Sejak perkenalannya langsung dengan gadis yang begitu dipujanya itu ia menjadi lebih berani untuk selalu mendekatinya dikala Aluna sendiri. Saat Aluna sendiri, Aldo datang tiba-tiba dengan buah tangan sederhana hanya untuk penghibur dan pemancing senyum gadis yang selalu dingin pada siapa pun itu. Tak jarang juga Luna dibuat kaget oleh tingkah Aldo yang tak pernah kalem. Namun jika Riko ada di sisi Aluna, ia memilih untuk tidak menghampirinya dan memperhatikannya dari jauh saja.
Aldo masih memilih untuk tetap memandang kebersamaan Aluna dengan Riko dari belakang. Jika Luna sedang bersama Riko atau Dinda, Aldo tak pernah berani untuk menghampirinya dengan alasan-alasan tertentu yang tak pernah diketahui oleh Luna.
Aldo yang begitu akrab dan selalu sok asik ketika menggoda Luna, kapan pun saat Aluna sendiri saat itu nampak berbeda. Aluna yang sedang berjalan berdampingan dengan Riko di koridor gedung Fakultas, berpapasan dengan Aldo. Aldo yang biasanya selalu menyapa Aluna dengan gaya selengeannya, kali ini hanya diam. Matanya menatap tajam, namun bukan ke arah Aluna melainkan ke arah Riko penuh teka-teki. Aluna pun berlalu begitu saja tanpa rasa penasaran sedikit pun. Ketika Aldo telah berlalu dari hadapan Riko juga Luna, Riko lantas sedikit mengarahkan pandangannya pada Aldo.
Entah apa yang sebenarnya terjadi di antara Aldo dan Riko. seperti ada yang mereka sembunyikan, mungkin mereka pernah saling mengenal atau entah mungkin apa. Pandangan Aldo pada Riko seperti penuh amarah, namun Riko masih memandang santai. Apa mungkin karena Aldo merasa cemburu pada Riko, karena ia diam-diam pun menyimpan rasa lebih dari sekedar mengagumi Aluna.
Pagi ini Aluna harus pergi lagi ke kampus sendiri. Aluna sedang berdiri menunggu angkutan umum yang lewat menuju kampusnya. Hari ini bukan hari senin, melainkan hari rabu. Karena ada acara kampus yang melibatkan Riko, maka dengan berat hati Riko terpaksa harus membiarkan lagi Aluna pergi dan pulang kuliah tanpanya.
Namun nasib Luna selalu beruntung. Aldo tiba-tiba muncul di dekatnya untuk mengajak Luna pergi menuju kampus bersamanya. Aldo langsung memberikan helm pada Aluna yang masih berdiri tegak menghadap jalan, kepalanya masih celingukkan mencari kendaraan umum yang akan lewat.
“udah gak usah nyariin lagi angkot. Ikut ojeg abang aja neng. Hehe” lagi-lagi ia menggoda Aluna dengan gayanya yang sok asik.
Karena takut telat sampai di kampus, akhirnya Aluna menerima lagi ajakan Aldo. Sesampainya di kampus, Luna turun dari motor besar yang dikendarai oleh Aldo. Ia pamit setelah mengucapkan terimakasih, Aldo pun tersenyum dan kembali mengucapkan terimakasih karena telah mau menerima ajakannya.
Tak sengaja Riko yang tengah sibuk mempersiapkan acara kampus nanti sore bersama para anggota senat, mendapati Aluna yang baru saja terlihat sedikit akrab dengan Aldo yang juga dikenalnya. Mata Riko melotot, ia terkejut melihat Luna turun dari motor Aldo.
Masih menikmati rasa penasarannya tiba-tiba seorang mahasiswa menepuk pundak Riko, untuk meminta komentar dari hasil dekorasi yang sudah dikerjakannya. Ia pun mencoba untuk melupakan sementara apa yang sudah dilihatnya untuk kembali fokus pada acaranya bersama para mahasiswa anggota senat nanti malam.
Aluna berjalan menuju ruang kelasnya di lantai 3, sedangkan Aldo hanya mengikutinya dari belakang. Ruang kelas Aldo juga berada di lantai 3, hanya saja beda blok. Saat melewati ruang kelas tempat Aluna dan teman-temannya kuliah, Aldo iseng melirik ke dalam kelas hanya untuk mencari tahu dimana Aluna duduk, tak sengaja Aluna pun menoleh ke arah pintu yang masih terbuka, di sana terdapat Aldo yang sedang iseng memperhatikannya. Ia pun berlalu melanjutkan jalannya sambil melambaikan tangan dengan melempar senyuman iseng.
Perkuliahan Aluna hari itu hanya berlangsung 4 SKS, pukul 11 Aluna sudah bebas dari mata kuliah. Seperti biasa Aluna pergi menuju taman yang berada di belakang gedung fakultasnya. Saat berjalan menuju taman, Riko mendapati Aluna sedang berjalan sendirian dan memutuskan untuk mengikutinya ke taman, kebetulan persiapan sudah selesai. Hanya tinggal menunggu gladi pukul 1 nanti. Riko memiliki waktu untuk bersantai walau hanya sebentar. Ia pun ingin memastikan dengan siapa Luna di taman itu.
