Tak ada yang mengetahui bagaimana hubungan Riko dan Aluna sebenarnya. Begitu pun dengan Luna sendiri. Ia tak tak pernah mengerti, perasaan seperti apa yang tumbuh dalam hatinya pada sosok dewasa bernama Riko itu. Terkadang ada perasaan ingin bertanya dalam benak Aluna pada Riko, tentang mengapa ia Riko selalu bersikap baik dan selalu bersedia menjaga serta menemaninya? tak jarang juga Riko membantu Aluna untuk menghilangkan banyak kesulitan yang dialaminya. Namun Aluna selalu mengurungkan niatnya itu karena merasa canggung dan takut salah. Selama ini Luna merasa nyaman dengan kedekatannya bersama Riko, dan tak ada masalah apa-apa.
Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuknya. Di tengah kesepiannya dengan hati yang selalu merindu akan sosok seorang ibu, ia masih beruntung karena memiliki dua laki-laki yang begitu peduli dan selalu menyayanginya dengna tulus. Riko tak pernah absen di sisi Aluna, bagaimana pun kondisinya, disaat apapun, dan kapanpun. Meski pun ada sesekali waktu ia harus pergi dengan terpaksa, karena sesuatu hal yang menimpa dirinya dan menyita waktunya untuk bertemu Luna.
Riko tak pernah terlihat menggandeng atau bersama wanita lain, selain Aluna dan Dinda yang memang dekat dengannya karena ia merupakan sahabat baik Luna sejak SMA. Dinda pun tak jarang mempertanyakan hubungan yang selalu terlihat baik antara Riko dan Aluna. Namun Riko hanya menjawab dengan senyuman.
Riko dan Aluna selalu terlihat begitu dekat, terkadang membuat beberapa teman wanitanya juga merasa iri. Pasalnya Riko yang sudah diangkat menjadi dosen muda sejak tiga tahun lalu itu selalu menjadi favorit para mahasiswinya. Peranan Riko yang cuek, kalem dan begitu tegas terhadap semua mahasiswanya itu justru terlihat begitu menarik bagi para mahasiswa wanita di kampusnya. Riko nampak begitu karismatik dengan sikapnya yang selalu terlihat wibawa sebagai dosen muda yang baru berusia 27 tahun itu selalu menarik perhatian para wanita seisi kampus.
Awal kedekatan Riko dan Aluna terjadi saat Luna pingsan di sekolah ketika masih SMA dulu. Aluna pingsan tepat di hadapan Riko yang sedang berjalan menyusuri koridor sekolah untuk mencari ruang kepala sekolah saat itu. Riko pun sepontan menolongnya dan menggotong dengan bantuan beberapa siswa SMA yang ada di sana untuk dibawa ke UKS.
Melihat Aluna terbaring, entah mengapa Riko begitu seperti tertarik terus memperhatikan gadis yang terpaut usia 7 tahun lebih muda dengannya itu. Sejak saat itu, Riko pun tertarik untuk mengenal Aluna dan mencoba memasuki kehidupan Luna secara perlahan tanpa banyak memperkenalkan diri dan menjelaskan tentang dirinya.
Riko pun tidak segan membawa Aluna ke rumahnya dan memperkenalkan Aluna pada ibunya. Sang bunda pun menyambut Aluna dengan hangat dan begitu ramah, meski perkenalan Aluna dan Riko baru berlangsung beberapa bulan saja. Ia merasa nyaman, meski Aluna begitu pendiam, terlebih lagi ketika ia tahu bahwa Aluna telah lama hidup tanpa seorang ibu.
Suatu hari ketika mereka ngobrol serius, Riko mencoba mencari tahu tentang ibunya namun Luna tak memberi jawaban apapun ia hanya menunduk, wajah manisnya berubah sendu setiap saat mendengar kata ibu di telinganya. Sejak saat itu Riko tak berani lagi mencari tahu lebih dalam tentang hidupnya terlebih lagi tentang keberadaan ibunya.
Ketulusan Riko terlihat dengan selalu menjaganya setiap saat, ia selalu menyempatkan diri untuk menjemput atau mengantar Luna kemana pun Luna pergi. Tak heran jika banyak teman-teman Luna atau pun Riko yang mempertanyakan hubungan Riko dengan gadis lugu yang tak banyak bicara itu.
