Suatu pagi, Riko terlihat sedang mencuci motor di teras rumahnya. Aldo yang ternyata merupakan adik kandungnya itu berlalu begitu saja tanpa permisi. Hubungan antara kakak beradik itu memang tidak pernah harmonis sejak beberapa tahun lalu, terlebih lagi setelah Aldo mengetahui kedekatannya yang berbeda dengan Aluna.
“Al..” Riko memanggil adiknya itu dengan tenang, namun Aldo tak menghiraukannya
Riko pun mengejar Aldo dan menarik pundaknya agar Aldo berhenti.
“kenapa siyh lo, selalu ketus sama gue?”
“gak perlu tau, bang. Yang jelas lo harus pikir-pikir lebih panjang lagi masalah hubungan lo sama Aluna!”
“lo suka sama dia? Lo cemburu?”
“harusnya lo bisa paham maksud gue. Lo pikir aja kalo Luna sampe tau yang sebenernya!”
Aldo berlalu tak menghiraukan lagi kakak kandungnya itu. Riko terdiam seperti mengingat sesuatu yang entah bagaimana cara meluruskannya. Yang jelas dan pasti, Riko sudah terlanjur nyaman dengan Luna. Namun ada yang ia takutkan juga, jika suatu saat nanti hubungan baik mereka harus berakhir buruk. Namun Riko masih coba menepis pikiran-pikiran buruk itu. Dalam benaknya hanya ingin membuat Aluna bahagia.
Setelah selesai mencuci motornya, Riko bersiap-siap untuk pergi bersama Luna. Ia ingin hari ini dilalui dengan cara yang berbeda. Ia akan mengajak Luna pergi ke tempat dimana Luna bisa berefreshing. Sesampainya di rumah Luna, ia langsung pamit pada ayah Luna untuk membawa Luna pergi menghabisakan hari liburnya bersama.
Luna takjub menyaksikan keindahan alam yang belum pernah ia liat. Suasana hutan hijau nan sejuk, dan gemercik air sungai yang mengalir deras juga jernih membuat hatinya begitu merasa damai. Kala itu untuk pertamakalinya Riko menyaksikan senyum manis Aluna yang lebar seakan-akan puas dengan apa yang dilihatnya. Menyesal Riko tak pernah mengajak Aluna pergi ke tempat seperti itu sejak dulu.
“gimana? Suka donk tempatnya?”
“suka” Aluna tersenyum lebar sambil mengangguk
“makasih ya, Lun”
“untuk apa?”
“hari ini aku puas liat kamu senyum lebar kaya gitu”
Luna tersipu malu, wajahnya memerah. Tapi Riko lantas menggodanya, sambil menuntunnya menuju mata air yang begitu jernih. Selain terdapat sungai yang panjang, di tempat itu juga terdapat air terjun yang tinggi dengan debit air yang banyak. Riko tahu Aluna begitu menyukai air. Hal itu ia ketahui saat Aluna selalu senang memandangi hujan yang turun ke bumi. Dengan sengaja ia keluar rumah dan duduk di teras hanya untuk memperhatikan tetesan air yang turun dan jatuh membasahi tanah. Entah atas dasar apa, tapi Aluna seperti nyaman menikmati sejuknya air.
Setelah asyik bermain air serta berkeliling mengitari area wisata alam ditempat itu, Riko mengajak Aluna untuk makan siang. Di sana terdapat jongko-jongko juga kios-kios yang berupa warung kecil atau tempat makan. Tempatnya indah karena selain sambil menikmati makanan sederhana yang enak juga bisa menikmati pemandangan alam yang asri. Setelah selesai makan mereka berjalan lagi. Kali ini Riko mengajak Luna menuju tepi bukit yang terdapat tebing-tebing tinggi. Di sana tidak terlalu ramai, mereka milih untuk berdiam mengistirahatkan tubuh di tepi tebing yang terdapat jurang curam di bawahnya.
