Tidak butuh waktu lama, akhirnya sampai juga ke rumah. Aku tidak balek lagi ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul enam belas tiga puluh menit Waktu Indonesia Barat.
Kuparkirkan mobilku di garasi, aku bergegas masuk ke rumah. Aku terkejut kaget mendengar suara tertawa bahagia.
Aku melangkah pelan sembari menguping. 'Lala, Rusly dan wanita itu siapa? Aku nggak kenal sama sekali. Apakah dia wanita selingkuhan suamiku?' tanyaku dalam hati penuh rasa curiga.
"Untung saja, Lala cerdas memberitahuku kalau Nesya bakalan on the way ke restoran tempat kita lunch, sayang. Kalau nggak bisa berabe urusannya," ujar Rusly dengan nada senang dan tidak kusangka dia mengecup kening perempuan itu.
'Kau harus sabar Nesya! Jangan terpancing emosi,' ucapku dalam hati menasehati diriku sendiri.
Wanita mana yang tidak mendidih darahnya ketika seorang suami sudah berani membawa perempuan selingkuhannya ke dalam istana surganya. Sakit, perih bercampur menjadi satu. Aku harus kuat dan terus bertahan demi janin yang ada di dalam rahimku.
Otakku traveling buat mendokumentasikan dan merekam semua pembicaraan mereka. Kurogoh telepon selulerku, kubuka camera dan memoto setiap kegiatan mereka.
"Kenapa kamu bisa mengetahui kalau Nesya sedang on the way ke sana?" tanya wanita itu kepada Lala.
"Mbak Ririn mau tahu? Kalau iya, jangan lupa transfer dulu ke rekeningku buat tutup mulut atas perselingkuhan Mbak dan Mas Rusly," tuturnya santai seolah tidak bersalah.
Lala tidak mau bekerja capek, tapi dapat uang dengan instan. Dia tidak peduli dengan cara halal atau pun tidak.
"Tenang saja! Tunggu sebentar akan aku transfer," ucap Ririn sambil mengotak atik gawai miliknya. Tidak berapa lama, muncul notif sms banking di layar ponsel Lala.
"Thanks, Mbak Ririn. Aku sangat senang bisa bekerja sama denganmu. Pokoknya akan aku awasi gerak gerik Mbak Nesya. Asalkan transferannya harus lancar," ujar Lala sangat senang bisa mendapat uang cuma-cuma. Memang begitulah maunya Lala.
'Nama wanita itu Ririn. Lala bekerja sama dengan Rusly dan Ririn. Enak sekali kamu Lala memperalat aku demi kebahagian kamu mendapatkan cuan. Kamu juga harus dapat balasan yang setimpal dariku. Sekarang kamu nikmati dulu cuan hasil kerja kerasmu.'
Aku berusaha tenang, walaupun darahku sudah mendidih.
"Aku sudah menyadap Wh*ts*pp-nya Mbak Nesya. Semua chat masuk dan chat keluar aku tahu. Mulai dari hal rahasia maupun hal yang biasa," jelasnya dengan bangga.
Aku terkejut kenapa Lala bisa menyadap Wh*ts*pp-ku.
'Astaga! Apa kejadian tadi siang di restoran itu ulahnya Lala. Dia sengaja menggagalkan semua rencana yang ada di restoran itu. Apakah wanita dan pria itu suruhan mereka? Dan sengaja menyamar agar tidak ketahuan kedok Rusly dan Ririn sedang lunch di sana. Ternyata ini semua Lala biang keroknya.'
"Kamu hebat, Lala. Tidak sia-sia kamu kuangkat jadi adik angkat aku," ucap Rusly.
Mereka meneguk minum berwarna merah sambil tertawa terbahak-bahak.
'Sepandai-pandai tupai melompat, sesekali pasti jatuh juga. Sepandai-pandai kamu, Lala membungkus bangkai yang busuk, pasti tercium juga aromanya.'
Aku sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam. Mereka sudah bersenang-senang di rumahku bahkan di atas penderitaan aku.
'Baik aku akan masuk dan melabrak mereka,' gumamku dalam hati.
Sebelum aku masuk ke dalam, kucari vas bunga buat aku pecahin di depan mereka. Tidak butuh waktu lama, aku menemukan vas bunga di atas meja teras depan.
Kuambil vas bunga itu, lalu melangkah masuk ke dalam rumah.
"Ternyata kalian bertiga sengaja mau menghancurkan aku seperti vas bunga ini," sergahku sembari menjatuhkan vas bunga itu ke lantai.
Vas bunga itupun hancur berkeping-keping seperti hatiku hancur lebur mendengar semua pembicaraan mereka.
"Sungguh keji dan licik otak kalian, menghalalkan cara demi mencapai kebahagian kalian semua."
Mata mereka membulat dan mulut mereka menganga seolah kaku.
"Pergi dari rumahku ini!" seruku dengan amarah yang sudah tidak bisa lagi aku kontrol.
Setelah lima menit aku marah, Rusly bangkit dari tempat duduknya.
"Kamu salah paham, sayang. Apa yang kamu dengar itu semua tidak benar. Jangan ikuti setan yang ada di dalam dirimu!"
Rusly mencoba menjelaskan apa yang terjadi. Dia berusaha meyakinkan aku. Namun, aku tidak semudah dulu lagi percaya setiap kata yang keluar dari tepi bibirnya.
"Pergi dari sini ...!"
Bersambung ....
Next?