Matahari tak pernah berhenti berupaya memberi pijar yang paling terang membawa serta kehangatannya, menyambut setiap mata yang terbuka membawa semangat hari yang baru. Mentari selalu berseri memancing senyuman para insan yang hendak berkegiatan di setiap pagi, termasuk Aluna, meski ia tak pernah memberikan senyum pada siapa pun, juga pada ayahnya yang sudah bekerja keras demi kelangsungan hidup putri tunggalnya itu.
Seperti biasa Aluna sudah bersiap-siap untuk pergi ke kampus. Riko, laki-laki dewasa yang juga bekerja sebagai dosen di kampus tempat Aluna berkuliah, sudah menunggunya di depan rumah. Aluna mengenal Riko sejak ia duduk di bangku SMA kelas 3, kala Riko sedang berkunjung ke sekolah Luna dulu. Tuhan mentakdirkan mereka untuk saling mengenal, dan berhubungan baik, tanpa ikatan apapun.
Riko setia menjemput dan mengantar Aluna setiap hari. Bahkan, ia selalu menyempatkan untuk mengantar jemput Aluna di tengah-tengah jam bekerjanya. Aluna gadis pendiam, cerdas, sederhana, dan cantik. Tiga tahun lebih mereka saling mengenal, namun Riko tak pernah mendengar Luna, begitulah sapaan akrab ayahnya bercerita apapun. Meski Luna tak banyak bicara, Riko selalu setia menemaninya..
Sesampainya di kampus, mereka berpisah menuju tempat masing-masing. Sudah 5 semester kuliah, Luna masih asik sendiri menghabiskan waktu-waktu luang di sela-sela jam kuliahnya. Saat jeda pergantian jam mata kuliah tiba, Luna selalu pergi dan menyendiri di taman kampusnya.
Luna berjalan menyusuri koridor, menuju taman yang ada di belakang gedung fakultas tempatnya berkuliah. Terdengar suara memanggil “Aluna!”. Suara itu bersumber dari Dinda, sahabat Aluna sejak SMA. Mereka berteman baik, namun saat kuliah mereka terpisah karena beda fakultas. Hanya saat-saat istirahat atau pulang kuliah saja mereka bisa bertemu.
Sepontan Aluna membalikan badannya mencari sumber suara yang sudah tak asing lagi baginya. Seketika ia mematung menunggu sahabatnya yang sedang berlaju menghampirinya itu.
“ada apa?”
“mau kemana?”
“taman”
“aku mau ngobrol”
Aluna mengangguk tak bicara lagi, mereka pun melenggang bersama menuju taman yang akan dituju Aluna. Mereka melewati ruang dosen yang di dalamnya terdapat Riko, yang sedang sibuk mengetik. Tak sengaja Riko melihat ke luar, dan mendapati Aluna sedang berjalan berdua dengan temannya. Ia pun sejenak meninggalkan tempat duduknya, berdiri di depan pintu memperhatikan gadis kecil yang sedang berjalan itu.
Entah karena perasaan apa, tiba-tiba Aluna yang sudah berlalu, kemudian menolehkan kepalanya ke belakang. Seperti mengetahui ada yang sedang memperhatikannya. Riko melempar senyum pada Aluna, ia pun membalas senyum Riko dengan malu-malu, kemudian menunduk dan melanjutkan jalannya.
“cie-cie… yang dilihatin,” goda Dinda pada Aluna membuatnya semakin merasa malu
“apaan sih!” Tangkas Aluna, risih.
Sesampainya di taman, mereka berbincang. Lebih tepatnya Dinda yang banyak bicara. Selama ini hanya Dinda yang banyak mencurahkan isi hati pada Aluna. Sedangkan Luna, jarang sekali berbicara. Bahkan tentang dirinya atau pun keluarganya sekalipun. Dinda menceritakan keluh kesah yang ia rasakan atas perubahan sikap kekasihnya yang bernama Andi.
Dinda yang telah merajut kasih bersama Andi selama 4 tahun lebih lamanya, kini mulai merasa ada yang berbeda. Sikap kekasih yang selama ini tak pernah mengecewakannya itu mulai berubah, membuat Dinda bertanya-tanya dalam benaknya.
Dinda hanya bisa bercerita pada Aluna, karena hanya Alunalah yang selalu mengerti Dinda. Meski Luna pun tak banyak memberikan solusi tentang permasalahan cintanya, namun ia selalu setia mendengarkan semua ocehan Dinda, yang mungkin menurut orang banyak mengesalkan.
