TENTANG RINDU

1008 Kata
Sabtu ini Aluna sendiri di rumah. Ayahnya dinas siang, dan akan pulang menjelang tengah malam nanti. Ia duduk sendiri di teras rumahnya menghadapi pepohonan rimbun, menatap langit hitam tak berbintang. Udara malam itu cukup dingin, sesekali tetesan air yang menyisa di dedaunan turun tanpa meminta izin. Ada perasaan yang bergejolak dalam hatinya. Tentang rindu yang tak pernah tersampaikan. Kasih yang tak pernah tergapai. Ada raga yang tak pernah nampak di depan matanya. Keadilan selalu ia pertanyakan. Mengapa hidupnya tak sama seperti orang lain. Bukan kesepian malam itu yang ia permasalahkan. Hatinya sedang tak tentu arah karena rasa rindu yang tak pernah tercurah. Andai kehidupannya sama dengan yang lain. Memiliki keluarga utuh yang selalu ada, menemaninya, merangkulnya, menghiburnya, dan menjadi sandaran dalam setiap kelelahannya. Masih ia pertanyakan tentang sosok ibu yang selama ini tak pernah dilihatnya. Tak satu pun foto wanita yang telah melahirkannya itu ada di rumahnya. Tak sedikit pun rindunya tercurahkan pada sosok wanita yang telah membiarkannya hidup di dunia sampai sebesar itu. “Disaat mereka hidup penuh cinta… Dikala mereka puas dengan cinta… Saat itulah aku merasa punah. Aku tenggelam dalam tanda tanya yang tak pernah ada jawabnya Aku tehanyut oleh luka yang tak pernah ada obatnya Aku ingin marah, namun entah pada siapa? Andai mereka tahu, aku begitu kecewa… Dimana sosokmu berada? Apa aku yang tak pantas bertemu denganmu? Atau aku yang terlalu indah untuk dipelukmu? Ku rasa tidak! Tuhan… Kau yang hidupkan aku dalam rahimnya Kau pula yang izinkan aku turun ke dunia Tapi apa salahku, sampai Kau hukum aku seperti ini Hidup tanpa seorang ibu, Dan kini aku begitu rindu igin bertemu” Begitulah kebiasaannya. Hanya menulis dan mencurahkan isi hatinya pada lembaran-lembaran kertas melalui goresan tinta. Ia rangkai kata demi kata dengan indahnya. Tak ada satu orang pun yang pernah menjadi tempatnya mencurahkan isi hati, di kala senang atau pun sedih, saat luka atau bahagia. Aluna begitu tertutup, bahkan pada ayahnya sekalipun, termasuk juga pada Riko, dan terlebih lagi pada Dinda, meski ia merupakan sahabat baik bagi Aluna. Sering Riko mempertanyakan tentang Aluna pada Dinda atau pun ayah Luna. Namun ia tak pernah mendapatkan jawaban yang sesuai harapannya. 3 tahun lebih Riko dekat dengan Aluna, namun tak sekali pun ia mendengar Luna bercerita padanya tentang apa pun. Saat mereka bersama, Aluna lebih banyak diam dan hanya bicara ketika ditanya. Itu pun menjawab seperlunya. Namun Riko tetap senang mendampinginya, baginya untuk menjaga Aluna tak perlu penjelasan apa pun. Ia memang tertarik pada Aluna saat Aluna masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Meski pun tak pernah ada ikatan pasti, tapi Riko selalu ada untuk Luna. Dinda pun sering mempertanyakan hubungan yang terjadi antara Aluna dengan dosen muda itu. Namun Luna tak pernah menjelaskan apa pun, begitu juga dengan Riko. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Ada hal yang tak pernah diketahui Luna atau pun Dinda. Dan Riko masih tenang menyimpan rahasia itu. Malam itu waktu sudah menunjukkan pukul 22.10 WIB. Aluna masih terduduk di teras, menatap langit hampa tak bercahaya. Riko tidak menemaninya sejak sore, seperti biasanya karena ada urusana lain di luar. Dan Aluna tak mau ikut dengannya. Entah karena ilmu telepati apa, tiba-tiba Riko ada di hadapan Aluna yang begitu sendu. Air matanya perlahan terjatuh sejak tadi, saat ia merangkai puisi rindu untuk ibunya. Masih meluap kesedihannya, tak terbendung. Matanya sudah memerah, pipinya basah karena air mata. Sepontan Riko mengusap air mata Luna yang masih menggenang di pipinya, walaupun Luna sudah berusaha menghapusnya saat terkejut tiba-tiba mendapati sosok pria favoritnya itu sudah ada di hadapannya. “kok nangis?” “Cuma kelilipan” “bohong banget! Kamu gak mau ceritain apaa… gitu sama aku?” Luna hanya diam menunduk. Seolah ia tak mau berbicara lagi. Tak mau ia menjelaskan tentang apa yang sebenarnya sedang ia rasakan malam itu. Riko memahami arti diamnya, ia pun duduk di samping Luna dan merangkulnya tanpa memaksa Luna untuk menjelaskan kesedihannya. “aku ngerti kalo kamu gak mau menjelaskan apa pun tentang isi hati kamu atau perasaan kamu yang sebenernya sama siapa pun. Tapi kalo kamu cerita tentang permasalahan kamu, paling nggak bisa lebih meringankan beban pikiran kamu. Dan aku sama sekali gak keberatan untuk jadi tempat kamu bercerita tentang apa pun,” Riko tersenyum mencoba mendapatkan arah matanya, namun Luna masih menunduk dalam rangkulannya. Luna masih memilih untuk diam, dan tak berbicara apa pun. Ia merasa lebih nyaman ketika Riko datang menemaninya. Tanpa harus bercerita, Riko pasti tahu hatinya sedang bagaimana. Riko bangkit dari duduknya, dan berdiri tepat di hadapan Luna melempar senyum, sebagai kode kalau Riko sedang mengajak Luna untuk tersenyum juga. Luna perlahan menengadahkan kepalanya, memberi sedikit senyuman pada laki-laki yang selalu ada di sampingnya itu. Riko pun mengusap-usap kepala Luna penuh kasih sayang. Luna tak banyak bicara ia hanya menggambar dan menulis, Riko masih menemaninya. Ia lihat gambar yang dibuat oleh Aluna. Ia lihat Luna menggamar 3 wajah berbeda usia. Mungkin itu gambar keluarga harapannya. Ada seorang ibu dan seorang ayah juga satu anak dtengahnya. Dari sana ia mulai memahami mengapa malam ini ia mendapati Aluna menangis sendiri. Lama Riko memperhatikan Luna yang masih asik menggoreskan pensilnya di kertas. Kemudian, Luna terlihat mulai mengantuk. Goresan pensilnya semakin perlahan, hingga akhirnya pensil itu jatuh ke lantai dan kepala Luna tertahan pada papan d**a yang ia jadikan alas kertas gambarnya. Riko yang sedari tadi memperhatikan, sepontan meraih tubuh Luna agar tidak jatuh. Ia pun mengangkat tubuh Luna, dan membawanya ke kamar. Ia baringkan tubuh gadis berbadan kecil itu di kasurnya yang sederhana, ia tutupi tubuh mungil Luna dengan selimbut. Betapa teduh hatinya menatap gadis kecil yang ia selalu jaga itu sedang terlelap. Riko keluar, tak ingin sesuatu terjadi di luar kendalinya. Riko memilih duduk di luar sampai ayah Aluna tiba di rumah, karena ia tak mau meninggalkan gadis lugu itu sendiri di rumahnya. Memang itu yang selalu dilakukannya sejak 3 tahun lalu. Ketika ayah Luna harus dinas sampai tengah malam, Riko memilih untuk menemani Luna di rumahnya sampai ayah Luna tiba di rumah. Waktu menunjukkan pukul 23.25 WIB. Ayah Aluna telah tiba di rumah, Riko hanya berbincang sedikit kemudia pamit pulang, karena sudah terlalu malam.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN