Darius terbangun karena telinganya mendengar alunan lagu milik The Beatles yang dia jadikan sebagai nada dering ponselnya. Ada telepon masuk dari nomor yang tak dikenal. Pagi-pagi seperti ini sudah ada yang mengganggu tidurnya? Kurang ajar!
Mata sipit khas bangun tidur miliknya pun dipaksa melolot ketika mencoba untuk menjawab panggilan tersebut. Dengan malas Darius beranjak dari posisi terbaring, menyandarkan tubuhnya di sandaran ranjangnya sambil masih menahan mata kantuk.
"Siapa, nih? Ganggu tidur gue aja lo!" Persetan dengan anggapan dari orang yang berada di seberang sana mengenai sikap pongah Darius.
"Maaf mengganggu waktunya sebentar. Benar saya sedang berbicara dengan saudara Darius Pratama?" Darius menjawab dengan geraman kasar. "Saya Kamil, dari rumah sakit Parahyangan. Saya hanya ingin menyampaikan kabar duka untuk saudara Darius atas kematian dari saudari Vanessa April. Almarhumah kini berada di ruang mayat rumah sakit, menunggu kedatangan dari sanakkeluarganya untuk membawa pulang jenazah ke rumah duka ... halo? Halo? Anda masih di sana? Halo?"
Kabar buruk itu menghantam pendengarannya. Bunyi memilukan berdungung di telinga, membuat Darius seperti sedang berada di ruangan hampa udara. Butuh waktu lama untuk Darius mencerna informasi yang baru saja kupingnya dengar.
Apa katanya?
Vanessa meninggal?
Kok, bisa?
Semalam suntuk gue masih ngobrol sama dia.
Bagaimana bisa sekarang dia ada di rumah sakit?
"Jangan main-main lo, ya!" Napasnya naik-turun. Nada yang sejak tadi sudah tinggi kini semakin kasar, menekan. Darius sama sekali tak bisa bersikap tenang saat orang bernama Kamil itu memberitahu jika kekasihnya sudah meninggal.
"Oh, masih tersambung. Mana mungkin saya main-main. Saya menelepon Anda karena nomor telepon ini merupakan nomor panggilan terakhir dari ponsel milik almarhumah."
Ah, benar! Mungkin orang yang bernama Kamil ini tak sedang bercanda. Mendadak dia lemas saat pemikiran itu terlintas di kepalanya. Menyadari hal itu, kepanikan Darius mulai terbentuk. Ia memegang ponselnya dengan erat seraya bangkit berdiri.
"Oh, iya, benar-benar. Maaf. Saya baru bangun tidur, jadi kurang konsentrasi, Pak. Vanessa meninggal karena apa? Padahal ... padahal ...."
Ah, sial. Darius tak bisa menahan air mata untuk tak keluar dari tempatnya. Tangannya mengepal erat, giginya menggemertak.
"Vanessa diketemukan dalam keadaan sudah meninggal di kamarnya dini hari tadi. Almarhumah menenggak pil tidur dalam dosis yang tinggi hingga menyebabkan overdosis."
Kini pertahanan Darius jebol. Ia tak dapat menghentikan tangisnya yang meraung. Darius tak ingin mendengar lebih banyak hal lagi dari Kamil. Dirinya memutuskan untuk mengakhiri sambungan telepon itu dan bergegas pergi ke rumah Vanessa.
Isi kepalanya berputar-putar. Darius mencoba mengingat-ngingat obrolan keduanya tadi malam.
Apakah, memang seperti itu cara kerja maut? Tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Begitu mendadak dan tidak terduga.
Tanpa persiapan lebih banyak, Darius pun melangkahkan kakinya keluar kamar. Begitu pintu terbuka, dia tak sengaja menendang sebuah kotak berwarna-warni dengan pita merah besar di atasnya. Sepertinya ada yang sengaja menyimpan benda ini di depan kamar indekosnya.
Darius pun memungut kotak itu dan memutuskan untuk membukanya. Betapa kagetnya lelaki ini saat mendapati dua ekor kepala tikus-lengkap dengan darah yang membuat siapa pun akan mual ketika melihatnya-berada di dalam kotak terkutuk ini.
Darius menjerit, walau detik berikutnya mengerang geram karena merasa telah dikerjai.
Apa tikus di dalam kotak itu asli? Atau hanya mainan anak kecil saja?
Bisa jadi cairan merah kental yang seperti darah itu adalah saus tomat atau semacamnya, bukan?