Ayah Aluna selalu mempercayakan keamanan dan kenyamanan gadis kecilnya bersama Riko yang sudah dikenalnya sejak pertama kali Riko mengantar Luna pulang sekolah saat anak gadisnya itu masih mengenakan seragam putih abu-abu. Ayah Luna sangat berterimakasih kepada Riko yang senantiasa menjaga gadis kecil yang selalu ia sayangi itu dengan penuh ketulusan. Tak ada hal lain yang dipandangnya. Ayah Luna hanya berpikir bahwa Riko memang tulus menjaga Luna, karena ia menyayangi anak gadisnya itu. Jika memang suatu saat Tuhan memiliki kehendak baik yang lain, mungkin memang itu takdir yang harus diterimanya.
Saat hari ulang tahun Luna tiba, ia lalui dengan biasa saja. Aluna memang tak suka hari ulang tahunnya diperingati. Tak satu pun ucapan selamat ulang tahun yang datang padanya diterima dengan baik. Luna selalu acuh setiap kali ada teman-temannya mengucapkan selamat atas hari tanggal lahirnya. Begitu pun dengan Riko. Riko yang semula mencoba membuat hari ulang tahunnya menjadi manis, justru tak diterima dengan baik oleh Luna. Ada sesuatu yang menyedihkan baginya ketika ia mengingat hari lahirnya ke bumi. Sudah pasti itu menyangkut tentang ibunya.
Beberapa kali saat Luna masih kanak-kanak, selalu menanyakan tentang keberadaan ibunya, namun ayah Luna tak pernah mau menjelaskan apa-apa. Hubungan anak dan ayah itu pun renggang karena keadaan tersebut. Sejak kecil Luna selalu mudah marah terhadap ayahnya jika sudah mengingat ibunya. Meski tak berani mengungkapkan kemarahannya lewat lisan, tapi ia selalu bersikap dingin dan acuh pada ayahnya.
Namun seorang anak tetaplah harus berbakti pada orang tuanya. Luna anak yang baik, meski pun ia tak pernah mengajak ayahnya berbicara, namun ia masih selalu memperhatikan kebutuhan ayahnya. Menyiapkan makan atau minum, mencuci pakaian ayahnya, bahkan merawat ayahnya saat sakit.
Ketika Luna beranjak dewasa, sikap Luna tak pernah berubah. Ia masih selalu bersikap dingin pada ayahnya juga siapa pun. Bahkan Luna dewasa lebih pemurung, setiap kali pulang ke rumah langsung masuk kamar jika perlu saja. Hampir setiap pagi mereka tak pernah sarapan bersama. Aluna pun tak pernah menceritakan apa-apa pada ayahnya.
Selama sekolah hingga kuliah Luna selalu mendapatkan beasiswa, maka dari itu juga Luna tak pernah meminta uang pada ayahnya. Namun ayahnya selalu memberikan semua hasil kerjanya menjadi security itu pada Aluna. Aluna menyimpannya baik-baik, dan ia pakai hanya untuk makan dan ongkos. Entah berapa banyak tabungannya sekarang, Luna pun tak pernah menghitungnya. Begitu pun dengan ayahnya. Ayah Luna tak pernah meminta lagi uang yang sudah ia berikan pada anaknya itu, agar Luna bisa membeli apa saja yang ia mau.
Kehidupan pasangan ayah dan anak itu berubah menjadi sedikit lebih hangat setelah kedatangan Riko. Sejak Riko masuk ke dalam kehidupan Aluna, ia sering datang ke rumah Luna dan ayah Luna selalu menerimanya dengan baik. Tak jarang Riko mengajak Luna juga ayahnya makan bersama, demi kerukunan Luna dan ayahnya.
Riko yang tak pernah mengetahui apapun. Ia hanya merasa kehidupan Luna dan ayahnya di rumah terlalu dingin, maka dari itu Riko selalu sengaja datang untuk membuat keluarga kecil itu menjadi lebih hangat. Mungkin memang lancang, tapi Riko sayang pada mereka dan sudah menganggap mereka seperti keluarganya sendiri. Dan itulah ketulusannya.