“kamu bisa teriak di sini, bebas… paling ngga sedikit beban pikiran kamu berkurang meski dengan berteriak di sini tu gak menyelesaikan masalah”
Luna hanya menggelengkan kepala
“sebenernya apa yang lagi kamu pikirin sekarang?” Riko mulai bertanya serius
Luna hanya menoleh ke arah Riko tanpa menjawab apa pun, pandangannya memang penuh makna dan teka-teki. Riko pun menatap mata Luna dalam-dalam mencoba mencari apa yang sedang dirasakan Aluna melalui matanya. Namun ia masih tak mendapatkan jawaban apa pun.
Riko tersenyum pada Luna kemudian meluruskan tubuhnya menghadap tebing-tebing yang terhalang jurang itu. Ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas bebatuan yang tidak terlalu keras karena dilapisi rumput-rumput liar yang rimbun.
Luna terdiam, begitu juga Riko. Ia masih terlentang menatap langit siang yang tidak terlalu terik, karena matahari sudah melewati atas kepalanya. Hari memang sedang menuju sore. Namun kemudian Riko dibuat bangun secara sepontan saat mendengar jawaban Luna. beruntung kakinya memijak keras di bebatuan sekitaran tepi tebing tersebut.
“ibu…”
Aluna seperti mulai bersedia untuk mengungkapkan isi hatinya. Riko duduk dan menolehkan pandangannya ke arah matanya.
“kenapa Lun?” Riko didera rasa penasaran.
“20 tahun Kak, aku gak pernah tahu siapa ibuku sebenernya. Jangankan ketemu, wajahnya aja aku gak pernah tau” matanya mulai berkaca-kaca.
“ayah kamu?” Riko bergeser, duduk dengan jarak yang lebih dekat dengan Aluna.
“iya… itu yang bikin aku tumbuh dengan kekecewaan. Aku marah sama ayah. Tapi aku sayang sama ayah. Entah dengan alasan apa, ayah gak pernah sedikit pun cerita tentang ibu. Bahkan saat aku bertanya tentang keadaan ibuku, ayah malah diem”. air matanya tak terbendung lagi, perlahan menetes di wajah polosnya itu.
“terus Lun…” Riko mengusap air mata Luna, dan membiarkan Luna terus mengungkapkan apa yang memang harus diungkapkannya.
“20 tahun aku hidup dengan amarah yang tertahan, 20 tahun aku hidup dengan rasa kecewa yang terbendung, rindu akan sosok seorang ibu. Terus mengecam keadaan, menuntut keadilan. Aku pikir Tuhan yang jahat. Tapi mungkin aku salah piker (mengehela nafas, dadanya terasa sesak). Aku lelah Kak. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk gak bertanya-tanya lagi sama ayah tentang ibu. Entah… apa aku harus benci sama ayah atau nggak” wajahnya lurus searah dengan tubuhnya menghadap tebing yang tepat berada di sebrang tempat dimana ia dan Riko berpijak.
“ayah membesarkan kamu sampai kamu seperti ini sekarang, aku rasa bukan sekedar untuk membalas rasa bersalahnya. Tapi karena dia sayang sama kamu. Mungkin ada alasan lain, kenapa ayah menutup rapat rahasianya sampe kamu sebesar ini” Riko meraih pundak Aluna yang masih tersedu.
“aku paham Kak, tapi hatiku lain. Aku kadang berpikir ayah begitu jahat dengan membiarkan aku gak sedikit pun tau tentang keberadaan ibuku sendiri”
“aku ngerti apa yang kamu rasain. Ini Lun, yang selama ini aku tunggu” Riko pun menghela nafas.
“aku selalu memilih untuk diam, karena aku gak tau harus gimana. Andai semua orang tau gimana rasa hidup dan tumbuh besar dengan rasa kecewa yang tak pernah ada batasnya” Aluna menunduk.