Untuk memastikan hal itu, Darius tentu butuh keberanian ekstra. Ia harus menyentuh benda-benda itu dengan tangannya sendiri.
Bulir peluh bercucuran melewati pelipisnya.
Darius celingak-celinguk mencari seseorang yang dia kenal di tempat ini untuk ikut memastikan benda apa yang ada di dalam kotak sial itu. Namun, tak ada siapa pun. Tak ada pilihan lain, Darius harus melakukannya sendiri.
Lelaki itu berjalan pelan, mendekati kotak yang sudah berada jauh dari pintu kamarnya akibat dilempar tadi.
Apakah, Darius benar-benar harus melakukan ini?
Sebaiknya dia memanggil satpam di lantai bawah, bukan?
Darius menelan ludahnya. Tak ada waktu, dia tak harus melakukan ini jika ragu. Biarkanlah benda yang disinyalir sebagai tikus itu tetap di dalam kotaknya. Darius harus cepat dan kembali pada rencananya semula; pergi ke rumah duka keluarga Vanessa.
Lelaki dengan sweter navy ini berlari menuju tangga. Dengan tergesa-gesa dia melangkahi anak tangga sekali tiga. Tentu tak jadi masalah dengan kaki jenjang miliknya, hanya saja dengan fokus yang terpecah seperti itu malah membuat Darius tergelincir tepat saat dia menginjakkan kakinya di lantai dasar.
Darius terkilir!
Dia mengaduh bersamaan dengan ponselnya yang berdering. Dirinya sedikit kesulitan merogoh saku karena sebelah tangannya begitu sibuk mengurut pergelangan kakinya yang nyeri.
Sial!
Layar ponselnya retak. Pasti karena benturan keras dengan lantai barusan.
Darius tak bisa melihat siapa yang sedang mencoba meneleponnya. Beruntung, walau dengan susah payah, dia masih dapat menggeser bagian button accept yang tak mengalami retakan parah.
"Halo? Siapa ini?" Darius mencoba bangkit berdiri. Dengan tertatih lelaki ini beringsut menuju halaman depan.
Tempat indekosnya ini memang menyontek gaya apartemen dengan banyak lorong dan pintu kamar yang berjajar saling berhadapan satu sama lain. Karena itulah, dia jadi harus berjalan lebih jauh hanya untuk menuju pintu gerbang.
Tak ada suara yang menjawab. Darius jadi bergidik ngeri ketika otaknya kembali mengingat bangkai tikus tadi.
Kurang ajar!
Siapa orang iseng yang berani menaruh benda mengerikan seperti itu di depan kamar Darius?
"Woi, siapa sih nih? Ngerjain gue, hah?"
"Ih, Honey, apaan sih. Speaker hape-mu rusak, ya? Aku dari tadi udah halo-halo. Sekalinya nyahut malah marah-marah?"
Astaga!
Suara Vanessa!?
Darius terdiam.
Ia sedang memastikan bahwa suara yang baru saja terdengar di telinganya memang benar milik kekasihnya.
"Hon?"
"Iya, Beb. Kamu kenapa sih? Aneh deh! Baru bangun tidur, ya? Hari ini ketemu yuk! Jemput aku di rumah. Kangen nih gara-gara ngobrol semalem."
"Kamu... masih hidup, Hon?"
Biarkanlah Vanessa tertawa nyaring di seberang sana. Darius mengernyitkan dahinya hingga berlapis-lapis.
Ia tidak sedang bermimpi. Kakinya masih berdenyut nyeri dan dia bisa melihat sinar matahari yang tinggi di balik pagar tembok tempat indekosnya.
"Kamu ngomong apa, sih? Aku masih hidup, Yang. Kamu kangen juga, ya sama aku? Mimpi apa semalam emangnya? Hihihi."
Darius menatap ponselnya lekat-lekat.
Ini ... benar-benar suara Vanessa. Lalu, yang mengaku sebagai Kamil dari rumah sakit itu siapa?
Siapa yang mengarang cerita mengenai kematian Vanessa seperti tadi?
Ini memang gila. Namun Darius tak dapat menepis pikiran negatif ini dari otaknya.
Telepon jahil dan kotak tikus tadi ... yang melakukan semua itu pasti adalah orang yang sama. Ada seseorang yang sengaja melakukan hal keji ini pada Darius.
Tapi, siapa?
Siapa b*****h yang berani-beraninya mengerjai Darius seperti ini?!