Part 09: Niat Busuk

595 Kata
"Pergi dari rumahku ini!" usirku dengan paksa. Aku memukul d**a bidangnya suamiku. Aku lupa kalau ada janin di dalam rahimku. Aku sudah tersulut emosi, sehingga aku tidak menghiraukannya lagi. "Rumahku, kamu bilang? Sadar Nesya! Rumah ini sudah menjadi hak milikku," jawab Rusly dengan santai. Aku diam sejenak menelaah perkataannya. Rusly melahirkan senyum smirk. Sementara Lala dan Ririn masih duduk santai melihat percekcokan antara aku dengan suamiku. "Sejak kapan rumah ini jadi hak milikmu? Sepertinya kamu lagi mimpi, Pa! Bangun woi dari tidur pendekmu," ledekku mengukir wajah memerah. Emosiku semakin membara, kutampar wajahnya agar dia bangun dari tidur pendeknya. Plak! Wajahnya kini berubah merah seperti bekas tamparan tanganku. Aku merasa sedikit puas dan lega. Tanganku mendarat di pipinya tanpa ampun. "Kamu kira aku mimpi, hah!" dia membalas tamparan yang aku layangkan, tapi aku berhasil menghindar. Walaupun tanganku dikunci kuat olehnya. "Jangan mimpi, Pa! Surat yang kamu tanda tangani di depan notaris itu atas namaku. Salah siapa nggak baca isinya terlebih dahulu. Jika nggak percaya coba cek fotonya! Ternyata kamu begitu mudah menandatangani surat itu tanpa dibaca sama sekali isinya," ledekku. Mata Rusly membulat seolah mau keluar dari sarangnya. Dia melepaskan tanganku lalu berjalan menuju sofa. Dia mengambil ponsel miliknya kemudian mengotak-atiknya. Tidak butuh waktu lama, foto yang dimaksud akhirnya ketemu. Perlahan dia baca isinya. Jantungnya seolah mau copot. "Tidak ... Tidak mungkin Nesya! Kamu pasti membohongiku," serunya sembari mengacak-acak rambutnya. Wajahnya masam seolah tidak terima. Pelan-pelan dia baca ulang kembali. Rusly penuh harap kalau dirinya salah baca. berulang kali dia mengusap netranya dengan kasar. Hasilnya sama saja nihil. Ternyata isi suratnya sangat jauh bertolak belakang dengan apa yang dia inginkan. "Tidak ... Ini tidak mungkin. Kamu pasti sengaja menjebak aku 'kan?!" bentaknya dengan menjambak rambutku. Aku mencoba melawan dari amukannya. Namun, tenaganya jauh lebih kuat daripada aku. "Lepaskan Pa!" teriakku. Namun, dia malah membabi buta menghajar aku. 'Ya Allah aku mohon beri aku kekuatan untuk melawan kezaliman suamiku,' pintaku dalam hati. Tidak berapa lama, Ririn datang menghampiriku lalu mencekik leherku. "Ririn, jangan lakukan ini kepadaku. Aku mohon lepaskan!" ucapku mengiba, tetap juga tidak digubris sama dia. "Kau harus mati saat ini juga, agar semua hartamu bisa kukuasai," ucap Ririn kencang memekakkan telingaku. "Kamu tidak akan bisa menguasai hartaku, Rin! Tidak semudah membalikkan telapak tangan." Aku masih berusaha meronta agar bisa lepas dari terkaman Ririn. Namun, usahaku masih sia-sia. Ternyata tenaganya sangat kuat. "Sebentar lagi aku akan mengirim kamu ke neraka! Rasakan ini!" cekikan demi cekikan dia lakukan demi mencoba membunuhku. "Kamu mau cari mati, hah!" ucapku mencoba melawan serangan demi serangan yang dia lakukan kepadaku. Walaupun tubuhku sudah dikunci mati sama Ririn. Aku masih tetap berusaha melawan. Walaupun aku sudah kehabisan tenaga, aku terus berpikir bagaimana caranya bisa lepas dari terkaman wanita jahat ini. Tiba-tiba, otakku melahirkan ide. Kuambil kunci mobil di kantong celana, kutekan tombol buka kunci mobil supaya ribut, tujuanku agar Pak satpam dan Bu Ijah datang. Tidak butuh berapa lama, ada suara seseorang terdengar, "Hentikan!" ucapnya dari ujung sana. Semua mata tertuju pada asal suara itu. Ririn melepaskan tangannya dari leherku. Dia terkejut dan menunduk. "Ibu!" teriak Rusly. Dia terkejut kenapa tiba-tiba ibunya datang tanpa terlebih dahulu memberitahunya. Selama ini ibunya, Rusly kalau mau datang berkunjung selalu menelpon dirinya agar dijemput ke bandara. "Siapa kedua wanita ini, Rusly? Kenapa leher istrimu di cekik malah kamu biarkan? Dimana tanggungjawab kamu sebagai suami?!" amuk Ibu Wardah dengan wajah memerah sambil berjalan menghampiri Rusly. "A-anu, Bu. Kami ini lagi latihan akting. Adegan pada manuskrip scene ini ada cekik mencekik secara membabi buta," jawab Rusly mencoba ngeles mencari alasan agar ibunya tidak menaruh curiga. Bersambung .... Next?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN