, Aluna duduk di tempat biasa. Dinda pun duduk di sampingnya. Hatinya masih bertanya-tanya tentang Aluna yang kini nampak berbeda. Bukan ia tak senang kini temannya berubah menjadi lebih komunikatif, namun ia masih merasa heran atas apa yang telah terjadi pada sahabat baiknya yang kalem itu.
“makasih ya, Nda” Aluna tersenyum menghadap ke arah Dinda.
“Al, kamu kenapa?”
“aku gak apa-apa. Aku sekarang baru sadar, kalo aku selalu dikelilingin orang-orang yang sayang sama aku. Ayahku, kamu, Kak Riko. kalian gak pernah ninggalin aku disaat apapun. Padahal dengan sikapku yang pendiam, gak pernah ngajak ngobrol orang, mungkin aku ngebosenin. Tapi kamu bertahan tetep jadi temen baik aku, juga Kak Riko”
“ya ampun… Al” Dinda meraih tubuh Aluna dan memeluknya penuh ketulusan.
“aku seneng kamu berubah sekarang. Jadi aku gak akan ngerasa ngobrol lagi sama kambing conge kalo lagi curhat” sambung Dinda lagi, dengan nada canda sambil melepas pelukannya.
“sembarangan kamu” sikutnya bergerak menyentuh lengan Dinda.
Mereka berbincang panjang lebar. Bertahun-tahun mereka saling mengenal dan berteman baik, baru kali itu mereka terlihat berdiskusi dengan asyiknya.
Bukan hanya ayah Luna, Riko dan Dinda yang senang mendapati perubahan Aluna. Aldo yang telah memperhatikan Aluna sejak keluar kelas pun sudah mendapati perubahan Aluna yang lebih banyak tersenyum dan ramah pada siapa pun, turut merasa senang karena bisa melihat senyum manis gadis yang dikaguminya itu.
Aldo hanya berani memperhatikan Aluna dari jarak jauh, ia tersenyum melihat keakraban yang terjadi antara Aluna dan sahabatnya Dinda. Awalnya pemandangan dua sahabat baik itu terlihat tak terlalu indah, karena hanya Dinda yang banyak bicara. Sedangkan Aluna hanya diam dan berbicara seperlunya. Melihat tawa Aluna yang begitu mendamaikan hatinya membuat ia tetap mematung di sana, menikmati lukisan Tuhan yang paling indah yang nampak pada wajah Aluna yang cantik alami.
Namun tiba-tiba senyumnya berubah menjadi amarah ketika mendapati sosok laki-laki menghampiri Aluna dan Dinda yang sedang bersenda gurau. Yang tak lain laki-laki itu adalah Riko, laki-laki dewasa yang merupakan kakak kandungnya sendiri. Namun Aldo selalu terlihat begitu marah jika melihat Riko terlalu dekat dengan Aluna. ia pun pergi dengan hati kesal meninggalkan pemandangan yang baru saja terlihat indah, namun keindahannya memudar saat Riko hadir di antara keindahan itu.
“doorrr” Riko datang menghampiri dua gadis yang sedang terlihat asik bersenda gurau.
“ciee.. Kak Riko.yang berhasil. Diapain ni anak” sahut Dinda
“apaan siyh ndaa… godain mulu dari tadi” protes Aluna.
Aluna tetap Aluna, meski pun ia kini mencoba untuk menjadi sosoknya yang berbeda agar bisa lebih menghargai orang-orang yang telah peduli dan menyayanginya, ia tetaplah gadis pemalu yang tak terlalu suka digoda. Saat Dinda dan Riko kompak menggodanya, ia memilih untuk diam karena tak tahu harus berbuat apa. Wajah cantiknya menjadi merah merona, karena menahan malu. Ia hanya senyum-senyum kalem saat Dinda heboh menggodanya.
Riko tersenyum ke arah Aluna, ia senang melihat gadis yang selalu dipujanya itu kini da[at menebar senyum pada siapa pun. Aluna tetap akan menjadi Luna yang ia kenal. Ia yakin itu.