“aku salut sama kamu. Kamu kuat. Kamu tegar. Kamu masih bisa berbakti sama ayah kamu meski pun amarah yang tumbuh dalam hati kamu itu terus berkembang sama ayah kamu”
Riko memeluk erat tubuh Luna yang akhirnya roboh setelah ia melepaskan unek-unek yang selama ini selalu ia pendam. Bertahun-tahun ia menahan rasa sakit atas kekecewaannya terhadap ayahnya yang selalu menutupi tentang keberadaan ibunya. Tangis Aluna memecah tak terkendali.
Riko pun memahami kepedihan hatinya selama ini. Mengapa Aluna tumbuh menjadi gadis pendiam dan acuh terhadap apa pun yang ada di sekitarnya. Ia pun paham mengapa beberapa kali selalu mendapati Aluna tengah murung atau menangis, mungkin selalu ada saat-saat hatinya dilanda kerapuhan karena rindunya sedang melonjak terhadap wanita yang telah melahirkannya, yang entah dimana keberadaannya.
Riko memberikan sebotol air mineral yang ada dalam tasnya, untuk sedikit menenangkan amarahnya, dan juga meredakan amarahnya.
“masih ada Lun?”
“makasih, Kak”
“apa pun, Lun. Apa pun yang menyangkut kebahagiaan kamu, pasti aku usahain semua untuk kamu. Entah karena apa aku tertarik untuk kenal sama kamu, bertahan untuk selalu ada di samping kamu meski gak pernah ada komunikasi yang berarti di antara kita. Tapi aku yakin kamu bisa menerima maksud baik aku untuk selalu bisa jaga kamu. Kamu adik perempuanku yang aku sayang sejak 3 tahun lalu. dan aku gak pernah menyesali hal itu”
Aluna tersenyum pada laki-laki dewasa yang selalu menjaganya itu. Riko pun tersenyum sambil mengusap air mata Aluna yang masih tergenang di pipinya.
“gimana sekarang?”
Aluna hanya mengangguk, wajahnya nampak lebih segar. Riko bangkit dari duduknya dan menarik lengan Luna mengajaknya untuk berdiri menghadap alam hijau yang luas itu. jika menatap ke bawah, nampak jurang curam entah dengan kedalaman berapa puluh meter.
“itungan ketiga kita teriak sama-sama untuk orang yang paling kita rindu. Siap?”
“oke”
“satu… “
“dua…”
“tigaa…”
Riko berteriak menyebutkan kata rindunya untuk ayahnya yang sudah meninggal sejak 4 tahun lalu, sedangkan Aluna berteiak menyampaikan pada alam salam rindu untuk ibu kandungnya yang tak pernah ia ketahui keberadaannya.
Seusai berteriak kencang, Aluna dan Riko tertawa bersama. Betapa indah hari itu bagi mereka. Terlebih lagi bagi Riko yang baru saja mendapati Aluna tertawa lepas. Bertahun-tahun Riko menanti hal itu. Aluna yang jarang sekali berbicara, bahkan sekedar tersenyum hari itu bisa bercerita dengan panjang lebar dan mengeluarkan tawanya yang pertama kali di hadapan Riko.
Riko tersenyum memandang wajah Aluna yang kini sudah mulai berseri. Matanya tegas menatap ke arah wajah cantik Luna yang terlihat semakin bertambah manis dengan senyumannya bersama lesung pipinya yang semakin jelas terlihat saat ia tersenyum dan tertawa. Wajah Aluna tiba-tiba berubah lagi serius, menyembunyikan rasa malunya ketika mendapati mata Riko yang masih fokus terarah pada wajah cantiknya itu.
“mm.. Kak Riko ngeliatin aku segitunya”
“kamu cantik, andai aku bisa menikmati senyum kamu setiap hari”
Wajah Aluna memerah karena malu. Dan ia pun tersenyum lagi pada Riko yang selalu setia menamaninya dikala apapun. Tak terasa hari sudah sore, Riko membereskan semua perbekalan mereka dan mengajak Luna untuk pulang. Ia membuka jaket yang sedari tadi dikenakannya untuk dipakaikan pada Aluna, karena jaket Luna basah saat mereka bemain air di sungai tadi.