PENGAGUM RAHASIA

1544 Kata
Seperti yang lainnya Aluna pun terkadang begitu malas bertemu dengan hari senin. Tak jarang dengan terpaksa Riko harus meninggalkannya di hari senin, karena Riko selalu ada jadwal mengajar lebih pagi, ketimbang jadwal kuliah Aluna yang berbeda 50 menit. Jika Aluna sudah siap berangkat lebih pagi, Riko pun selalu membawanya, namun dikala Aluna sedang terserang rasa malas, Riko pun harus membiarkan Aluna berangkat sendiri. Dan senin itu Aluna harus berangkat ke kampus sendiri karena bangun terlalu siang. Ayahnya tak pulang karena harus lembur. Aluna masih menyempatkan untuk memasak dan menyiapkan minum untuk ayahnya yang meskipun tak pernah ia ajak bicara, tetapi tetap ia perhatikan. Dengan terpaksa pagi itu Aluna harus kembali naik angkutan umum. Namun senin pagi seolah menjadi hari yang sangat penting bagi semua orang untuk beraktifitas. Setiap angkutan umum yang lewat selalu terisi penuh oleh penumpang. Hingga ia harus memaksakan diri duduk berdesakkan demi cepat sampai ke kampus. Sesampainya di depan kampus ia berjalan lebih cepat, ia hanya punya waktu 10 menit untuk sampai di kelasnya yang terletak di lantai 3. Saat menyusuri koridor menuju ruang kelasnya Aluna bertabrakan dengan seorang pria yag juga merupakan mahasiswa satu fakultas dengannya, sepontan pria itu meminta maaf dan membantu Luna membereskan buku-bukunya yang jatuh berserakan di lantai. Riko keluar untuk ke kamar kecil setelah selesai memberikan materi perkuliahan di kelas semester 3. Tak sengaja ia mendapati Aluna yang sedang sibuk membereskan buku-bukunya dibantu dengan seorang pria, namun ia hanya tersenyum kecil menggelengkan kepala. Mengingat ia masih ada tugas mengajar jadi ia mencoba untuk tak menghiraukan keadaan tersebut. Riko berlalu menuju toilet, Aluna pun pergi setelah mengucapkan terimakasih kepada pria yang belum dikenalnya itu. Diam-diam laki-laki itu selalu memperhatikan Aluna saat tak sengaja melihat Aluna di area kampusnya. Aluna tak pernah bertemu dengan mahasiswa yang baru saja menabraknya itu sebelumnya, namun laki-laki itu seperti sudah mengenal Aluna. Setiap gerak-gerik Aluna di kampus, selalu diperhatikannya. Entah apa tujuannya, tapi pria itu seperti mengagumi sosok Aluna yang lugu dan kalem, juga begitu pemalu. Aluna berhasil sampai di kelas sebelum perkuliahan dimulai, meskipun ia masuk ruang kelas berbarengan dengan dosen pengajarnya. Ia selalu mengikuti perkuliahan dengan seksama dan serius. Setiap mata kuliah yang disampaikan oleh semua dosen selalu dapat ia serap dengan baik. Untuk itulah Aluna masih selalu berhasil meraih beasiswanya. Perkuliahan selesai. Setiap hari senin Aluna kuliah 6 SKS tanpa jeda, mulai di pukul 08.40 selesai pada pukul 12.40 WIB. Selesainya perkuliahan Aluna tak pernah langsung pulang, jika tidak mengerjakan tugas di perpustakaan, Aluna pasti pergi ke taman atau ke danau yang berada di belakang kampusnya. Setiap hari senin jadwal mengajar Riko lebih padat dari pada biasanya. Ia harus mulai mengajar mulai pukul 7 pagi hingga pukul 3 sore. Meski pun cenderung sering membiarkan kesibukkan Riko, terkadang Aluna tetap ingin ditemaninya sepulang kuliah saat diam di danau atau pun di taman belakang kampus. Siang itu ia menghabiskan waktunya di taman belakang gedung fakultas tempatnya biasa berdiam di sana. Di tempat