Sesampainya di taman, Luna terlihat duduk sendiri. Ia pun memutuskan untuk menghampiri gadis cantik itu, sekedar menemaninya juga melepas rindunya. Tak dapat ditangkis, terkadang rasa rindu itu ada dalam benaknya ketika ia tak memulai paginya dengan mendapati sinar natural yang terpancar dari wajah Aluna.
“hay..”
“kak Riko?”
“iya.. udah lama?” Tanya Riko basa-basi.
“baru kok”
“hmm… “ tiba-tiba Riko menjadi gugup
“hm..?” raut wajah Aluna menunjukkan tanda tanya.
“nggak… kamu udah makan?”
Riko mengubah maksud pertanyaannya, yang sebenarnya ingin mencari tahu, mengapa ia bisa tiba di kampus bersama Aldo, dari mana dan sejak kapan gadis yang ia sayangi itu mengenal Aldo. Ia memang pernah juga melihat Aluna ketika bertabrakkan dengan Aldo, kemudian Aldo membantunya membereskan buku-buku Aluna yang berserakkan. Rasa pensarannya belum terbayar, tanda Tanya besar di atas kepalanya sulit menghilang. Namun ada sesuatu yang tak mau dibahas lebih panjang olehnya sehingga ia memutuskan untuk tak menanyakan hal itu pada Aluna.
“belum lapar. Kok bisa santai? Emang udah beres persiapannya?”
“udah.. udah.. tinggal nunggu gladi resik nanti jam 1. Kamu mau ikut ke kantin?”
Riko bangkit langsung menarik lengan Aluna tanpa pedulikan siapa pun yang melihat. Tanpa peduli Aluna mau atau tidak, karena ia sudah tahu Aluna pasti mengikutinya. Aldo yang sengaja datang ke taman, semula dengan maksud untuk menemani Aluna yang ia pikir sedang sendiri, memilih untuk mematung dan menjaga jarak ketika ia mendapati wanita yang dikaguminya itu sudah bersama Riko. Ada amarah yang ia pendam dalam benaknya terhadap Riko, entah karena cemburu atau perasaan lainnya. Namun sikap Aldo terhadap Riko begitu terlihat tak ramah. Bagaikan orang yang saling mengenal, namun di antara mereka terjalin hubungan yang tak baik.
Riko dan Aluna pergi menuju kantin, sesampainya di kantin mereka duduk berhadapan. Riko memesan makanan, sedangkan Aluna hanya memilih minuman dingin dan makanan ringan. Ketika sedang asik makan, tiba-tiba Aldo pun terlihat di kantin.
Luna tak menyadari kedatangan Aldo di kantin tempatnya dengan Riko makan, sedangkan tak sengaja Riko mendapati Aldo yang sedang berjalan perlahan matanya memandang tajam ke arah Riko. mereka saling memandang dari jarak yang sedikit jauh, penuh teka-teki dan tanda tanya dalam pandangan yang terjadi di antara Riko dengan mahasiswanya itu.
Aldo berlalu tanpa abaikan lagi keberadaan Riko dengan Aluna di sana. Riko menyantap habis nasi goreng yang dipesannya, setelah selesai makan Riko mengajak Luna untuk meninggalkan kantin. Karena ia harus segera menuju lokasi acara yang akan digelar nanti sore.
“udah makannya? Aku harus buru-buru ke lokasi nih. Nanti anak-anak nyariin”
“iya”
Luna beranjak dari kursi yang didudukinya. Riko menuju kasir untuk membayar semua makan yang telah dipesannya, untuk dirinya dan juga Aluna. Hal itu memang sudah biasa. Hampir setiap kali makan Aluna tak pernah mengeluarkan uang jika ia makan bersama Riko. Riko selalu marah jika Aluna mengeluarkan uangnya sendiri untuk membayar makanan yang telah ia makan di hadapan Riko.
Riko memang selalu memberi apapun yang dibutuhkan Luna, memenuhi semua yang Luna butuhkan tanpa harus diminta terlebih dahulu. Tak jarang Luna merasa malu dan tak enak karena selalu banyak diberi oleh Riko, sementara ia tak pernah bisa memberi apa-apa. Namun Aluna pernah memberikan gantungan kunci yang dibuat oleh tangannya sendiri khusus untuk Riko. Hingga sekarang masih tergantung di kunci motor Riko walaupun dengan kondisi yang sudah tak layak.
Riko mengajak Luna bersamanya mengikuti acara yang akan segera diselenggarakannya bersama mahasiswa senat. Awalnya Luna menolak, Luna memang tak suka dengan keramaian. Setiap acara kampus tak pernah ia hadiri, selain acara apresiasi sastra. Sementara Riko adalah aktifis kampus sejak ia masih menjadi mahasiswa. Riko tak pernah memaksanya, hanya saja ada yang mengganjal dalam hatinya sehingga ia ingin memastikan Luna selalu di sampingnya, dan tak ingin membiarkan Luna pulang tanpanya.
