"Bu Nesya!" ujarnya.
Aku terkejut mendengar ucapan Dokter Faisal. Aku mengarahkan bola mataku ke asal suara itu.
"Selamat janin di dalam rahimmu ada dua. Itu pertanda ibu mengandung calon bayi kembar," ucapnya sembari mengulas senyum.
Aku terkejut mendengar ucapannya. Selama ini aku tidak ada merasakan tanda-tanda sedang hamil.
Aku tidak tahu harus senang atau sedih. Selama ini Rusly selalu menanyakan kapan aku bisa memberikan keturunan padanya. Namun, pada saat itu Allah mungkin belum memberikan izin. Mungkin itu alasannya berpaling dari pelukanku.
"Dok! Sudah berapa bulan usia kandunganku?" tanyaku dengan mata berkaca-kaca.
Aku masih belum percaya mendengar informasi yang baru saja aku dengar dari tepi bibir Dokter Faisal. Aku mencoba menahan buliran air mata agar tidak jatuh.
"Selamat ya, Bu! Sebentar lagi bakalan menjadi ibu dari bayi kembar," jawabnya sambil membereskan alat USG yang baru saja digunakan untuk mencek kondisiku.
Aku memalingkan pandanganku sambil mengelus perutku. Ucapan syukur lah yang bisa aku katakan pada saat ini. Selama ini, ibu mertuaku selalu menyepelekan aku. Dia bilang aku tidak bisa hamil, karena wanita karier.
"Dok, pertanyaan aku belum dijawab."
"Maaf, Bu. Saya lupa sangkin senangnya melihat janin yang ada. Apa lagi calon dedek bayinya kembar. Oh iya, usia kandungannya sudah masuk minggu ke lima. Aku harap jangan terlalu capek dan stress. Takut nanti kena imbasnya ke calon bayi."
Aku semakin bingung, 'kalau lima minggu, berarti sudah satu bulan lebih. Apakah aku karena terlalu sibuk kerja sehingga tidak sadar kapan aku mens?' tanyaku dalam hati.
Andai saja aku punya suami yang baik, sholeh dan peka terhadap aku. Mungkin bukan seperti ini nasibku. Sudahlah, kalau aku berpikir seperti itu, hanya menambah luka sukma. Lebih baik aku bersyukur apa yang ada.
"In sya Allah akan kurawat calon buah hatiku dengan sepenuh hati. Bolehkah aku minta surat keterangan kalau aku sedang hamil?" tanyaku sambil duduk di atas brangkar. Tidak berapa lama, aku merapikan pakaianku dan berjalan menuju kursi tempat pasien menunggu hasil USG.
"Boleh ... Boleh bahkan sangat boleh. Itu sudah tugas dan tanggung jawabku sebagai dokter. Sebentar akan aku print hasilnya."
Dokter Faisal mengotak atik keyboard di atas meja kerjanya. Tidak berapa lama, usai sudah surat keterangan itu.
"Ini, Bu!" ucap Faisal sambil menyodorkan amplop berwarna coklat berlogo rumah sakit.
Aku menerima amplop itu dengan rasa senang. Wajahku berseri karena aku mendapat kabar baik.
'Aku akan membuatmu menyesal, Pa! Selama ini kamu anggap aku mandul. Alhamdulillah Allah masih memberikan kepercayaan kepadaku.'
Setelah aku membereskan semua administrasi. Aku minta izin pamit pulang.
"Kalau begitu aku izin pamit pulang, Dok!" ucapku sambil mendorong kursi ke belakang agar aku leluasa berdiri.
Dokter Faisal masih saja menulis di atas kertas. Aku tidak tahu wasiat apa yang harus dia tulis.
"Bu! Silahkan ditebus obat yang harus dikonsumsi buat kandungan juga obat luka memar," ucapnya sembari menyodorkan dua lembar kertas kepadaku.
Aku kembali duduk dan menerima kertas itu. Perlahan aku membaca obat yang akan aku tebus di apotik.
"Kalau begitu aku permisi, Dok. Terima kasih banyak atas bantuannya."
"Sama-sama. Itu sudah tugas dan tanggung jawab ku sebagai seorang dokter."
Dokter Faisal berdiri dan dia mengukir senyum tipis. Lesung pipinya membuat aku jatuh hati, aku langsung mengucap istighfar.
Aku melangkah gontai keluar dari ruangan Dokter Faisal menuju parkiran. Beliau mengantarkan aku sampai pintu ruangannya. Dia mengulas senyum sembari berkata, "Hati-hati di jalan! Jangan lupa jaga kesehatan."
Kubalas senyumnya, aku sangat tertegun melihat senyum tipisnya. Giginya putih dan tertata rapi membuat hatiku senang memandang senyumnya. 'Astagfirullah, maafkan aku ya Allah, sudah berpikiran negatif kepada dia.'
Sesampainya di parkiran, aku masuk ke dalam mobil. Aku memasang seat belt lalu menyalakan mobil. Setelah semua aman kutancap tuas gas sambil melafalkan "Bismillahirrahmannirrahiim."
Bersambung ....
Next?