itu jugalah pria misterius yang merupakan pengagum rahasia Aluna biasa menikmati pandangannya ke arah gadis cantik nan lugu itu. Aluna sama sekali tak pernah merasa diikuti atau diperhatikan sedalam itu oleh siapa pun, selain oleh Riko yang memang secara terang-terangan. Tak ada rasa risih atau pun curiganya terhadap pria itu. Aluna selalu menikmati harinya sendiri jika tidak bersama Riko atau Dinda. Hari sudah menjelang sore, ia memutuskan untuk pulang. Namun tiba-tiba handphone Aluna bergetar tampak di layarnya “Kak Riko’s calling” ia mengangkatnya. “ya kak” “kamu dimana?” “tempat biasa” “kok belum pulang?” “baru mau” “aku belum bisa pulang, ada rapat senat. Kamu mau nunggu?” “aku mau pulang sekarang” “oke.. kamu hati-hati ya. Kalo udah sampe rumah langnsung kasih kabar” “iya kak” “ya udah kamu hati-hati” Aluna menutup telponnya, kemudian memasukkannya lagi ke dalam tas. Dan ia pun berjalan ke arah gerbang keluar. Pria yang sedari tadi memperhatikan Aluna pun tiba-tiba saja menghilang tak terlihat lagi. Namun kemudian ia terlihat lagi di tepi jalan yang tak jauh dari gerbang kampus. Aluna melenggang di tepi jalan sambil menunggu angkutan kota yang lewat. Tiba-tiba sosok yang ternyata sengaja menunggu Aluna di tepi jalan itu langsung mendekati Aluna dengan motornya. “Hay” Pria itu menyapa, tersentak Aluna sepontan merasa kaget dan terdiam seketika. “kamu..” “iya.. aku. Hehe pulang bareng yuk” tanpa basa – basi pria yang ternyata merupakan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia itu mengajak Aluna yang sebenarnya tidak mengenalnya. “hahh” Aluna nampak terkejut sekaligus bingung harus menjawab apa. “aku Aldo, kita satu Fakultas dan satu jurusan. Cuma beda kelas aja. Kamu Aluna kan?” “aku gak pernah tahu kamu” “siapa siyh, yang kamu tahu. Kalo aku suruh nyebutin temen-temen sekelas kamu sekarang, kamu belum tentu hapal” Aluna terdiam, ia kaget karena ternyata ada juga yang mengenal dirinya begitu dalam dan paham tentang sifatnya yang pendiam dan jarang bergaul dengan yang lain, selain Riko juga Dinda. Ia masih tak memberikan jawaban apa pun perihal ajakan pria yang baru saja ia tahu namanya itu. “udah naik aja, dari pada lama nungguin angkot. Nih” mahasiswa semester 7 yang bernama Aldo itu langsung memberikan helm pada Aluna yang masih nampak bingung. Namun Aluna kemudian menghepaskan helm yang hendak diberikannya, ia menolak untuk ikut bersama pria yang sebenarnya merupakan teman satu kampusnya itu. Aldo tak menyerah ia terus mengajak Luna hingga akhirnya Aluna merasa risih dan menerima ajakannya. Aldo mengantarkan Aluna sampai ke depan rumahnya. Lagi-lagi Aluna dibuat kaget oleh pria selengean itu, tanpa petunjuk Aluna ia bisa tahu letak rumah Aluna dengan tepat. “sampe neng, dua puluh rebu yaa. Hehe” lagi-lagi ia menggoda Aluna dengan gaya selengeannya “sebenernya kamu siapa?” Aluna bertanya serius “aku Aldo, mahasiswa fakultas sastra jurusan bahasa dan sastra Indonesia semester 7. Aku gabung komunitas teater kampus kita, aku…” “kamu siapa?” Aluna memotong dan menegaskan rasa penasarannya. “bukan siapa-siapa kok” Aldo menghela nafas, wajahnya berubah menjadi serius. “gak sengaja aku liat kamu dianter pak Riko ke rumah ini. Aku tahu kamu sejak pertama kali kamu nginjek kampus. Dan kamu menarik, sikap kamu yang terlalu acuh sama semuanya. Itu yang