Sean berhenti di depan gerbang saat ponselnya berbunyi. Satu tangannya yang hendak meraih gagang pintu terhenti di udara. Dia mendelik pada saku celana jeans navy yang dikenakannya, kemudian merogoh benda itu secepat kilat. Siapa yang meneleponnya malam-malam? Padahal dia baru saja akan beristirahat. Hari ini adalah yang terparah untuknya. Sean dipaksa untuk terus mencaritahu siapa dalang di balik teror yang terus mengganggu sahabatnya. Belum lagi soal pertengkaran yang terjadi antara Darius dan Joe. Sean tidak bisa tinggal diam dan mengabaikan semuanya. Sebagai seorang sahabat, dia perlu menyelesaikannya juga. Sambil setengah malas, dia mengangkat telepon. Tangannya kembali membuka pintu gerbang dan masuk sembari masih mendengarkan ocehan orang di balik telepon. Tepat ketika seseoran