Riko menelpon ayah Aluna, untuk mengabarkan tentang acara di kampus yang melibatkan dirinya dan meminta izin untuk Luna, agar bisa tetap mengikuti acara sampai selesai. Ayah Luna pun mengerti dan sudah pasti memberi izin selama itu bersama Riko, ayah Luna selalu merasa aman melepaskan anaknya meski pun pulang hingga larut malam.
Sore pun tiba, Riko memang tak terlalu sibuk. Ia hanya menjadi pendamping para mahasiswa. Menjelang acara detik-detik pembukaan acara, Riko standby di dekat panggung pertunjukkan. Acara dimulai dari pukul 5 sore sampai pukul 8 malam. Acara itu merupakan acara penggalangan dana untuk para penderita kanker.
Acara yang terdiri dari beberapa penampilan band kampus, juga penampilan beberapa penyair kampus itu berlangsung ramai. Riko yang tak pernah jauh dari sisi Luna menikmati malam itu, meski pun ia sedang bersama Luna ia tetap professional. Ketika ada permasalahan yang terjadi dalam kepanitiaan, Riko langsung turun tangan, dan memecahkan masalah tersebut dengan solusi yang cepat dan tepat, hingga langsung teratasi.
“Jika dimulai dengan tepat waktu, maka akan selesai tepat waktu juga”.
Itu yang selalu Riko tegaskan kepada para panitianya. Riko selalu menjadi dosen yang dekat dengan mahasiswanya. Meskipun tegas dan sangat berwibawa, Riko tetap dikagumi oleh para mahasiswanya. Dalam organisasi, Riko merupakan senior yang bisa diajak sharing tentang apapun, sekalipun masalah pribadi. Namun jika sudah di dalam kelas, Riko merupakan seorang pengajar para mahasiswaya. Bagimana pun mereka menerima Riko sebagai dosennya, seperti itulah Riko menyikapi para mahasiswanya yang bermacam-macam watak itu.
Setiap kali ia membina mahasiswa yang akan mengadakan acara, masalah waktu yang selalu ia tegaskan. Riko merupakan orang yang sangat sensitive terhadap waktu. Ia tidak suka terlambat, dan ia tidak suka mahasiswanya datang terlambat. Untuk itu mengapa Riko selalu meninggalkan Aluna jika Aluna bangun kesiangan.
Pukul 8 malam acara sudah selesai, dan ditutup oleh band-band hiburan. Riko mengumpulkan semua mahasiswa yang sudah tergabung dalam kepanitiaan acara malam itu. Menyampaikan ucapan selamat atas ketepatan waktu acara mereka.
Luna yang memilih jaga jarak saat Riko sedang memberikan apresiasi serta evaluasi terhadap mahasiswa yang tergabung dalam kepanitiaan acara malam itu, memperhatikan dalam-dalam sosok pria yang selama ini selalu menjaganya, penuh wibawa dan mengagumkan. Selesai berbincang dengan para mahasiswanya, Riko pun pamit untuk pulang lebih dulu setelah menutup evaluasi seusai acara malam ini.
Riko menggandeng lengan Aluna menuju ruang senat untuk mengambil tasnya yang ia tinggal sejak tadi siang. Melihat Aluna yang hanya mengenakan kemeja saja, Riko merogok tas dan mengambil jaketnya untuk diberikan pada Luna. Sedangkan Riko hanya mengenakan kaos polos berwarna putih, yang selalu ia kenakan sebagai dobelan kemejanya. Kemeja yang ia kenakan sedari siang sudah tak membalut tubuhnya lagi, karena ketumpahan kopi saat ia sedang berada di antara mahasiswa yang sibuk bekerja mempersiapkan acara tadi.
“kak Riko cuma pake kaos itu?”
“gak apa-apa, lagian masih gerah juga. Tadi kan panas banget”
Sesampainya diparkiran, Riko langsung menayalakan motornya dan memberikan helm pada Luna. Riko pun melajukan motornya perlahan, dan menyimpang di tempat makan.
“kita makan dulu ya”
“aku gak laper”
“bohong. Kamu kan udah gak makan dari siang. Selama acara tafi jajan juga nggak..! tadi siang kamu cuma ngemil aja”
“tapi..”
“makan! Aku gak mau tahu!”
Luna hanya diam. Sikap tegasnya memang selalu membuat Aluna luluh. Riko membawa Luna untuk makan di warung makan lesehan yang letaknya berada di tepi jalan ramai dengan pemandangna kota yang masih ramai meski pun, sudah menjelang larut malam.
Luna dan Riko begitu menikmati malam itu. Setelah makan, Riko memilih untuk diam sejenak menurunkan makanan yang baru saja masuk melalui tenggorokannya, agar bisa dicerna lebih baik. Setelah merasa perutnya terasa lebih ringan, Riko memutuskan untuk melanjutkan perjalanan pulang. Luna yang tak banyak berpendapat hanya mengikuti Riko. terkadang Riko gemas terhadap Luna yang tak pernah protes, ia selalu tersenyum saja dan menikmati kebersamaannya bersama Luna.