bikin aku tertarik untuk bisa mengenal kamu lebih dari sekedar pemuja rahasia. Aku duluan” Tanpa aba-aba Aldo langsung tancap gas meninggalkan Aluna yang masih mematung di bawah pohon di depan rumahnya itu. Hati Luna tak karuan, hatinya masih dipenuhi rasa heran. Namun Luna mencoba untuk lupakan semua itu. Ia hanya bersyukur bahwa ia bisa pulang ke rumah tanpa harus macet-macetan dan berdesakan di angkutan umum. Ia masuk ke rumah, dan mendapati ayahnya yang sedang tertidur di kursi yang terletak di ruang tengah rumahnya. Ia membuka tudung saji di atas meja makan memastikan ayahnya sudah makan atau belum. Kemudian ia mengganti gelas yang terletak di meja dekat kursi tempat dimana ayahnya terbaring pulas karena lelah telah bekerja. Ia isi kembali dengan air yang baru, dan kemudian ia masuk ke kamar untuk merebahkan tubuhnya. Meski pun merasa begitu kecewa pada ayahnya yang tak pernah memberitahukan tentang ibunya, Aluna tak bisa jika harus melupakan kasih sayang ayahnya yang begitu tulus. Ia tumbuh dewasa dengan sehat karena jasa ayahnya yang tak pernah lelah bekerja dan membesarkannya sampai ia bisa berkuliah sesuai dengan bakat dan keinginannya. Ayahnya selalu mendukung penuh prestasi yang dimiliki Aluna. Apapun yang membuat Aluna bahagia selalu diikutinya sebagai pengganti rasa bersalahnya karena tak pernah bisa memberitahukan tentang keberadaan ibunya yang sebenernya. Handphone Aluna bergetar kembali, terlihat lagi nama Riko di layar handphone Luna. “ya kak” “sampe mana?” “aku udah sampe” “oke..kamu tuh ya, kalo gak ditelpon pasti gak ngabarin. Istirahat ya” “iya..” “bay”  Luna menutup telponnya untuk membersihkan diri. Setelah selesai mandi Aluna shalat ashar dan kemudian berbaring lagi di atas kasurnya. Pikirannya kali ini tak lagi mengarah kepada Riko, namun justru pada pria yang baru saja ia kenal dan mengantarnya pulang. Hatinya masih dipenuhi tanda Tanya. Bagi Aldo, Luna seperti telah dikenalnya begitu dekat, namun Aldo masih begitu asing bagi Luna. Hal itu yang membuat Aluna begitu penasaran. Sikap Aluna yang begitu pemalu dan sangat pendiam, membuat ia sulit untuk bergaul dengan siapa pun. Ia selalu memilih untuk tak mengenal siapa pun, meski pun terkadang ada saja cemoohan teman-teman kampusnya, tapi Aluna tak pernah hiraukan itu. Ia sudah merasa nyaman dengan hidupnya yang hanya mengenal Riko atau Dinda juga Andi, kekasih Dinda. Matahari mulai tenggelam, langit terang perlahan berubah redup. Burung-burung bergerombol pulang menuju sangkarnya. Senja mulai tiba, Aluna masih menikmati lamunannya mengenai banyak hal. Tentang Riko, ayah, dan ibunya juga Aldo yang baru saja ia kenal. Entah mengapa, Aldo begitu erat dalam benaknya. Hatinya terus dipenuh tanda tanya tentang siapa Aldo sebenarnya. Aldo mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kini sudah menduduki semester 7. Ia tertarik pada Aluna sejak Luna pertama kali menginjak kampusnya. Aldo juga pernah menjadi pembimbing Luna saat Ospek, tapi tak sedikit pun Luna ingat tentang Aldo. Bahkan mengenalnya pun tidak. Setiap kali melihat Aluna dengan Riko, ia selalu merasa iri. Mengapa Riko bisa sedekat itu dengan Luna. Ada yang ia ketahui tentang Riko yang mungkin tak pernah diketahui oleh Luna. Namun Aldo masih tak bisa membuka rahasia itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN