1. 2

1048 Kata
“Oke, guys, kali ini gue ada di rumah sakit terbengkalai. You know what? Lokasi ini katanya angker parah. Gue penasaran sama hantu yang ada di sini.” Claud mengoceh di balik kamera yang dia pegang dengan tangan kiri, sementara Sean berdiri di belakang kamera sambil mengangkat lighting yang sudah  menyala. Terdengar lucu sebenarnya ketika lelaki bertubuh tegap itu membual di depan kamera, bertingkah seolah dialah orang paling berani di lokasi syuting. Sean akan tertawa setiap kali Claud mengaku dirinya pemberani. Bangunan yang kental dengan nuansa Belanda itu cukup membuat bulu kuduk siapa saja yang datang merinding. Dari ujung pekarangan setelah memasuki gerbang, mereka dihadapkan dengan koridor terbuka yang hanya dinaungi oleh atap segitiga. Pilar-pilarnya sewarna cokelat tanah, penuh dengan coretan hitam. Bekas lalapan api tampaknya belum hilang termakan usia. Empat orang itu berusaha menyusuri koridor, menapaki keramik sewarna putih yang sudah pecah di beberapa bagiannya. Sean, dan Claud berada di depan, sementara Darius dan Joe mengikuti di belakang. Joe makin tidak enak. Dia terus menatapi semak-semak gelap yang ada di sepanjang sisi koridor. Takut kalau-kalau ada sosok menyeramkan yang menerkam dan memangsanya dalam sekejap. Di tengah rasa takut yang memuncak, dia tersandung pada kepingan keramik, lantas menabrak Darius dengan kepalanya. Bagai menaruh minyak dalam percikan api, Joe berhasil membuatnya kembali membara. Dia mendelik sinis kepadanya. Ada yang aneh, tentu saja. Joe merasa dirinya diawasi, atau, memang ada sosok yang tengah mengintainya di balik semak-semak? Hingga membuatnya kehilangan fokus. Seharusnya hal yang Joe khawatirkan bukan sosok tersembunyi di balik dedaunan, melainkan lelaki berahang tegas yang sedang berdiri di depannya saat ini. Darius benar-benar menyeramkan. “Lo bisa jalan enggak, sih?” Darius mencibir ketika Joe menabraknya dari belakang. Dia sudah kelewat jengkel dengan lelaki berkacamata itu. Itu sudah kedua kalinya kesalahan yang Joe perbuat pada Darius. Sore tadi, ketika briefing, Joe tidak sengaja menumpahkan sekaleng cola-nya ke arah kemeja planel yang Darius pakai. Saat Sean meminta Joe mengambilkan lighting, dia tersandung batu yang membuat tubuhnya oleng. Kaleng cola di tangannya melayang begitu saja dan mendarat indah di tubuh Darius. “So-sori, gue enggak bisa ....” “Cih. Gue heran sama kalian ...,” ucap Darius membuat Claud menghentikan aktivitasnya. Dia menoleh, bersamaan dengan Sean yang menurunkan lighting. “Kenapa cowok kayak dia bisa masuk geng pemburu hantu? Enggak berguna sama sekali lagi.” Darius menggeleng. Mendengar hal itu Sean melotot. Darius tidak segan mengutarakan kekesalannya pada Joe. “Lo masih marah sama Joe gara-gara cola tadi sore?” tanya Sean. “Fungsi dia di sini apa, sih?” tanya Darius. Claud diam, dia mematikan kamera, menurunkan tangannya, dan menoleh pada Joe yang kini menunduk. Dia tak berniat merelai sama sekali. “Joe konseptor. Udah, enggak usah diperpanjang. Gue ajak elu ke sini bukan buat caci-maki Joe. Santailah sedikit.” Sean melangkah, memangkas jarak antara dirinya dengan Darius yang kini menggebu dipenuhi amarah. Joe masih diam. “Joe ...,” kata Sean, menatap lelaki itu dengan santai. Meski gelap, Joe bisa melihat binar pada manik Sean. Lelaki itu selalu penuh maaf dan lembut. Joe merasa lebih baik meski kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Kedua tangannya yang habis dilahap lengan sweterhitam bertuliskan Adidas dia coba angkat, meraih tangan Darius yang masih mengepal, menggengam kekesalan yang Darius harap bisa dia lampiaskan pada pipi putih mulus milik Joe. Sean menyayangi Joe dan Joe tahu akan hal itu. Meski selalu membuat masalah, Joe adalah orang yang cerdas. Dia hanya perlu menyesuaikan diri saja dengan kondisi. Sean paham itu. Dia tak pernah marah bahkan ketika Joe mengacaukan semua yang sudah disusunnya. Pertemanan mereka sudah terjalin cukup lama, meski tak selama kedekatannya dengan Darius. Bagi Sean, siapa pun yang lebih dulu mengenalnya, tak masalah. Baik Joe atau Darius, mereka sama-sama sahabatnya. “Maafin gue, Dee.” Joe berusaha tersenyum pada Darius. Dee adalah panggilan Sean untuk Darius. Setelah semua orang tahu, mereka mulai menggunakannya juga. Darius yang masih terlihat sebal, kemudian mengangguk. Dia tak ingin mengacaukan acara syuting. Darius masih ingat ekspresi Sean saat  mengajaknya ikut ke lokasi. Sean selalu bilang jika dirinya tak nyaman jika berada di lokasi. Claud bertingkah seenaknya. Orang itu akan menjadikan Sean manusia berperan ganda. Dengan mengajak Darius, Sean berharap kekesalannya pada Claud berkurang. Dia tak ingin mengecewakan sahabatnya hanya karena masalah seperti ini. Darius mengembuskan napas pelan. “Udah? Bisa gue lanjut?” tanya Claud yang kini kembali menyalakan kamera. Dia mengepal erat. Padahal saat opening tadi dirinya sudah berusaha keras untuk terlihat keren di depan kamera. Claud membetulkan penutup kepalanya, tersenyum pada kamera, kemudian mulai bermonolog. Sean menepuk pundak Joe sambil tersenyum. Berusaha mengatakan jika semua akan baik-baik saja seperti biasanya. Mereka sudah sering melakukan hal gila. Tak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum terjadi. Sean yakin Joe bisa melewatinya. Meski begitu, dia belum bisa menerima ketika Darius terus saja menatapnya dengan tampang meremehkan. Seolah menganggap jika Joe adalah beban di geng maniac. Lorong demi lorong rumah sakit pun mereka susuri. Sean mengarahkan pencahayaanya ke berbagai arah, berharap apa pun yang berhasil dia tangkap bisa masuk ke kamera Claud. Dia tidak mau kerja kerasnya tak membuahkan hasil apa pun. Seberapa kuat pun Joe berusaha untuk tenang, dia tetap tidak bisa melakukannya. Ini aneh, tak biasanya dia seperti itu. Joe merasa jika apa pun yang ada di lokasi itu berhasil membuat nyalinya ciut. Melihat hal itu, Darius makin tidak suka. “Lo enggak apa-apa? Atau mau gue antar ke mobil?” tanyanya saat Joe berjalan pelan di belakang. Darius bertanya bukan karena peduli, tapi tidak ingin Joe menjadi beban untuk orang lain, atau malah menjadi beban untuknya. “Enggak. Makasih. Gue baik-baik aja. Kayaknya cuma masuk angin,” ucap Joe. Dia menaruh kedua tangannya di d**a, merengkuh dirinya sendiri, menghilangkan embus angin malam yang menusuk persendian. Yakin jika semua rasa gelisah itu hanya karena angin malam. “Yaudah. Gue harap elu enggak kenapa-kenapa. Dan ....” Darius melangkah, berusaha mengimbangi Joe yang makin cepat. Sesaat sebelum lelaki itu diam dan menyadari keberadaan Darius di sampingnya, Darius sudah berbisik, membuat Joe bergidik ngeri mendengarnya. “Gue harap elu enggak bikin repot Sean. Jangan jadi beban di sini, atau ...,” kata Darius menggantung, kemudian meninggalkan Joe mematung di bawah pendar lampu koridor. Menatapi Darius yang sudah jauh meninggalkannya. Di ujung penglihatan, Joe mendapati Darius mengacungkan tinjunya ke udara. Hal itu bisa Joe artikan sebagai sebuah peringatan. Joe menelan ludah kasar.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN