MINGGU PAGI

670 Kata
Pagi tiba di hari minggu yang cerah, Riko sengaja datang ke rumah Aluna sebelum matahari meninggi, kala langit gelap perlahan memudar bersama sahutan burung-burung kecil. Ia ingin mengajak Luna lari pagi bersamanya juga Dinda dan Andi yang baru saja baikan. Entah karena apa hubungan dua sejoli yang lucu itu merenggang beberapa minggu lalu. “hay..” sapa Riko melempar senyum gagah pada Luna yang tengah menjemur pakaian. “ada apa?” “kok tanya ada apa siyh..?! udah sana kamu siap-siap! Kamu gak liat apa aku udah pake setelah olahraga gini. Tinggalin aja! Udah sana ganti baju!” Riko merampas pakaian yang sedang digenggam Luna untuk dijemurnya, dan memaksa Luna untuk segera berganti pakaian sementara pakaian yang harus dijemur itu dilanjutkan oleh Riko. Luna pergi tanpa berbiara lagi. Ia membiarkan Riko menjemur pakaiannya dan segera bersiap-siap atas permintaan Riko. setelah itu mereka pun pergi berlari. Luna mengunci pintu rumahnya yang kosong, karena ayahnya sudah pergi dinas sejak pagi. “ayah kamu udah pergi kerja?”. Tanya Riko basa-basi. “iya” Luna menjawab singkat. “ya ampun.. Al.. Al… betah banget jadi orang diem gitu. Ngobrol kek, apalah biar kuping kita tu kepake kalo deket kamu” sambar sahabatnya, Dinda yang selalu greget pada Luna yang dianggapnya terlalu pendiam. Riko pun tersenyum dan merangkul Luna sambil mengusap-usap pundaknya. “gak apa-apa kok, kamu lebih bikin nyaman dari pada Dinda” Riko membela. “iya tu yang, kamu aja yang terlalu cerewet. Keabisan deh jatahnya Aluna sama kamu” sahut Andi menyusul turut membela Aluna. “oke.. oke.. para pria lagi aksi pembelaan terhadap saudari Aluna. Oke.. oke..” Dinda pergi meninggalkan mereka yang masih tenang berjalan. Lari pagi mereka selalu ramai jika bersama Dinda. Aluna dan Riko memang selalu berlari pagi bersama meski tak setiap minggu, tapi mereka lebih senang menghabiskan waktu minggu pagi bersama. Seperti tak pernah ada rasa bosan pada Riko untuk selalu bersama Aluna yang mungkin selalu membuat suasana begitu terasa kaku. Riko bukan laki-laki yang selengean dan terlalu senang becanda, tapi Riko selalu bisa mencairkan suasana dengan menggoda Aluna meski tanggapannya hanya senyum kecil, yang begitu sangat sedikit. Terkadang Riko pun greget menaggapinya tapi Riko hanya tersenyum penuh pemahaman. Aluna begitu beruntung bisa dekat dengan Riko. semua teman-temannya menanggapi begitu. Selain menjadi dosen muda yang berwibawa, peranannya yang tampan juga selalu tampil keren di setiap waktu membuat Riko terlihat begitu sempurna. Meskipun sangat cuek terhadap siapa pun namun bagi para gadis Riko begitu terlihat cool. Untuk itu, teman-teman Aluna begitu merasa iri. Karena pada Aluna tak sedikit pun Riko bersikap cuek dan dingin, justru sebaliknya. Usai lari pagi mereka makan bubur bersama. Dinda dan Andi memilih memisahkan diri karena ingin asik suap-suapan. Riko hanya tersenyum geli serta menggelengkan kepala melihat tingkah lucu mereka. “liat tuh mereka. Lucu, kaya anak kecil” “Kak Riko kali yang tua” “hemm… dari hati banget ngatain aku tua” Riko gemas, dan mengguncang halus rambut Aluna yang berbicara dengan muka datar. “makanya aku mainnya sama kamu, biar keliatan mudaan” sambungnya lagi, masih tak mengakui usianya yang memang terpaut agak jauh dengan Aluna, Dinda juga Andi. Sementara Aluna hanya tersenyum kecil dan melanjutkan makan buburnya. Tapi kemudian tiba-tiba Riko menahan lengan Luna yang hendak menyuapkan buburnya pada mulutnya itu. Riko menyuapkan sendok yang digenggamnya untuk dimasukkan ke mulut Luna. Rupanya Riko juga sedang berusaha mengikuti keseruan Dinda bersama Andi yag menurutnya seperti anak kecil itu. Setelah usai makan bubur mereka habiskan waktu bersama di sebuah taman. Di sana mereka asyik berbincang, saling tertawa menanggapi tingkah-tingkah heboh Dinda yang memang tak tahu malu itu. sementara Aluna masih dengan sikap kalemnya, ia hanya bisa tersenyum dan tersenyum. Waktu menunjukkan pukul sebelas siang. Dan mereka pun memutuskan untuk segera pulang karena matahari telah semakin tinggi hampir berada di atas kepala mereka. Riko pun menggandeng Aluna berjalan, sementara Andi pun berjalan sambil merangkul Dinda. Seperti dua pasang kekasih yang sedang nge-date bersama. Tapi ketika Dinda menyinggung hubungan mereka, Riko dan Aluna sama-sama membisu memilih untuk tak menyatakan apapun.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN