"Apanya yang tidak mungkin, Rusly?" tanya Bu Wardah.
"Tidak mungkin Nesya menggugat cerai. Aku yakin dan percaya itu."
Aku ingin tertawa mendengar penuturan suamiku. Seolah dia tidak percaya apa yang aku katakan.
****
Flash back on
Seminggu setelah check up, aku bersua dengan Dokter Faisal di salah satu restoran. Aku tidak tahu apakah itu kebetulan atau hanya spontan saja.
"Bu Nesya!" tegur Faisal dengan lembut.
Aku mengarahkan pandanganku ke asal suara itu. Dari intonasi suaranya, tidak asing bagiku. Ternyata benar adanya.
"Dokter Faisal," jawabku sambil mengulas senyum tipis.
Suasana restoran sangat hening, kebetulan baru jam sebelas lewat tiga puluh menit Waktu Indonesia Barat. Jam seperti itu, baru saja restoran itu opening dimana tempat aku dan Dokter Faisal bertemu. Itu sebabnya pengunjung masih sepi.
"Lagi nunggu siapa?" tanyaku memulai percakapan.
Aku meletakkan gawai milikku, kemudian mempersilahkan Dokter Faisal duduk. "Mari, silahkan duduk!" ucapku.
"Nggak ada. Aku cuma mau ketemu sama saudara. Cuma, aku sudah bosan menunggu. Soalnya dia menjanjikan jumpa di sini sudah setengah jam aku menunggu tidak ada kabar dan dia belum nongol."
Aku heran, sudah setengah jam dirinya menunggu. Kok kelihatannya dia baru datang. Aku penasaran jawaban yang dia berikan.
"Ma-maksudnya?!" tanyaku sambil mengukir wajah masam.
"Loh, kenapa memasang wajah masam. Seolah ibu tidak percaya apa yang aku katakan."
Dokter Faisal menarik kursi lalu dia duduk. Tidak berapa lama, pelayan restoran datang menghampiri aku dan dokter Faisal lalu menyodorkan buku menu.
"Silahkan Pak, Bu!" ucap pelayan itu dengan senyum dan ramah. Di name tag-nya tertulis Resti.
"Terima kasih. Nanti aku panggil setelah selesai memilih menu yang akan kami pesan."
Resti melangkah pergi melanjutkan aktivitasnya kembali. Sementara aku dan Dokter Faisal sibuk membolak-balik buku menu.
Suasana alunan musik membuat aku terhanyut dalam arus. Aku terlalu sibuk membaca menu yang ada di daftar menu.
"Kamu pesan apa?" tanyaku dan Dokter Faisal bersamaan.
Aku mengukir senyum seolah malu. Begitu juga dengan Dokter Faisal. Aku tidak tahu, ketika berada di sampingnya, hatiku terasa nyaman dan tenang. Apalagi melihat senyum manisnya ditambah lesung pipi dan hidungnya yang mancung membuat aku semakin jatuh cinta.
Pandanganku tidak berkedip memperhatikan wajah gantengnya. Sehingga aku tidak sadar, dia menegurku.
"Ibu ...!" tegur Faisal kembali.
'Astagfirullah! Aku sudah berdosa membayangkan wajah pria lain yang tidak mahram denganku.'
Aku menunduk dan tidak berani memandangnya lagi. Dia hanya tersipu malu dan menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Aku mau menggugat cerai suamiku," jawabku asal dan tidak sadar atas perkataan aku baru saja.
"Apa?!" tanya Faisal terkejut.
Aku tersentak kaget mendengar intonasinya yang tinggi. Baru kali ini aku mendengar suaranya tinggi.
"Maaf, aku tadi asal bicara tanpa memikirkan apa yang aku ucapkan."
Faisal menggeleng kepala sambil mencatat menu makanan yang ingin dia pesan.
"Aku pesan Mie gomak kuah kacang," jawabku.
Aku sudah kangen mencicipi makanan khas Medan ini. Ketika membaca makanan ini ada di daftar menu, aku langsung ngiler.
"Minumnya?" tanya Faisal.
"Jus terong belanda."
Faisal mengernyitkan kening, dia heran menu makanan yang aku pesan makanan dan minuman khas Medan.
Seketika Dia memanggil pelayan, tidak buang-buang waktu Resti datang. Faisal menyodorkan buku menu serta daftar list pesanan kami. Resti membaca ulang pesanan kami. Dia bertanya kembali kepada kami berdua.
"Apakah sudah sesuai pesanan yang aku bacakan Pak, Bu?" tanya Resti dengan nada lembut. Dia memandangi aku dan Faisal secara bergantian. Senyum manis selalu dia berikan kepada kami.
"Sudah," jawabku dan Faisal dengan serentak.
Aku tidak tahu kenapa bisa menjawab secara bersamaan. Resti senyum melihat jawaban kami berdua.
"Wah, pasangan serasi."
Resti mengembalikan pensilnya ke dalam kantong. Terus dia pamit.
Alunan musik terus mengiringi suasana di dalam restoran. Sudah hampir setengah jam aku dan Dokter Faisal di sini menunggu pesanan, tidak berapa lama akhirnya makanan yang kami pesan datang.
"Permisi, pesanan mie gomak kuah kacang, jus terong belanda, nasi goreng kampung, jus alpukat."
Resti meletakkan makanan sesuai pesanan sambil memberi tahu nama menu pesanannya.
"Apakah semua pesanan sudah lengkap?" tanya Resti kembali. Dia memastikan kepada kami.
"Sudah!" jawabku.
Faisal tidak menjawab dia hanya melihat wajahku. Namun, aku tidak sadar kalau dia memperhatikan aku. Aku tersipu malu dan salah tingkah. Sendok yang kuambil jatuh sangking groginya.
"Nggak usah grogi segala, Bu!" ucap Faisal sambil menyendok nasi goreng kampung ke dalam mulutnya.
Aku hanya diam dan menikmati mie gomak kuah kacang. Sudah lima menit berlalu, tidak ada sama sekali percakapan yang keluar dari tepi bibirku dan Faisal.
'Sungguh malangnya nasib kamu, Bu Nesya. Andai saja kamu menjadi bidadari surgaku, aku pasti membahagiakan kamu sampai akhir hayatmu.'
Faisal memejamkan matanya, dia sangat mencintai aku, tapi tidak berani mengatakan apa yang dia rasakan.
"Oh iya, aku ingin menggugat cerai suamiku. Aku sudah tidak sanggup lagi melihat tingkahnya."
"Bagus!" jawab Faisal spontan.
Aku melihat wajahnya, seketika bibirnya kumat kamit membaca istighfar.
"Ke-kenapa dokter bilang bagus?" tanyaku dengan nada grogi.
"Maafkan aku, jikalau aku menyimpan rasa suka dan ingin segera memiliki, Bu Nesya. Aku ingin membebaskan dirimu dari belenggu siksa yang tiada henti dari suamimu, Bu. Aku merasa kasihan melihat Bu Nesya terus menerus sakit hati."
Faisal berkata jujur masalah perasaannya kepadaku. Namun, aku tidak percaya semua perkataannya yang baru saja aku dengar dari sudut tepi bibirnya.
"Jika kamu mencintai seseorang karena kasihan. Mohon maaf aku tidak bisa."
Aku menolak secara mentah atas cintanya kepadaku. Sebenarnya aku juga sangat mencintainya. Namun, aku tidak pantas dan cocok sama Dokter Faisal.
"Bukan kah Nabi Muhammad menikahi janda atau b***k pada masa itu karena kasihan. Bukan kah dia ingin memerdekakan mereka dari siksa dan dosa yang mereka alami. Lantas, apa salahnya aku mencintai ibu karena kasihan. Aku juga mau menikahi kamu karena ingin membahagiakan kamu, Bu. Maaf jika aku terlalu memaksakan kehendak untuk memiliki ibu seutuhnya. Rasa cinta tidak dapat dibohongi."
"Masalahnya, aku masih istrinya, Rusly, Dok! Mana mungkin aku menerima dokter begitu saja. Sementara aku dan ...."
Aku tidak melanjutkan perkataanku. Rasanya aku terlalu membohongi hati kecilku.
"Kalau bukan karena ibu bilang ingin menggugat cerai suamimu. Aku tidak berani mengatakan rasa cintaku kepada, Bu."
Aku hanya diam dan menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. Belum kelar masalah satu, kini timbul masalah lain.
Lebih baik aku diam daripada mengoceh memperkeruh suasana hati semakin rumit.
"Pokoknya aku akan membantu kamu untuk menyelesaikan semua permasalahan kamu, Bu. Jika butuh pengacara aku ada kawan."
Ponsel milik Faisal berdering membuyarkan suasana di dalam ruangan itu. Aku tidak tahu harus berbuat apa.
Faisal menerima panggilan, dia bangkit dari tempat duduknya lalu pergi meninggalkan aku sendirian.
Aku tidak bisa berkata-kata. Aku menghabisi makananku walaupun selera makanku sudah berkurang.
Tidak terasa sudah tiga puluh menit aku di sini sendirian. Makanan yang ada di piringku, akhirnya habis juga. Aku baru ingat, kalau jam tiga belas nol-nol Waktu Indonesia Barat.
"Mbak!" panggilku.
Aku memanggil pelayan, bergegas aku membuka dompet untuk mengambil uang buat bayar semua pesananku dan Dokter Faisal.
"Ada yang bisa aku bantu, Bu?" tanya pelayan. Namanya Reva jelas terlihat di name tag nya.
"Berapa semuanya?" tanyaku.
Reva melihat bill yang sudah di tempel di pojok meja. Kemudian memastikan apakah ada menu tambahan selain yang sudah ada di dalam bill.
"Mohon maaf, Bu. Apakah masih ada tambahan?" tanya Reva.
"Tidak ada lagi."
Aku menunggu jawaban dari Reva. Namun, dia meminta izin untuk pamit ke kasir sebentar.
"Mohon maaf, Bu. Aku tanya ke kasir terlebih dahulu."
Reva melangkah pergi menuju kasir, tidak berapa lama. Dia datang lagi.
"Jumlah semua totalnya dua ratus empat belas ribu sembilan ratus, Bu."
Reva menyodorkan baki dan di atasnya selembar bill.
Aku mengambil uang warna merah tiga lembar.
"Ini, Mbak! Kembaliannya ambil saja. Terima kasih atas pelayanannya."
Aku melangkah pergi melanjutkan aktivitas selanjutnya.
****
Dua minggu kemudian, sudah jadwalku check up. Rasanya sangat malas kaki ini melangkah. Karena aku terbayang-bayang melihat wajah Dokter Faisal yang ganteng. Semangat jiwaku tumbuh kembali.
Aku bergegas beres-beres. Seketika aku teringat pada suamiku. Malam ini dia tidak ada pulang sama sekali.
'Mau sampai kapan kamu berpaling dari pelukanku, Pa!' ucapku dalam hati.
Mataku seketika mendung. Padahal aku sangat mempertahankan pernikahan ini. Namun, Rusly sudah tidak ingin bersama.
Aku bangkit dari kesedihanku. Kuayunkan langkah kakiku menuju garasi mobil. Ketika aku membuka pintu rumah, Rusly sudah ada di depan pagar. Aku mengucek mataku untuk memperjelas penglihatanku. Ternyata, itu suamiku dan Ririn. Ririn mengecup pipi suamiku. Hatiku semakin tersayat belati lalu ditetesi perasan jeruk lemon.
Aku menutup pintu rumah lalu melanjutkan langkah kakiku.
"Nesya! Tolong buka pagarnya!" perintah Rusly.
Kubuka pintu mobil, aku masuk ke dalam lalu menyalakan mobil milikku.
"Nesya ... Tolong buka pagar rumah!" teriak Rusly dengan nada tinggi. Dia langsung tersulut emosi karena aku tidak menghiraukannya.
Aku turun dari dalam mobil menuju gerbang rumah. Kubuka pagar tanpa ada sepatah kata yang keluar dari tepi bibirku.
"Pagi-pagi sudah dandan cantik. Mau kemana kamu?" tanya Rusly dengan melihat aku dari ujung kaki sampai ujung rambut. Aku berkacak pinggang dengan gaya sombong.
"Itu bukan urusan kamu!" jawabku jutek.
Aku mengedarkan pandanganku ke bunga-bunga yang aku tahan, rawat dan jaga di depan rumah.
"Aku ini suamimu, Nesya!" amuknya dengan memegang bahuku.
"Suami ...! Suami macam apa kamu, Pa. Seenak jidat kamu membalas kiss dari perempuan selingkuhan kamu. Apa masih pantas disebut kamu itu suamiku?!"
Rusly terkejut, raut wajahnya berubah pucat pasi. Dia melepaskan tangannya seketika.
"Kenapa diam dan wajah kamu pucat, Pa?! Kamu kira aku tidak melihat dengan kaca mataku sendiri semua perbuatan kamu dengan Ririn. Kamu itu tidak layak disebut suami, kamu itu layaknya disebut pezina!"
Bersambung .....
Next?