“terus aku harus gimana, Al?”
Aluna hanya menengokan kepalanya, mengarah pada sahabatnya yang seperti meminta pendapat. Sementara Aluna hanya mengernyitkan dahinya, tak tahu harus mengatakan apa.
“kamu tinggal ngomong baik-baik sama dia. Aluna mana tahu permasalahan kamu, pacaran aja gak pernah. Orang dia cuek banget gitu,” sambar Riko yang tiba-tiba saja datang tanpa diketahui Aluna, ataupun Dinda.
“dih, Kak Riko ngagetin aja,” sahut Dinda mengehela napas.
Riko pun duduk di samping Aluna yang sedari tadi hanya diam mendengarkan Dinda berbicara tentang isi hatinya.
“menurut kamu, solusinya apa?” Tanya Riko menghadap pada Aluna.
“komunikasi kali,” Aluna menjawab singkat.
“nah kan… bener kata aku”
“caranya?” Dinda seperti mulai mengajak berdiskusi pada Riko ataupun Aluna.
Riko tertarik untuk membantu sahabat baik Aluna yang satu ini. Meskipun cerewet dan bawel, Riko juga peduli kepada Dinda. Tak ingin kuliahnya kacau karena permasalahan cinta antara Dinda dan Andi yang masih sama-sama duduk di bangku kuliah, yang dianggap Riko masih terlalu kekanak-kanakan. Ia pun menyarankan tentang apa yang harus dilakukan Dinda agar bisa berbicara dengan Andi, dan Dinda menerima penuh saran dari Riko yang juga sudah dianggap kakak olehnya.
Setelah mendapat pencerahan, tiba-tiba Dinda berubah menjadi lebih semangat. Ia pun pergi meninggalkan Aluna bersama Riko yang masih duduk di bangku taman.
“aku ada kelas setengah jam lagi nih.. duluan ya”
Dinda melenggang menuju gedung fakultasnya, sementara Aluna masih duduk di sana, membaca buku sastra yang sedang ia pelajari. Riko menoleh pada Aluna setelah ia memperhatikan Dinda pergi. Riko memperhatikan Aluna yang sama sekali tak menghiraukan keberadaannya di sana, Riko pun menghela napas seraya ia tersenyum terus memperhatikan gadis lugu itu, yang sejak tadi sibuk dengan bukunya.
“kamu ada kelas lagi jam berapa?” Tanya Riko memulai pembicaraan.
“jam satu” jawabnya singkat.
“lama juga. Loh bukannya ada jadwal jam 11 juga?”
“digeser besok”
“ooh.. ya udah. Pergi yuk”
“emang gak ngajar?”
“jam satu” Riko menjawab enteng sambil menghela napas penuh maksud.
Aluna lupa, kalau perkuliahan jam satu hari itu bersama Riko. Semester 5 memang baru berjalan 1 bulan. Setiap hari rabu dan jum’at Aluna selalu bertemu dengan dosen muda yang selama ini sudah dekat dengannya itu.
“aneh.. rajin baca buku kok gak hapal-hapal jadwal kuliah,” protes Riko.
“iya deh maaf” sahutnya santai.
“gak ada maaf-maaf. Kamu aku hukum. Sekarang juga kamu harus ikut aku makan siang!”
Riko pun menarik lengan Aluna setelah ia bangkit dari duduknya lebih dulu. Riko terus menggandeng lengan gadis kecil yang pendiam itu. Seluruh isi taman merupakan warga kampus tempatnya mengabdi dan tempat Aluna belajar. Mata mereka terfokus pada Aluna dan Riko yang sedang bergandengan tangan. Disaat Aluna merasa risih jadi pusat perhatian, Riko malah santai saja dengan tetap menggandeng lengan Aluna sampai tiba di kantin.
Riko hanya tersenyum melihat wajah Aluna yang menjadi merah karena menahan malu. Ia pun melepaskan gandengannya ketika handphonenya berbunyi. Tak banyak yang ia bicarakan, kemudian disimpan lagi telepon genggamnya di dalam saku celananya itu. Ia pun berjalan lebih cepat karena Aluna telah berada jauh di depannya, dan sampai lebih dulu. Ketika ia sampai Aluna sudah terduduk.