Rasa lelahnya tetap sama setiap kali Darius selesai mengikuti ke mana pun kaki Sean melangkah bersama geng maniac-nya. Mengelilingi Kota Kembang yang mulai ikut-ikutan panas seperti Ibukota karena padatnya kendaraan di jalanan.
Jika Darius pikir-pikir lagi, nyaris seluruh kota di Jawa Barat telah disambangi oleh geng lawak yang hanya terdiri dari tiga anggota saja itu. Semuanya demi konten. Aneh!
Lelaki yang sedang selonjoran di sofa berwarna cokelat ini memejamkan kedua mata seraya mengingat kembali alasannya menyetujui ajakan Sean untuk ikut bergabung bersama geng maniac selama ini.
Tidak. Tidak. Bukan bergabung, lebih tepatnya Darius hanya menemani Sean saja di sana. Dia tak pernah mau terikat dengan aturan milik Claud, si raja online i***t.
Menjadi sahabat karib sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, hingga akhirnya mereka kembali dipertemukan di dalam satu kampus dan program studi serta kelas yang sama, menjadikan Darius dan Sean sesumbar soal Tuhan yang menginginkan mereka untuk menjadi pasangan teman selama-lamanya.
Hal itu memang terdengar tak mustahil jika melihat keakraban dan kekompakan mereka yang tiada duanya.
Predikat The Real Bromance of Prodi Teknik Informatika telah resmi disandingkan kepada keduanya.
Darius selalu melindungi Sean saat ada orang lain yang berniat buruk padanya. Mengingat ukuran tubuh Darius memang jauh lebih kekar dan berotot dibandingkan dengan Sean dalam tubuh standar lelaki Indonesia miliknya.
Begitu pun Sean, meski dia tak jago berkelahi, otaknya begitu encer dan cerdik ketika menghadapi sebuah masalah. Buktinya, selama ini Sean sudah melindungi nilai-nilai semester Darius agar selalu bertengger di zona aman tanpa diketahui oleh dosen mana pun.
Keduanya telah begitu mengenal kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saling melengkapi dan tetap bersikap harmonis, dalam situasi pelik apa pun rasanya sudah menjadi makanan mereka sehari-hari.
Namun, akhir-akhir ini Darius merasa emosinya tak dapat terkontrol dengan baik. Entah mengapa dia selalu geram dan kecewa pada Sean setiap kali terlihat dekat dengan Joe, teman sekelas mereka yang lain.
Joe adalah seorang konseptor di geng maniac. Setidaknya, itu yang Sean katakan pada Darius saat itu. Bisa saja kedekatan mereka berdua berawal dan berkembang di dalam geng yang diketuai oleh Claud Yang Maha Perkasa itu.
Darius menyadari perhatian Sean telah terbagi dua darinya sejak Joe ikut bergabung dalam geng.
"Lo ikut lagi dong, Dee. Bantu-bantu gue dikit. Biar mengerti juga perjuangan gue buat isi kuota bulanan itu kayak gimana. Gue udah minta izin sama si otak kepiting. Entah kesambet setan apaan, Claud langsung mengiakan tanpa banyak cincong." Sean berkata. Dirinya tergelak di seberang teleponnya.
Darius berpikir cepat, sepertinya ini ide yang bagus. Tak ada salahnya jika dia ikut bergabung lagi dengan mereka. Mungkin dengan hangout bersama akan menjadi momen spesial bagi Darius dan Sean untuk kembali mempererat hubungan persahabatan mereka berdua yang sedikit merenggang.
Mengingat karena kesibukan Darius akhir-akhir ini, keduanya sudah jarang pergi menghabiskan waktu bersama lagi seperti saat awal kuliah dulu-sebelum Darius sadar jika revisi skripsi ternyata adalah momok paling mengerikan bagi mahasiswa otak pas-pasan sepertinya.
"Oke, deh gue temenin. Gue jemput lo aja, ya, biar barengan berangkatnya."
"Ketemu langsung di tempat Claud aja, deh, Dee. Gue bakal bareng Joe soalnya. Tempat Joe sama gue kan searah. Kalau lo ke sini dulu kejauhan. Kasian gue sama lo kalau mesti muter-muter dulu."
Ah, benar! Darius semakin menyadari jika rasa tak sukanya pada Joe karena dia telah cemburu.
Ada sedikit sikap over protective dalam dirinya terhadap Sean yang tak rela jika sahabatnya itu terlalu dekat dengan orang lain selain dirinya.
Baiklah, Darius paham jika Sean memang selalu baik pada siapa pun. Entah pria atau wanita, entah lawan bicaranya adalah seorang putri raja atau seekor itik buruk rupa, Sean selalu baik pada orang di sekitarnya.
Namun, entah mengapa pikiran-pikiran negatif tentang Joe selalu berseliweran di dalam otaknya. Pasalnya, Darius kesal dengan perlakuan Sean, seolah selalu membela Joe yang lemah.
Apakah Sean sebegitu polosnya hingga tak menyadari Joe selalu bersikap seolah dirinya memiliki posisi penting di antara keduanya?
Apakah Sean tak dapat melihat Joe selalu berusaha mendekati Sean dan bertingkah bahwa dia juga memiliki hak yang sama seperti Darius?
Joe seperti ular bermuka dua. Meski Darius tak pernah melihat dengan mata kepalanya sendiri mengenai apa yang dituduhkan terhadap Joe. Setidaknya dia percaya dengan intuisi tajamnya yang mengatakan hal mengerikan itu.
Benar, Joe pasti menginginkan posisi Darius bergeser dan digantikan olehnya.
Itu menjengkelkan. Benar-benar menjengkelkan. Darius takkan melepaskan tali persahabatannya dengan Sean semudah itu. Ia takkan membiarkan siapa pun mengganti posisinya di samping Sean.
Cecunguk kecil dan mengganggu seperti Joe harus segera dilenyapkan.
Mungkin berawal sejak saat itulah dan dengan alasan kekanak-kanakan seperti itu pula, Darius selalu mengikuti Sean saat bekerja.
Dia ingin memantau Joe, meski harus selalu mengatakan hal-hal yang bisa jadi membuat Joe sakit hati padanya.
Terserah. Darius tak akan ambil pusing. Dia tak takut pada Joe atau siapa pun.
Darius menengadahkan kepalanya. Memijat batang hidung yang berada di antara kedua mata dengan perlahan.
Sebaiknya dia mengalihkan perhatiannya pada hal lain. Kepalanya selalu sakit jika mengingat si berengsek Joe bersama Sean.
Darius pun merogoh saku celana jeans yang dipakainya. Dengan gerakan gesit, kini ponsel itu telah berpindah tempat ke dalam genggamannya.
Baiklah, Darius akan menelepon pacarnya saja. Tak menutup kemungkinan Vanessa masih belum tidur meski jam di dinding kamar Darius telah menunjuk angka sebelas malam.
Tak harus menunggu hingga dering berikutnya terdengar, suara lembut Vanessa di sisi sebelah sana langsung menyeruak ke dalam gendang telinga Darius.
"Hon, belum tidur?" Darius bertanya setelah Vanessa mengatakan halo.
"Baru aja naik ke kasur. Lagi coba buat tidur, tapi sepi nih kalau sendirian."
Sial!
Desahan Vanessa membuat adik kecil milik Darius seketika menegang. Wanita ini terdengar sedang menggodanya, bukan?
"Mau aku temenin?"
"Jangan, ah! Aku lagi di rumah mama. Kalau jam segini kedatangan tamu cowok, bisa-bisa mama guyurin aku di kamar mandi. Hehehe. Kan jadi basah, semuanya jadi tegang, deh."
Sial! Vanesaa benar-benar menggoda Darius. Lelaki ini jadi tak bisa tenang dalam duduknya.
"Aku bisa datang ke tempatmu tanpa ketahuan. Kayak yang selalu kita lakukan di tempat itu. Meskipun yang terakhir kali enggak bisa masuk hitungan juga, sih." Darius dan Vanessa sama-sama tergelak.
"Kamu mah nakal sih ... suka enggak tahu waktu kalau minta jatah."
"Mau gimana lagi?" Keduanya cekikikan.
Dua sejoli itu mengobrol ke sana kemari hingga lewat tengah malam. Saling mencumbu lewat telepon hingga lelah menghinggapi.
Beruntungnya Darius, dia memiliki Vanessa yang selalu bisa mengalihkan dunianya. Bahkan, akhirnya lelaki ini pun telah mampu melupakan kekesalannya terhadap Joe walau sementara.
Kelanjutan kisahnya ada di part dua. Jangan sampai beralih,ya. Ikuti terus ceritanya sampai akhir.